
Tsamara saat ini masih diam di tempat dan melihat ada banyak pria yang turun dari mobil dan sibuk mengeluarkan beberapa alat untuk memasak, seperti kompor dan beberapa peralatan lain. Bahkan membawa banyak bahan-bahan yang dikeluarkan dari dalam mobil box yang baru saja tiba.
Jadi, total ada tiga mobil yang saat ini sudah terparkir di halaman rumah.
Nasib baik halaman rumah kontrakan sangat luas dan bisa digunakan untuk parkir beberapa mobil, sehingga dengan mudah memindahkan barang-barang yang dibawa ke dalam rumah.
Bahkan Tsamara beberapa kali mengerjapkan mata, melihat aksi cekatan dari para pria tersebut. Bahkan semua orang sudah menyapa dan membungkuk hormat padanya ketika baru saja tiba dan langsung bekerja tanpa diperintah.
Tsamara bahkan tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat semua hal yang dilakukan oleh para pria yang berjumlah sepuluh orang tersebut. 'Padahal aku tadi meremehkan apa yang bisa para pria itu lakukan di sini karena berpikir bahwa hanya seorang wanita yang bisa memasak.'
'Sepertinya aku melupakan bahwa kebanyakan para chef di restoran mewah adalah seorang pria dan jarang wanita. Zafer pasti mempunyai banyak kenalan chef hebat dan menyuruh mereka untuk membantu di sini.'
Lamunan Tsamara seketika musnah begitu mendengar suara bariton dari salah satu pria yang baru saja selesai memberikan perintah pada para rekan.
"Selamat pagi, Nyonya Tsamara. Saya adalah chef dari hotel milik keluarga Dirgantara dan tadi mendapat perintah dari tuan Zafer untuk membantu pesanan catering yang harus diselesaikan sebelum jam makan siang. Anda tidak perlu khawatir karena saya dan para rekan akan membantu menyelesaikan."
Tsamara yang masih merasa syok dengan kedatangan para pria yang bahkan bisa dibilang memiliki tubuh proporsional dan juga wajah rupawan memenuhi kontrakan dan pastinya akan membuat para pekerja wanita salah tingkah ketika dikelilingi oleh lawan jenis ketika bekerja.
Namun, karena tidak ada pilihan lain dan merasa memang membutuhkan bantuan dari banyak orang, sehingga kini ia menyunggingkan senyuman dan mengangguk perlahan.
"Terima kasih atas kedatangan kalian dan mau membantu kami mengurus catering. Silakan saja kerjakan apapun karena aku tidak akan mengatur karena mengetahui bahwa kalian sudah pasti mengetahui semuanya."
Tsamara bahkan saat ini tengah memikirkan bayaran dari sepuluh orang tersebut dan pastinya hasil dari pesanan hari ini tidak akan cukup.
'Berapa aku harus membayar mereka? Tiba-tiba kepalaku rasanya pusing begitu menghitung pengeluaran hari ini,' gumam Tsamara yang saat ini memilih untuk mengirimkan pesan pada Zafer.
"Baik, Nyonya. Saya dan rekan-rekan akan bekerja sama dengan para pekerja Anda." Kemudian membungkuk hormat dan berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sementara itu, Tsamara saat ini tidak menelpon Zafer karena berpikir jika orang-orang itu akan mendengar pembicaraannya. Satu-satunya hal yang ditanyakan hanyalah gaji dari orang-orang itu.
Berapa aku harus membayar sepuluh orang suruhanmu?
Setelah mengirimkan pesan, ia yang saat ini masih memangku putranya, melihat kedatangan Anisa yang baru saja pulang dari membeli sarapan untuk semua orang.
'Sepertinya aku harus menyuruh Anisa untuk kembali membeli sarapan karena tidak mungkin makan di hadapan para pria itu.'
"Ini sarapannya." Anisa yang saat ini membawa satu kantong plastik besar, langsung menyerahkan dua bungkus makanan untuk Tsamara dan Keanu.
"Kamu serahkan sarapannya pada yang lain dan kembali membeli untuk sepuluh orang," ucap Tsamara yang saat ini seketika menoleh ketika mendengar suara bariton dari seorang pria yang membawa kantong plastik besar berisi semua bahan makanan yang dihancurkan oleh penjahat dan sudah dibereskan secepat kilat.
"Tidak perlu, Nyonya karena kami sudah sarapan di dalam mobil sebelum datang ke sini," ucap seorang pria dengan memakai apron.
Mereka semua memang memakai kain yang digunakan setelah pakaian untuk melindungi bagian depan dari badan karena untuk melindungi pakaian dari noda.
"Baiklah. Terima kasih." Tsamara mengangguk-anggukkan kepala dan saat ini memilih untuk menyuapi putranya terlebih dahulu sebelum sarapan sendiri.
Sementara itu, Anisa langsung memberikan makanan untuk sarapan para pekerja.
Kemudian bergabung bersama mereka untuk menikmati makanan yang dibeli. Tentu saja sambil melihat apa yang dilakukan oleh para pria itu.
Sementara itu, semua pria itu langsung berbagi tugas masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan setelah bertanya mengenai menu apa saja yang akan dimasak hari ini.
Meskipun mereka juga menyiapkan bahan-bahan tambahan jika kurang dan akan dimasak sebagai cadangan.
Sementara itu, Tsamara yang masih berada di depan menyuapi putranya, menunggu balasan dari Zafer tetapi tidak kunjung tiba, sehingga khawatir jika hari ini malah bangkrut hanya untuk membayar sepuluh orang suruhan itu.
__ADS_1
'Semoga gaji mereka tidak melebihi keuntunganku karena itu akan membuatku bangkrut,' gumam Tsamara yang beberapa saat kemudian mendengar suara notifikasi dari ponsel dan langsung membuka karena berpikir bahwa itu jawaban dari pertanyaan yang diajukan pada Zafer.
Tsamara seketika membulatkan mata begitu membaca pesan dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
Aku sudah membayar mereka. Jadi, tidak perlu memikirkan gaji orang-orang itu. Bahkan gaji mereka jauh lebih murah dari tubuhmu. Kamu sudah melayaniku dengan baik, jadi aku tidak merasa keberatan untuk mengeluarkan banyak uang untukmu.
Seketika Tsamara meremas pakaian karena merasa geram ketika Zafer selalu mengungkit masalah percintaan mereka tadi pagi ketika membahas sesuatu.
'Apakah otak Zafer hanya dipenuhi dengan hal-hal mesum? Aku bahkan ingin melupakan kejadian tadi pagi, tapi ia malah selalu mengungkit hal itu. Sepertinya sekarang hobi pria itu adalah membuatku merasa seperti tidak mempunyai muka di hadapannya.'
Tidak ingin mengambil pusing, Tsamara saat ini memilih untuk memasukkan kembali ponsel ke dalam saku gaun yang dipakai tanpa membalas.
Kemudian melanjutkan sarapan sambil menyuapi putranya. Namun, Baru beberapa menit melakukan itu, suara dering ponsel terdengar.
Namun, Tsamara sudah menduga itu telpon dari siapa dan tidak berniat untuk menjawab. Bahkan suara bising itu sama sekali tidak diperdulikan hingga mati sendiri.
Tsamara berpikir bahwa Zafer yang menghubungi dan tidak akan lagi menelpon saat tidak diangkat, tetapi semua tidak seperti yang diharapkan karena kembali berbunyi.
Merasa mendengar suara berisik ponsel, Tsamara berniat untuk mengaktifkan mode getar saja, tetapi ketika melihat yang menghubungi bukan Zafer, seketika jantungnya berdegup dengan kencang melebihi batas normal.
"Rey? Kenapa pria berengsek itu menelpon?" Tsamara merasa ragu untuk mengangkat telpon karena sangat malas berbicara dengan pria yang sangat dibenci.
"Apa yang harus kulakukan? Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Rey? Apakah menelpon karena ada hubungannya dengan pesanan hari ini? Ataukah hanya sengaja untuk menggangguku?"
Ia mengetahui nomor Rey setelah Rayya menyimpan di ponselnya. Memang sengaja tidak dihapus karena berpikir tidak akan pernah mengangkat nomor mantan suaminya tersebut jika mengetahui nama di daftar kontak.
To be continued...
__ADS_1