
Zafer hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Tsamara ketika menyembunyikan wajah di dada bidangnya. "Kenapa? Apa kamu saat ini merasa malu pada semua orang yang melihat?"
Tsamara sebenarnya sangat malas untuk menanggapi pertanyaan dari Zafer saat ini. Namun, karena merasa sangat geram pada pria yang menggendongnya tidak mau membawa kursi roda dan pastinya akan bergantung sepenuhnya pada pria itu.
Mungkin jika membutuhkan sesuatu akan selalu meminta Zafer untuk membantunya dan membuat Tsamara tidak suka. Apalagi selama ini tidak suka menyusahkan orang lain, tetapi mungkin hari ini seperti menyerahkan diri sepenuhnya pada pria yang saat ini menggendongnya.
"Kamu tahu penampilanku seperti apa? Seharusnya kamu membawa kursi roda dan tidak menggendongku seperti ini. Apa yang akan dipikirkan oleh orang lain saat melihat kita?"
Tsamara yang berpikir bahwa hotel identik digunakan oleh para pasangan yang berselingkuh ataupun belum menikah untuk bersenang-senang menikmati hubungan ****.
Karena jarang sekali pasangan suami istri yang menghabiskan waktu di hotel karena sudah puas menikmati **** di rumah. Apalagi berpikir bahwa menginap di hotel hanya akan membuang waktu dan uang saja. Jadi, khawatir jika ada yang menganggap seorang selingkuhan atau pelacur.
Itulah yang dipikirkan olehnya karena berasal dari kalangan menengah ke bawah. Ia tahu bahwa itu tidak berlaku bagi orang kalangan atas yang terbiasa menghabiskan uang untuk liburan dan menginap di hotel.
"Saat ini kamu memikirkan tanggapan orang lain yang bahkan mungkin tidak kamu kenal. Sementara tidak memperdulikan apapun yang suamimu butuhkan? Apakah itu merupakan sebuah hal yang benar, Istriku?"Zafer bahkan berbicara di dekat daun telinga Tsamara yang tertutup penutup kepala.
Padahal jika tidak ada yang menghalangi, ia mungkin sudah menggigit daun telinga Tsamara dan mengirimkan gelombang kenikmatan untuk wanita yang berada dalam gendongan tersebut.
Namun, tentu saja harus bersabar melakukan itu karena memang Tsamara yang selalu berpenampilan tertutup mulai dari ujung kepala hingga kaki, sehingga membuatnya merasa sangat penasaran.
Entah mengapa seolah sekarang ini ia berpikir bahwa memiliki seorang istri yang tidak mengumbar tubuh di depan pria lain merupakan sebuah keistimewaan yang teramat luar biasa.
Jadi, hanya ia sendiri yang bisa memanjakan mata melihat setiap lekuk tubuh dibalik kulit putih mulus sang istri dan seolah tidak ingin membagi dengan pria lain, walau hanya lewat pandangan semata.
Khususnya Rey yang merupakan mantan suami Tsamara. Hingga beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka dan melihat manajer hotel sudah berdiri di depan pintu presidential suite room.
__ADS_1
Tsamara menahan rasa kesal atas kalimat ejekan itu dan begitu melihat salah satu staf hotel yang saat ini membungkukkan badan hingga menyapa mereka, merasa bingung harus menanggapi seperti apa karena posisinya sekarang yang sedang berada dalam gendongan Zafer.
"Selamat datang, Tuan Zafer. Merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa melayani Anda secara langsung," seru manager hotel yang merasa sangat bangga bisa melayani putra dari pemilik hotel.
Bahkan merasa sangat senang melihat keromantisan dari seorang suami pada istri karena menggendong dari parkiran hingga ke lantai khusus ruangan kamar terbaik di hotel.
"Apakah kamu sudah menyiapkan apa yang kuinginkan?" Zafer saat ini menahan rasa pegal ketika menggendong Tsamara, tapi berpura-pura kuat padahal serasa tangannya mau patah. "Cepat buka pintunya!"
"Sudah, Tuan. Pesanan Anda sudah ada di dalam kecuali pakaian karena masih dalam perjalanan menuju ke sini." Kemudian pria dengan setelan lengkap berwarna hitam tersebut langsung membuka pintu hotel dengan sistem keamanan, yaitu cardlock karena memanfaatkan kartu dalam berbagai aktivitas.
Tidak hanya tentang kamar saja, tetapi menggunakan fasilitas lift khusus juga memerlukannya. Kemudian pria itu berjalan masuk ke dalam untuk menunjukkan bahwa apa yang dibutuhkan oleh orang nomor satu tersebut sudah ada di atas meja.
"Apakah ada yang Anda butuhkan lagi, Tuan Zafer?"
Begitu melihat ada minuman berwarna merah dan merupakan favoritnya serta makanan karena hari ini belum makan siang, kini menoleh ke arah manager hotel.
"Untuk sekarang sudah cukup. Aku akan menghubungimu lagi jika membutuhkan sesuatu. Sekarang pergilah karena aku ingin segera berbulan madu dengan istriku." Zafer mengibaskan tangan dan duduk di dekat Tsamara yang dari tadi hanya diam, seolah betah untuk mengunci rapat bibir.
Hingga beberapa saat kemudian membuka penutup hidangan makan siang. "Kita harus makan dulu agar tenaga terisi, jadi akan kuat bercinta sampai beberapa ronde."
Tsamara sama sekali tidak ingin menanggapi perkataan vulgar dari Zafer karena sedang mempersiapkan diri untuk berusaha menjadi seorang wanita seperti di masa lalu, yaitu wanita liar yang bergairah.
'Kenapa rasanya aku ingin muntah saat membayangkan akan melakukan hal yang tidak kuinginkan pada Zafer? Padahal pria ini berstatus sah sebagai suamiku. Sekarang aku baru sadar jika dulu benar-benar sangat menjijikkan karena berselingkuh dengan Rey saat masih menjadi istri mas Akbar.'
Tsamara yang kembali mengingat akan dosa-dosa di masa lalu, seolah kini kembali berdosa karena seharusnya melayani suami sah dengan baik, bukan atas dasar terpaksa. Namun, masih belum bisa membiasakan diri.
__ADS_1
Apalagi hubungan di antara mereka berdua sangat berbeda karena ada wanita lain yang bahkan saat ini sudah mengandung anak kembar. Saat mengingatkan hal itu, ia kembali pada perkataan pria yang tadi seolah memaksa agar hamil benih pria di sebelahnya tersebut.
"Apa sebenarnya alasanmu saat menginginkan aku hamil keturunanmu? Kamu sudah memiliki dua anak yang akan dilahirkan oleh Rayya. Apa yang akan dipikirkan oleh istrimu jika mengetahui aku juga hamil benihmu?"
Tsamara ingin mengetahui jawaban Zafer karena itu sangat penting baginya, agar bisa menjawab kemurkaan Rayya suatu saat nanti setelah mengetahui kenyataan sebenarnya mengenai hubungan mereka. Tentu saja sebagai seorang wanita, bisa mengerti bahwa Rayya ingin menguasai Zafer sepenuhnya dan bercerai darinya.
Namun, jika situasi sekarang menjadi seperti ini, ia bahkan merasa bingung harus melakukan apa. Apalagi jika benar-benar hamil, pastinya tidak akan bisa melaksanakan rencana akan pergi setelah kembali bisa berjalan.
Zafer baru saja menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut dan menoleh ke arah sosok wanita dengan raut wajah penuh pertanyaan, seolah menunggu jawaban darinya.
Namun, ia tidak langsung memberikan jawaban karena ingin fokus menikmati makanan lezat yang ada di hadapan.
"Bukankah kamu tahu adab makan dan minum?" Zafer terkekeh melihat bibir mengerucut Tsamara yang menampilkan wajah menggemaskan saat merasa kesal atas perkataannya. " Bukankah kita tidak boleh berbicara saat makan?"
"Aku tahu bahwa kamu selalu makan dengan berbicara jika bersama orang lain, tapi berkata sebaliknya saat bersamaku, bukan?" Tsamara sebenarnya merasa sangat lapar karena tadi pagi tidak nafsu makan saat berbicara dengan Rey.
Namun, sekarang merasakan hal yang sama saat bersama dengan Zafer karena menganggap pria di sebelah kiri tersebut sangat menyebalkan ketika berbicara.
Hingga ia tidak pernah menyangka jika Zafer malah mengarahkan satu suapan ke mulutnya. Namun, masih menutup rapat mulut karena tidak ingin makan disuapi seperti anak kecil oleh Zafer.
"Buka mulutmu!" Zafer yang sudah beberapa detik menggantung tangan di udara untuk berniat menyuapi Tsamara, mengarahkan tatapan tajam karena merasa kesal saat wanita itu tidak kunjung membuka mulut.
"Atau kamu ingin aku menyuapi dengan mulutku?" Zafer seketika tersenyum menyeringai begitu melihat Tsamara membuka mulut dan langsung mengarahkan satu suapan.
To be continued...
__ADS_1