
Sementara itu, Rayya yang merasa bersalah karena membuat Raymond marah, semakin kebingungan untuk mengambil keputusan.
Kini, ia beranjak bangkit dari ranjang dan duduk di tepi sambil membeli tubuhnya dengan selimut.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu kesal, Raymond. Aku hanya ingin kamu memberikanku waktu, tapi sepertinya tidak ingin aku berpikir dan langsung memilihmu."
Rayya mengembuskan napas kasar yang mewakili perasaan kacau hari ini dan mengedarkan pandangan ke sekeliling area ruangan pribadi pria yang bahkan sudah membuatnya mendesah penuh kenikmatan hari ini.
Kemudian ia beberapa kali mengarahkan pukulan pada kepala karena merasa jika hari ini tidak bisa mengendalikan diri dan jatuh pada pesona sahabat kecilnya tersebut.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar sangat bingung saat ini," ucap Rayya yang saat ini menatap ke arah tas jinjing miliknya di atas meja.
Karena ingin memeriksa sesuatu, sehingga saat ini berjalan mendekati meja dan mengambil ponsel, lalu duduk di atas sofa. Ia berpikir bahwa Zafer akan mengirimkan banyak pesan dan juga menelpon karena khawatir padanya.
Jadi, ingin memastikan hal itu dengan membuka ponsel yang sengaja dikunci dengan sandi wajah. Begitu berhasil membuka sandi, langsung memeriksa daftar panggilan dan juga pesan.
Namun, wajah memerah terlihat jelas saat ini ditunjukkan oleh Rayya karena benar-benar marah ketika melihat tidak ada satupun pesan maupun panggilan telpon dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
Bahkan saat ini ia tertawa miris meratapi nasib ketika sudah tidak mendapatkan perhatian sedikitpun dari sang suami.
"Ia bahkan sama sekali tidak bertanya aku pergi ke mana, apalagi menelpon. Aku sangat yakin jika saat ini pasti sedang merasa senang dengan kepergianku karena bisa bermesraan dengan wanita cacat itu sepuas hati."
Rayya saat ini masih memegang ponsel di tangan kiri, sedangkan tangan kanan mengepal erat karena marah pada pria yang selama ini dicintai sekaligus dipercaya.
"Zafer, kau telah berani berselingkuh di belakangku dengan Tsamara. Bahkan sekarang meskipun aku sudah bercinta dengan Raymond, tetap tidak membuatku merasa baik-baik saja. Aku tidak bisa tinggal diam dengan apa yang kau lakukan padaku."
__ADS_1
"Wanita cacat itu harus musnah dari dunia ini dan menyusul orang tua tidak berguna itu." Rayya yang masih merasa sangat marah, seperti ingin meledakkan kemurkaan dengan cara bersenang-senang dengan pria lain untuk membalas dendam.
"Sekarang, aku sudah memiliki Raymond yang bahkan sangat mencintaiku dan tetap ingin menikahi meskipun berstatus sebagai istri Zafer dan juga sedang hamil. Aku sangat yakin jika ia sangat mencintaiku."
"Zafer harus membayar semuanya karena berani mempermainkanku. Namun, sekarang giliran pertama adalah wanita cacat itu harus disingkirkan dari sisi Zafer terlebih dahulu. Setelah itu, ia akan kehilangan Tsamara sekaligus aku dan melihatku hidup bahagia dengan Raymond."
"Itu adalah hukuman yang pantas untuk Zafer hari ini." Rayya saat ini masih merasa sangat marah, tetapi begitu melihat sosok pria yang keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang dan rambut basah acak-acakan dengan tetesan air membasahi wajah.
Pemandangan indah itu tidak disia-siakan oleh Rayya karena tidak berkedip menatap sosok pria yang berjalan mendekat ke arahnya.
'Raymond adalah seorang pria lebih tampan dan jauh lebih baik dari Zafer,' gumam Rayya yang saat ini mendengar suara bariton pria yang semakin berjalan mendekat.
"Apa kamu tidak mandi? Bukankah kamu harus segera kembali pada suamimu setelah bersenang-senang denganku?" Raymond saat ini masih merasa kesal pada Rayya dan tidak memperdulikan apapun saat mengungkapkan sindiran.
Sementara itu, Rayya saat ini masih diam duduk di sofa dan merasa jika sikap Raymond yang sangat sinis itu dikarenakan merasa marah sekaligus cemburu, sehingga membuatnya yakin jika sosok pria di hadapan tersebut sangat mencintainya.
Kemudian dengan mengedipkan mata pada pria yang dari tadi mengunci tatapan tanpa berkedip, kembali menggoda pria yang merupakan sahabat kecilnya. "Aku akan pergi mandi setelah kamu menciumku."
"Cium aku," lirih Rayya yang saat ini melakukan gerakan erotis untuk menggoda Raymond dan berharap sikapnya itu bisa membuat pria dengan tubuh sixpack tersebut mau memenuhi keinginannya.
Sementara itu, Raymond yang tadinya sangat marah pada Rayya karena tidak langsung memilihnya dan malah ragu, kini menelan saliva dengan kasar ketika merasa jika sikap wanita di hadapannya tersebut sangat nakal ketika menggodanya.
"Sepertinya kamu ingin menunjukkan tengah tergila-gila pada perbuatanku beberapa saat yang lalu." Setelah menanggapi, Raymond tidak membuang waktu lagi karena sudah melangkahkan kaki panjangnya mendekati wanita yang sudah polos tersebut.
Kemudian memenuhi keinginan wanita itu dan kembali menghiasi ruangan kamar dengan suara ******* dan rintihan seksi dari Rayya dengan beraksi sangat liar.
__ADS_1
Sementara itu, Rayya yang sudah mengambil keputusan dengan merasa yakin untuk memilih sahabat kecilnya tersebut, berpikir tidak akan pernah merasa menyesal.
'Kamu akan menyesal setelah kehilangan Tsamara dan juga aku, Zafer. Kau tidak akan mendapatkan apapun karena berani mengkhianatiku,' lirih Rayya yang saat ini sudah terbuai dengan perbuatan Raymond dan membenamkan jari jemari pada rambut hitam berkilat yang masih basah tersebut.
Bahkan tanpa ragu, mengungkapkan apa yang dirasakan dengan mendesah dan merintih di dalam ruangan kamar pria itu.
Hingga beberapa saat kemudian, Raymond yang telah berhasil mengirimkan denyut kenikmatan pada Rayya, kembali menyalurkan gairah di atas sofa dengan berbagai macam gaya.
Setengah jam berlalu dan keduanya sudah selesai melakukan percintaan panas yang liar di atas sofa dan kini sudah duduk berdampingan.
Rayya bahkan saat ini sangat percaya diri duduk di pangkuan Raymond dan ingin menanyakan sesuatu yang membaca di pikiran.
"Raymond, jawab aku dengan jujur karena ini penting bagiku."
"Apa?" sahut Raymond yang saat ini mengarahkan tangan untuk mengusap lembut pipi putih wanita di pangkuan.
"Kamu tahu bahwa saat ini aku sedang hamil, bukan? Apakah kamu akan menerima anak-anakku jika aku berpisah dengan Zafer? Sebenarnya hal inilah yang kutakutkan dari tadi dan membuatku ragu untuk memilihmu." Akhirnya ia merasa sangat lega karena bisa mengungkapkan apa yang ditakutkan.
Sementara itu, Raymond seketika menganggukkan kepala tanpa berpikir terlebih dahulu. "Tentu saja. Itu karena aku sangat mencintaimu dan pastinya akan menyayangi seperti anak kandungku sendiri."
Raymond yang saat ini bisa melihat wajah Rayya berbinar, kini mendekatkan wajah dengan membisikkan sesuatu di dekat daun telinga wanita itu. "Namun, aku juga kamu ingin melahirkan anak dari benihku."
Rayya saat ini terkekeh geli karena melihat apa yang baru saja dikatakan oleh Raymond. "Tentu saja aku akan melahirkan benihmu setelah kita menikah nanti."
"Memangnya kamu ingin punya anak berapa? tanya Rayya yang saat ini masih menatap intens wajah tampan di hadapannya.
__ADS_1
To be continued...