Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Hasil operasi


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Raymond sudah tiba di rumah sakit dan langsung memanggil perawat agar segera membawa brankar untuk Rayya. "Ia tiba-tiba mengeluh sakit perut dan pingsan. Saat ini tengah hamil, tapi saya tidak tahu berapa bulan."


"Iya, Tuan. Kami akan langsung menangani pasien," ucap salah satu perawat pria yang membantu memindahkan pasien ke atas brankar dan langsung berjalan masuk ke IGD.


Sementara Raymond kini langsung memarkirkan mobilnya di tempat tersedia dan menunggu kabar dari dokter yang menangani Rayya. Entah mengapa ia merasa sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Rayya.


Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat seorang pria dengan jas putih datang menghampiri dan bertanya padanya.


"Apa Anda adalah suami dari pasien? Anda harus menandatangani surat pernyataan karena harus dilakukan operasi secepatnya. Saat ini pasien mengalami pendarahan hebat dan sepertinya nyawa janinnya tidak bisa diselamatkan."


Sang dokter yang kini menjelaskan, mengerutkan kening karena merasa aneh pada pria yang tidak langsung menjawab dan terlihat berpikir.


"Saya bukan suaminya, Dokter. Pasien telah berpisah dengan suaminya. Apa saya tidak boleh untuk menandatanganinya?" Raymond masih mencoba untuk bernegosiasi karena tidak ingin membuang waktu untuk segera dilakukan operasi demi menyelamatkan nyawa Rayya.


Namun, gelengan kepala dari sang dokter membuatnya merasa harus menghubungi ayah dari Rayya.


"Harus ada pihak keluarga yang mewakili pasien, Tuan. Kami tidak bisa mengambil resiko jika sampai pihak keluarga menuntut pihak rumah sakit. Bisa orang tua atau saudara yang menandatangani surat pernyataannya."


Sang dokter kini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kiri. "Kami akan mempersiapkan proses operasi dan Anda harus memastikan pihak keluarga datang untuk menandatangani surat pernyataan."


Raymond kini tidak punya pilihan dan ia membuka suara untuk menanggapi. "Ayah dari pasien yang akan datang, Dokter. Lakukan saja operasinya sesuai jadwal. Saya akan menghubungi ayah pasien."


Setelah sang dokter beranjak pergi dan kembali ke dalam, Raymond kini langsung meraih ponsel miliknya dan menghubungi Leon Pratama untuk mengabarkan mengenai keadaan Rayya.


"Halo, Om. Cepat datang ke rumah sakit karena saat ini Rayya akan dioperasi. Om harus datang secepatnya karena harus menandatangani surat pernyataan untuk dilakukan operasi."


"Raymond? Rayya di Rumah Sakit dan akan dioperasi? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Leon Pratama yang merasa ada sesuatu tidak beres karena putrinya bisa bersama dengan Raymond.


"Lalu, di mana Zafer? Kenapa kamu yang bersama Rayya?"


"Ceritanya sangat panjang, Om. Lebih baik Om segera datang karena aku yang akan menjelaskan di sini karena Rayya harus segera dioperasi." Raymond saat ini menatap ke arah sambungan telpon yang terputus.


"Om Leon pasti langsung buru-buru ke sini. Aku harus menjelaskan hubungan kami. Pasti om akan merasa senang dan tidak akan pernah melarangku untuk bersama dengan putrinya." Mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu dan menunggu kedatangan dari ayah Rayya.


Jujur saja saat melihat raut wajah Rayya tadi, Raymond khawatir jika sampai nyawa Rayya tidak tertolong. 'Awas saja jika sampai terjadi sesuatu pada Rayya, aku akan menghabisi pria yang menjual ramuan untuk mengugurkan kandungan itu.'


Selama menunggu kedatangan dari Leon Pratama, perasaan Raymond sangat tidak enak dan begitu melihat sosok pria paruh baya yang sudah ditunggu, ya seketika bernapas lega dan bangkit berdiri dari posisinya.


"Syukurlah Om sudah tiba."


Dengan napas memburu karena tadi berlari dari tempat parkir menuju ke IGD, kini memberondong Raymond dengan banyak pertanyaan. "Sebenarnya apa yang terjadi pada Rayya?"

__ADS_1


"Kebetulan tadi aku ada dalam perjalanan menuju ke sebuah restoran untuk menemui salah satu rekan bisnis yang tertarik untuk bekerja sama dan langsung membatalkan setelah mendapatkan telpon darimu."


Saat Raymond hendak menyuruh pria paruh baya itu untuk segera masuk, secara bersamaan melihat perawat.


"Apa pihak keluarga sudah datang? Operasi akan dimulai karena semua persiapan telah siap." Perawat wanita yang bertugas untuk memastikan, kini menatap dua pria berbeda generasi itu.


"Saya ayahnya, Suster. Saya yang akan menandatanganinya." Leon kini langsung berjalan masuk begitu perawat itu menyuruhnya untuk ikut masuk ke ruang IGD.


Sementara Raymond masih menunggu di depan dan ia akan terus berada di rumah sakit untuk menemani Rayya yang telah ia habisi nyawa dua anak di rahim wanita itu.


"Semoga setelah semuanya selesai, aku dan Rayya bisa menikah karena tidak perlu lagi menunggu hingga berbulan-bulan saat menggugat cerai Zafer.


Beberapa menit berlalu, Raymond melihat ayah Rayya baru keluar dari IGD dan langsung mengajaknya masuk untuk berjalan menuju ke arah ruang operasi.


"Kamu harus menjelaskan semuanya padaku sambil menunggu Rayya dioperasi. Kita tunggu di depan ruangan operasi saja." Leon yang tadi sudah diberitahu ruangan operasi, kini berjalan di depan dan Raymond mengikuti di belakangnya.


Kemudian mereka sama-sama duduk bersebelahan di depan ruang operasi. Leon kini menatap ke arah sosok pria yang ada di sebelahnya. "Jelaskan sekarang, Raymond."


Karena tidak ingin ada kesalahpahaman dari pria paruh baya itu, Raymond mulai menceritakan semuanya mulai dari awal pertemuannya dengan Rayya hingga keinginan untuk menikahi wanita itu setelah bercerai dari Zafer.


Sementara itu, Leon kini terdiam karena ia juga baru mendengar kabar mengenai kecelakaan dari menantunya dan sebenarnya setelah menemui klien, akan langsung ke rumah sakit untuk menjenguk tanpa menghubungi Rayya.


"Sebenarnya apa yang membuat putriku tiba-tiba sakit perut hingga harus kehilangan anak kembar di janinnya hingga berakhir dioperasi? Apa semua ini karena kau terlalu memforsirnya?"


Raymond bukan pria bodoh yang tidak tahu apa-apa mengenai hubungan perselingkuhan. Ia benar-benar sangat menyayangkan perbuatan putrinya karena dulu menolak perintahnya untuk mengugurkan kandungan dan menikah dengan Raymond, tapi sekarang malah berbuat gila dalam keadaan hamil.


Raymond yang kini tidak bisa menjawab, hanya menundukkan kepala. Ia sebenarnya tidak masalah mendapatkan kemurkaan pria itu karena membuat Rayya kelelahan hingga berakhir keguguran.


Jadi, tidak akan ada yang tahu jika ia sengaja menaruh ramuan di minuman Rayya tadi. Kini, ia mendongak menatap ke arah pria paruh baya yang sama sekali tidak berani memarahinya karena ia tahu adalah calon menantu idaman seorang Leon Pratama.


"Maafkan aku, Om. Aku tidak bisa menahan diri saat Rayya menciumku dan semuanya terjadi secara alami tanpa rencana sama sekali. Om kan tahu jika aku juga bertemu tanpa sengaja di Mall. Jadi, memang tidak ada rencana apapun hingga semuanya terjadi."


Embusan napas berat kini membuat Leon Pratama menyayangkan perbuatan Rayya dan Raymond karena kesempatan untuk mendapatkan harta keluarga Dirgantara yang terkenal kaya itu sudah pupus.


Namun, ia masih bersyukur karena calon menantu barunya juga tak kalah hebat dan berasal dari keluarga konglomerat. Bahkan sudah menjadi penopang dana di Club malam miliknya saat hampir bangkrut.


"Sudahlah! Om sangat tahu dunia pergaulan kalian. Jadi mengerti dan tidak akan marah karena semuanya pun sudah terlanjur terjadi. Om hanya khawatir pada Rayya, apa ia bisa menerima jika dua janin yang tumbuh di rahimnya sudah tidak ada dan tidak akan mengabulkan obsesinya?"


Leon tahu bagaimana watak putrinya yang mengincar harta keluarga Dirgantara. Jadi, berpikir bahwa Rayya akan merasa marah karena rencananya gagal.


Raymond benar-benar sangat heran pada pria paruh baya di sebelahnya karena sama sekali tidak terlihat bersedih saat putrinya berada di ruang operasi. Namun, malah memikirkan tentang harta keluarga Dirgantara dengan alasan Rayya.

__ADS_1


Padahal ia tahu bahwa watak jelek pria itu hanyalah ada uang dan uang di otaknya. 'Mungkin di dunia ini hanya ada satu orang seperti om Leon karena terlihat sangat tenang saat putrinya berjuang di meja operasi.'


"Lebih baik memikirkan itu nanti saja, Om. Sekarang yang terpenting adalah Rayya baik-baik saja meskipun nyawa janinnya tidak bisa diselamatkan."


'Karena itulah yang paling penting bagiku karena aku tidak butuh anak-anak dari benih Zafer.'


Leon kini bangkit berdiri dari kursi karena kepalanya benar-benar pusing. "Om ingin membeli kopi sebentar. Kamu tunggu di sini."


Raymond hanya mengangguk perlahan dan melihat siluet pria paruh baya itu yang sudah berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Bahkan ia kini geleng-geleng kepala melihat tingkah seorang ayah yang terlihat sama sekali tidak ada kasih sayang pada putrinya.


"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Rayya. Bahwa hidupnya benar-benar berantakan setelah orang tuanya bercerai. Ibunya yang egois karena hanya memikirkan karir dan sekarang ayahnya hanya memikirkan uang."


"Jika tahu hidupmu berakhir seperti ini, harusnya aku lebih awal datang menjemputmu, Rayya. Tapi aku khawatir kamu tidak akan mau jika aku belum punya apapun."


Raymond dulu sangat tidak percaya diri saat berniat untuk muncul di hadapan Rayya. Ia tahu jika kebanggan seorang pria adalah pekerjaan mapan, sedangkan dirinya masih bergantung pada orang tuanya.


Hal itulah yang membuatnya menekuni bakatnya setelah mengasah bertahun-tahun dan akhirnya menjadi pengusaha sukses yang ahli dalam hal investasi.


Namun, cinta tidak berpihak padanya karena Rayya telah menikah dengan pria lain dan hamil. Hingga semua itu berubah dalam sekejap setelah pertemuannya dengan Rayya di Mall.


Beberapa jam kemudian, Raymond yang menunggu di ruang operasi, kini seketika bangkit berdiri dari kursi begitu melihat ruangan sudah terbuka. Sementara Leon Pratama tadi menghubungi ada pertemuan penting yang tidak bisa ditinggalkan.


Jadi, menyuruhnya untuk menunggu di rumah sakit dan akan kembali setelah meeting dengan klien selesai. Kini, Raymond segera menghampiri sang dokter yang memakai seragam khas operasi.


"Bagaimana keadaan Rayya, Dokter?"


"Operasi berjalan lancar, tapi ada satu kabar buruk yang berhubungan dengan rahim pasien. Karena kami harus mengeluarkan dua janin dalam keadaan pasien mengalami pendarahan hebat, sehingga menyebabkan kerusakan pada rahim dan harus diangkat."


Raymond kini hanya diam mendengarkan karena ia tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya khawatir dan begitu mendengar kembali sang dokter berbicara, membuatnya seketika membulatkan mata.


"Jadi, pasien tidak bisa hamil lagi, sehingga tidak akan bisa mempunyai keturunan."


Raymond kini merasa sangat terkejut atas penjelasan dokter dan membuat ia kini merasa bingung sekaligus bimbang begitu mengetahui bahwa Rayya tidak akan pernah bisa melahirkan keturunannya.


'Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan wanita yang tidak bisa memberikan keturunan untukku? Aku memang sangat mencintai Rayya, tapi tidak kupungkiri bahwa aku ingin keturunan setelah menikah.'


'Rayya, maafkan aku karena melakukan ini padamu, tapi aku tidak bisa hidup bersamamu jika kamu tidak bisa melahirkan anak untukku.'


To be continued...


Beberapa jam kemudian,

__ADS_1


__ADS_2