
'Kenapa tuan Zafer ada di sini? Apa yang terjadi?' gumam Tsamara masih mencoba untuk menormalkan perasaan dan mengingat hal yang terjadi.
'Aku ingat semalam tuan Zafer mendengar aku berbicara dengan nyonya Merry dan marah-marah, lalu ....'
Ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam dan berpikir jika kehilangan kesadaran. 'Aku pasti pingsan. Apa yang dilakukan pria ini? Apa tuan Zafer mencari kesempatan saat aku tidak sadar?'
'Tidak mungkin karena tuan Zafer sangat membenciku. Jangankan mencari kesempatan, melihatku saja sangat jijik,' gumam Tsamara yang kini melirik ke arah kanan. 'Putraku, di mana Keanu? Ada yang tidak beres, tapi apa?'
Merasa bingung harus melakukan apa, ia memilih diam dan menunggu sampai Zafer bangun dari tidur lelap dan sangat ingin mengetahui seperti apa respon pria itu. Apalagi Tsamara ingin menuntut penjelasan pada Zafer, atas apa yang dilakukan di atas ranjang tersebut.
'Aku tidak mungkin marah karena biar bagaimanapun, pria jahat ini tetaplah suamiku. Bahkan jika meminta hak, aku akan berdosa jika menolak. Meskipun sampai aku mati pun, tuan Zafer tidak akan meminta karena hanya mencintai wanita bernama Rayya.'
Berbagai macam pertanyaan kini seolah memenuhi otaknya, tetapi sama sekali tidak menemukan jawaban karena yang terjadi adalah memang setelah melihat Zafer tiba-tiba kepala pusing.
Bahkan sampai sekarang, rasa pusing itu tidak sepenuhnya hilang. Seolah masih betah bersarang di kepala. Ingin sekali ia memijat pelipis, tetapi tidak ingin mengganggu tidur nyenyak pria itu, sehingga memilih untuk diam.
Akhirnya dengan sabar menunggu hingga Zafer bangun. Namun, sudah setengah jam berlalu, tetap tak kunjung keluar dari alam bawah sadar.
'Apakah putraku juga belum bangun? Biasanya pagi-pagi sekali sudah bangun. Kenapa rumah ini sangat sepi? Di mana Sumi? Setiap pagi selalu membantuku di kamar, tapi ini sudah terlambat karena sudah pukul setengah tujuh. Bahkan sinar matahari sudah masuk melalui celah-celah kamar.'
'Aku tidak akan menemukan jawaban selama pria ini belum bangun. Kenapa tuan Zafer sangat lelap sekali? Apa semalam tidur larut? Bahkan ini adalah hari bahagia yang harusnya membangkitkan semangat dan segera berangkat ke rumah.'
Saat baru saja selesai berbicara sendiri di dalam hati, mendengar suara ponsel yang berdering dan tentu saja mengetahui jika itu bukan milik Zafer.
Namun, merasa kebingungan untuk mengangkat saat ada Zafer yang tidur di sebelah. 'Siapa yang menelpon?'
Suara dering ponsel yang menghiasi keheningan ruangan kamar tersebut berhasil membangkitkan alam bawah sadar Zafer karena saat ini mulai menggerakkan tubuh untuk meluruskan kaki yang dari tadi berada di atas Tsamara.
__ADS_1
Sementara itu, Tsamara yang tadi berniat untuk melihat seperti apa respon Zafer ketika bangun, memilih untuk langsung memejamkan mata. Berakting seolah belum bangun dan mendengar suara pria itu.
Zafer kini mengerjapkan kedua mata dan masih terdiam untuk mengingat apa yang terjadi. Begitu menyadari bahwa dari semalam memeluk erat Tsamara yang menggigil, refleks langsung menaruh telapak tangan pada dahi wanita itu.
"Demamnya sudah turun." Zafer beralih bangkit dari posisi yang dari tadi berbaring. "Siapa yang menelpon pagi-pagi begini?"
Zafer pun kini sudah duduk di tepi ranjang dan mengambil ponsel milik Tsamara.
Berpikir jika yang menghubungi adalah pelanggan catering, ia mengecek dan melihat nama sang ibu karena tertulis di sana mama Erina.
"Mama?" Zafer melihat jam pada ponsel. "Pasti ingin menanyakan tentang masalah yang ingin disampaikan wanita ini semalam.
Merasa penasaran, Zafer menggeser tombol hijau ke atas untuk menjawab panggilan, tetapi sama sekali tidak mengeluarkan suara.
"Halo, Sayang. Apakah Zafer ada di rumah? Kenapa ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi?" ujar Erina dari seberang telpon yang merasa pusing karena dari pagi Rayya mengeluh tidak bisa menghubungi dan menyuruh untuk menanyakan pada Tsamara.
Sengaja ia menipu sang ibu karena malas menjelaskan bahwa sebenarnya ponsel kemarin dibanting saat marah pada Rayya yang terlalu posesif.
"Zafer? Kenapa kamu yang mengangkat ponsel Tsamara? Atau kalian memang sedang berdua?" tanya Erina yang merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Zafer melirik ke arah wanita yang masih memejamkan mata dan kembali membuka suara, "Iya, kami sedang bersama. Apa Mama puas? Bukankah tadi bertanya? Kenapa malah membahas Tsamara. Ada apa Mama menghubungi?"
"Kenapa? Dasar anak nakal. Kenapa kau tidak segera datang? Rayya dari pagi mengganggu Mama karena tidak bisa menghubungimu. Jadi, menyuruh untuk bertanya pada Tsamara. Apa kamu sudah berangkat?"
"Jam berapa ini? Bukankah acara sekitar jam sepuluh? Jadi, aku akan berangkat pukul sembilan saja. Aku pusing karena semalam tidur larut. Jadi, baru bangun setelah mendengar suara dering ponsel." Dengan santai menjelaskan tanpa merasa apapun.
Sementara Tsamara yang masih berpura-pura tertidur, merutuki kebodohan Zafer ketika menjelaskan. 'Kenapa mengatakan seperti itu? Mama bisa salah paham nanti,' lirih Tsamara di dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu di seberang telpon, Erina mengerutkan kening karena merasa sangat heran sekaligus curiga karena sangat tahu jika Zafer selama ini tidur di kamar terpisah. Namun, hari ini seperti menjelaskan jika tengah tidur bersama.
"Zafer, apa yang terjadi?"
"Maksud, Mama apa?" Zafer kini memilih menuangkan air dari teko ke dalam gelas meneguk hingga habis sambil menunggu jawaban dari sang ibu.
Namun, seketika tersedak begitu mendengar suara sang ibu.
"Bukankah selama ini kalian tidur di kamar terpisah? Bagaimana bisa sekarang kau bersama Tsamara? Apa kalian semalam tidur bersama? Di mana Tsamara sekarang? Mama mau bicara!"
Sementara itu, Zafer yang menyadari kebodohan karena sama sekali tidak tahu jika sang ibu mengetahui bahwa selama ini tidur terpisah.
"Sejak kapan Mama tahu? Apa para pelayan sialan itu yang memberitahu? Lalu, apa papa juga tahu?"
"Kamu tidak tahu, ya kalau di rumah dipasang CCTV canggih yang tidak terlihat kameranya. Dasar bodoh. Apakah kamu pikir papa dan Mama sama sekali tidak tahu kehidupan rumah tangga kalian?" Erina tersenyum smirk karena berhasil menipu putra sendiri.
Padahal sama sekali tidak ada CCTV di rumah itu karena memang sang suami tidak ingin melihat kehidupan privasi putra dan menantunya.
"Jika ada CCTV, kenapa Mama tidak tahu apa yang terjadi semalam?" Zafer masih merasa aneh dengan perkataan sang ibu.
"Karena belum sempat mengecek rekaman. Apa kamu tidak tahu jika dari pagi tadi sudah sibuk dengan acara pernikahanmu karena mertuamu meminta yang pantas dan tidak ingin biasa karena itu menghina harga diri. Bahkan semalam papamu emosi karena hal itu. Apa kamu sudah bertemu dengan mertuamu?"
Mengingat mertua yang sudah merasakan pukulan, Zafer merasa malas untuk membahas. "Nanti aku ceritakan semua, Ma. Ada hal yang harus kulakukan sekarang. Aku tutup telponnya!"
Tanpa memperdulikan nada protes sang ibu yang protes di seberang telpon karena belum selesai berbicara, sudah memutuskan panggilan. Merasa jika ada sesuatu yang terlewat, kini berteriak, "Sumi! Paijo!"
To be continued...
__ADS_1