
Selama beberapa detik Zafer mencoba untuk memulihkan kesadaran dan menatap ke arah sekeliling ruangan kamar, sehingga mengingat bahwa semalam tidur di sofa.
"Sial! Tubuhku terasa sakit semua." Ia mengumpat sambil memijat bagian pundak dan leher belakang. "Jam berapa ini?"
Kemudian bangkit dari sofa dan melihat ke arah jam dinding. "Aku pikir sudah pagi, ternyata masih jam tiga."
Berpikir masih ada waktu untuk tidur selama beberapa jam, Zafer saat ini menatap ke arah ranjang. Di mana di sana ada tempat yang cukup luas untuk merebahkan badan, yaitu di sebelah anak kecil yang dipeluk oleh sang ibu.
Karena masih merasa sangat mengantuk dan pegal-pegal pada tubuh ketika tidur di sofa, Zafer saat ini memilih untuk merebahkan tubuh di atas ranjang. Tanpa memperdulikan jika nanti saat terbangun, anak dan ibu tersebut akan terkejut.
"Aku sangat mengantuk," lirih Zafer yang baru saja naik ke atas ranjang dan meraba tempat tidur sangat empuk dan nyaman tersebut.
"Nyaman sekali. Sangat berbeda dengan sofa yang sangat tidak nyaman dan membuat tubuhku kaku semua." Bahkan ia berbicara dengan sangat lirih sambil memejamkan mata, seperti merasakan ada lem yang menempel di sana dan tidak bisa berlama-lama membuka mata.
Beberapa saat kemudian, kembali tertidur dengan pulas sambil memeluk guling.
Beberapa jam telah berlalu dan saat ini, terlihat anak laki-laki yang sangat aktif yang tak lain adalah Keanu bergerak saat tertidur. Hingga sampai ke bawah.
Sementara itu, Zafer saat ini merubah posisi yang awalnya menghadap ke arah kanan, kini berbalik badan ke kiri.
Entah berapa menit telah berlalu, Tsamara yang masih memejamkan mata, mengarahkan tangan untuk berniat untuk memeluk tubuh sang putra.
Namun, merasa sangat aneh dengan apa yang dipeluk. Kemudian berusaha untuk membuka mata yang masih terasa lengket seperti dilapisi lem. Begitu samar-samar cahaya redup lampu tidur masuk ke dalam mata dan bisa melihat yang dipeluk, Tsamara refleks membekap mulut dan menarik tangan dengan sangat hati-hati.
'Tuan Zafer? Kenapa bisa tidur di ranjang? Lalu di mana putraku?' gumam Tsamara yang saat ini mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Keanu.
__ADS_1
Hingga membulatkan mata begitu melihat Keanu berada di bawah kaki pria yang barusan dipeluk.
'Keanu, kenapa kau bisa berada di bawah sana, Sayang? Bagaimana aku bisa memindahkan putraku yang berada di bawah? Kaki tuan Zafer bisa menyakiti Keanu jika sampai mengenai wajah.'
Tsamara tidak ingin Keanu terkena tendangan kaki dari Zafer, sehingga memilih bangkit perlahan-lahan dari posisi tidur yang telentang. Kemudian mengusap lembut punggung putranya untuk membangunkan.
"Sayang, jangan tidur seperti ini." Tsamara sengaja berbicara sangat lirih karena tidak ingin membangunkan sosok pria yang masih terlihat sangat pulas di sebelah kanan.
Tentu saja anak laki-laki tersebut masih belum bangun ataupun berpindah posisi setelah Tsamara berusaha untuk membangunkan. Akhirnya berniat untuk menarik tubuh Keanu karena tidak akan kuat menggendong.
Namun, suara bariton dari pria yang ternyata merasa terganggu atas suara saat membangunkan Keanu, tertangkap indra pendengaran Tsamara dan seketika menoleh ke arah kanan.
"Kenapa kamu berisik sekali pagi-pagi buta?" sarkas Zafer yang tersadar dari alam mimpi ketika merasakan sebuah pergerakan di atas, sekaligus suara yang terdengar sangat lirih tertangkap indra pendengaran.
Zafer bahkan merasa sangat heran kenapa bisa terbangun hanya karena suara lirih dari Tsamara. Kini, membuka mata dan melihat apa yang hendak dilakukan oleh wanita yang sudah dalam posisi duduk tersebut.
Kemudian tanpa membuang waktu langsung mengangkat tubuh mungil anak laki-laki tersebut dan kembali membaringkan ke atas ranjang.
"Sudah aman, kan? Aku mau tidur lagi, jangan menggangguku!" Zafer saat ini kembali membaringkan tubuh di sebelah Keanu dan memejamkan mata.
Sementara Tsamara saat ini masih dalam posisi duduk dan tidak berniat untuk tidur lagi. Apalagi jam dinding sudah menunjukkan waktu telah pagi.
Jika biasanya dulu saat masih bisa berjalan, selalu pergi ke pasar pagi-pagi sekali untuk berbelanja semua bahan untuk catering, tetapi setelah berakhir di kursi roda, mempercayakan semua pada salah satu pekerja wanita yang telah lama bekerja.
Sementara di rumah keluarga Dirgantara, Tsamara tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ingin sekali mengatakan pada pria itu agar membantu turun ke kursi roda. Namun, seperti ancaman dari pria itu yang dilarang mengganggu, akhirnya memilih untuk bersandar pada punggung ranjang dan melihat ke arah Keanu yang masih tertidur.
__ADS_1
Tsamara berniat untuk keluar dari ruangan kamar dan melihat apa yang dikerjakan oleh para pelayan di rumah sebesar itu.
Namun, jika melakukan hal itu, harus meminta tolong pada pelayan akan membantu turun dari ranjang.
'Tidak! Jika aku melakukan hal itu, merusak nama baik suami yang terlihat seperti tidak mau mengurusku. Lebih baik aku diam dan menunggu sampai tuan Zafer bangun dan meminta tolong kepada untuk mengantar membersihkan diri ke kamar mandi.'
Namun, Tsamara refleks mengingat kejadian semalam yang menjadi puncak amarah dari Rayya. Tsamara kini menepuk jidat dan menggelengkan kepala.
'Tidak! Aku tidak akan mengulangi kesalahan." Lalu kembali memijat pelipis karena merasa bingung harus melakukan apa.
'Jika aku tidak meminta tolong pada tuan Zafer yang berada di kamar ini, memanggil pelayan hanya akan merendahkan martabat seorang suami. Apa yang harus kulakukan saat serba salah seperti ini karena ada banyak hati yang harus kujaga.'
Embusan napas kasar kini lolos dari mulut Tsamara. Seolah mewakili perasaan yang dilanda kegundahan. Namun, seketika memegang dada karena sangat terkejut saat pria yang dipikir telah kembali tidur, ternyata saat ini membuka mata dan bersuara untuk mengungkapkan keluhan.
"Apa yang kamu lakukan sebenarnya?" Zafer yang tadi berniat untuk kembali pergi tidur setelah memindahkan Keanu, tidak bisa melakukannya.
Semua itu karena pergerakan Tsamara yang tadi bergerak menggeser tubuh untuk bisa bersandar di punggung ranjang. Lalu suara embusan napas berkali-kali, mengganggu pikiran Zafer.
"Apa maksud Tuan Zafer?" tanya Tsamara yang saat ini menyipitkan mata karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh pria yang sudah menatap intens dengan posisi tidur miring ke kiri.
"Aku sangat terganggu dengan suara napasmu yang sangat kasar. Seolah menunjukkan bahwa kamu saat ini merasa kesal dan tidak nyaman saat aku tidur di ranjang ini." Zafer merasa kantuk tiba-tiba hilang saat menatap wajah wanita di hadapan.
"Apakah aku harus tidak bernapas saat berada di sebelah Anda?" Tsamara yang merasa stress karena selalu salah di mata pria itu, sehingga berbicara konyol.
"Jika kamu bisa melakukan itu, silakan!" Zafer kini masih menanggapi dengan nada datar dan ingin mendengar jawaban apa yang lolos dari bibir Tsamara.
__ADS_1
"Kalau begitu, Anda harus menunggu malaikat pencabut nyawa. Baru keinginanmu akan terwujud,' jawab Tsamara tanpa pikir panjang.
To be continued...