Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Bertemu mertua


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Zafer sedang menghubungi Tsamara untuk bertanya mengenai masalah ponsel pilihan yang akan dibeli untuk mengganti, melihat ada panggilan masuk.


Namun, sama sekali tidak tertarik untuk mengangkat panggilan dari Rayya karena malas. Berpikir bahwa wanita itu hanya ingin marah padanya, sedangkan saat ini suasana hati sedang baik karena seperti merasa mempunyai mainan baru.


Ya, akhir-akhir ini, saat bersama Tsamara yang memiliki sikap berbeda karena menjadi wanita yang berani. Bukan wanita lemah seperti biasa.


Zafer seperti merasa mempunyai tantangan untuk menaklukkan wanita yang saat ini terlihat kesal dan sangat garang ketika menjawab. Bahkan mengetahui bahwa Tsamara sangat marah saat tadi ia protes mengenai masalah mengumbar urusan ranjang di tempat umum.


Saat ini, ia masih memegang ponsel yang sudah dimatikan secara sepihak oleh Tsamara setelah marah-marah ketika membahas mengenai urusan ranjang.


Bahkan ia saat ini terbahak seperti orang gila karena dalam bersamaan seperti mendapatkan rasa kesal, marah sekaligus penasaran yang menjadi satu karena ulah wanita yang sudah mengomel dan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu komentar darinya.


"Wah ... wanita itu sekarang berubah menjadi rubah betina yang sangat liar. Bahkan sekarang tidak pernah takut lagi padaku. Marah, mengumpat dan berteriak saat berbicara padaku, padahal sebelumnya selalu menundukkan kepala dan setuju atas apapun yang kuperintahkan."


Zafer bahkan saat ini merasa tubuhnya seperti memanas hanya karena memikirkan Tsamara yang telah berubah sangat susah diatur.


"Sebelum kedatangan Rey, Tsamara sudah mulai berani berbicara dengan nada tegas dan berteriak padaku. Sekarang ditambah saat mantan suaminya datang dan mengancam akan merebut hak asuh Keanu, bertambah parah karena semakin berani pada siapapun, termasuk aku."


Saat Zafer baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku jas, mendengar suara pegawai wanita yang baru saja menyelesaikan pesanan.


Ia sebenarnya menyadari bahwa beberapa orang yang ada di gerai ponsel tersebut memperhatikannya dan menatap seperti ia adalah pria aneh.


Berbicara sendiri dan juga tadi saat video call, Tsamara membahas mengenai masalah ranjang dan entah mengapa malah membuatnya bergairah dan memikirkan wanita itu.


Hingga mengingat bahwa tadi Tsamara seolah menolak bercinta dengannya saat berpikir menyuap dengan membelikan ponsel.


Zafer berbalik badan dan langsung menerima paper bag berisi ponsel yang sudah dikemas dan juga kartu kredit miliknya.


"Terima kasih," ucap Zafer yang berlalu pergi setelah pegawai wanita mengucapkan kalimat sama dengan menyunggingkan senyuman.


Saat ini, ia ada janji menemui klien penting di sebuah restoran dan sebelum menuju ke sana, melihat ada gerai ponsel dan akhirnya membeli untuk mengganti milik Tsamara yang sudah dihancurkan.

__ADS_1


Begitu masuk ke dalam mobil, Zafer saat ini terdiam di balik kemudi dan mengingat umpatan Tsamara beberapa saat lalu.


"Sebenarnya apa yang membuatnya marah dari tadi? Aku benar-benar sangat heran. Aku sangat yakin jika Tsamara marah bukan karena aku membelikan ponsel atau membahas masalah ranjang, tapi apa?"


Saat masih sibuk berkutat dengan pikiran sendiri, tapi tidak menemukan jawaban, memilih untuk menyalakan mesin mobil dan mengemudikan menuju ke arah restoran.


Ia berencana untuk bertanya pada Tsamara ketika nanti pulang ke rumah dan tentunya mengingat mengenai perkataan akan menunjukkan kekuatan di atas ranjang.


Tentu saja untuk membuktikan mana diantara dua pria yang paling kuat. Seolah tidak terima dengan pujian Tsamara pada mantan suami yang mengatakan bahwa Rey jauh lebih kuat darinya.


Meskipun tidak secara langsung menuduh atau mengatakan hal itu, tetap saja ia berpikir jika Tsamara meremehkan kekuatan saat bercinta.


Zafer merasa harga dirinya seolah dipertaruhkan hanya dengan perkataan Tsamara yang memuji Rey lebih darinya.


Saat mengemudi, ia tidak bisa melupakan kalimat Tsamara yang terngiang di pikiran dari tadi. Seolah tidak terima dengan pujian wanita itu pada Rey yang sudah menjadi mantan, sedangkan statusnya merupakan suami sah.


Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang lebih 20 menit, mobil Zafer sudah tiba di pelataran parkir sebuah restoran mewah yang menjadi tempat pertemuan dengan klien bisnis.


'Kenapa kebetulan seperti ini? Sial! Padahal Aku sangat malas bertemu dengan pria tua bangka itu. Mood baikku pasti akan berubah menjadi buruk hanya karena bertemu dengan ayah Rayya.'


Saat Zafer masih mempertimbangkan apakah akan menyapa ayah mertua atau tidak, mendapatkan sambutan dari salah satu pegawai wanita.


"Selamat datang, Tuan. Apakah Anda sudah memesan meja atau ingin duduk di tempat yang kosong?"


"Aku ada janji dengan rekan bisnis dan katanya sudah memesan meja, tapi sepertinya belum datang." Zafer masih terdiam di tempat dan tidak berniat untuk melangkahkan kaki karena ada ayah mertua yang sangat dibenci dan bahkan ingin sekali meninju wajah pria itu.


"Kalau boleh tahu, atas nama siapa, Tuan?" Wanita berseragam hitam tersebut yang bertugas menyapa para pengunjung, ingin mengantarkan pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut.


"Tuan Rafa," seru Rafael saat ini dan berharap jika klien bisnis belum datang.


Jika benar belum tiba, Zafer berniat untuk pindah restoran saja. Hingga jawaban dari pegawai wanita tersebut membuat sudut bibir Zafer melengkung ke atas.

__ADS_1


"Meja pesanan atas nama tuan Rafa masih kosong. Mari ikut saya. Biar saya antarkan Anda ke meja."


Refleks Zafer langsung menggelengkan kepala karena tidak berniat untuk menunggu. Saat ini seolah terbebas dari rantai yang berada di leher begitu mendengar suara dari wanita tersebut.


"Tidak! Aku akan menghubungi sebentar tuan Rafa di luar."


"Baik, Tuan."


Zafer berbalik badan berniat untuk melangkahkan kaki menuju ke arah pintu keluar, tapi baru saja dua langkah, suara teriakan menggema dan seolah menyakiti indra pendengarannya.


"Zafer! Apakah kau takut bertemu denganku yang merupakan ayah mertuamu?" teriak Leon Pratama yang tadi sekilas melihat siluet Zafer berlalu pergi dan berpikir jika pria itu sengaja menghindar begitu melihat ada di restoran.


Leon Pratama baru saja bertemu dengan pria yang hendak dijodohkan dengan Rayya, yaitu Raymond Abrisam.


Sebenarnya putrinya sendiri yang mengatakan secara langsung pada Raymond untuk menolak pria itu, tapi karena pernikahan mendadak yang dilakukan, akhirnya tidak bisa melakukan itu.


Merasa sangat tidak enak dengan orang tua Raymond yang merupakan sahabat baik, ia sengaja mengajak bertemu pria muda yang menjadi calon menantu idamannya tersebut.


Namun, baru berbasa-basi sebentar dan belum mengatakan hal yang sebenarnya mengenai Rayya, melihat Zafer dan berpikir untuk mempertemukan dua pria yang sangat berbeda tersebut.


Jika menurut Leon Pratama, pria bernama Raymond Bagaskara tersebut sangat sopan dan tidak pernah berbicara kasar, merupakan kebalikan dari Zafer yang sudah meninju wajahnya.


Ia berdiri dari kursi dan melambaikan tangan saat berteriak untuk memanggil menantu laki-laki agar segera mendekat.


"Kemarilah! Ada seseorang yang harus kau temui!" Masih berteriak dengan suara nyaring tanpa memperdulikan tatapan dari para pengunjung lain yang sedang menikmati makanan di restoran tersebut.


Sementara di sisi lain, Zafer yang berpikir selamat saat tidak berhadapan secara langsung dengan ayah mertua, ternyata gagal begitu dipanggil. Ingin sekali berpura-pura tidak mendengar dan berlalu pergi, tapi suara teriakan dari ayah mertuanya tersebut sangat nyaring.


'Sial! Tidak mungkin aku berpura-pura tidak tahu saat suaranya memekakkan telinga seperti ini. Memangnya siapa yang harus kutemui?' gumam Zafer yang akhirnya terpaksa berbalik badan dan berjalan menuju ke arah mertua yang saat ini duduk berhadapan dengan seorang pria.


Namun, tidak terlihat wajah karena pada posisi memunggungi. 'Apakah pria tua bangka itu membuat masalah baru?'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2