Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Cara kekerasan


__ADS_3

Suasana pagi hari di kediaman keluarga Dirgantara yang seperti biasa, terlihat para pelayan yang sudah sibuk dengan tugas masing-masing sebelum majikan bangun dari istirahat.


Ada yang membersihkan rumah mulai dari menyapu mengepel, sedangkan bagian depan juga terlihat mulai sibuk.


Sementara di ruangan dapur, juga terlihat beberapa wanita yang sudah sibuk memasak menu sarapan hari ini.


Semalam nyonya besar sudah mengatakan menu sarapan karena ingin bersama-sama menghabiskan waktu pagi hari di ruang makan.


Ketika para pelayan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, berbeda dengan Zafer yang masih terlelap dalam mimpi karena semalam tidak bisa tidur saat menahan kekesalan begitu mengetahui bahwa Tsamara berbohong karena tidak ingin bercinta dengannya.


Hal yang sama dirasakan oleh Rayya karena semenjak hamil muda, sangat susah tidur dengan nyenyak karena merasa sangat tidak nyaman pada rahimnya. Karena sekarang ada dua janin yang merupakan keturunan dari keluarga Dirgantara.


Bahkan ia tidur di pagi buta saat tidak ada sang suami yang memeluknya. Semenjak mengetahui bahwa saat ini sedang hamil, sangat mengharapkan dipeluk oleh ayah dari dua janin yang dikandung dan berharap bisa bermanja-manja.


Namun, selama beberapa hari harus menahan diri karena berpikir yang menjadi penyebab adalah Tsamara yang rencananya akan menjadi orang ketiga incaran untuk disingkirkan setelah mertua.


Rayya yang saat ini terlelap dalam alam bawah sadar, tiba-tiba merasakan perut mulas dan akhirnya terbangun dari tidur.


Seperti biasa, langsung berjalan ke kamar mandi untuk meringankan rasa mulas di perut. Namun, kali ini berbeda karena semenjak hamil selalu mengalami morning sickness yang sangat menyiksa.


Ia saat ini sudah mengeluarkan semua isi perut dan merasa sangat lemas. Memilih untuk berjongkok agar tidak jatuh ketika tidak sadarkan diri seperti di apartemen, Rayya menunggu hingga rasa pusing di kepala, baru kembali ke dalam kamar.


Hal yang diharapkan adalah ada sang suami menggendong ke ranjang seperti ketika masih tinggal di apartemen. Namun, saat berada di rumah keluarga besar Dirgantara, malah harus terpisah dengan sang suami.


Hal yang selalu membuatnya merasa sangat marah dan tidak terima, sehingga memilih untuk mengakhiri nyawa orang-orang yang menghalangi.


"Sial! Apakah setiap pagi harus seperti ini? Aku benar-benar sangat tersiksa. Apalagi harus mengalami morning sickness tanpa ada Zafer di sampingku."


Puas mengumpat, Rayya yang merasa sudah lebih baik, bangkit berdiri dengan berpegangan pada tembok dan berjalan sangat berhati-hati karena tidak ingin berakhir pingsan.


Mengetahui bahwa setelah terbangun, tidak akan bisa melanjutkan tidur lagi. Apalagi saat pagi hari ingin segera mengisi perut karena sangat lemas setelah muntah-muntah di kamar mandi.


Tidak ingin repot-repot turun ke bawah, ia memilih menelpon pelayan untuk mengantarkan susu dan camilan sehat sebagai pengganjal perut sebelum makan.


"Jika setiap hari aku banyak makan, pasti tubuhku akan gemuk dan tidak menarik lagi. Bagaimana jika Zafer ilfil padaku dan memilih Tsamara untuk melayani di atas ranjang? Sialan!"

__ADS_1


"Karena sampai sekarang belum menemukan penyebab Zafer tidak mau tidur di sini, aku tersiksa rasa penasaran hingga tidak bisa tidur. Sekarang baru tidur saja sudah terganggu dengan dua janin yang berada di sini."


Rayya menunduk menatap ke arah perut yang masih datar dan merasa sangat kesal karena selama hamil selalu tersiksa tanpa merasa bahagia.


"Kenapa aku harus hamil secepat ini? Ini adalah waktu yang tidak tepat karena akhirnya aku hanya tidur sendirian di sini. Jika aku tidak hamil, pasti masih bersenang-senang bersama Zafer tanpa merasa stres dan tertekan."


Masih belum mengalihkan pandangan dari perut di mana ada benih pria yang dicintai, Rayya saat ini memikirkan sesuatu. Kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas.


Tanpa memperdulikan waktu yang masih terlalu awal untuk menghubungi seseorang, ia saat ini menunggu hingga mendapat jawaban dari seberang telpon.


"Pasti saat ini masih sedang tidur nyenyak. Kenapa sampai sekarang tidak ada? Aku jadi susah karena belum mengetahui apakah rencana yang kususun akan berjalan lancar?"


Sampai ponsel mati karena tidak mendapatkan jawaban, Rayya akhirnya memilih untuk mengirimkan pesan pada sahabat sekaligus mantan kekasih yang disuruh untuk mencari pembunuh bayaran.


Apakah kau sudah menemukan orang untuk melakukan rencanaku?


Kemudian langsung mengirim pesan dan menunggu pria yang bernama Harry itu akan membalas setelah bangun nanti. Di saat bersamaan, terdengar suara ketukan pintu dan Rayya menyuruh orang yang berada di luar, untuk masuk karena mengetahui bahwa itu adalah pelayan yang tadi dihubungi.


Benar saja, seorang pelayan wanita berjalan membawa nampan berisi susu coklat untuk ibu hamil dan juga sandwich. Berharap majikan perempuan menyukai apa yang dibawa karena sangat khawatir jika marah karena tidak cocok.


Rayya menuju ke arah nakas. "Letakkan di sana saja. Apa tuan kalian yang sedang tidur di kamar tamu sudah bangun?"


Sengaja bertanya seperti itu dengan membuang rasa malu karena para pelayan mengetahui bahwa Zafer tidak mau tidur bersama para istri.


"Belum, Nyonya. Tuan masih belum bangun karena saat tadi melewati pintu ruangan kamar, tidak mendengar apapun. Apakah ada lagi yang Anda inginkan?" Masih tetap stand by di dekat majikan perempuan yang ditakuti, tetapi harus bersikap biasa Karena tidak ingin wanita itu marah.


"Kalau papa dan mama, apa mereka masih tidur?" Rayya tidak sabar untuk bertemu dengan ibu mertua karena sudah berjanji untuk memberitahukan masalah perbincangan bersama Zafer semalam.


Hingga jawaban dari pelayan wanita tersebut berhasil membuat raut wajah Rayya berbinar dan menyunggingkan senyuman.


"Tidak, Nyonya. Saat ini, Nyonya besar ada di dapur karena sedang membuatkan minuman hangat untuk tuan Adam yang katanya sedang tidak enak badan."


Refleks Rayya seketika bangkit berdiri dari ranjang dan berjalan keluar tanpa berbicara apapun pada pelayan wanita tersebut yang terlihat bingung.


'Aku harus segera bertanya pada mama mengenai pembicaraan semalam dengan suamiku,' gumam Rayya yang saat ini sudah berjalan menuruni anak tangga dengan cepat karena tidak ingin ibu mertuanya tersebut kembali ke kamar sebelum berbicara dengannya.

__ADS_1


Benar saja, hampir saja terlambat karena begitu berada di anak tangga terakhir, wanita paruh baya tersebut membawa nampan berisi minuman yang sudah diketahui bahwa itu untuk pria paruh baya yang sangat dibenci.


"Ma."


"Rayya? Kamu pagi-pagi begini sudah bangun?" tanya Erina yang saat ini tengah merasa sangat terkejut begitu melihat menantu perempuan yang sudah bangun ketika suasana di luar ruangan masih gelap karena terlalu pagi untuk beraktivitas.


Rayya yang hanya menggaruk tengkuk belakang, kini tersenyum simpul dan tidak ingin bertele-tele untuk mengungkapkan apa yang ingin ditanyakan.


"Aku tadi muntah-muntah di kamar mandi, Ma. Jadi, sudah tidak bisa beristirahat lagi. Aku sangat lapar dan tadi meminta pelayan untuk mengantarkan makanan, tapi mengetahui bahwa Mama ada di sini, kebetulan ingin menanyakan mengenai pembicaraan semalam bersama suamiku."


Erina yang melupakan janji karena berpikir bahwa semalam Rayya sudah tertidur. Hingga ketika saat ini ingin segera memberikan minuman pada sang suami karena tidak enak badan, mendapatkan halangan kecil karena pertanyaan dari menantunya tersebut.


"Mengenai semalam, aku sudah berbicara dengan Zafer dan sama sekali tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Zafer hanya merasa lelah dengan pekerjaan. Jadi, ingin tidur sendirian dengan tenang tanpa kalian. Hanya itu."


Tidak ingin jika menantunya tersebut kembali bertanya macam-macam, Erina buru-buru berjalan menaiki anak tangga setelah menepuk lembut bahu Rayya.


"Papa sudah menunggu."


Rayya sebenarnya sangat ingin menghentikan wanita paruh baya tersebut yang dianggap berbicara sangat konyol dan pastinya tengah berbohong karena ingin menutupi hal sebenarnya.


Namun, karena menyadari bahwa ibu mertuanya tidak berniat untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, ia bertambah semakin kesal. Namun, tidak bisa meluapkan amarah saat ini karena berada di lantai satu.


Tidak ingin tersiksa dengan berbagai macam pertanyaan di otak yang serasa kepala mau pecah saja, Rayya memilih untuk berjalan menuju lift karena tidak kuat jika harus menaiki anak tangga dengan posisi perut kosong setelah muntah-muntah tadi.


Begitu masuk ke dalam, ia sibuk mengumpat di dalam hati. "Sialan! Wanita tua itu sengaja ingin membohongiku. Apakah semua orang di rumah ini berpikir bahwa aku adalah orang bodoh yang bisa dibohongi kapan saja?"


Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka dan Rayya tidak membuang waktu karena langsung menuju ke kamar dan memilih untuk segera menikmati susu hangat dan sandwich untuk mengisi perut yang terasa kelaparan.


"Jika Zafer, Tsamara dan wanita tua itu tidak mau menceritakan padaku, aku akan mencari tahu sendiri," ucap Rayya yang saat ini tengah menyusun rencana untuk mengetahui hal itu dengan cara kekerasan.


'Karena cara lembut tidak berhasil, berarti Mereka menginginkan kekerasan. Baiklah, aku akan menuruti kalian semua dengan memakai caraku sendiri untuk mencari tahu.'


Rayya saat ini tersenyum menyeringai ketika akan memakai cara kekerasan untuk membuat salah satu dari tiga orang tersebut membuka rahasia. Bahkan sudah ada ide brilian di kepala dan membuatnya akan melaksanakan rencana sebentar lagi.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2