Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kebencian Rayya


__ADS_3

Beberapa saat lalu setelah mendapatkan telpon dari sang ayah, Zafer langsung mengajak Rayya pulang. Namun, sebelum itu, berbicara pada dokter dan perawat yang ada di ruangan yang menjadi tempat pemeriksaan sang kekasih.


"Kalian tidak boleh menyebarkan kabar ini pada orang lain. Di rumah sakit ini, hanya tiga orang yang tahu." Zafer pun menunjuk satu persatu, dimulai dari sosok dokter dan dua perawat yang membantu. "Aku sangat ingat wajah kalian."


"Jika sampai kabar ini sampai diketahui awak media, tamat riwayat kalian!" Zafer harus memastikan rahasia besar mengenai kehamilan Rayya yang bukan merupakan kekasih, kini harus dijaga setelah mendapatkan ancaman dari sang ayah.


Bahkan saat ini masih terngiang ancaman sang ayah dan membuatnya khawatir.


Jika sampai kabar kau menghamili wanita lain tersebar di media dan membuat harga saham turun, sehingga terancam mengalami kerugian, angkat kaki dari rumah dan jangan membawa apapun. Papa ingin tahu, apa kau bisa hidup di luaran sana tanpa aset dari keluarga Dirgantara?


Tentu saja saat mendapatkan telpon ancaman penuh kemurkaan dari sang ayah, Zafer kini merasa sangat takut dan akhirnya memilih untuk mengancam dokter dan dua perawat di ruangan itu.


Sang dokter mewakili perawat yang membantu untuk menanggapi. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan Zafer. Semua privasi dari pasien tidak akan pernah terekspose."


"Mungkin jika orang lain iya karena itu tidak penting, tapi jika kabar itu adalah tentangku, pasti banyak yang ingin tahu. Jadi, jaga kepercayaan yang telah kuberikan pada kalian untuk menjaga kabar baik ini. Jangan sampai para awak media mengetahui dan membuat wanitaku stres, sehingga berdampak pada anak-anakku yang masih berada di rahimnya."


Saat Zafer melihat tiga wanita berseragam putih itu menganggukkan kepala tanda mengerti sekaligus setuju, kini Zafer mendekati Rayya dan membantu untuk bangkit dari ranjang.


"Kita harus kembali sekarang, Sayang."


Rayya sudah bisa menebak siapa yang menghubungi Zafer, sehingga berakhir marah-marah pada petugas medis itu. Tentu saja saat ini memilih patuh dan sudah berjalan di samping pria dengan wajah masam tersebut.

__ADS_1


'Apalagi masalah yang dibuat oleh pria tua bangka itu! Rasanya aku ingin segera mencekik sampai mati, agar Zafer tenang dan tidak panik seperti ini setiap hari. Jika menunggu wanita cacat itu pergi dengan keinginan sendiri, itu terlalu lama.'


'Aku tidak akan pernah bisa sabar. Lebih baik aku menghabisi orang tua Zafer yang menjadi penghalang utama. Sementara wanita cacat itu pasti akan ketakutan jika kuancam akan membunuh bocah laki-laki itu,' gumam Rayya yang kini masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu.


Dengan penuh kasih, Zafer memperlakukan wanita yang telah hamil anak kembar dan tidak ingin Rayya terluka sedikit pun. Begitu duduk di belakang kemudi, ia pun menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan mewah miliknya tersebut membelah kemacetan kota.


Dengan sesekali melirik ke arah sosok wanita di sebelah kiri, Zafer menyadari jika dari tadi belum berbicara dengan sang kekasih. "Sayang, maafkan aku."


"Aku benar-benar stres karena papa tadi mengancam akan mengusirku tanpa memperbolehkan membawa fasilitas apapun jika sampai wartawan mengetahui kehamilanmu."


Sementara Rayya meremas gaun yang dikenakan dan merasa sangat marah dengan kenyataan tentang hal yang selalu didengar berulang kali. Ancaman, tentu saja telinga Rayya saat ini sangat panas karena selalu sesuatu yang sama dan selalu diungkapkan oleh Zafer.


Mencoba untuk menyembunyikan amarah yang membuncah di dada, Rayya kini menoleh dan berakting tenang seperti air. "Lebih baik patuhi saja orang tuamu karena ini memang demi kebaikan kita."


Perkataan dewasa dan bijak dari Rayya terasa menyejukkan amarah yang menyeruak di setiap aliran darah Zafer. Sebenarnya merasa sangat aneh melihat sikap wanita itu yang sama sekali tidak marah seperti biasa.


Namun, sangat lega karena sang kekasih akhirnya mau mengerti dan tidak menuntut macam-macam lagi.


'Aneh, tapi aku sangat bahagia melihat kekasihku telah sadar dan mau mengerti,' gumam Zafer yang kini memilih untuk menjelaskan mengenai apa saja yang harus dilakukan oleh Rayya.


"Kamu benar, Sayang. Kita harus bersabar atas semua ini. Setelah papa memberikan semua harta atas namaku, kita bisa bebas berbuat sesuka hati. Tidak akan lama lagi, jadi tunggu saja. Nanti, jangan berbicara apapun, biar aku yang menjelaskan pada orang tuaku."

__ADS_1


"Papa dan mamaku pernah mengatakan jika sikapmu pada orang yang lebih tua kurang sopan saat berbicara. Jadi, lebih baik harus menjawab dengan seperlunya saja. Serahkan semuanya padaku. Lagipula, kamu sedang hamil dan seperti kata dokter tadi, akibat pengaruh hormon yang naik ketika hamil, jadi tidak bisa menahan emosi."


Zafer menghentikan penjelasan dengan meraih pergelangan tangan sang kekasih dan menggenggamnya erat. "Apa kamu, mau?"


Rayya kini masih mengikuti sandiwara yang diciptakan demi mendapatkan status sebagai istri Zafer. "Iya, aku akan selalu mengingat kata-katamu, Sayang."


"Sepertinya aku harus belajar tentang cara berbicara dengan sopan pada orang yang lebih tua. Aku ingin mencari tahu sebentar." Rayya melepaskan genggaman tangan Zafer dan meraih ponsel di dalam tas.


Beralasan ingin mencari di ponsel mengenai sesuatu yang membuat orang tua Zafer tidak memberikan restu. 'Muak sekali aku melihat mereka, tapi harus berakting bersikap manis.'


'Mereka lebih suka pada wanita munafik yang berpura-pura baik dari pada sikap apa adanya yang kutunjukkan. Dasar para orang tua bodoh. Rasanya tadi aku ingin mengempaskan tanganku saat digenggam oleh Zafer yang lemah.'


'Namun, tidak mungkin kembali menyulut amarah Zafer ketika suasana hati sedang tidak baik saat ini. Jadi, aku beralasan mencari di salah satu mesin pencarian untuk melihat bagaimana cara bersikap sopan pada orang tua.'


Selama ini, ia hanya berinteraksi dengan sang ayah yang kasar dan sering mengumpat. Jadi, seolah sudah tertanam di otak mengenai apapun yang ditunjukkan oleh pria itu dari kecil.


Benar apa yang dikatakan oleh banyak orang, jika memberikan contoh yang baik untuk anak merupakan cara tepat mendidik.


Karena anak akan merekam apapun yang dilihat dan mencontoh perbuatan orang dewasa. Hal itu yang menjadi sikap Rayya saat ini dan tidak mungkin bisa merubah diri karena selain watak dan gen dari sang ayah, dari kecil dibesarkan dengan cara seperti itu.


Namun, ia berpikir jika itu adalah diri yang sesungguhnya dan tidak mungkin bisa merubah semua dengan satu kedipan mata. Jadi, menganggap jika apa yang ditunjukkan adalah diri sebenarnya, bukanlah seseorang yang munafik dan penuh sandiwara.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2