
Setelah mengumpat di dalam hati, Zafer yang keluar dari rumah, kini masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya menuju ke apartemen sang kekasih.
'Wanita murahan itu harus segera pergi dari rumah, jadi aku memutuskan untuk melakukan apapun demi bisa membuatnya angkat kaki dari rumah.'
Zafer kini menatap lurus ke depan dan seolah tengah memikirkan tentang kehidupan yang selalu berjalan tidak sesuai dengan rencana.
Bahkan berpikir jika ada sesuatu yang masih mengganjal di pikiran. 'Apakah aku akan selamanya bertemu dengan wanita munafik itu? Mana mungkin aku betah jika harus menunggu lagi. Bahkan jauh lebih memuakkan rasanya.'
Setelah mengetahui bahwa sang kekasih hamil benihnya, Zafer kini merasa sangat terhibur. Tentu saja merasa sangat senang dan bahagia.
Zafer ingin segera menikahi wanita yang akan melahirkan darah dagingnya tersebut. "Setelah Tsamara pergi dari rumah dan menghilang dari hadapanku, bisa bersatu dengan Rayya."
***
Sementara itu, sosok wanita yang sudah dibanjiri oleh air mata menganak sungai di pipi, terlihat memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Tuhan, aku memang seorang wanita hina dan murahan seperti yang dikatakan oleh suami yang sangat membenciku. Bahkan ia sangat jijik padaku."
"Aku memang tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan setelah melakukan dosa besar di masa lalu. Aku bahkan tidak ingin menikah lagi, tapi kenapa takdir membuatku berakhir menikah dengan pria seperti Zafer Dirgantara?"
"Aku akan pergi dari sini dan menghilang dari pandangan pria itu." Tsamara kini mengarahkan kursi roda menuju ke arah koper yang berisi semua pakaiannya.
Tadi ia menangis sambil mengemasi semua pakaian miliknya dan juga putranya.
Saat Zafer mengajaknya ke kamar dan menyuruh pelayan untuk mengajak putranya jalan-jalan, sehingga bisa berteriak memakinya dengan melemparkan foto-foto pernikahannya.
Dulu, Tsamara berpikir jika seseorang yang sangat dicintai akan menjadi cinta terakhir untuknya. Namun, ia mendapatkan kenyataan buruk saat seseorang yang sangat dicintai dulu berselingkuh dengan wanita lain setelah ia melahirkan.
Bahkan ia sebenarnya masih sangat mencintai pria yang merupakan tipe idamannya.
__ADS_1
Tsamara merasa jika pria di masa lalu sebelum Zafer adalah seorang pria sempurna tanpa cela, tetapi tidak pernah menyangka jika itu hanyalah angan semata karena pada kenyataannya, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna.
Usianya yang semakin bertambah, membuat Tsamara menyadari semua kesalahan yang diperbuat di masa lalu.
"Aku harus kuat demi putraku. Ia masih membutuhkan aku. Meskipun saat ini aku cacat dan tidak bisa berjalan, akan memberikan semua yang terbaik untuknya."
Suara Tsamara terdengar bergetar hebat, tetapi ia mencoba untuk kuat. Ada anak yang membutuhkannya karena tidak ada lagi pria yang merupakan sang ayah.
Itu semua karena dulu pria di masa lalu menceraikannya saat ia marah ketika melihat suami keduanya tersebut berselingkuh di kantor.
"Apa kau tidak mengingat putramu? Apakah kau sudah menikah dengan selingkuhanmu?"
Tsamara kini menepuk jidatnya berkali-kali setelah menyadari kebodohannya. "Aku harus melupakan Rey karena ia tidak pantas diingat. Aku harus fokus pada putraku."
Saat ini, ia melihat dua koper dan tidak mungkin ia bisa membawanya karena membutuhkan bantuan orang lain.
Menyadari jika ia tidak berguna karena kakinya yang cacat, membuat Tsamara tidak bisa mengalihkan perhatian dari kedua tumpuan yang sekarang sudah tidak lagi seperti dulu.
"Tidak! Itu tidak mungkin terjadi. Putraku akan bangga mempunyai seorang ibu yang tidak berhenti berjuang untuk bisa membahagiakannya."
Tsamara mengubah mindset negatif dengan memenuhi pemikirannya dengan hal-hal positif. Tidak ingin membuang waktu, ia kini memilih untuk mengambil koper besar dan menaruh di atas kedua paha.
Kemudian koper kedua yang berisi pakaian putranya ditaruh di atasnya. Setelah merasa pas, ia pun kembali mengarahkan kursi roda keluar dari ruangan kamar.
Hingga begitu ia tiba di teras depan, melihat pelayan datang bersama putranya yang membawa es krim.
"Syukurlah kalian sudah kembali. Jadi, aku tidak perlu menunggu lama." Tsamara melambaikan tangan pada putranya yang berjalan sambil menikmati es krim.
Hingga terlihat baju yang dikenakan sudah dipenuhi oleh tetesan es krim. "Kemarilah, Sayang. Lihatlah, bajumu kotor seperti ini."
__ADS_1
Tsamara pun mengambil tisu basah pada tas jinjing miliknya. Ia tadi sudah menurunkan koper-koper di lantai.
Sementara itu, sang pelayan merasa heran melihat dua koper besar dan kecil itu. "Nyonya, kenapa Anda menyiapkan itu? Memangnya mau ke mana?"
Tsamara yang saat ini baru saja membersihkan pakaian putranya, menatap ke arah sosok wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Aku harus pergi dari sini karena tidak pantas berada di rumah ini." Tsamara merasa sesak saat mengatasnamakan itu.
"Meskipun aku sudah tidak ada di sini, kalian harus melayani tuan dengan baik." Vera mengeluarkan ponsel miliknya untuk memesan taksi karena ia tidak ingin diantar oleh supir.
Ia tidak ingin ada yang mengetahui tempat tinggal barunya.
"Anda mau pergi ke mana, Nyonya? Apa tuan besar tahu tentang ini?" tanya wanita paruh baya yang saat ini merasa harus secepatnya melaporkan pada majikan utama.
'Ke mana suamiku? Aku harus melaporkan jika majikan perempuan pergi karena jika terlambat, akan dimarahi,' gumam wanita paruh baya yang kini merasa sangat khawatir.
"Aku tidak bisa mengatakannya." Tsamara menjawab seadanya dan tidak berniat untuk memberitahukan pada pelayan yang sebenarnya adalah orang baik tersebut.
Hingga ia pun mendengar suara klakson dari luar pintu gerbang. "Pasti itu taksinya sudah datang. Tolong bawakan koper ini ke depan. Oh ya, suamimu mana? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?"
Saat Tsamara baru saja menutup mulut, ia melihat pria paruh baya yang baru saja ditanyakan. Ia merasa sangat terkejut dengan perkataan dari sang supir.
"Nyonya, Anda tidak boleh pergi dari sini karena tuan besar dalam perjalanan menuju ke sini!" ucap pria yang merupakan supir sekaligus tukang kebun tersebut.
Sementara itu, Tsamara merasa sangat bingung dengan apa yang harus dilakukan ketika mertua melarang.
'Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku bisa bertahan hidup selamanya di sini bersama pria yang sama sekali tidak pernah mencintaiku,' gumam Tsamara yang kini merasa ragu untuk mengambil keputusan.
Jika menjadi orang egois, sudah pasti akan langsung pergi, tapi karena merasa bersalah pada pasangan suami istri yang tak lain adalah mertua, kini dilanda kegundahan yang luar biasa.
__ADS_1
Pada akhirnya Tsamara memilih untuk mengatakan hal yang dirasakan dengan menatap ke arah sosok pria yang menjadi pelayan tersebut.
To be continued....