
Hingga beberapa saat kemudian, melihat seorang pria berpenampilan sederhana dengan berjalan mendekat dan menyerahkan kotak hadiah kepada majikan yang tadi diambil dari kamar salah satu majikan.
"Ini kotak hadiahnya, Tuan Adam," ucap Paijo yang saat ini mengulurkan dua kotak berwarna merah dan hitam tersebut kepada majikan utama yang sangat dihormati.
Adam Dirgantara kemudian menerima kotak perhiasan tersebut meski tidak sebesar yang tadi diberikan oleh Rayya. Mengerti jika warna hitam adalah miliknya, lalu langsung memberikan yang berwarna merah untuk sang istri.
"Ini hadiah dari Tsamara dan sepertinya kita perlu membuka bersama-sama." Adam yang saat ini masih menatap sang istri karena terlihat berbinar, berpikir bahwa hadiah dari Tsamara akan terlihat sangat luar biasa bagi siapapun yang bisa mengerti arti dari niat baik menantu perempuannya tersebut.
Erina saat ini menganggukkan kepala dan mulai menuruti perintah dari sang suami dengan membuka bersama-sama. Meskipun sudah mengetahui bahwa isi dari kotak itu adalah tasbih dari emas, tapi tetap merasa sangat penasaran untuk melihatnya.
Saat Erina hanya mengangguk perlahan dan mengikuti perintah dari sang suami, kini membukanya. Hingga wajahnya terlihat begitu berbinar begitu melihat tasbih dari emas tersebut.
Kemudian mengangkat pandangan untuk menatap ke arah Tsamara. "Sepertinya kamu sangat pintar memberikan sebuah kejutan pada kami. Ini benar-benar sangat cantik."
"Memangnya sudah berapa lama kamu memesan ini? Aku tahu jika pembuatan tasbih ini dibutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan kamu tidak mengetahui hari ulang tahun pernikahan kami. Apakah ini adalah suatu kebetulan?"
Saat membenarkan perkataan dari sang istri, Adam Dirgantara merasa penasaran dengan jawaban. "Apakah kamu memang berniat untuk memberikan ini pada kami?"
Kini, Tsamara seketika berkaca-kaca karena mengingat asal mula dari tasbih tersebut. Kemudian mulai menceritakan mengenai sesuatu yang baru tercapai sekarang.
"Dulu, orang tuaku memiliki keinginan untuk bisa membuat tasbih khusus dari emas, tapi karena kami berasal dari keluarga tidak mampu, jadi belum terlaksana. Aku sudah menganggap kalian seperti orang tuaku sendiri dan menganggap memenuhi keinginan mereka dengan cara memberikan ini."
"Kebetulan aku sudah lama memesan ini dan baru dua hari lalu jadi. Sepertinya memang ini adalah milik papa dan mama," ujar Tsamara yang kembali berkaca-kaca bola mata karena mengingat orang tuanya yang sudah meninggal.
Namun, buru-buru langsung menghapus air mata karena tidak ingin menghiasi kebahagiaan di hari ulang tahun pernikahan mertua, berubah penuh kesedihan karena tangisan.
__ADS_1
"Maafkan aku karena hari ini sangat melow. Yang pasti, Aku sangat menyayangi kalian sebagai orang tuaku." Tsamara berusaha untuk tersenyum meskipun dalam hati penuh dengan tangisan ketika mengingat orang tua yang mengalami kecelakaan dan sudah meninggal.
Refleks Erina bangkit berdiri dari kursi dan berjalan mendekati Tsamara. "Semuanya sudah takdir dan kamu hanya perlu untuk mendoakan orang tuamu agar tenang di surga. Nanti jika kami bisa bertemu, aku akan menyampaikan salam pada mereka."
"Jangan lupa doakan kami saat sudah tidak ada di dunia ini karena doa anak yang baik akan meringankan dosa orang tua di akhirat." Erina saat ini mengusap lembut punggung Tsamara karena tadi belum melakukan untuk mengucapkan terima kasih seperti saat Rayya memberikan hadiah.
Hingga suara bariton dari Zafer membuatnya mengarahkan tatapan tajam karena kesal pada sikap arogan putranya tersebut.
"Mama! Bukankah aku sudah mengatakan agar tidak membahas hal itu? Kenapa hari ini terus saja mengatakan perihal kematian?" Zafer benar-benar merasa sangat kesal karena jujur saja seperti mempunyai firasat buruk ketika orang tua berbicara seperti akan pergi dari dunia.
Namun, Rayya yang sebenarnya merasa kesal karena selalu saja kalah dari Tsamara. Padahal hadiah itu tidaklah semahal yang diberikannya, tetapi mengetahui bahwa apa yang dirasakan oleh mertuanya merupakan sebuah filing akan pergi jauh meninggalkan semua orang.
'Zafer sama sekali tidak tahu jika sebentar lagi orang tuanya akan pergi jauh meninggalkannya. Bukankah nantinya akan senang karena sudah tidak akan lagi mendapatkan ancaman seperti biasanya.'
Rayya yang baru saja bergumam sendiri di dalam hati, kini mendengar suara notifikasi pada. Begitu memeriksa ponsel, membaca pesan dari Harry.
Jika mereka sudah keluar dari restoran, kabari agar orang suruhanku segera bersiap untuk untuk mengikuti mobil mertuamu.
Kemudian Rayya membalas oke dan langsung menghapus agar tidak ada yang melihat pesan, terutama adalah Zafer. Dulu Zafer sering mengecek ponselnya karena berpikir akan selingkuh, tapi sekarang tidak pernah.
Rayya berpikir bahwa Zafer sudah tidak lagi over protektif padanya semenjak sering berinteraksi secara aktif dengan Tsamara.
'Akhirnya tiba giliran kalian yang akan benar-benar pergi ke neraka hari ini,' gumam Rayya yang saat ini mencoba untuk tersenyum ketika Zafer berbicara padanya dengan cara berbisik di dekat daun telinga.
"Kamu tidak perlu merasa sedih karena sikap orang tuaku yang lebih menyukai tasbih pemberian Tsamara daripada perhiasan mewah dengan mahal itu." Zafer berbisik sambil beberapa kali mengusap lengan Rayya.
__ADS_1
Tidak ingin jika Rayya berubah murka dan muat melihat interaksi antara orang tua dan juga Tsamara.
Apalagi hormon kehamilan yang meningkat, sehingga berpikir bahwa saat ini ingin Rayya menahan diri di hari ulang tahun pernikahan orang tua.
Meski jauh dilubuk hati yang terdalam, sebenarnya juga menyukai hadiah dari Tsamara yang lebih bermakna daripada pemberian Rayya.
Jadi, berpikir hal yang wajar jika orang tua lebih menyukai hadiah dari Tsamara.
'Aku selalu melihat sesuatu yang baru atas apa yang dilakukan oleh Tsamara.'
'Apalagi hari ini sikap Tsamara sukses membuatku seperti seorang pria tidak berharga untuk dicintai karena sudah memiliki seorang istri yang hamil keturunanku.'
'Namun, tetap saja aku ingin ia melahirkan keturunanku. Semoga perbuatan kami dulu berhasil membuat Tsamara hamil anak perempuan karena pasti akan mewarisi kecantikan dan juga kebaikan sang ibu,' gumam Zafer yang masih berakting memberi semangat untuk Rayya.
Hingga suara bariton Adam Dirgantara yang bangkit dari kursi terdengar oleh semua yang ada di dekatnya.
"Baiklah, hari ini kalian sudah memberikan hadiah pada kami. Terima kasih. Sekarang karena waktu terus berjalan, harus segera berangkat ke Villa"
"Karena nanti keburu malam. Ayo, kita berangkat sekarang," ucap pria yang saat ini tengah menatap indah ke arah sang istri.
Erina akhirnya mengikuti perintah sang suami dan berpamitan. "Zafer, Tsamara hari ini pulang bersamamu karena kami langsung berangkat ke Villa. Jaga diri kalian baik-baik dan semoga kita bisa bertemu lagi."
"Tentu saja bisa bertemu lagi jika kalian pulang ke rumah." Zafer berbicara dengan sangat kesal ketika semakin bertambah besar filing buruk yang dirasakan.
To be continued
__ADS_1