
Tsamara saat ini meremas gaun yang dipakai begitu mendengar jika pria yang merupakan suaminya tersebut menyebut wanita lain.
'Hukum alam alam sedang bekerja dan menghukum apa yang telah kulakukan di masa lalu.'
Tsamara merasa sangat sesak di dalam hati karena mengetahui perselingkuhan dari sang suami yang tidak pernah mencintainya.
'Kenapa rasanya sangat sakit seperti ini? Padahal aku tidak pernah mencintai tuan Zafer.'
'Pasti dulu mantan suami pertamaku merasakan hal yang lebih sakit dari ini ketika aku menyebutkan nama Rey.' Tsamara menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak memikirkan perselingkuhan Zafer.
Ia berpikir bahwa pernikahannya hanyalah sebuah surat di atas kertas karena dilakukan atas dasar terpaksa. Jadi, memilih untuk menjalani pernikahan yang dianggap sebagai sebuah peleburan dosa dan berusaha tidak mengeluh.
Embusan napas kasar mengungkapkan bahwa saat ini perasaannya tidak menentu, tetapi berusaha untuk bersikap tenang. Kemudian mengarahkan kursi roda menuju ke ruangan putranya karena mendengar suara canda tawa dari mertua.
Rasa sedih yang membuncah di dalam hati, seolah sedikit berkurang karena merasa sangat bahagia melihat mertuanya sangat menyayangi putranya yang bukan merupakan cucu asli.
'Terima kasih, Tuhan. Engkau masih memberikan kebahagiaan untuk wanita berdosa ini. Setidaknya, putraku tidak akan merasakan penderitaan karena ada mereka yang menyayanginya. Apalagi aku sudah tidak mempunyai keluarga dan merasa iba pada putraku yang kesepian.'
Tsamara merasakan bola mata berkaca-kaca dan hampir saja bulir bening mengalir di pipi putihnya. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meloloskan. Sampai suara dari mertua perempuan kini mengalihkan lamunan sedihnya.
"Sayang, kenapa hanya di situ? Kemarilah? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Erina melambaikan tangan pada menantu yang sangat disayangi.
Bahkan Adam Dirgantara pun mengulas senyuman ketika melihat menantunya. "Aku sengaja menunda perintah untuk menyuruh Zafer ke rumah utama. Biarkan ia tenang malam ini, baru besok mengatakan untuk menyuruh kalian pindah."
Tsamara yang baru saja masuk, kini menganggukkan kepala dan menyetujui apapun yang dikatakan oleh mertuanya. "Aku mengerti, Pa. Apakah sebaiknya kita makan malam dulu?"
"Kamu benar. Lebih baik kita segera ke ruang makan. Aku akan menyuruh pelayan untuk memanggil Zafer." Erina kini merengkuh tubuh balita yang menurutnya sangat menggemaskan tersebut dan menggendong keluar dari ruangan kamar.
Diikuti oleh Adam Dirgantara yang kini memilih untuk mendorong kursi roda menantunya menuju ruang makan.
__ADS_1
"Apakah Zafer bersikap kasar padamu saat berada di dalam kamar tadi?"
"Sama sekali tidak, Pa. Tenang saja karena sepertinya tuan Zafer merasa iba padaku karena hanyalah merupakan wanita cacat. Jadi, sepertinya tidak akan berbuat kasar." Ada kegetiran defensif yang dirasakan Tsamara saat ini ketika mengungkapkan keadaannya.
"Kamu tidak akan cacat selamanya karena aku sedang mengusahakan untuk mencari dokter terbaik yang akan menyembuhkan kakimu. Aku harap kamu bersabar dan tidak putus asa."
Adam Dirgantara menepuk lembut pundak menantu untuk memberikan aura positif, agar tidak patah semangat.
Di saat bersamaan, Zafer sudah berjalan untuk menemui orang tuanya karena ingin mengatakan mengenai sang kekasih yang telah hamil benihnya. Ia sangat khawatir karena sang kekasih tidak mengangkat panggilan dan selama ini tidak pernah seperti itu.
Namun, ia semakin bertambah jijik pada wanita di atas kursi roda tersebut begitu melihat interaksi antara ayahnya dengan Tsamara karena terlihat sangat dekat dan menimbulkan pemikiran buruk di otaknya.
'Dasar wanita murahan. Aku yakin bahwa ia merayu papa, agar membuatku tidak menceraikan dan mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa masa lalunya sangat kelam.'
'Wanita ini sangat licik dan berbahaya. Aku harus berhati-hati padanya karena seperti ular betina yang siap kapan saja mengeluarkan bisa yang akan menghancurkan kami semua.'
'Aku sangat yakin jika saat ini yang dipikirkan olehnya adalah harta milik keluargaku. Aku tidak ingin hakku jatuh ke tangan wanita tidak tahu diri ini.'
Adam Dirgantara memicingkan mata melihat ke arah putranya. "Kali ini, apalagi rencanamu untuk mengusir Tsamara dari rumah ini?"
Tsamara saat ini hanya diam saja karena firasatnya sangat buruk dan hanya bisa bergumam di dalam hati untuk mengungkapkan kekhawatiran yang dirasakan.
'Apakah tuan Zafer akan membahas mengenai kekasihnya?'
Zafer refleks langsung menggelengkan kepala karena bukan itu yang akan diungkapkan pada orang tua dan juga wanita licik tersebut.
"Ini tidak ada hubungannya dengan menantu kesayangan Papa."
"Lalu?" Erina merasa sangat penasaran dan tidak sabar untuk mendengarkan apa yang akan diungkapkan oleh putranya.
__ADS_1
Zafer berdehem sejenak sebelum menceritakan tentang sang kekasih yang telah hamil benihnya. "Aku ingin menikahi Rayya yang telah hamil benihku."
Refleks suara bariton dari Adam Dirgantara menggema di ruang makan.
"Dasar pria bejat!"
Amarah yang membuncah di dalam hati dengan wajah memerah dan tangan mengepal, serta rahang yang mengeras, seolah membuktikan bahwa saat ini pria paruh baya tersebut dipenuhi oleh angkara murka.
Untuk kesekian kali, Adam mengarahkan pukulan pada wajah Zafer setelah berjalan cepat dan tidak membuang waktu untuk memberikan pelajaran pada satu-satunya putra yang selama ini menjadi harapan, tetapi selalu mengecewakan.
"Kau bahkan seperti binatang yang melakukan hubungan **** sesuka hati."
Sementara Tsamara yang merasa perasaannya hancur sekaligus mengingat akan masa lalu ketika ibu dari Rey dulu berekspresi sama seperti mertuanya saat ini begitu mendengar kabar kehamilan di luar nikah.
'Tuhan, sebenarnya aku tidak ingin mengeluh dengan apa yang kuhadapi saat ini. Sabarkan aku, agar kuat menghadapi karma dari apa yang kutanam di masa lalu. Apa yang sekarang harus kulakukan saat suamiku telah menghamili wanita lain?'
'Apakah aku bisa menerima suamiku menikah lagi? Ini tidak pernah terbayang di pikiranku, memiliki seorang suami yang berpoligami. Berikan aku petunjuk untuk mengambil keputusan.'
Hati Tsamara bertambah hancur begitu mendengar keinginan dari sang suami.
"Aku sangat mencintai Rayya dan ingin menikahinya. Papa bahkan sudah tahu hal itu, tetapi malah memaksaku untuk menikahi wanita murahan dan tidak berguna ini. Aku harus bertanggung jawab pada kekasihku yang telah hamil calon cucu keluarga Dirgantara." Zafer sama sekali tidak memperdulikan kemurkaan sang ayah.
Satu-satunya hal yang diinginkan adalah menikahi Rayya karena ingin bertanggung jawab atas kehamilan sang kekasih.
"Harusnya Papa bahagia mendengar kabar baik ini karena akan mendapatkan seorang cucu yang asli merupakan benihku."
Kemudian Zafer mengarahkan jari telunjuk pada balita yang digendong oleh sang ibu.
"Sementara bocah ini bukanlah anakku dan merupakan benih dari selingkuhan wanita murahan itu. Jadi, apa bedanya aku dengan Tsamara yang dulu juga berselingkuh dari suaminya?"
__ADS_1
To be continued...