
Sementara itu, Leon Pratama kini masih memicingkan mata dan menatap tangan yang menggantung di udara tersebut. "Apa pekerjaanmu? Apakah kau punya marga? Aku tidak akan memberikan putriku pada pria yang tidak jelas asal-usulnya."
"Ada banyak pria dari kalangan atas yang menginginkan putriku untuk dijadikan istri. Jadi, kau harus bersaing dengan mereka. Bahkan tujuanku datang ke sini adalah untuk membicarakan mengenai seseorang yang ingin menikahi Rayya dan merupakan pengusaha batubara."
Kemudian Leon Pratama mengibaskan tangan untuk menghentikan pria itu, agar tidak melanjutkan menggantung tangan di udara.
"Aku tidak terbiasa berjabat tangan dengan kalangan bawah! Jadi, lebih baik turunkan saja tanganmu dari pada patah karena lelah menggantung di udara dari tadi."
Leon seketika menutup daun telinga begitu mendengar suara teriakan Rayya yang baru saja keluar dari ruangan kamar.
"Ayah! Hentikan! Jangan bersikap kasar dan menyinggung perasaan calon suamiku. Dia adalah putra dari Adam Dirgantara yang mempunyai perusahaan besar di kota ini. Jadi, Ayah tidak boleh bersikap kasar padanya. Apalagi kami berdua saling mencintai."
Rayya menatap kesal ke arah sang ayah yang selalu saja membuat masalah dengan masalah pribadi, yaitu para pria yang dekat dengannya.
Ia tadi memang mendengar suara dari sang ayah yang berteriak memanggil, tetapi saat bangkit dari posisi berbaring dari ranjang, kembali merasa mual dan berlari ke kamar mandi.
Selama beberapa menit muntah-muntah dan merasa pusing pada kepala, tetapi memaksakan diri untuk segera menemui sang ayah karena berpikir akan membuat masalah dengan Zafer.
Benar saja apa yang dipikirkan, kalimat penuh penghinaan dari sang ayah, seolah membuat Rayya seperti tidak mempunyai muka di hadapan Zafer.
Apalagi mengetahui bahwa pria yang dicintai tersebut mempunyai tempramental dan khawatir akan menghajar sang ayah.
Jadi, segera berusaha untuk menghentikan perkataan sang ayah yang semakin memantik amarah Zafer karena mengatakan tentang pria lain yang bahkan sama sekali tidak diketahui olehnya.
'Ayah sangat keterlaluan karena pertama kali ada seorang pria yang serius ingin menikahiku, tetapi ditanggapi dengan sangat sinis. Inilah yang membuatku sangat marah karena memiliki seorang ayah yang tidak bisa memahami perasaan anak.'
Rayya yang sibuk mengumpat di dalam hati, sudah berjalan mendekat dan memeluk sang kekasih untuk berusaha menenangkan amarah di dalam hati Zafer.
"Sayang, maafkan ayahku yang berbicara sembarangan. Aku harap kau mengerti karena sudah mengatakan padamu dulu." Masih mengusap bahu lebar nan kokoh pria dengan postur tinggi tegap tersebut.
Rayya masih berusaha untuk menyalurkan aura positif, agar sang kekasih tidak meluapkan amarah pada pria paruh baya yang tetap saja disayangi olehnya.
__ADS_1
Benar apa yang dipikirkan oleh Rayya saat ini, bahwa Zafer tengah berusaha sangat keras untuk menahan amarah di dalam hati ketika mendapatkan sebuah penghinaan dari pria yang merupakan ayah dari sang kekasih.
Apalagi tadi ayah Rayya di hadapannya tersebut mengatakan mengenai ada seorang pria yang ingin menikahi sang kekasih dan tentu saja melukai harga dirinya sebagai seorang keturunan Dirgantara.
Ingin sekali Zafer memporak-porandakan ruangan apartemen tersebut untuk melampiaskan amarah, tapi masih bisa menahan diri karena berpikir akan meninggalkan kesan buruk bagi calon mertua.
Tentu saja sebagai calon menantu yang baik, harus menghormati dan mencuri hati calon mertua. Meskipun situasi sangat berbeda dihadapi oleh Zafer karena sebenarnya merasa menang sebagai seorang pria.
Posisi Rayya yang sedang hamil, bisa menjadi kelemahan wanita dan seorang ayah. Bahkan ia tahu bisa memanfaatkan kelemahan itu untuk mengancam calon mertua.
Namun, tidak ingin bertindak gegabah dan memilih bersikap tenang untuk mempermalukan pria paruh baya yang dianggap tidak tahu diri tersebut.
Apalagi ia mengetahui bahwa bisnis pria itu hanyalah Club malam, tetapi seolah berpikir bisa menguasai dunia dan menghina siapapun.
'Aku harus mempermalukan pria tidak tahu diri ini. Meskipun sangat mencintai Rayya, tapi harga diri seorang lelaki sedang dipertaruhkan saat ini. Jadi, tidak ada salahnya jika menanggapi apa yang dikatakan oleh calon mertuaku.'
Zafer berakting tersenyum simpul pada sang kekasih dengan wajah pucat tersebut. "Tidak apa-apa, Sayang. Mungkin Ayah belum mengetahui siapa aku sebenarnya. Jadi, berpikir hanyalah seorang gelandangan tidak punya pekerjaan."
Sementara Leon Pratama yang saat ini terdiam karena tengah mengingat nama yang beberapa saat lalu disebutkan oleh putrinya. Kemudian mengamati penampilan pria di hadapan tersebut.
"Apakah aku melewatkan sesuatu hal yang besar? Dirgantara, sepertinya nama itu tidak asing. Mungkin karena aku bukan merupakan kalangan pebisnis, jadi tidak hafal dengan nama-nama perusahaan."
Tanpa merasa bersalah atas sikap barusan, ia kini memilih untuk memberikan kode pada Rayya dan juga pria tersebut agar segera duduk karena ingin berbicara serius.
Embusan napas berat seolah mewakili perasaan Zafer saat ini ketika kembali harus bersabar dengan sikap seenaknya dari calon mertua.
"Ayo, Sayang. Kita duduk di sana!" Rayya masih khawatir dengan apa yang dipikirkan oleh Zafer, tetapi berniat untuk berbicara empat mata setelah sang ayah nanti pergi dari apartemen.
Rayya menarik pergelangan tangan Zafer dan mendaratkan tubuh di atas sofa yang berada di ruangan tengah.
Masih tidak membuka suara, Zafer kini memilih untuk menuruti keinginan sang kekasih dan duduk di sebelah kiri.
__ADS_1
'Apa yang akan dikatakan oleh pria tua ini? Jika tidak menyetujui niatku untuk menikahi Rayya, sepertinya aku harus menunjukkan siapa sebenarnya Zafer Dirgantara.'
Zafer sudah mempersiapkan diri untuk menyerang calon mertua jika sampai menyinggung perasaan lagi. Merasa percaya diri bahwa saat ini memiliki bom waktu yang bisa diledakkan kapan saja.
Sementara itu, Leon Pratama berniat untuk mengatakan hal yang ada di pikiran saat ini tanpa bertele-tele. "Aku tahu bahwa kalian saling mencintai, tapi apa alasan utama menikah?"
Leon bertanya seperti itu karena sangat mengenal putrinya yang selama ini tidak berniat untuk menikah. Apalagi melihat kehidupan orang tua yang berantakan, pernah mengatakan hanya ingin bersenang-senang tanpa ikatan pernikahan.
"Ayah kenapa bertanya hal konyol seperti itu? Kami berdua saling mencintai dan ingin serius dalam menjalin hubungan ke jenjang pernikahan. Harusnya Ayah senang dan mendukung."
Rayya yang masih merasa pusing, harus mengeluarkan emosi dan membuang tenaga yang harus disimpan karena sangat lemas.
Di sisi lain, Zafer hanya mendengarkan karena jawaban dari sang kekasih sudah mewakili apa yang harusnya dikatakan untuk menjawab sang mertua. 'Pria ini memang sangat bodoh karena menanyakan hal yang tidak seharusnya ditanyakan.'
Masih mengarahkan tatapan mengintimidasi, pria paruh baya tersebut kini merasa aneh ketika melihat wajah putrinya yang sangat pucat.
Namun, berpikir bahwa itu adalah efek karena kelelahan dalam bermain di atas ranjang bersama pria itu. "Bukankah dulu kamu mengatakan tidak akan pernah menikah karena hanya akan menderita seperti orang tuamu?"
"Apa kamu tidak mengingatnya? Jadi, aku yakin ada sesuatu hal yang membuatmu berubah pikiran. Jadi, katakan sekarang sebelum aku mengungkapkan tujuan datang ke sini." Meraih ponsel di saku celana karena ingin menunjukkan foto seorang pria pada putrinya.
Leon merasa yakin jika ada sesuatu yang terjadi di antara Rayya dan pria itu, sehingga ingin mengetahui apa itu.
"Lihat ini dulu, Rayya!" Menyerahkan foto yang sudah menunjukkan foto seorang pria.
Rayya sebenarnya merasa tertampar dengan perkataan sang ayah, tetapi saat ingin menjawab, melihat ponsel dan langsung menerima dan melihat apa yang ingin ditunjukkan.
Ia mengerutkan kening karena melihat foto seorang pria yang seperti pernah dilihat. "Ini siapa?"
Zafer seketika ikut melihat ke arah layar pada ponsel di tangan Rayya. Begitu melihat bahwa ada foto seorang pria, seketika memantik api cemburu di dalam hati dan mengepalkan tangan kanan yang berada di sofa.
To be continued....
__ADS_1