
Karena terpaksa melaksanakan perintah dari sang suami, Tsamara benar-benar tengah menahan kesabarannya. Nasib baik ia tidak kesulitan melepaskan.
Tentu saja karena gaun yang dikenakan selalu longgar dan besar, sehingga sangat mudah meloloskan dari tubuh dan sekarang beralih segera buru-buru untuk memakai gaun merah yang beberapa saat lalu ditaruh di atas sofa.
Namun, seolah kesabarannya tengah diuji oleh pria di hadapannya begitu mendengar pria itu berbicara.
"Tunggu! Aku ingin kamu dalam keadaan seperti itu karena sekarang seperti sedang melihat seorang artis pakaian dalam." Zafer berjalan mendekat dan mengarahkan tangan untuk meraba setiap sudut kulit putih mulus di hadapannya.
Dimulai dari bagian pipi putih, lengan dan turun ke bawah. "Aku baru menyadari bahwa ternyata mempunyai seorang istri yang sangat cantik dan hanya aku yang bisa melihat semua ini."
Seketika bulu kuduk Tsamara meremang atas perbuatan nakal Zafer yang saat ini tidak berhenti menelusuri tubuhnya dengan sentuhan.
'Pria ini pasti sudah merencanakan hal ini,' saat Tsamara baru saja mengumpat sendiri di dalam hati atas perbuatan nakal Zafer, kini merasa sangat terkejut ketika pria itu semakin liar.
"Sebentar, aku butuh waktu lima menit, baru kamu boleh memakai gaun itu." Zafer yang saat ini tidak bisa menahan gairah, seketika berjongkok di hadapan Ayu yang masih duduk di sofa dan tentu saja mengincar sesuatu yang dari tadi ingin dilihat.
Tanpa permisi pada Tsamara, Zafer kemudian mulai mengirimkan gelombang kenikmatan pada wanita yang sama sekali tidak berkutik karena perbuatannya. Bahkan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya karena hanya diam saja.
Tentu saja Tsamara seketika membulatkan mata atas perbuatan Tsamara. Bahkan saat ini kedua tangan meremas sofa untuk berpegangan karena seperti seluruh bagian tubuhnya terlepas setelah mendapatkan sentuhan tersebut.
Bahkan ia menahan sekuat tenaga agar tidak mendesah atas perbuatan pria yang berstatus sebagai suami tersebut saat ini yang mengirimkan gelombang kenikmatan hingga membuat tubuhnya menggelinjang hebat.
Tsamara bahkan memejamkan kedua mata dan sibuk menormalkan perasaan membuncah yang serasa seperti jantung akan meledak ketika Zafer semakin seolah menghantam dengan gelombang kenikmatan.
Sementara itu, Zafer yang tadi mengatakan hanya butuh waktu lima menit, berpikir sepertinya akan lebih karena belum berhasil membuat Tsamara meneriakkan namanya.
__ADS_1
'Sampai kapan kamu akan menahan diri, Tsamara? Siapa yang akan menang kali ini? Aku yakin bahwa sebentar lagi kamu akan menyebut namaku ketika mencapai puncak pertamamu,' gumam Zafer yang masih sibuk mengirimkan gelombang kenikmatan pada Tsamara.
Bahkan saat ini berbuat semakin liar karena sangat terobsesi untuk membuat wanita tersebut meneriakkan namanya setelah menyerang kelemahan.
Sementara itu, Tsamara yang berjuang untuk tidak terbawa suasana atas perbuatan Zafer, gagal melakukannya begitu meledak bagaikan petasan. Bahkan saat ini, mengarahkan tangan pada helaian rambut bewarna hitam tersebut.
"Zafer," lirih Tsamara yang kini berbicara dengan suara parau dan tidak melepaskan kuasa.
Tentu saja begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Tsamara, Zafer semakin bersemangat untuk membuat wanita itu memujanya.
'Akhirnya kamu kalah juga, istriku,' gumam Zafer yang saat ini merasa sangat senang dengan panggilan pada Tsamara.
Sebenarnya pertama kali memanggil Tsamara istriku, rasanya aneh di telinga. Apalagi memanggil itu karena ingin menggoda saja, tetapi lama-kelamaan merasa sangat senang dan panggilan baru tersebut seperti membuatnya bersemangat.
Padahal selama ini belum pernah memanggil Rayya seperti itu, tetapi merasa sangat berbeda ketika melakukannya pada Tsamara, sehingga berpikir hanya akan memanggil istriku pada wanita tersebut.
Jadi, karena tidak ingin semua itu terjadi, sehingga berpikir memanggil istri pada Tsamara saat tidak sedang berada di rumah. Zafer yang baru saja merasakan Tsamara mencapai puncak pertama, mengangkat pandangan dengan mendongak menatap wajah memerah wanita di atasnya tersebut.
Kemudian Zafer tersenyum puas karena berhasil mengalahkan sikap dingin seorang Tsamara. Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Zafer melupakan perintahnya dan menyingkirkan paper bag berisi pakaian tersebut ke lantai.
Kemudian mendaratkan tubuh di dekat Tsamara sambil menelusuri kulit wajah putih bersih di hadapan.
"Sekarang giliranmu untuk melayaniku. Jadilah seorang istri yang baik saat melayani suami," ucap Zafer yang saat ini tidak membuang waktu karena sudah membungkam bibir sensual yang dari tadi seolah melambai untuk segera dinikmati.
Tsamara yang belum sempat menormalkan perasaan karena perbuatan Zafer yang tanpa izin menyerangnya, kini tidak bisa lagi menolak dan akhirnya membalas ciuman itu.
__ADS_1
Bahkan kedua tangannya sudah melingkar di pinggang kokoh pria yang masih berpakaian lengkap dengan setelan jas berwarna hitam tersebut.
'Aku sudah benar-benar gila hari ini karena perbuatan Zafer,' lirih Tsamara yang pertama kali memanggil seperti seharusnya.
Namun, perbedaannya adalah tidak ada paksaan kali ini karena Tsamara memanggil Zafer dengan sukarela, meskipun hanya di dalam hati saja.
Beberapa saat lalu, Zafer yang merasa sangat senang saat berhasil mengalahkan Tsamara dengan meneriakkan namanya ketika mencapai puncak, sehingga ingin langsung menyerang sosok wanita yang sudah ada di hadapannya.
Kemudian sudah merengkuh tubuh ramping di sebelahnya dengan cara tangan kanan menahan tulang rusuk, sedangkan tangan kiri menahan kepala, lalu meraup bibir sensual yang selalu menjadi candunya tersebut.
Tsamara yang merasa sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Zafer, terlihat membulatkan kedua matanya. Namun, begitu bibirnya telah basah karena perbuatan sang suami, ia semakin menikmatinya dan akhirnya memejamkan kedua mata.
Hingga keduanya saling menikmati ciuman lembut yang lama-kelamaan berubah liar tersebut.
Namun, Zafer menghentikan aksi liar yang sudah menelusuri lekuk tubuh sang istri dengan bibir, tiba-tiba mempunyai sebuah ide di kepala, sehingga melepaskan pagutan.
Kemudian Zafer mengambil botol wine yang ada di atas meja, lalu melirik ke arah sosok wanita yang sudah memerah wajah seperti kepiting rebus.
"Aku akan membuatmu merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa karena ingin menikmatimu dengan cara lain." Zafer tersenyum menyeringai saat melihat ekspresi wajah penasaran dari Tsamara.
Sementara itu, Tsamara yang tadi terbawa suasana atas perbuatan Zafer, seolah tidak memikirkan apapun lagi ketika pria itu mengirimkan gejolak gairah hingga menggapai puncak, tidak paham apa yang dimaksud.
Meskipun ia mengerti dengan arah pembicaraan bernada vulgar dari Zafer, hanya membuatnya mengerucutkan bibir.
'Sebenarnya apa yang akan dilakukan suamiku dengan wine itu?' gumam Tsamara yang kini merasa khawatir jika pria itu akan menyuruh minum wine dan pastinya akan menolak perintah dari Zafer.
__ADS_1
To be continued...