
Rayya mulai menancapkan charger pada lubang listrik dan menunggu hingga beberapa menit. Kemudian menyalakan ponsel dan menunggu hingga menampilkan layar kembali seperti semula.
Begitu kembali seperti semula, tanpa membuang waktu langsung memencet tombol panggil. Namun, meskipun telpon tersambung, sama sekali tidak ada jawaban.
"Ke mana Zafer? Kenapa tidak mengangkat panggilan?" Berbagai macam pertanyaan kini menguasai pikirannya dan saat berpikir jika yang terjadi kemungkinan adalah sang kekasih sedang berduaan dengan Tsamara, tentu saja rasa khawatir sekaligus kemurkaan dirasakan.
"Awas saja jika sampai ia berduaan dengan wanita cacat itu. Aku akan memberikan hukuman!" Masih mengumpat sambil menghubungi Zafer sampai lima belas kali, tetapi tidak kunjung diangkat juga.
Ia kemudian mengepalkan kedua tangan dan mengempaskan di ranjang king size yang menjadi tempat duduk saat ini.
"Astaga! Apa yang dilakukan Zafer sebenarnya? Kenapa tidak mengangkat telponku? Apakah ponselnya ada di dalam kamar dan sekarang di luar? Jadi, tidak tahu ada panggilan?"
Selama beberapa saat menunggu Zafer menelpon. "Setelah mengetahui aku tadi menelpon sampai berpuluh-puluh kali, pasti akan langsung menghubungi."
Merasa sangat lelah jiwa raga dengan hari ini, Rayya memilih untuk meluruskan kaki dengan cara berbaring dan menatap langit-langit kamar yang ditempati.
"Apa ruangan kamar Zafer ada di sebelah orang tua itu? Padahal aku ingin melihat seperti apa ruangan pribadi calon suamiku."
Mendadak mengingat sesuatu, ia kini meraih ponsel yang masih ada charger itu dan memilih untuk mengirimkan pesan pada sang ayah.
Besok, aku akan menikah di rumah keluarga Dirgantara. Aku harap bisa ayah datang untuk memberikan restu.
Sengaja mengirim pesan dan tidak menelpon karena sedang malas untuk berdebat. Apalagi suasana hati sekarang ini sedang tidak baik saat menghadapi mertua super berisik dan Zafer yang juga belum menghubungi.
"Aku coba sekali lagi. Jika sampai tidak diangkat, awas saja besok pagi. Aku akan memberikan hukuman dengan tidak boleh menyentuhku sama sekali."
__ADS_1
Rayya tahu jika Zafer sangat memuja tubuh seksi yang dimiliki, sehingga ketika bercinta, bisa sampai beberapa ronde. Jadi, ingin memanfaatkan itu untuk memberikan pelajaran.
Kemudian Rayya kembali menekan tombol panggil dan kali ini tidak seperti yang dipikirkan karena panggilan telpon langsung diangkat. Namun, saat Rayya ingin membuka mulut untuk meluapkan emosi karena dari tadi Zafer tidak mengangkat telpon, mendadak wajahnya berubah memerah.
Mendengar suara dari seberang telpon mengatakan hal-hal bersifat intim mengenai barang milik wanita, membangkitkan pikiran buruk dan langsung mengumpat.
Seolah ledakan amarah kini diluapkan oleh Rayya karena pria yang sangat dicintai seperti baru saja bercinta dengan wanita yang sangat dibenci.
Sementara Rayya merasa sedang berada di neraka karena rumah mewah itu tidak memberikan kebahagiaan.
"Jawab aku, Zafer! Apa kau baru saja bercinta dengan wanita cacat itu!" teriak Rayya dengan tangan mengepal karena membayangkan Zafer mencumbu Tsamara, membuat rasa sakit di dalam hati.
Tidak akan pernah bisa memaafkan apa yang dilakukan oleh Zafer, Rayya berniat untuk mengatakan sesuatu, tetapi suara dari seberang telpon telah berhasil membungkamnya.
"Sayang, kamu salah paham. Dengarkan penjelasanku dulu karena ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Zafer yang berada di dalam kamar masih berusaha untuk menjelaskan kesalahpahaman dengan menceritakan semua yang terjadi.
"Jadi, seperti itu ceritanya, Sayang. Mana mungkin aku tertarik pada wanita cacat itu saat sudah mempunyai calon istri yang telah mengandung dua anakku. Konyol sekali itu namanya."
Jika Zafer berpikir Rayya akan reda amarah begitu mendengar penjelasan darinya, tetapi merasa frustasi karena itu tidak terjadi.
"Kenapa kamu harus menolong wanita itu? Seharusnya kamu biarkan saja wanita itu tidur di lantai sampai pagi. Biar mati sekalian! Jadi, di antara kita sudah tidak ada lagi penghalang." Rayya masih tidak bisa langsung meredam amarah yang bahkan sudah seperti lahar panas gunung berapi yang siap untuk dimuntahkan.
Jadi, meskipun semua yang dikatakan oleh Zafer masuk akal, tetap saja tidak bisa mengalihkan rasa khawatir, emosi yang membuncah di dalam hati saat ini.
"Astaga! Sayang, jika aku melakukan itu dan wanita itu benar-benar mati, bukankah akan jadi tersangka dan mati dipenjara? Jika seperti itu, yang dikatakan oleh Tsamara benar. Kamu akan mencari pria lain karena tidak mau menungguku keluar dari penjara."
__ADS_1
Zafer sama sekali tidak pernah menyangka jika apa yang dikatakan oleh Tsamara bisa digunakan sebagai jawaban atas kemurkaan Rayya.
Bahkan tadi belum sempat meredam amarah karena perbuatan Tsamara saat memantik amarah, kini malah ditambah dengan kemurkaan Rayya.
Tentu saja rasa pusing semakin menguasai diri dan ia terlihat sibuk memijat pelipis. 'Jadi, ini rasanya memiliki istri dua?'
'Padahal Tsamara sama sekali tidak kuanggap istri, tapi berhasil membuatku pusing. Ditambah lagi saat Rayya yang semakin membuat otakku diforsir dua kali lipat untuk berpikir.
'Mencari alasan paling tepat demi menghilangkan kecurigaan, kecemburuan dan kemurkaan Rayya, rasanya jauh lebih sulit dibandingkan pekerjaan menumpuk di kantor.'
Sementara di sisi lain, Rayya masih tetap tidak bisa menghilangkan kekhawatiran karena hari ini Zafer telah melihat penampilan Tsamara tanpa pakaian tertutup seperti yang dilihat selama ini. Rasa khawatir mengelilingi diri dan tidak mungkin akan berpura-pura tidak mempermasalahkan itu.
"Aku tidak mau kamu tinggal di rumah itu lagi. Lebih baik kalian pindah ke sini, agar aku bisa mengawasi. Atau aku yang ke sana. Jadi, tugasmu adalah berbicara dengan papamu yang terhormat itu, agar merubah keputusan."
Tanpa memperdulikan apapun lagi, lalu Rayya menutup panggilan sepihak karena sudah sangat hafal seperti apa sang kekasih yang tidak pernah berani melawan orang tua.
"Kali ini, aku ingin menguji, sampai di mana rasa cintamu padaku, Zafer. Aku ingin melihat apa yang kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini. Sebenarnya aku tidak akan membuat ulah jika kamu tidak memancing."
Tidak ingin terganggu karena berharap malam ini bisa tidur nyenyak, Rayya memilih untuk menonaktifkan ponsel. "Aku harus beristirahat sebelum melalui hari esok yang pasti akan sangat melelahkan."
Meskipun masih belum tenang dengan pikiran mengenai Zafer, tetapi Rayya yakin jika pria itu akan melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah ini.
"Jika aku tinggal bersama wanita cacat itu, akan bisa menunjukkan kekuasaan sebenarnya ada di tanganku yang hanya merupakan istri kedua. Lihat saja nanti," ucap Rayya dengan tersenyum smirk dan kini mulai menutup mata.
Beberapa saat kemudian karena efek kelelahan yang dirasakan oleh Rayya, akhirnya terdengar suara napas teratur menghiasi ruangan kamar tersebut.
__ADS_1
To be continued..