Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Terungkap


__ADS_3

Satu bulan sudah Zafer fokus mengurus perusahaan dan menyelesaikan semua masalah yang dihadapi karena cukup lama kursi kepemimpinan kosong karena sang ayah meninggal.


Ia tahu informasi mengenai perusahaan dari rumah sakit setelah mengalami kecelakaan. Hingga saat ini mulai kembali bekerja.


Nasib baik mempunyai ia asisten pribadi yang selalu memberikan informasi mengenai perkembangan perusahaan, sehingga tidak banyak masalah yang dihadapi karena membiarkan perusahaan tanpa pimpinan.


Meskipun tidak berada di perusahaan, Zafer masih bisa memberikan argumen untuk pertimbangan dan penyelesaian dari beberapa masalah yang dihadapi.


Semenjak kejadian kecelakaan, Zafer sama sekali tidak menghubungi Rayya dan membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati karena menganggap tidak ada hubungan lagi.


Meskipun status mereka masih menjadi suami istri, tapi wanita itu telah pergi bersama pria yang diketahui merupakan sahabat kecil Rayya.


Zafer sama sekali tidak memperdulikan apa yang dilakukan oleh Rayya karena sekarang sudah hidup bahagia bersama Tsamara. Apalagi seiring berjalan waktu, keduanya menyadari perasaan masing-masing yang mulai mengakui memiliki cinta layaknya pasangan normal.


Apalagi ia kini selalu melihat sikap Tsamara yang selalu lembut saat bersikap dan berpakaian penuh warna sesuai dengan permintaannya ketika di rumah sakit dan terlihat makin memesona.


Zafer benar-benar merasa sangat bahagia karena hidupnya kini telah berubah semakin berwarna dan mengakui bahwa dulu orang tuanya memiliki niat yang baik agar bisa menjalani hidup penuh dengan kasih sayang dan cinta kasih.


Hal yang tidak bisa dilihat oleh orang tuanya dari Rayya dan sekarang diakui oleh Zafer memang benar adanya.


Saat Zafer tengah fokus memeriksa beberapa dokumen di atas meja yang harus ditandatangani, mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian terlihat sang asisten melangkah masuk ke dalam.


"Presdir, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."

__ADS_1


"Siapa?" tanya Zafer yang saat ini memicingkan mata karena seingatnya tidak ada janji temu dengan klien bisnis.


Kemudian beralih menatap ke arah pintu begitu sang asisten pribadi menunjuk ke sana. "Para polisi datang ingin menyampaikan sesuatu, Presdir."


Tentu saja Zafer yang merasa sangat terkejut dengan kedatangan dua polisi ke kantor, seketika bangkit dari kursi kebesarannya dan menyapa para pria berseragam tersebut.


"Selamat siang, Tuan Zafer. Kami dari pihak kepolisian ingin memberikan informasi mengenai kecelakaan yang menimpa orang tua dan juga Anda," seru salah satu polisi yang mewakili rekan lain untuk menjelaskan.


"Selamat siang dan selamat datang di perusahaan saya, Pak Polisi," jawab Zafer yang merasa sangat ketika dua polisi datang ke kantor, bukan ke rumah.


Saat merasa jika ada yang tidak beres dan akan mendengar kabar baik sekaligus buruk, Zafer seketika mempersilakan para polisi untuk duduk di kursi yang disediakan.


Sebenarnya ia sudah menunggu informasi dari sang detektif yang disewa, tetapi tidak mendapatkan apapun karena pria itu tiba-tiba meninggal karena serangan jantung.


"Apakah ini seperti yang saya khawatirkan? Bahwa kejadian yang menimpa orang tua dan juga saya bukanlah kecelakaan biasa?" tanya Zafer yang sudah tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari para polisi.


Tidak ingin membuang waktu karena memang harus segera melakukan penangkapan dari tersangka yang telah menjadi dalang dibalik kecelakaan, pria dengan kulit sawo matang tersebut mulai menjelaskan.


"Kami sudah menanggapi laporan untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai kecelakaan yang menimpa orang tua dan juga Anda. Setelah dilakukan penelusuran dari dua sopir tersebut, memang sudah dipastikan jika semua karena ada yang menyuruh mereka melakukan hal itu."


Seketika Zafer mengepalkan tangan dan saat ini wajahnya sudah berubah memerah karena benar-benar sangat marah begitu mengetahui bahwa ada yang menginginkan kematian orang tua dan juga dirinya.


"Siapa? Apa itu adalah orang yang sama?" Zafer bahkan masih berusaha untuk menenangkan diri dengan mengambil napas teratur karena tidak ingin meluapkan amarah pada para polisi yang sama sekali tidak bersalah tersebut.

__ADS_1


Zafer tidak ingin membuat para polisi kesal karena sudah membantu untuk menyelidiki mengenai kecelakaan yang ternyata merupakan sebuah konspirasi untuk percobaan pembunuhan.


Saat Zafer berpikir jika tersangka yang melakukan adalah salah satu saingan bisnis perusahaan yang menghalalkan segala cara untuk mengalahkan perusahaan, tetapi ketika suara salah satu polisi tersebut mengungkapkan dua nama yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.


"Ada dua nama yang berhubungan dengan kecelakaan, tapi berbeda niat. Jadi, kecelakaan yang melibatkan orang tua Anda dilakukan oleh orang yang menjadi suruhan istri siri Anda yang tidak lain adalah yonya Rayya Eliza, sedangkan untuk Anda merupakan suruhan dari pria bernama Raymond Abrisam."


Sang polisi saat ini berbicara sambil mengeluarkan bukti-bukti mengenai hasil transaksi dari rekening Rayya dan juga Raymond.


"Sepertinya Anda sendirilah yang mengerti motif mereka melakukan rencana pembunuhan."


"Sudah dipastikan jika itu untuk melenyapkan orang tua dan juga Anda sendiri," sahut polisi yang saat ini sudah menjelaskan semua. "Saya sudah membawa surat penangkapan untuk mereka."


Zafer yang tadinya mengepalkan tangan, kini seketika terbuka lebar dengan tubuh bergetar hebat begitu mendengar suara bariton polisi yang menyebut nama wanita yang pernah sangat dicintai, tapi sekarang sangat dibencinya.


"Rayya? Jadi, aku sendiri yang membawa ular ke rumahku dan membunuh orang tuaku?" Zafer seketika bangkit berdiri dari posisinya dan langsung berjalan menuju ke arah meja kerja dan langsung membanting laptop di hadapannya hingga hancur berserakan di lantai.


"Bangsat! Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika sudah menikahi iblis!"


Semua orang yang ada di ruangan itu bisa mengerti jika saat ini perasaan seorang putra tengah hancur berkeping-keping begitu mengetahui kabar buruk tersebut.


Mereka saling bersitatap begitu melihat pria itu sangat murka. Hingga suara dering ponsel salah satu polisi berdering.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2