
Satu bulan lalu ...
Setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Zafer, Rayya berada di dalam mobil Raymond. Setelah dari rumah sakit dan dipermalukan oleh pelayan yang mengatakan tentang perihal perselingkuhannya, kini ia mengajak Raymond untuk makan di restoran.
"Aku ingin makan banyak hari ini, Raymond karena sangat kesal pada pelayan yang berani menaikkan nada suara padaku. Apalagi wanita cacat itu membuatku seperti merasa dihakimi meski ia hanya diam saja."
Sementara itu, Raymond yang fokus mengemudi, kini menggenggam erat telapak tangan Rayya. "Biarkan saja mereka berbicara sesuka hati."
"Lagipula kamu hidup bahagia bersamaku. Tidak penting pemikiran mereka karena yang terpenting adalah kita hidup bahagia sekarang. Iya, kan?" Raymond menoleh sekilas wajah cantik wanita yang saat ini tengah tersenyum manis padanya.
Senyuman yang selalu ia rindukan karena dulu sering melihatnya saat Rayya dan dirinya masih kecil. "Kamu tahu tidak kalau senyumanmu itu sangat manis dan membuatku tidak pernah bisa melupakannya."
Refleks Rayya memiringkan tubuhnya agar bisa dengan leluasa menatap ke arah sosok pria tampan yang membuatnya gila karena berani berselingkuh dari suami yang kini tengah berjuang di rumah sakit.
"Benarkah senyumanku membuatmu tergila-gila padaku? Hingga kamu sama sekali tidak perduli pada statusku yang merupakan istri dan calon ibu." Rayya masih setia menatap wajah rupawan sahabat kecilnya dan berharap jika pria itu tidak akan pernah berpaling darinya.
Hingga ia melihat sebuah anggukan kepala penuh keyakinan dan kalimat bernada manis dari pria di balik kemudi itu.
"Ya, aku memang sudah gila karena ingin memilikimu seutuhnya dan memisahkan dari pria sialan itu. Aku sangat senang ia mengalami kecelakaan, jadi aku bisa merebutmu darinya." Raymond tidak akan pernah mengatakan hal sebenarnya karena khawatir jika Rayya akan takut padanya.
Jika sampai mengetahui kejahatannya, Raymon berpikir bahwa Rayya akan takut dan menganggapnya pria jahat. Apalagi ia sudah memberikan Rayya ramuan untuk mengugurkan kandungan.
Ia saat ini hanya menunggu detik demi detik Rayya mengeluh mulas dan mengalami pendarahan, lalu janin di rahimnya tidak akan pernah tertolong.
'Kata temanku, ramuan itu tidak akan bisa terdeteksi oleh petugas medis karena berasal dari bahan-bahan alami. Jadi, saat mandi di rumah sakit, para dokter hanya akan menganggap keguguran karena efek sang ibu kelelahan.'
'Saat dokter menjelaskan itu, Rayya akan berpikir bahwa itu semua karena terlalu memforsir diri saat melayani di atas ranjang. Masalah selesai,' gumam Raymond yang kini mengemudikan kendaraan menuju ke arah restoran dan begitu tiba, langsung memarkirkan di tempat yang tersedia.
Kemudian ia mengajak Rayya keluar dan membiarkan wanita itu makan banyak untuk mengisi tenaga karena sebentar lagi akan keguguran dan berakhir di rumah sakit.
Rayya yang baru saja turun dari mobil, kini membiarkan Raymond memeluk pinggangnya dan berjalan memasuki restoran yang tak lain adalah tempat terakhir pertemuan dengan mertua karena merayakan anniversary di sana.
Ia awalnya sangat terkejut dan tidak menyangka jika Raymond malah mengajaknya ke sana. Seolah ingin mengingatkan tentang kejahatan yang pernah dilakukan.
Namun, tidak mengungkapkan nada protes pada Raymond karena takut jika malah dicurigai. Apalagi ia susah untuk menyembunyikan apapun. "Apa kamu sering datang ke sini, Raymond?"
"Iya, aku suka dengan makanannya karena saat tinggal di luar negeri terbiasa dengan makanan western. Jadi, saat tinggal di sini, aku menjelajah kuliner di beberapa restoran untuk mencari yang sesuai dengan lidahku. Di sinilah aku merasa lidahku sangat cocok."
__ADS_1
Raymond melepaskan pelukannya saat sudah masuk ke dalam restoran dan duduk di sudut kiri yang dekat dengan pemandangan kolam dan taman. Ia menarik kursi untuk Rayya.
"Aku selalu duduk di sini dan menatap taman itu karena selalu mengingatkanku padamu. Dulu, kita sering bermain kejar-kejaran di taman depan rumahmu."
Rayya kini terlihat berbinar melihat keindahan kolak dengan air mancur yang hampir mirip di rumahnya dulu. Bahkan bunga-bunga bermekaran itu menyejukkan hatinya dan senyuman tak lepas dari bibirnya.
Ia baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi dan berhadapan dengan pria yang kini meraih telapak tangannya, lalu mencium punggung tangan miliknya. Tubuh Rayya serasa menghangat begitu melihat keromantisan dari Raymond dan ia benar-benar berharap bisa hidup bahagia dengan pria itu.
"Terima kasih atas cintamu yang begitu besar padaku, Raymond. Aku benar-benar merasa sangat beruntung bisa memilikimu. Semua kenangan masa kecil kita penuh dengan kebahagiaan. Aku tidak akan pernah menyesali keputusan yang kuambil untuk hidup bersamamu dan meninggalkan Zafer."
Sebenarnya tadi saat di mobil, Rayya melihat sebuah kilatan api di iris tajam berkilat milik Raymond. Sempat terlintas jika Raymond merencanakan untuk mencelakai Zafer dan kecelakaan itu berhubungan dengan Raymond.
Namun, ia membuang pemikiran itu dan berpikir positif bahwa Raymond tidak akan pernah melakukan hal-hal jahat karena mengetahui jika pria itu adalah seorang pria yang baik.
Sementara itu, Raymond yang baru saja memesan makanan dengan berbicara pada waiters, kini kembali tersenyum. "Aku yakin jika kita adalah jodoh. Buktinya, meskipun kamu sudah menikah, kita masih bisa bersama."
"Apalagi setelah nanti kamu bercerai dengan Zafer, kita akan menikah dan hidup bahagia. Kau harus rela meninggalkan semua yang ada di sini dan ikut aku ke luar negeri. Kita mulai hidup baru di sana tanpa ada bayang-bayang masa lalu."
Refleks Rayya mengangguk perlahan tanda setuju dan sama sekali tidak keberatan. "Aku sudah tidak sabar dan ingin segera menikah denganmu, Raymond."
"Tapi harus sabar karena tidak mungkin itu bisa. Aku harus menunggu hingga melahirkan, baru bisa menggugat cerai pada Zafer. Kamu sabar, kan menungguku?"
"Tentu saja, Sayang. Sekarang kita nikmati makanannya karena aku sangat lapar setelah menghabiskan banyak tenaga tadi." Raymond mengedipkan mata begitu waiters selesai meletakkan makanan pesanannya di atas meja.
Bahkan kini ia bisa melihat wajah masam Rayya saat mengerucutkan bibir yang malah membuatnya gemas. "Jangan seperti itu jika tidak ingin aku menciummu di sini."
Rayya kini mencubit tangan pria yang dianggapnya sangat nakal dan melirik ke arah kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat atau mendengar pembicaraan mereka.
"Jangan bicara mesum di depan banyak orang. Nanti saja di kamar, kamu bisa melakukan apapun padaku." Rayya bahkan berbicara dengan suara lirih karena khawatir akan didengar oleh pengunjung restoran yang berada di sebelah kirinya.
Kemudian ia mulai mengalihkan perhatian dari pria yang kembali mengedipkan mata padanya. Ia kini mulai menikmati steak daging dengan kualitas premium dan kini kenikmatannya sudah melumer di mulutnya.
"Ini memang sangat enak, Raymond. Saat aku memanggilmu, selalu mengingat dari mantan suami wanita cacat itu. Namanya Rey dan dulu aku bekerja sama dengannya agar merebut Tsamara dari Zafer. Tapi ia tak lebih dari pria bodoh karena kalah dari Zafer."
Raut wajah penuh kekecewaan kini terlihat jelas saat ini dan mengungkapkan bagaimana kesalnya Rayya setelah putusan hakim bahwasanya hak asuh jatuh ke tangan Tsamara sepenuhnya.
Ia yang menghubungi Rey dan menyuruh untuk merebut Tsamara, mengatakan sudah menyerah karena diancam Zafer dengan beberapa video saat berhubungan dengan para wanita dan itu akan berakibat pada perusahaan.
__ADS_1
"Ternyata cinta Rey pada Tsamara hanyalah sebuah omong kosong karena lebih mementingkan nama baik perusahaan daripada harus berjuang untuk merebut mantan istrinya." Rayya kembali menusuk garpu pada daging untuk melampiaskan amarah, lalu kembali memasukkan ke dalam mulutnya.
Ia bisa melihat tatapan penuh kecurigaan dari Raymond saat menanggapi ceritanya dan membuatnya seketika tersedak makanan yang dikunyah.
"Sepertinya kamu sangat ingin menyingkirkan Tsamara agar memiliki Zafer seutuhnya dan tidak ingin membagi suamimu dengan wanita lain." Raymond sama sekali tidak suka mendengar Rayya menyebut nama pria lain saat bersama dengannya.
Jadi, ingin merubah kebiasaan wanita itu agar tidak menyebut nama pria lain saat bersamanya. "Saat bersamaku, jangan pernah menyebut nama pria lebih, khususnya Zafer!"
Kemudian Raymond langsung mengambil air minum dan memberikan pada Rayya. Tentunya masih menatap tajam wanita yang membuatnya kesal.
Sementara saat ini Rayya masih meneguk minumannya dan rasa panas di tenggorokan seketika berangsur menghilang. Kini, ia menatap ke arah wajah rupawan pria yang membuatnya merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku, Raymond. Aku tidak akan pernah menyebut nama pria lain karena mengetahui bahwa kamu sangat mencintaiku." Saat Rayya melihat anggukan kepala dari Raymond, kini ia meringis menahan rasa nyeri yang tiba-tiba datang di perut.
"Aaarggh ...."
Kini, Rayya memegangi perutnya yang terasa sangat sakit sambil menunduk menatap ke sana. "Kenapa sakit sekali?"
Kemudian Rayya menatap ke arah sosok pria yang seketika bangkit berdiri dari posisinya. "Raymond, perutku sakit sekali!"
Raymond seketika menghambur menghampiri Rayya dan berteriak untuk memanggil waiters. "Sayang, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba sakit perut? Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang!"
"Iya, aku sudah tidak kuat lagi, Raymond. Ini sangat sakit sekali!" Rayya kini masih memegangi perut yang terasa luar biasa nyeri.
Bahkan tubuhnya gemetar hebat dan membuatnya merasa sangat kesakitan hingga menjerit karena tidak kuat lagi menahannya. "Sakit!"
Raymond yang tadi langsung mengeluarkan uang dan menaruh di meja, kemudian langsung bergerak cepat untuk menggendong tubuh Rayya.
"Bersabarlah, Rayya. Aku akan membawamu ke Rumah Sakit. Kamu akan baik-baik saja."
"Sakit sekali. Apa yang terjadi dengan bayiku? Apa mereka baik-baik saja?" lirih Rayya yang kini sangat khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada bayi kembar di rahimnya dan gagal menguasai harta keluarga Dirgantara.
'Semoga ini hanya sakit biasa dan tidak berpengaruh apapun pada bayi kembar di rahimku,' gumam Rayya yang kini kini pandangannya lama-kelamaan kabur dan mulai gelap.
Raymond yang kini melihat Rayya kehilangan kesadaran, merasa khawatir dan ia langsung dibantu oleh beberapa pegawai restoran yang berjalan di depan dan ia menyuruh membukakan pintu mobil dengan mengambil di saku celana.
'Anak-anakmu tidak akan dilahirkan di dunia ini, tapi hanya benihku yang akan kamu lahirkan. Maafkan aku, Rayya. Aku melakukan ini demi kebaikan kita.'
__ADS_1
To be continued...