Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Nasib malang


__ADS_3

Zafer dan Rayya yang sudah berbicara dan menyelesaikan masalah mereka, sedangkan di sisi lain, ada Tsamara yang masih meratapi nasibnya di dalam kamar putranya.


Wanita itu masih menangisi semua hal yang terjadi dalam hidupnya, merasa semesta tidak berpihak kepadanya dan kini tengah menghukum Tsamara atas semua perbuatan yang pernah ia lakukan di masa lalu.


Semua kalimat Zafer tadi telah membuat Tsamara jadi mengingat tentang masa lalu kelam yang begitu menyedihkan. Semua kesalahan yang terjadi di masa itu telah membuatnya menjadi pribadi yang selalu merasa bersalah.


Apalagi tidak mudah baginya untuk melupakan kejadian di masa mudanya dulu.


Tidak akan cukup rasanya jika meminta maaf sampai ribuan kali kepada orang-orang yang telah ia sakiti di masa lalu. Dosanya tidak akan pernah hilang, sekali pun memohon dengan penuh belas kasihan untuk dimaafkan.


Pantas saja karma terus berjalan dalam hidupnya karena orang-orang yang pernah disakiti tidak pernah memaafkannya.


Tsamara dari dulu sangat takut untuk membangun hubungan lagi dengan orang lain, sehingga memilih untuk fokus saja membesarkan putranya tanpa bantuan sosok laki-laki yang seharusnya menjadi suaminya.


Akan tetapi, sekarang ia telah menikah lagi dan itu pun karena terpaksa.


Untuk kali ini, ia tidak diterima oleh sang suami dan malah diselingkuhi dengan wanita lain. Seolah penderitaannya tersebut belum cukup, suaminya justru dengan sangat semangat tengah mencari cara untuk bisa menceraikan dan mengusir dari rumah utama mereka.


Tidak ada yang berjalan mulus. Ia sedang dihukum dan harus menerima semua hukuman tersebut atas balasan dari semua perbuatan buruknya di masa lalu.


‘Aku memang jahat dan pantas menerima semua ini.'


Tsamara menatap ke arah putranya. "Putraku sama sekali tidak bersalah dan tidak boleh hidup menderita. Apapun akan kulakukan untuk putraku."


Tsamara tidak kuasa untuk berbicara dengan bibir dan tubuh yang bergetar. Suara isak tangis dan juga napas yang mulai tak beraturan, membuatnya jadi sulit bicara.


Ia hanya bisa mengeluarkan semua keluh kesah di dalam hati, memohon pengampunan dan meminta pertolongan kepada siapa pun yang bisa mendengar isi hatinya sekarang.


Namun, siapa yang mau mendengar? Siapa yang mau menolongnya?

__ADS_1


Malaikat saja mungkin enggan memberikannya bantuan karena mereka tahu bahwa dosanya sudah menumpuk dari masa lalu.


Semua yang bisa mendengar suara isi hatinya tersebut mungkin sedang tertawa terbahak-bahak dan berkata, ‘Bagaimana mungkin wanita tidak tahu diri ini memohon pengampunan setelah apa yang telah dilakukan? Apakah dia tidak punya malu?’


Tsamara sangat yakin bahwa malaikat pencatat semua amalan dan juga dosanya kini tengah tertawa—tentu saja untuk menertawakan dirinya.


“Tuhan, jika semua cobaan ini akan mengangkat derajatku, aku ikhlas menjalaninya."


Tsamara berbicara dengan susah payah disertai isakan tangis yang juga belum berhenti.


Masih pantaskah wanita penuh dosa sepertinya memohon ampun kepada sang penguasa dunia.


'Jika aku memang tidak diperbolehkan untuk bahagia bersama laki-laki lain, biarkan putraku merasa bahagia. Tolong lepaskan aku dari belenggu rasa sakit yang tiada henti ini.’


Tsamara ingat sekali bahwa dulu pernah merasakan bahagia bersama suami pertamanya. Ia pernah merasakan begitu dicintai. Bahkan mungkin dipuja.


Semua hubungan itu memang hancur karena kesalahannya. Ia tidak akan mengelak untuk fakta tersebut.


Pria yang mengajarkannya untuk saling memberikan cinta antara satu sama lain. Bahkan yang tidak pernah merasa dicintai sebesar itu oleh orang lain.


Meskipun pertemuan mereka awalnya hanya diawali dengan ketidaksengajaan semata, tetapi memutuskan untuk membina hubungan yang lebih serius.


‘Aku dulu pernah saling mencintai dan berbagi banyak hal. Entah itu suka maupun duka. Kami menikah selama beberapa tahun dan ada banyak sekali kenangan indah yang pernah diukir bersama dalam memori masing-masing.'


'Dulu aku benar-benar sangat mencintaimu dan begitupula denganmu


‘Aku sekarang bisa merasakan sesakit apa perasaanmu waktu itu.'


Malam itu, Tsamara mengulas kembali di dalam kepalanya tentang kejadian di masa lalu kelamnya.

__ADS_1


Masa-masa di mana ketika dirinya baru menemukan cinta dari seorang pria dan memilih untuk menjalin hubungan bersamanya sampai akhirnya mereka berdua menikah.


Kenangan-kenangan indah yang tidak pernah ia hapus dalam ingatannya itu, untuk malam ini ingin ia kenang kembali sebagai bentuk pengingat bahwa memang pernah bahagia bersama orang yang sangat mencintainya.


"Kenapa kau belum berkemas juga, Wanita cacat!" teriak Zafer yang baru saja pulang dan ingin meluapkan emosi pada Tsamara.


Setelah tadi Zafer mengantarkan Rayya pulang ke apartemen, memang langsung ke rumah karena butuh pelepasan untuk meledakkan amarah yang membuncah di dalam hati.


Jika menahannya, akan menjadi stres dan hal itulah yang membuatnya tadi tidak berani bersama Rayya. Ia khawatir akan meledakkan amarah pada sang kekasih yang sama sekali tidak bersalah. Apalagi posisi wanita yang sangat dicintainya tersebut tengah hamil benihnya.


Tentu saja harus memperlakukan wanita itu dengan sangat baik, kebalikan dari perlakuannya pada Tsamara.


Sementara itu, entah sudah berapa jam Tsamara melamun meratapi nasibnya. Hingga ia tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara teriakan dari sosok pria yang tak lain adalah Zafer sudah berdiri menjulang di hadapan dengan sorot mata tajam.


Bahkan tubuh Tsamara kembali berjenggit kaget saat suara bariton Zafer kembali menggema di ruangan kamar tersebut. Hingga tidur pulas putranya kini terganggu dan menangis.


Seolah tidak memperdulikan suara tangisan anak kecil yang terbangun karena suaranya, Zafer kembali mengumpat, "Aku bertanya padamu, wanita murahan!" Zafer saat ini tengah menatap tajam sosok wanita yang duduk di kursi roda tersebut.


Setelah menunjukkan bukti-bukti tentang masa lalu wanita yang tidak pernah disukai tersebut, tetapi gagal membuat orang tuanya membenci, merasa sangat marah dan ingin sekali mencekiknya.


"Kau hanyalah seorang wanita murahan dan miskin yang tidak pantas dinikahi oleh pria manapun. Jadi, lebih baik kau segera menandatangani surat perceraian. Katakan pada orang tuaku kalau kau ingin bercerai karena menyadari tidak pantas bersanding denganku."


"Bahkan menatapmu saja membuatku sangat jijik. Apalagi menyentuhmu. Jadi, jangan pernah berpikir jika aku akan bercinta denganmu karena kau berpikir adalah istriku."


Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang kini sibuk menenangkan putranya, seolah tidak memperdulikannya, tidak bisa berkata-kata lagi karena memang itu adalah sebuah fakta, Zafer kini pergi dari ruangan kamar tersebut dengan penuh amarah.


Tadi, ia menyuruh Tsamara untuk mengemasi barang-barang setelah menunjukkan bukti-bukti yang dibawa mengenai keburukan wanita itu di masa lalu. Berharap wanita itu pergi tanpa berpamitan pada orang tuanya.


'Semoga wanita murahan itu sadar diri dan mau pergi dari hadapanku. Aku sudah muak melihat wajahnya.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2