Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Sudah jelas pemenangnya


__ADS_3

Bahkan melihat semua orang di ruangan itu menunggu jawaban dari sang kekasih yang dari tadi hanya diam saja. Tidak ingin kehilangan harta sekaligus kekasih jika sampai menolak, Zafer memilih untuk menyadarkan Rayya.


"Seperti yang kubilang tadi, lebih baik patuhi saja karena setelah menjadi istriku, kita akan hidup bahagia, Sayang."


'Belum tentu, bodoh!' gumam Rayya yang kini memilih untuk mengumpat di dalam hati saat merutuki kebodohan Zafer yang seperti kerbau dicucuk hidung.


Apalagi mengetahui bahwa nanti akan tetap berada di balik layar karena wanita cacat itulah yang diperkenalkan pada semua orang sebagai istri sah. Bukan ia yang hanya merupakan istri secara siri..


Namun, tidak ingin membuat khawatir Zafer, akhirnya Rayya kini memilih mengeluarkan suara sebagai jawaban. "Aku setuju. Nanti akan menghubungi ayah untuk datang saat pernikahan."


Meskipun merasa harga diri telah diinjak-injak oleh semua orang yang ada di situ, Rayya masih mengulas senyuman di depan Zafer.


Ia berniat untuk menyusun rencana besar untuk segera membalas dendam pada pria paruh baya dingin yang tidak pernah menganggap wanita pantas untuk Zafer.


Zafer ingin memeluk erat tubuh seksi sang kekasih begitu jawaban yang diinginkan telah diberikan Rayya. Namun, tidak ingin sang ayah murka karena tadi melarang bermesraan di depan Tsamara dengan alasan menjaga perasaan.


"Terima kasih, Sayang karena mau mengerti dengan keadaan ini." Kemudian beralih menatap pada orang tua yang kini seperti sedang berbicara lirih dengan Tsamara.


"Rayya sudah bersedia, Pa. Jadi, besok menikah di mana? Apakah di sini atau rumah utama?"


Kebetulan sekali pasangan suami istri itu baru saja bertanya pada Tsamara mengenai tempat pernikahan karena mereka menyerahkan semua keputusan pada sang menantu karena menganggap berhak melakukan itu.


"Menurutmu bagaimana? Pernikahan dilakukan di sini atau rumah utama?" tanya Erina dengan wajah penuh aura kecemasan saat melihat Tsamara pucat.


Seperti sedang menahan rasa sakit berkepanjangan, hingga berakhir pucat. Tadi sudah memeriksa dengan menaruh telapak tangan pada kening, tetapi tidak panas, jadi sedikit lega.


"Terserah Papa dan Mama saja. Aku tidak masalah jika pernikahan diadakan di sini." Tsamara berpikir lebih baik di sini karena tidak perlu bersusah payah untuk pergi ke rumah utama.

__ADS_1


Merasa sudah cukup lelah perasaan dalam beberapa hari terakhir ini, ia berharap fisiknya juga tidak diforsir. Rencananya adalah ingin fokus pada Keanu saat semua sibuk mengurus pernikahan.


Tidak mungkin bisa bersikap baik di depan wanita yang telah memiliki sang suami seutuhnya. Sementara diri sendiri hanya menjadi istri tak dianggap dan hiasan.


Sementara itu, Adam Dirgantara melihat wajah pucat Tsamara, tidak tega jika menambah pikiran wanita itu. Berpikir jika menyaksikan pernikahan suami dengan wanita lain di depan mata akan membuat Tsamara semakin terluka.


"Kenapa aku tidak sependapat denganmu kali ini."


Tsamara mengerjapkan kedua mata dan kalimat ambigu dari pria paruh baya tersebut seperti warning untuk bisa berhati-hati saat mengambil keputusan.


"Kalau menurut Papa bagaimana? Apapun yang terbaik, aku akan mengikuti perintah. Jadi, jangan merasa tidak enak padaku."


Adam Dirgantara kini menganggukkan kepala dan memilih bangkit berdiri dari posisi. Kemudian menatap satu persatu semua yang ada di ruang tamu tersebut. Dimulai dari sang istri, Tsamara, Zafer dan terakhir Rayya.


Sementara semua orang kini telah menatap pria yang mempunyai tubuh tinggi tegap tengah berdiri menjulang di tengah.


"Aku tidak tega melihatmu terluka dengan semua ini dan menutup mata seolah kau tidak punya hati. Pasti semua istri di dunia ini akan terluka saat suami menikah lagi. Mungkin pada zaman Nabi ada yang memang benar-benar ikhlas."


"Namun, di zaman sekarang ini, rasanya tidak mungkin dan tidak masuk akal. Jika ada, mungkin itu hanya digunakan untuk mencari simpati publik dengan membuat konten. Karena sejatinya hati seorang wanita sangat lemah."


"Seorang wanita bisa sekuat baja saat berjuang untuk suami dan anak, tapi akan menjadi hancur seperti kaca yang jatuh ketika melihat suami menikah lagi. Aku tidak ingin melihatmu kembali terluka setelah kehancuran yang kamu dapatkan."


Tsamara yang dari tadi disebut, hanya diam saja karena belum bisa memutuskan. Masih terlalu shock dengan kenyataan, sehingga memilih untuk menyetujui apapun yang diputuskan oleh pria paruh baya itu.


Sementara Zafer dan Rayya yang tadi ingin menutup telinga karena sangat bosan dengan petuah dari pria paruh baya tersebut. Keduanya beberapa kali saling bersitatap. Seolah ingin mengungkapkan jika sudah lelah dan ingin segera beristirahat.


Namun, sebelum orang tua menutup pertemuan malam ini, tidak mungkin bisa masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Sampai pada saat mereka membulatkan kedua mata begitu mendengar kalimat terakhir dari seorang Adam Dirgantara.


"Malam ini, aku akan mengajak Rayya pulang ke rumah dan kau Zafer, tetap di sini. Besok pagi saja datang karena mungkin acara pernikahan pukul sepuluh pagi. Meskipun belum menghubungi pemuka agama, tapi seperti saat menikahi Tsamara dulu, sekitar jam sepuluh."


Kemudian Adam menoleh pada sang istri. "Bersiaplah, Sayang. Kita pulang ke rumah."


Erina yang dari tadi duduk di sebelah kursi roda Tsamara, kini memilih bangkit berdiri dan mencium pipi kanan kiri menantu tersebut. "Kami pulang dulu, Sayang. Beristirahatlah dan jangan berpikir macam-macam."


"Iya, Ma." Ada kelegaan dari jawaban Tsamara karena malam ini tidak harus tinggal serumah dengan wanita yang merupakan kekasih sang suami.


Sangat berbeda dengan tanggapan Zafer yang seketika berdiri untuk mengungkapkan nada protes. "Kenapa aku tidak boleh ikut ke rumah, Pa? Rayya butuh aku karena sedang hamil."


"Apa kau pikir kami tidak bisa menjaga satu wanita hamil?" sarkas Adam yang kini memberikan kode pada sang istri, agar memberikan pengertian pada Zafer.


"Mama pernah hamil dan sangat mengetahui apa yang dirasakan oleh Rayya. Jadi, jangan berlebihan seperti ini." Erina kini mengusap lembut punggung lebar putranya. "Lebih baik kau beristirahat untuk acara pernikahan besok."


Akhirnya Zafer menyerah untuk memohon karena merasa jika akan percuma.


Sementara Rayya yang merasa sangat lemas ketika malam ini harus tinggal hanya dengan orang tua Zafer yang sama sekali tidak menyukainya.


'Apa rencana pria tua bangka ini sebenarnya? Rasanya ingin sekali aku menolak dan tetap tinggal di sini bersama Zafer. Atau paling tidak, kekasihku ini boleh ikut dan menjaga dari para monster ini. Namun, sialnya tidak bisa. Menyebalkan sekali,' umpat Rayya yang terpaksa berdiri dari sofa dan bisa melihat Zafer kebingungan.


Rayya seketika menatap Tsamara karena ingin melihat respon wanita itu ketika Zafer tidak ingin berpisah walau hanya satu detik.


'Kau lihat. Belum menjadi istri Zafer saja sudah jelas pemenangnya siapa,' gumam Rayya dengan tersenyum smirk.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2