
"Kamu tenang saja karena aku tidak bisa melakukan dalam waktu dekat karena sebentar lagi akan pergi ke luar kota bersama Rayya. Papa menyuruhku untuk mengurus tender besar dan tinggal di sana. Kamu pasti sudah bisa menebak bahwa Rayya tidak mungkin mau tinggal di rumah tanpa aku."
"Jadi, besar kemungkinan bahwa Rayya akan ikut denganku tinggal di luar kota." Zafer yang ingin melihat respon dari Tsamara untuk memastikan apakah wanita itu cemburu dan merasa kehilangan karena kepergiannya atau malah merasa senang saat terbebas dari tugas melayaninya di atas ranjang.
Saat Tsamara merasa kesal pada Zafer, sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata mendengar kabar yang mengejutkan dan entah mengapa seperti ada kekecewaan yang dirasakan.
Namun, tidak ingin memperlihatkan apa yang dirasakan pada Zafer karena berpikir bahwa itu akan membuat pria tersebut besar kepala, sehingga sekilas menatap dan berkomentar.
"Baguslah, jadi aku tidak akan menjadi wanita murahan untuk sementara waktu. Aku bisa menganggap ini adalah hari libur karena tidak perlu melayanimu saat ada Rayya yang bisa melakukannya."
Sebenarnya Tsamara merasa perkataannya sangat kasar dan melukai hatinya sebagai seorang wanita.
Karena siapapun itu, tidak akan pernah ada yang mau berbagi suami dengan wanita lain. Apalagi dari dulu ia sangat membenci jika ada seorang pria yang mempunyai dua istri. Namun, takdir membawanya pada pria yang duduk di sebelah kanan tersebut.
Berakhir menuai buah yang ditanam di masa lalu dengan kondisi kaki cacat dan memiliki suami sama sekali tidak mencintai, serta ada wanita lain berstatus sebagai istri kedua adalah sebuah hukuman yang paling lengkap dan dirasa sangat pantas didapatkan akibat dulu berselingkuh saat masih menjadi istri.
Menganggap bahwa karma sudah tepat sasaran tidak pernah salah. Jadi, ia berpikir untuk menjalani dengan ikhlas tanpa mengeluh.
Sementara itu di sisi lain, Zafer yang telah gagal untuk membuat Tsamara merasa cemburu, mengepalkan tangan kanan untuk melampiaskan amarah. Namun, karena tidak ingin menunjukkan di depan Tsamara, sehingga tertawa terbahak-bahak.
Hingga beberapa saat kemudian mengarahkan tangan pada pipi putih Tsamara dan menelusurinya hingga berhenti pada bagian bibir sensual yang tadi dilumatnya.
__ADS_1
"Sepertinya aku akan sangat merindukan ini karena tidak bisa menikmatinya lagi saat berada di luar kota. Apakah tidak ingin tahu bahwa ada perbedaan antara kamu dengan Rayya?"
Tsamara hanya terdiam seperti patung saat pria itu semakin menelusuri bagian bibirnya. Karena tidak ingin membuat Zafer salah paham ataupun menjadi seorang pria sombong yang selama ini dipuja banyak wanita, refleks menggelengkan kepala.
Itu semua karena tidak ingin mendengar apapun mengenai hubungan intim Zafer dan Rayya. Apalagi Tsamara tidak suka dibandingkan dengan wanita itu karena tidak pernah menganggap jika Rayya adalah saingan.
Bahkan dari dulu berpikir akan pergi dan membiarkan mereka hidup bahagia, tapi ternyata semua hanyalah angan semata begitu Zafer mengatakan ingin anak dari rahimnya dan tidak bisa dihentikan.
"Aku sama sekali tidak ingin tahu dan jangan membandingkan dengan Rayya karena posisi kami sangat berbeda. Hiduplah berbahagia dengan Rayya selama di luar kota," ucap Tsamara yang kini terlihat berbinar begitu menatap putranya yang digendong oleh pria suruhan suaminya tersebut.
***
Apalagi Tsamara seperti merasa senang bahwa sebentar lagi akan pergi ke luar kota bersama Rayya. Jadi, selama beberapa hari, melampiaskan kekesalan dengan cara menghabiskan waktu gila kerja di kantor.
Selama beberapa hari, ia selalu pulang terlambat dan jarang bertemu Tsamara. Apalagi Tsamara lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar saat pagi hari, seolah tidak ingin bertemu dengannya.
Sementara Zafer masih bersikap biasa pada Rayya karena tidak ingin membuat wanita itu berpikir macam-macam. Apalagi mengetahui bahwa Rayya selalu saja curiga pada Tidak dan khawatir akan merebutnya.
Bahkan karena merasa marah pada Tsanawiyah, sehingga Zafer melampiaskan pada Rayya dengan cara setiap hari menyalurkan gairah. Seolah meyakinkan pada diri sendiri dan juga Tsamara, bahwa bisa hidup dengan Rayya.
Zafer bahkan berusaha untuk melupakan bahwa pernah memuja tubuh Tsamara dan sering memuji sikap wanita itu sangat cantik. Sebenarnya ia ingin sekali melihat Tsamara memakai semua pakaian yang dibelikannya, tapi karena tidak bertemu meskipun tinggal dalam satu rumah, sehingga hanya bisa memendam perasaan di dalam hati
__ADS_1
Namun, keesokan harinya, situasi yang membuat mereka bisa bertemu karena merupakan hari anniversary orang tua dan mengajak makan di sebuah restoran mewah. Tentu saja satu keluarga tersebut akan pergi bersama untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 32 tahun pasangan suami istri paruh baya tersebut.
Zafer hari ini mengambil cuti dan menyuruh asisten pribadi membereskan semua pekerjaan di kantor. Apalagi besok harus pergi ke luar kota bersama Rayya dan pastinya akan butuh banyak persiapan.
Bahkan Rayya terlihat sangat bahagia dan bersemangat, sehingga dari semalam sudah berkemas dengan memasukkan semua barang yang akan dibawa ke dalam koper.
Zafer yang dari pagi bermalas-malasan dan memilih sarapan di dalam kamar karena tidak ingin bertemu dengan wanita yang dianggap hanyalah membuatnya merasa kesal. Meskipun siang akan pergi bersama ke restoran.
Hingga saat jam menunjukkan pukul sebelas siang, Zafer melihat Rayya baru selesai mandi dan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang.
"Cepat mandi sana karena kita akan berangkat ke restoran untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan papa dan mama, bukan?" ucap Rayya saat ini menepuk paha sosok pria yang masih terlihat sangat malas dan dari tadi berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponsel.
Rayya tidak sabar menunggu hari ini karena sudah berencana semenjak lama untuk menyingkirkan pasangan suami istri paruh baya yang sangat dibenci tersebut.
Sebenarnya Rayya sama sekali tidak tertarik untuk pergi ke luar kota dan tinggal di tempat baru saat Zafer harus mengawasi tender besar seperti perintah sang ayah, tetapi berakting sangat bersemangat dan gembira.
Bahkan sudah berkemas demi membuat sang suami percaya bahwa ia sangat bersemangat menemani pria itu pergi. Padahal jauh dilubuk hati berpikir bahwa Zafer tidak akan meninggalkan kota dan memilih untuk menyerahkan pada orang kepercayaan setelah mendapatkan kabar buruk yang sebentar lagi terjadi.
'Aku akan menyingkirkan orang tuamu hari ini dan setelah mereka pergi ke neraka, mana mungkin kamu berangkat ataupun bisa berkonsentrasi untuk bekerja dalam posisi kehilangan mereka,' gumam Rayya saat ini masih berakting seperti sangat bersemangat dengan acara perayaan ulang tahun pernikahan yang akan menjadi terakhir.
To be continued...
__ADS_1