Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Merasa sesak


__ADS_3

Zafer tersenyum smirk begitu mengetahui bahwa Tsamara beberapa saat lalu sudah mendengarkan apa yang tadi dibicarakan oleh orang tuanya dan juga hujatan darinya.


'Baguslah wanita cacat ini sudah mengetahui apa yang kuinginkan. Jadi, tidak perlu menjelaskan lagi tentang rencanaku untuk menikahi Rayya. Sekarang, apa yang akan dikatakan wanita tidak berguna ini?'


Zafer dari tadi hanya diam dan menunggu tentang keputusan dari wanita di atas kursi roda tersebut.


Hal yang sama juga dinantikan oleh pasangan suami istri paruh baya ketika merasa sangat bersalah dan berdosa pada Tsamara.


Apalagi semua kemalangan yang terjadi karena ulah putra mereka dan sekarang kembali membuat masalah. Pastinya mengetahui bahwa saat ini perasaan menantu semakin terluka.


Tsamara yang beberapa saat lalu menimbang keputusannya. Apakah ia akan tetap tinggal bersama keluarga Dirgantara dan menjadi istri pria bernama Zafer tersebut atau memilih pergi?


Mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan, akhirnya ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan saat ini tidak membuang waktu karena langsung mengatakan pada mertua dan juga sang suami saat akan menikah lagi karena telah menghamili wanita lain.


"Aku akan tetap tinggal di sini dan menjadi istri sah tuan Zafer karena tidak ingin Keanu merasa malu mempunyai seorang ibu yang cacat." Tsamara awalnya menunduk ketika mengungkapkan keputusan, tetapi saat menutup mulut, ia menatap ke arah pria dengan wajah memerah, tak lain adalah Zafer.


"Aku tahu jika tuan saat ini sangat membenciku karena tidak punya malu dan masih tetap tinggal bersama keluarga ini. Namun, aku tidak berpikir seperti itu karena menganggap apa yang terjadi padaku adalah sebuah peleburan dosa."


"Aku tahu bahwa dosaku di masa lalu terlalu besar, jadi akan menebusnya dengan cara ini. Jadi, tidak akan mempermasalahkan Anda menikah lagi saat saya masih berstatus sebagai seorang istri sah."


Semua tebakan dari Zafer ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dan membuat ia bertambah kesal karena Tsamara tidak mau pergi dari kehidupannya setelah apa yang dilakukan.


Membawa Rayya ke rumah dan bercinta sepuas hati, lalu mengatakan kabar kehamilan dan juga ingin menikahi sang kekasih, tetap tidak membuat wanita yang dibenci tersebut pergi dari rumah dan hidupnya.


Zafer saat ini mengepalkan kedua tangan dan berniat untuk mengumpat, tetapi yang terjadi adalah tidak jadi melakukan hal itu karena sang ibu menghambur memeluk wanita di atas kursi roda tersebut.


Sebenarnya Zafer beberapa saat lalu merasa bersalah dan tidak tega melihat sang ibu menangis karena perbuatannya. Namun, rasa cinta teramat besar pada sang kekasih yang telah hamil, membuat Zafer tidak bisa melakukan apapun untuk menghibur wanita yang telah melahirkannya.

__ADS_1


Jadi, begitu melihat wajah yang dari tadi murung dan penuh kekecewaan, serta kesedihan tersebut seketika berubah cerah saat memeluk erat tubuh Tsamara.


Zafer akhirnya tidak jadi menghina wanita yang dibenci tersebut. Mempertimbangkan bahwa sang ibu tidak lagi bersedih begitu mendengar keputusan Tsamara yang bertentangan dengan keinginannya. Akhirnya Zafer membiarkan dua wanita tersebut berpelukan.


Sementara itu, Adam Dirgantara melirik sekilas ke arah Zafer sebagai tanda kekesalan, lalu tersenyum simpul ketika melihat istri dan menantu terlihat berpelukan.


"Syukurlah. Semoga keputusanmu menjadi jalan terbaik untuk kita semua. Papa baru akan tenang setelah kamu bisa kembali berjalan seperti biasa." Adam berjanji bahwa ia akan mencari dokter yang bisa menyembuhkan kaki sang menantu.


"Mungkin jika itu terjadi, aku akan merelakan kepergianmu dari rumah ini, Tsamara." Adam berbicara untuk mengungkapkan puji syukur pada Tuhan atas hidayah yang diberikan kepada Tsamara agar tetap menjadi menantu.


Rasa bersalah dan berdosa tidak akan pernah hilang sebelum melihat wanita cantik itu kembali berjalan. "Papa masih menghubungi beberapa dokter untuk memeriksa kakimu hari Senin nanti."


"Jika memungkinkan, akan membawamu ke luar negeri untuk terapi pada dokter yang terkenal bisa menyembuhkan cacat pada pasien." Adam sengaja mengatakan itu di depan Zafer, dengan harapan putranya menyadari kesalahan yang diperbuat.


Meskipun sebenarnya sudah mengetahui bahwa putranya tidak akan sadar sebelum mendapatkan hidayah dari Tuhan untuk berubah menjadi seorang pria yang baik.


"Maafkan aku karena memanfaatkan kalian sampai kakiku sembuh." Tsamara merasakan pelukan dari mertuanya sudah dilepaskan dan akhirnya ia mengungkapkan sesuatu yang berlawanan dengan hati.


Namun, ia merasa iba pada putranya ketika selalu menanyakan kapan bisa berjalan lagi. Tsamara bahkan mengingat perkataan dari Keanu dan tidak akan pernah bisa melupakan itu.


Mama, Keanu ingin ditemani saat sekolah di tempat baru. Nanti setelah bisa berjalan lagi, aku ingin selalu diantar dan dijemput mama seperti dulu.


Semenjak hari itu, Tsamara bertekad untuk sembuh dan akan melakukan perintah apapun dari mertua karena memang berharap bisa berjalan lagi setelah melakukan terapi dari dokter pilihan.


Jika saat ini pergi dan bercerai, tidak akan bisa lagi berjalan karena mengetahui bahwa biaya berobat dan terapi dari dokter terbaik sangat mahal dan pasti tidak bisa membayar.


Jadi, ia membuang rasa malu dan harga diri karena bisa dibilang memanfaatkan kebaikan mertua. Apapun akan dilakukan demi Keanu. Itulah yang menjadi penyebab Tsamara memilih untuk menerima sang suami menikah lagi secara siri untuk bertanggung jawab pada wanita yang telah hamil itu.

__ADS_1


Namun, ada satu hal yang belum disampaikan dan sekarang menatap ke arah pria yang berdiri cukup jauh darimu.


"Aku memang tidak keberatan dengan pernikahan kalian, tapi berharap tidak tinggal serumah." Tsamara menghentikan perkataannya karena ingin melihat respon seperti apa yang ditunjukkan oleh sang suami.


"Kenapa sekarang kamu memerintah dan menyuruhku untuk mematuhi keinginanmu? Apakah sekarang kau berfikir menjadi nyonya rumah utama karena berstatus sebagai istri sah?" Zafer selalu saja ingin marah ketika mendengar suara Tsamara.


Apalagi setelah hari ini, ia kembali berpikir bahwa Tsamara hanya mengincar harta keluarga dan ia tidak akan membiarkan semua harta orang tuanya jatuh pada wanita munafik yang selalu membuatnya muak.


"Patuhi saja apa yang dikatakan oleh Tsamara jika masih ingin mendapatkan warisan. Bukankah satu-satunya tujuan hidupmu hanyalah itu?" Erina merasa geram karena tidak bisa mengubah putranya menjadi seorang pria baik, jadi berbicara ketus.


Zafer ingin sekali membantah perkataan sang ibu, tetapi suara bariton dari pria paruh baya di sebelah kirinya, berhasil menusuk gendang telinga.


"Padahal tadi aku sudah menyuruhnya untuk mencoba hidup tanpa harta dari keluarga Dirgantara bersama dengan wanita yang dipuja itu, tetapi sepertinya tidak berani hidup miskin dan ditinggalkan."


Adam mendukung perkataan sang istri karena ingin sekali menyadarkan putranya bahwa apa yang diyakini, bisa saja meleset dari perkiraan.


Namun, untuk kesekian kali, usahanya gagal karena tanpa berpamitan, Zafer berjalan meninggalkan ruangan.


"Zafer! Mau ke mana?"


Zafer saat ini berada di depan pintu, tanpa menoleh ke belakang, hanya menjawab seadanya karena buru-buru.


"Aku akan menemui Rayya karena dari tadi tidak mengangkat panggilan telpon. Ia sedang hamil dan aku khawatir jadi sesuatu yang buruk."


Sengaja memanfaatkan kehamilan dari Rayya, tidak akan mendapat larangan dari sang ayah untuk pergi. "Mengenai keinginan menantu kesayangan kalian, sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menuruti."


"Aku pergi." Zafer melambaikan tangan tanpa berbalik badan dan langsung melontarkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu utama.

__ADS_1


Ia merasa lega karena mobil masih terparkir di depan, jadi bisa langsung pergi. 'Padahal sebenarnya aku merasa sesak satu ruangan bersama wanita tidak berguna itu.'


To be continued...


__ADS_2