
Saat tiba di ruang tengah, ia membuka kotak obat dan memeriksa, apakah ada obat yang dicari. Begitu menemukan itu, kembali ke kamar setelah melakukan sesuatu.
Zafer membawa sendok, gelas dan obat yang tadi telah dipukul beberapa kali agar menjadi serbuk. Rencananya adalah biar Tsamara mudah meminum obat yang telah dihaluskan di dapur tadi.
Begitu kembali mendaratkan tubuh di samping wanita yang terbaring dengan kedua mata terpejam itu, ia sudah menyiapkan obat yang ditaruh di sendok dan berusaha untuk membuka mulut Tsamara.
Namun, kesusahan karena selalu jatuh keluar dan mengalir membasahi bagian samping bibir. "Kenapa susah sekali? Kamu harus minum ini jika ingin demammu turun."
"Bukankah kamu selalu memikirkan Keanu? Jika sakit begini, siapa yang menjaga putramu? Bahkan kamu tidak bangun juga tadi saat Keanu menangis tersedu-sedu." Zafer berbicara seperti orang gila dan berpikir sangat bodoh.
Masih terdiam di tempat sambil mencari ide agar Tsamara sepenuhnya minum obat itu, mendadak ia mendapatkan sebuah cara. Namun, beberapa kali menolak dengan menggelengkan kepala.
"Tidak! Mana mungkin aku melakukan hal konyol itu?" Zafer bangkit berdiri dan berkacak pinggang sambil menatap ke arah wajah Tsamara yang masih pucat.
"Kenapa kau datang hanya menyusahkanku begini? Seharusnya aku tidak perduli, bukan? Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Aku merasa iba dan berakhir rela merawatmu seperti ini dengan banyak membuang waktu dan tenaga."
"Kau tahu, waktuku sangat berharga dan tenagaku harus dijaga untuk besok pada hari yang melelahkan." Zafer berbalik badan dan kini pandangan jatuh pada dinding.
Di mana dinding itu dihiasi oleh foto pernikahan mereka yang sederhana dan tidak ada kemewahan sama sekali. Melihat sosok wanita memakai gaun pengantin putih dan penutup kepala, sedangkan diri sendiri berdiri di belakang.
Harusnya pose itu adalah berdiri dan pengantin pria memeluk erat pinggang pengantin wanita. Namun, karena Ayu tidak bisa berdiri, jadi saat itu fotografer mencari cara agar ia menunduk di belakang wanita yang duduk di kursi.
Jelas terlihat sekali jika tidak ada kebahagiaan di antara mereka karena saat itu Zafer hanya terpaksa melakukan itu karena ada orang tua. Wajah dengan senyuman terpaksa ditunjukkan.
Sementara Tsamara memang terlihat tersenyum, tetapi itu jelas terlihat adalah hanya sebuah kepalsuan belaka.
"Kapan foto ini ditaruh di sini? Aku sama sekali tidak tahu." Kemudian ia merutuki kebodohan karena sadar tidak pernah masuk ke kamar itu.
__ADS_1
"Aku yang melarang Tsamara masuk ke kamar utama dan pasti tidak berani menaruh foto ini di ruang tamu. Jadi, memilih memasang di kamar ini karena tidak mungkin membuang barang sebesar ini."
Selama beberapa menit ia berdiri di depan foto pernikahan yang penuh dengan kepalsuan dan berpikir jika besok akan menikahi wanita yang dicintai.
Sudut bibir melengkung ke atas saat membayangkan jika yang ada dalam foto itu adalah Rayya. Namun, seketika senyuman pudar kala mengingat sesuatu, yaitu ancaman Rayya yang bahkan tidak tahu bisa menurutinya atau tidak.
Apakah bisa dipenuhi atau tidak karena mengetahui jika lawan yang dihadapi sangat kuat, yaitu ayah sendiri.
"Kenapa aku baru menyadari jika dua wanita itu sama-sama merepotkan." Puas mengumpat, Zafer berbalik badan karena mendengar suara lirih Tsamara yang merintih seperti sedang kesakitan.
"Sakit ...." lirih Tsamara dalam posisi masih memejamkan mata. Kemudian bulir bening mengalir membasahi pipi.
Zafer yang langsung berjalan mendekat dan berniat untuk memeriksa, kini bisa melihat bulir bening air mata menghiasi wajah pucat itu. Refleks ia mengarahkan ibu jari untuk menghapus itu.
Namun, baru selesai melakukan itu, kembali mendengar suara menyayat hati dengan posisi mata masih terpejam.
Zafer hanya diam di atas ranjang dan tidak berkedip menatap Tsamara yang saat ini mengigau.
"Memangnya ia sedang meminta maaf dengan siapa? Apakah Keanu? Atau ...." Zafer tidak melanjutkan perkataan ketika tiba-tiba melihat tubuh Tsamara menggigil dan bergetar di atas ranjang.
Zafer membulatkan mata melihat pemandangan yang menakutkan ketika seluruh tubuh Tsamara semakin bergetar dan memberanikan diri untuk menyentuh kening dan seketika mengangkat tangan karena merasakan suhu tubuh tinggi.
"Kenapa demamnya tidak kunjung turun setelah dikompres dengan air hangat? Bahkan tubuhnya bergetar seperti orang kedinginan. Bagaimana jika wanita ini mati? Aku tidak ingin dipenjara."
Tanpa membuang waktu, Zafer meraih ponsel milik Tsamara dan menghubungi dokter keluarga. "Untung aku hafal nomor dokter karena ponselku hancur sekarang."
Butuh beberapa menit ia menunggu panggilan diangkat dan begitu suara serak terdengar, jelas sekali jika pria yang dihubungi baru saja terbangun.
__ADS_1
"Maaf mengganggu tidur Anda, Dokter. Aku Zafer dan ini nomor istriku. Ada hal darurat yang perlu penanganan segera. Aku tidak mau membawa ke rumah sakit karena khawatir jika banyak orang mengetahui keadaan istriku."
"Keadaan darurat seperti apa? Katakan saja!"
"Tubuh istriku demam dan sekarang menggigil seperti kedinginan. Tadi terjatuh dari kursi roda hingga membuat kening mengalami memar dan benjolan." Tidak ada yang ditutupi karena itu akan menghambat dokter menjelaskan pertolongan pertama.
"Apakah di kotak obat ada Paracetamol dan obat pereda nyeri? Kamu harus memberikan itu dulu sebelum aku tiba. Jadi, bisa mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh istrimu. Aku akan berangkat sekarang."
Zafer pun mematikan sambungan telpon dan kembali mengambil satu obat yang terlupakan. "Padahal aku tidak ingin bersusah payah melakukan itu, tapi sekarang terpaksa karena tidak ada pilihan lain."
Setelah menyiapkan semua, beberapa saat kemudian telah kembali ke ruangan kamar. Kemudian memilih untuk meminum obat dari sendok, tetapi tidak menelan.
Wajah Zafer terlihat sedang menahan rasa pahit di mulut dan langsung membungkuk dan mulai membungkam bibir Tsamara. Kemudian perlahan memasukkan obat dengan mulut sedikit demi sedikit, agar tidak ada yang keluar.
'Sial! Pahit sekali. Kau harus berterima kasih padaku.' Zafer sibuk dengan kegiatan mengobati Tsamara sesuai dengan perintah dokter dengan cara sendiri.
Sampai obat di mulut telah berpindah pada Tsamara, lalu melakukan hal serupa sampai dua kali karena memang ada obat berbeda yang harus diminum.
Sementara yang ketiga adalah air minum untuk melarutkan, agar cepat terserap tubuh. Butuh waktu lama Zafer melakukan itu karena sangat berhati-hati, agar tidak sampai membuat wanita itu tidak tersedak.
Tanpa memperdulikan apapun lagi, bahwa bibir mereka kembali bersatu seperti ketika berakting di depan orang tua.
Memang ini bukanlah disebut berciuman, tetapi mungkin bagi siapa saja yang melihat, akan dianggap sebagai hal yang sama.
Zafer kini terdiam mengamati wanita yang masih bergetar dan meraih selimut tebal itu untuk menutupi sampai bawah leher. Berharap jika wanita yang lebih terlihat seperti mayat hidup itu tidak merasa kedinginan lagi.
Namun, usahanya tidak berhasil karena Tsamara terus menggigil. Merasa geram, akhirnya ia naik ke atas ranjang dan melingkarkan tangan untuk memeluk erat tubuh di balik selimut itu.
__ADS_1
To be continued...