
Tsamara dan mertuanya kini sudah kembali ke dalam rumah setelah memutuskan untuk tidak pergi dari sana.
Rumah yang tadinya terasa sunyi karena biasanya hanya ada pelayan dan ia setelah Zafer berangkat kerja, kini terasa hidup saat mertuanya datang.
Kini, perasaan Tsamara jauh lebih baik setelah ia dihibur oleh mertuanya. Hingga sekarang ia terlihat tengah berada di dapur dan diajak oleh wanita paruh baya itu untuk memasak untuk makan malam.
Hari ini, mertuanya akan makan di rumah dan menghubungi sang suami, agar segera pulang.
"Biarkan aku yang mengupas bawang, Ma." Tsamara meraih pisau yang berada tak jauh dari tempat ia berada dengan mengarahkan kursi roda.
Sebenarnya ia masih belum terbiasa berada di kursi roda, serta cacat karena terkadang masih sering menangis dengan kenyataan yang ia terima dan harus hadapi.
Tsamara tidak bisa membayangkan saat ia harus berada di kursi roda selamanya dan cacat seumur hidup. Hal itu membuatnya tidak bisa tenang dan selalu dipenuhi oleh berbagai macam kekhawatiran.
Takut jika harapan satu-satunya, yaitu putranya akan merasa malu dan suatu saat nanti pergi meninggalkannya.
Namun, ia memang menyadari bahwa sesuatu hal itu akan ada balasannya karena apa yang kita tanam, itulah yang dituai. Saat ini, hukum alam telah bekerja dan membuat Tsamara harus menerima apa yang digariskan untuknya.
Tsamara berusaha kuat dan menjalani hukuman yang diterima seperti air mengalir. Ia hanya bisa memohon ampunan pada Tuhan atas segala dosa-dosa di masa lalu.
Satu-satunya harapan dan doa tulusnya adalah ia tidak ingin dipisahkan dari Keanu karena hanya memiliki harta beharga seorang anak yang merupakan benih dari mantan suami yang dulu sangat dicintai.
Bahkan ia tidak mengubah nama putranya yang menyandang gelar keluarga besar Bagaskara karena berpikir bahwa Keanu berhak mengetahui siapa ayah kandungnya setelah dewasa nanti.
Meskipun mungkin hanya akan kesakitan dan luka yang didapatkan setelah mengetahui bahwa sang ayah adalah seorang pria yang gemar berganti-ganti pasangan, tetap saja seorang anak berhak mengetahui siapa ayah kandungnya.
"Sekalian potong sayurannya. Biar Mama yang menggoreng ayam." Erina kini membiarkan Tsamara membantu karena tidak ingin menantunya merasa menjadi seorang wanita tidak berguna karena kaki yang cacat.
__ADS_1
Ia pun berpikir bahwa memasak bisa menghilangkan kesedihan yang dirasakan hari ini karena perbuatan putranya yang menyakiti wanita itu.
Erina bahkan tadi sengaja menyuruh pelayan menjaga Keanu, agar ia dan menantunya bisa memasak bersama.
"Iya, Ma." Tsamara terlihat tersenyum dan bersemangat karena sudah lama ia tidak memasak semenjak mengalami kecelakaan dan menikah.
Ada pelayan yang mengurus pekerjaan rumah dan membuatnya hanya fokus pada para pekerja di tempat catering miliknya.
Meskipun ia merasa ragu dan bimbang pada keputusan yang diambil karena mengetahui bahwa Zafer pasti akan kembali murka padanya.
Hingga ia pun memilih untuk bertanya pada wanita yang sudah berdiri di depan kompor itu.
"Ma, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tsamara memotong wortel sambil menatap ke arah mertuanya.
Sementara itu, Erina yang baru saja selesai memasukkan ayam goreng di penggorengan, kini menatap ke arah sosok wanita di sebelah kirinya.
"Tentang apa, Sayang? Tanya saja, Mama akan menjawabnya." Erina menjawab dengan mengulas senyuman dan berpikir bahwa menantunya tersebut akan bertanya tentang Zafer.
Meskipun sebenarnya di dalam hati merasa sangat hancur, tetapi tidak ingin terlihat lemah di depan wanita paruh baya itu.
Tadi ia memang disuruh untuk mengganti panggilan tuan dan nyonya dengan mama dan papa.
Namun, tidak bisa mengganti kebiasaannya saat memanggil suami dengan tuan. "Aku tidak berhak berada di rumah ini setelah suami mengusir seorang istri. Aku harap kalian mengerti."
Erina kini berjalan semakin mendekati sosok menantunya dan menepuk pundak itu untuk menyalurkan ketenangan. "Itu tidak akan pernah terjadi, Sayang."
Tsamara mengerutkan kening karena tidak paham dengan jawaban penuh percaya diri dari mertuanya. "Kenapa Mama berbicara seperti itu? Di dunia ini, semua hal mungkin saja terjadi."
__ADS_1
"Kami akan menyuruh Zafer dan kamu pulang ke rumah utama. Setelah kejadian hari ini, kami tidak akan pernah membiarkanmu tinggal di sini." Erina kini menatap ke arah pintu keluar dapur.
"Suamiku pasti sedang menghubungi Zafer. Jadi, sebentar lagi ia pasti pulang. Kita akan tinggal bersama di rumah utama karena tidak akan pernah tertipu lagi dengan anak nakal dan bandel itu. Mama harap, kamu bisa sabar menghadapi suami."
"Semoga kebaikanmu akan merubah sifat buruk putraku. Mama sangat yakin jika kamu mampu merubah putraku karena itu sudah dibuktikan dari perilakumu. Semua orang pernah berbuat dosa dan bisa insyaf setelah menyadari kesalahan sepertimu."
Merasa mendapatkan beban tanggung jawab yang saat ini diberikan wanita paruh baya tersebut, membuat Tsamara merasa bingung dan dipenuhi oleh kekhawatiran jika tidak bisa melakukan apa yang diinginkan tersebut.
"Aku takut tidak bisa merubah putra Mama seperti yang diinginkan. Apakah kalian akan merasa kecewa padaku jika gagal melakukan ini?"
Jawaban dari mertuanya yang berupa gelengan kepala, membuat Tsamara merasa sedikit tenang karena beban beratnya seolah terangkat saat itu juga.
"Jangan berbicara seperti itu karena kata-kata adalah doa. Jadi, mulai hari ini, penuhi pikiran dengan hal-hal positif dan juga jangan merasa rendah diri, serta takut. Serahkan saja semuanya kepada Tuhan," ujar Erina yang saat ini berusaha untuk menenangkan perasaan sang menantu agar tidak berpikir buruk dan lebih percaya diri.
Akhirnya Tsamara mengiyakan perkataan dari mertuanya dengan melakukan hal yang sama seperti menganggukkan kepala.
"Iya, Mama benar. Aku akan berusaha untuk merubah suamiku menjadi pria yang baik dan menerimaku sebagai istri. Semoga niat baik ini mendapatkan berkah dari Tuhan dan memberikan hidayah pada suamiku."
"Nah, begini yang Mama harapkan darimu, Tsamara. Tidak salah suamiku merasa yakin padamu. Aku pun dari dulu berharap memiliki seorang menantu yang baik sepertimu. Semoga putraku kelak akan sadar dari kesalahan dan dosa yang dilakukan selama ini. Jadi, kami bisa mati dengan tenang jika meninggalkannya sewaktu-waktu."
Tsamara refleks memeluk wanita paruh baya tersebut dengan perasaan berkecamuk karena kata-kata dari mertuanya mengingat akan momen perpisahan dengan orang tuanya saat masih sekolah dulu.
"Jangan membahas tentang kematian, Ma. Meskipun aku tahu bahwa semua manusia yang ada di dunia ini akan kembali pada Tuhan, tapi jangan mengatakan hal itu karena aku selalu mengingat tentang orang tuaku dan membuatku bersedih."
Tanpa seizinnya, bulir air mata sudah menganak sungai di pipi putih Tsamara saat ini karena merasa sangat sedih ketika mengingat kematian orang tuanya yang mengalami kecelakaan.
"Maafkan Mama, Sayang. Lupakan semua yang kukatakan tadi, oke. Lebih baik kita lanjutkan memasak untuk makan malam. Setelah itu, kita pulang ke rumah utama."
__ADS_1
Akhirnya Tsamara kini menganggukkan kepala dan merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar perkataan dari mertuanya.
To be continued...