
Jadi, tadi Sumi membangunkan suami, agar menemani untuk memeriksa. Hingga pertanyaan dari majikan laki-laki tersebut berhasil membuat Sumi menelan saliva dengan kasar dan kebingungan untuk menjawab.
"Apa kau tahu kunci cadangan kamar ini? Istriku jatuh dan pintu dikunci, tapi kunci ini sama sekali tidak ada yang cocok." Kemudian Zafer menunjukkan telapak tangan dengan sepuluh kunci tersebut pada pelayan yang terlihat seperti kebingungan untuk menjawab.
"Itu ... Tuan ...." Sumi menggaruk tengkuk belakang dan ragu untuk menjawab tentang sesuatu yang diketahui.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Zafer merasa sangat aneh dengan apa yang disembunyikan oleh wanita paruh baya itu. "Ada apa? Apakah ada sesuatu yang tidak kuketahui?"
Zafer mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada pelayan yang terlihat pucat tersebut.
"Cepat katakan!" teriak Zafer yang sangat marah sekaligus kesal karena di saat situasi genting seperti ini malah tidak langsung menjawab.
"Ada apa, Bu? Kenapa tidak langsung menjawab pertanyaan tuan Zafer?" tanya Paijo yang ikut merasa heran dan khawatir pada sang istri.
Merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya Sumi menceritakan sesuatu yang diketahui. "Itu, Tuan Zafer. Beberapa hari setelah saya tiba di rumah ini, saya melihat nyonya Tsamara memanggil tukang kunci dan menyuruh untuk mengganti."
"Sementara semua kunci dibawa dan itu salah satu kunci lama dan pastinya tidak cocok untuk pintu ini. Sebenarnya saya ingin meminta satu sebagai jaga-jaga jika terjadi sesuatu, tetapi sepertinya nyonya Tsamara tidak ingin meninggalkan kunci cadangan. Entah apa sebabnya."
Sumi akhirnya berbicara jujur dengan apa yang diketahui. Meskipun merasa sangat khawatir jika keterangannya memicu pertengkaran hebat lagi seperti tadi.
Sumi sebenarnya ingin sekali mengatakan jangan marah pada sang istri, tetapi tidak mempunyai keberanian, sehingga memilih hanya pasrah atas apa yang terjadi.
'Kasihan sekali nyonya Tsamara jika nanti dimarahi lagi oleh tuan Zafer,' lirih Sumi yang kini melirik sang suami untuk memberikan jalan keluar.
Begitu mengetahui hal yang sama sekali tidak pernah ada dalam pikiran, Zafer ingin sekali tertawa dengan perbuatan bodoh Tsamara.
'Astaga! Apa ia berpikir aku akan masuk ke dalam kamar ini, sehingga mengganti kunci pintu kamar ini dan membawa semua cadangan?'
'Dasar wanita bodoh! Sekarang kena akibat dari perbuatan sendiri. Sekarang bagaimana aku harus menolongnya?' gumam Zafer yang kini merasa frustasi dan mengacak rambut.
__ADS_1
Puas meluapkan emosi, kini Zafer sudah menggedor pintu dan tertawa. "Apa sekarang kamu tahu kesalahanmu? Pantas saja kamu dari tadi tidak menjawab." Zafer beralih menatap ke arah pelayan. "Minggir! Aku akan mendobrak pintu ini agar terbuka!"
Sumi menganggukkan kepala dan langsung menyingkir, membiarkan sang majikan seperti seorang pahlawan menyelamatkan seseorang yang membutuhkan bantuan.
Sementara itu, Paijo berlari ke belakang, mencari alat untuk membuka pintu. Namun, tidak mengatakan pada majikan karena berpikir jika keadaan sudah darurat, jadi sama-sama berusaha.
Kemudian Zafer pun mengambil sikap kuda-kuda sebelum mendobrak dengan kekuatan penuh. Bahkan tidak tahu kenapa rela menyakiti tubuh hanya untuk membuka pintu dan menolong wanita yang jatuh dari kursi roda dan meminta bantuan dengan menelpon.
"Satu!"
Tubuh Zafer seketika terhempas pintu dengan sangat kuat dan meringis menahan rasa nyeri pada lengannya. "Sial!"
Tidak menyerah, Zafer kembali mendobrak untuk kedua kalinya.
"Dua!"
"Biar saya saja coba, Tuan." Paijo sudah membawa alat pengungkit cukup besar dan langsung berusaha untuk membuka pintu tersebut.
"Dasar bodoh! Kenapa tidak dari tadi! Aku bahkan sudah membuat tubuhku sakit semua!" Zafer mengumpat dan mengarahkan kepalan tangan pada lengan pelayan laki-laki tersebut.
Meskipun merasa nyeri, tetapi Paijo tetap melanjutkan aksi untuk membuka pintu yang masih terkunci tersebut.
"Maaf, Tuan karena tadi saya buru-buru dan berpikir bahwa keadaan sangatlah darurat."
Sementara Zafer masih terdiam mengamati pergerakan pelayan sambil mengumpat di dalam hati. 'Kenapa aku tiba-tiba jadi bodoh seperti ini? Ini semua karena wanita itu tadi yang menelpon dan meminta tolong saat jatuh dari kursi roda.'
Zafer masihmerasa heran dengan diri sendiri kenapa merasa khawatir akan keadaan Tsamara. Padahal sebelumnya tidak pernah perduli.
'Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku khawatir pada Tsamara? Tsamara... kenapa aku dari tadi memanggil nama wanita cacat itu? Aneh sekali. Mungkin semua ini karena sikap berani tadi. Jadi, aku sedikit takut. Apalagi berani menelpon polisi dan jika sampai ke telinga papa, tamat riwayatku.'
__ADS_1
Saat Zafer baru selesai bergumam di dalam hati, melihat pelayan berhasil membuka pintu. Tanpa membuang waktu, kini ia langsung berlari masuk ke dalam.
Zafer bisa mendengar suara tangisan Keanu yang berada di dekat tubuh sang ibu yang jatuh tengkurap. "Astaga! Kenapa kau bisa ceroboh seperti ini?"
Saat berjalan semakin mendekat, Zafer membulatkan mata dengan pemandangan di hadapannya. Beberapa kali ia mengerjap dan refleks langsung berjalan menuju ke arah pintu, di mana pelayan masih menunggu di sana dan tidak berani masuk.
"Kalian pergi saja! Biar aku yang menolong istriku." Meskipun terdengar aneh ketika menyebut kata istriku, Zafer ingin segera mengusir pelayan yang terlihat sangat khawatir tersebut.
Kemudian mengibaskan tangan. Niat Zafer adalah ingin menutup pintu, tetapi tidak bisa karena sudah rusak saat dibuka paksa.
"Astaga, aku lupa!"
Zafer yang kini memilih untuk kembali berjalan menghampiri wanita dengan posisi tengkurap memakai gaun malam tipis yang memperlihatkan lekukan tubuh.
Pemandangan yang tidak pernah dilihat karena selama ini hanya melihat Tsamara memakai gaun tertutup besar, longgar dan penutup kepala, sehingga tidak pernah melihat rambut hitam berkilat panjang yang kini tergerai di bawah bahu.
'Kenapa rasanya sangat aneh melihat wanita ini memakai pakaian tidur? Apa penampilan Tsamara selalu seperti ini di dalam kamar? Jadi, sampai mengganti kunci dan tidak meninggalkan kunci cadangan karena menjadi orang lain ketika hanya bersama dengan Keanu di ruangan pribadi?'
Lamunan Zafer yang saat ini seketika buyar begitu mendengar suara menyayat hati dari wanita masih dengan posisi tengkurap tersebut.
"Maaf," lirih Tsamara yang merasa bahwa hari ini benar-benar menjadi wanita bodoh karena sangat ceroboh.
"Dasar bodoh!" umpat Zafer yang kini memilih untuk berjongkok dan membantu Tsamara membalikkan badan untuk telentang sebelum menggendong dan membaringkan di atas ranjang.
Namun, Zafer semakin membulatkan kedua mata dengan apa yang baru saja dilihat di depan mata.
'Astaga! Wanita ini benar-benar sialan!' sarkas Zafer yang mengumpat di dalam hati.
To be continued...
__ADS_1