Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Ronde kedua


__ADS_3

Mencoba untuk berpikir positif bahwa Rayya tidak akan membunuhnya ataupun menyakiti Keanu. Bahkan membayangkan hal itu saja membuatnya bergidik ngeri. Meskipun akan melindungi putranya sampai titik darah penghabisan, tetap saja Tsamara merasa khawatir.


Khawatir dan takut adalah sesuatu yang sangat berbeda karena Tsamara bukanlah seorang wanita yang penakut.


Namun, satu-satunya hal yang ingin dilindungi adalah Keanu. Apalagi orang-orang yang tidak menyukainya sudah mengetahui bahwa kelemahannya adalah Keanu, jadi berpikir jika Rayya akan menyerangnya dengan cara itu.


"Kamu belum menjawabnya, Istriku." Zafer bahkan menjawab dengan menggigit kecil daun telinga Tsamara untuk memberikan sebuah hukuman. "Jawabannya harusnya antara dua, yaitu nikmat atau tidak?"


Tsamara yang merasa kegelian atas perbuatan suami, seketika menarik diri dengan menggerakkan wajah. Bahkan berusaha untuk membuat Zafer segera melepaskan kuasa karena seolah betah berlama-lama pada posisi sangat intim.


"Nikmat. Apa kamu puas? Sekarang tolong menyingkir karena aku mau berpakaian." Tsamara bahkan kini mencoba untuk mendorong dada bidang Zafer agar menjauh darinya.


Tentu saja terus berada pada posisi intim membuat Tsamara merasa tidak nyaman dan ingin segera mandi karena risi. Apalagi tubuhnya serasa lengket semua.


Zafer yang terdorong ke sebelah kiri, kini menatap tajam Tsamara yang sudah berusaha bangkit dan langsung menahan agar tidak berhasil.


"Aku belum puas denganmu karena masih ada ronde kedua," ucap Zafer dengan santai sambil memeluk erat pada bagian perut datar Tsamara.


Tsamara yang tadinya hendak duduk, kembali terdorong hingga tertidur telentang dan membulatkan mata karena sangat terkejut saat tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan oleh Zafer.


"Apa? Ronde kedua?" Tsamara bahkan kemudian menelan ludah begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Zafer yang dianggap sangat mesum.

__ADS_1


Sementara itu, Zafer yang sama sekali belum bisa melupakan perkataan Tsamara saat membahas Rey sangat kuat ketika bercinta, sehingga ingin menunjukkan kekuatan. Bahwa tidak kalah kuat dengan Rey.


Jadi, Tsamara tidak meremehkan kekuatannya. "Dulu Rey bercinta denganmu sampai berapa ronde?"


Saat Tsamara mulai mengerti penyebab kegilaan Zafer kini kembali menyerang pria itu dengan membalik pertanyaan. "Bukankah kamu tadi melarangku menyebut nama Rayya saat bersama? Lalu kenapa sekarang menyebut nama Rey?"


"Apalagi sampai bertanya mengenai hal yang bersifat sangat privasi. Itu benar-benar sangat keterlaluan. Memangnya aku pernah bertanya padamu berapa kali dalam satu hari bercinta dengan Rayya?"


Merasa tertampar dengan jawaban Tsamara, seketika membuat Zafer menelan ludah dengan kasar. Hingga beberapa saat kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Kamu benar juga, tapi aku tadi sebenarnya ingin membuatmu puas. Seharusnya berterima kasih padaku."


"Baiklah. Terima kasih. Apakah sekarang kamu bisa membantuku ke kamar mandi?" Tidak ingin berdebat dengan Zafer, sehingga Tsamara memilih mengalah karena berpikir tidak ada gunanya berebut benar melawan pria yang dianggap sangat kekanak-kanakan tersebut.


"Sebentar lagi karena bukankah posisi seperti ini sangat nyaman? Tenang saja karena aku nanti akan membantumu. Bukankah mandi bersama terdengar sangat menyenangkan?" Zafer menyipitkan mata begitu ponsel yang ada di saku jas berbunyi.


Tadi Zafer melepaskan pakaian dan membiarkan berserakan di lantai. Saat berpikir bahwa orang yang menelpon hanya seorang pengganggu momen romantis dengan sang istri, sehingga tidak berniat untuk menjawab telpon.


Tsamara yang bahkan tidak membayangkan akan mandi bersama Zafer, berniat untuk menolak, tapi tidak jadi mengungkapkan karena merasa terganggu dengan suara dering telpon yang memekakkan telinga.


"Kenapa tidak diangkat? Siapa tahu penting." Tsamara berusaha untuk menyingkirkan tangan kuat Zafer dari perutnya karena berpikir ingin membantu mengambilkan ponsel di saku jas yang letaknya tak jauh dari sofa.

__ADS_1


Apalagi tempat mereka bercinta bukanlah di atas ranjang karena berada di atas sofa menjadi pilihan Zafer dan tidak jadi mengganti pakaian seperti perintah pria itu.


Berpikir apa yang dikatakan Tsamara mungkin benar, akhirnya Zafer memilih untuk menuruti perintah itu dan bangkit dari sofa.


Begitu berhasil mengambil benda pipih tersebut, melihat kontak Rayya dan membuatnya malas. "Benar apa yang kukatakan tadi. Telpon dari orang tidak penting!"


Kemudian menekan mode getar agar tidak terdengar suara jika ada yang menelpon, Zafer pun kembali memasukkan ke dalam saku jas.


Melihat Tsamara berusaha berpakaian, refleks Zafer membungkuk untuk mengangkat tubuh wanita yang membuatnya geram. "Bukankah kamu mau mandi? Buat apa berpakaian? Lebih baik kita lanjutkan ronde kedua di dalam kamar."


Saat berpikir jika Zafer tadi hanya bercanda, tapi ternyata benar-benar akan kembali menyalurkan gairah, Tsamara kini tidak bisa berkomentar apapun.


Antara mulut dan respon tubuh yang tidak sinkron seperti menjadikannya seorang wanita munafik. Jadi, saat ini hanya memilih untuk menerima apapun yang akan dilakukan Zafer padanya.


Bahkan sekarang berpikir telah benar-benar gila karena tengah membandingkan kekuatan Zafer dengan Rey. 'Manakah di antara mereka yang lebih kuat bercinta?'


Namun, menyadari jika itu membuatnya seperti seorang wanita yang haus ***, Tsamara tidak ingin melanjutkan untuk memikirkan tentang jawabannya.


Hingga beberapa saat kemudian tubuhnya diturunkan Zafer ke dalam bathtub dan tentu saja langsung mengisi dengan air.


Zafer yang saat ini tidak main-main dengan ucapannya, kembali melancarkan aksinya untuk menghabisi Tsamara dengan cara mengirimkan gelombang kenikmatan pada setiap sudut tubuh wanita yang dari tadi diam tanpa berniat untuk membuka mulut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2