
Posisi yang awalnya membungkuk, kini tengah kembali berdiri tegak dan terlihat ia tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mengingat sesuatu.
"Terakhir kali aku menunjukkan pada Tsamara dan tidak membawa kembali karena merasa percuma saat papa dan mama ternyata sudah mengetahui masa lalu kelam wanita itu."
"Apa Tsamara masih menyimpan map yang berisi bukti-bukti tentang masa lalu kelam itu!? Jika aku bertanya, apakah akan berbicara jujur?" Kemudian ia menjawab pertanyaan sendiri dengan menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin ia masih menyimpan, pasti sudah membuang atau membakar karena berpikir jika itu akan menjadi sebuah ancaman."
Tidak ingin menebak-nebak sendiri, ia memilih untuk menarik handuk yang dikenakan dan berpakaian setelan jas lengkap berwarna hitam. Kemudian memakai jam tangan yang diambil dari lemari kaca dan merapikan penampilan dengan memakai Pomade.
Setelah memakai parfum yang aroma khas maskulin sudah menguar di udara, kini merasa jika penampilan sudah sangat sempurna.
Ketika berpikir masih ada waktu, Zafer langsung melaksanakan rencana dengan pergi ke ruangan kamar Tsamara di sebelah. Di saat bersamaan, melihat Sumi tengah membantu duduk di kursi roda.
"Kenapa tidak berbaring saja di ranjang? Bukankah kamu tadi mengatakan masih pusing?"
Tsamara tidak ingin menjawab karena setelah Zafer mengatakan semalam memberikan obat dari mulut, merasa sangat malu sekaligus bingung harus seperti apa bersikap.
__ADS_1
"Nyonya Tsamara ingin ke kamar mandi, Tuan karena dari tadi belum membersihkan diri." Sumi mencoba untuk tidak menyulitkan majikan yang sedang sakit.
Tunggu! Aku ingin berbicara sebentar sebelum berangkat." Zafer kini berjalan dan berhenti tepat di hadapan Tsamara yang masih betah mengunci mulut.
"Apa kamu masih ingat mengenai amplop coklat berisi tentang semua informasi yang berhubungan dengan masa lalumu?"
"Tsamara yang seketika menatap ke arah iris tajam Zafer, kini merasa sangat aneh dengan perbuatan pria tersebut. "Bahkan Anda sudah berhasil menikah dengan kekasih."
"Apa yang sebenarnya Anda cari lagi? Apakah ingin saya pergi dari sini?" Tsamara lama-kelamaan seperti diombang-ambingkan oleh Zafer dan kali ini seolah kehilangan arah.
Apalagi sedang tidak fit dan tubuh masih lemas karena berpikir jika yang terjadi adalah hal berhubungan dengan masa lalu yang ingin dilupakan, tetapi selalu diungkit oleh pria di hadapannya tersebut.
Sampai pada saat jari telunjuk Tsamara kini mengarah pada laci bawah.
"Semua ada di sana dan masih lengkap. Memang aku sengaja menyimpan itu agar Anda bisa dengan mudah menyingkirkanku." Tsamara kemudian memberikan kode pada Sumi untuk mengantarkan ke kamar mandi.
Merasa lega karena ternyata sesuatu yang dicari tidak dibuang oleh Tsamara, Zafer refleks langsung membuka amplop besar berwarna coklat tersebut.
__ADS_1
Begitu melihat sesuatu yang sesuai dengan perkiraan, kini beralih menatap ke arah anak laki-laki yang tengah duduk di sofa sambil makan aneka Snack yang ternyata dibelikan oleh ayah kandung Keanu.
'Rey Bagaskara, ternyata mantan suami Tsamara itu masih mengikuti perkembangan anak ini. Apakah Tsamara mengetahui ini dan berencana akan kembali dengan pria yang merupakan ayah kandung Keanu? Lebih baik aku berbicara dengan detektif untuk memastikan sesuatu.'
Zafer memilih untuk mengembalikan amplop coklat besar tersebut ke dalam laci karena merasa jika di sana adalah tempat paling aman dan Tsamara menegaskan tidak kan membuang itu.
Sebenarnya ingin sekali ia membuang satu kantong plastik besar aneka jajanan tidak sehat itu, tapi karena waktu tidak banyak saat tersisa satu jam dan harus membelah jalanan ibu kota, akhirnya Zafer memilih untuk pergi dari ruangan kamar tersebut.
Beberapa saat telah berlalu dan Zafer masuk ke dalam mobil yang langsung dikemudikan menuju rumah utama. "Apakah pria itu adalah penguntit. Apa Tsamara tahu hal ini? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Sebenarnya Zafer yang fokus mengemudi, menyadari bahwa saat ini tengah memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan. Tidak ingin dianggap sebagai orang bodoh, ia ingin bertanya pada detektif yang disewa.
Namun, tidak jadi melakukan itu begitu mengingat ponsel sudah rusak dan harus membeli baru. "Tsamara saja mempunyai dua ponsel, sedangkan aku yang menjadi pewaris tahta Dirgantara hanya memakai satu. Terpaksa aku harus membeli yang baru."
Setengah jam kemudian, Zafer sudah tiba di rumah, tetapi memilih untuk masuk ke pintu samping yang berukuran sempit karena tidak ingin menimbulkan kehebohan. Akhirnya berjalan menuju samping kiri rumah dan baru saja masuk ke dalam, langsung disambut oleh seseorang.
Bukan senyuman atau ucapan selamat, tapi tamparan yang seketika bersarang di pipi dan melihat jika yang melakukan adalah ayah Rayya
__ADS_1
"Berengsek! Apa yang kau lakukan sebenarnya!" sarkas Zafer dengan wajah memerah dan rahang mengeras saat tiba-tiba datang, langsung disambut oleh sebuah tamparan.
To be continued...