Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Pingsan


__ADS_3

Rayya sama sekali tidak pernah menyangka jika akan mendengar sesuatu yang tidak masuk akal dari sahabat masa kecilnya tersebut. Bahkan sekarang tertawa terbahak-bahak menanggapi karena berpikir jika apa yang dikatakan oleh Raymond Abrisam tidak masuk akal.


'Raymond hanya sedang mengetesku saja, bukan? Mungkin saat ini berpikir aku adalah seorang wanita yang mudah dirayu,' gumam Rayya di dalam hati dan kembali membulatkan kedua mata begitu suara bariton dari pria di hadapannya tersebut tertangkap indra pendengaran.


"Jika kamu mau, aku bisa membuatmu melupakan semua masalahmu itu." Raymond tidak suka saat Rayya malah menganggap lucu perkataan serius yang baru disampaikan.


Jadi, kembali berusaha untuk meyakinkan wanita itu. "Atau kamu hanya ingin menjadi penonton suamimu yang berselingkuh? Bodoh sekali!"


Kalimat terakhir dari Raymond yang terdengar mengintimidasi tersebut, berhasil memantik amarah Rayya saat ini.


"Sekarang kamu menghinaku?" Rayya langsung meraih minuman di hadapannya hingga meneguk sampai habis.


Apa yang dikatakan oleh Raymond benar-benar membuatnya kesal, tetapi berpikir jika itu memang faktanya. Bahwa saat ini hanyalah seorang istri bodoh yang dikhianati suami.


'Aku memang hanyalah wanita bodoh! Jika aku tidak dalam keadaan hamil, mana mungkin masih bersama suami yang bahkan masih membela wanita cacat itu.'


Rayya tidak tahu harus bagaimana sekarang, tapi merasa nyaman ketika bersama dengan Raymond saat sedang kalut dan berharap pria itu akan terus mau bersamanya untuk mendengarkan keluh kesah yang dirasakan.


Kini, Rayya menatap intens wajah dengan raut tegas tersebut. "Mungkin suamiku memang menganggap aku hanyalah seorang wanita bodoh, tapi aku tidak akan berbuat gila denganmu karena sedang marah."


Kemudian Rayya bangkit dari posisinya. "Terima kasih atas makanannya. Aku ingin menghabiskan uang suamiku." Kemudian berlalu pergi dari hadapan sahabatnya tersebut.


Sementara itu, Raymond masih menatap intens siluet sosok wanita yang berhasil menguji kesabarannya. Dengan wajah memerah karena marah saat tidak berhasil membuat Rayya berpaling padanya ketika patah hati pada suami, sehingga membuatnya kini meraih ponsel dari dalam saku celana.


Kemudian menekan tombol panggil dan menunggu jawaban dari seberang telpon. Hingga beberapa detik kemudian mendengar suara bariton khas bangun tidur.


"Halo, Bos. Apa ada pekerjaan untuk saya?"


Raymond sebenarnya sudah lama ingin menghabisi pria yang telah merebut Rayya darinya, tapi karena mendengar kabar bahwa orang tua Zafer baru meninggal, sehingga memilih untuk menundanya.


Namun, sekarang berpikir bahwa sudah saatnya menyingkirkan penghalang yang telah membuatnya gagal menikah dengan sahabat masa kecil yang dicintai.

__ADS_1


"Pergilah ke alamat yang kukirimkan dan awasi rumah keluarga Dirgantara. Aku akan mengirimkan foto dan habisi pria itu yaitu jika keluar dari rumah."


"Selama satu minggu lebih, pria itu tidak keluar dari rumah karena tengah berduka saat orang tuanya meninggal, tapi aku yakin, sebentar lagi pasti akan kembali melakukan aktivitas seperti semula. Kalau perlu, hari ini juga habisi pria itu!"


Raymond bahkan berbicara sambil mengepalkan tangan dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah yang memuncak di dalam hati akibat sikap Rayya yang menolak tawaran hari ini.


Seolah penolakan Rayya sangat menghina harga dirinya sebagai seorang pria. Berpikir bahwa saat ini bukanlah pria yang menarik dan dikalahkan oleh Zafer, jadi akan melakukan apapun untuk membuat orang yang berurusan dengannya lenyap dari dunia.


"Baik, Bos. Kirimkan saja fotonya!"


Tanpa menjawab, kini Raymond langsung mengirimkan foto pria yang sudah lama disimpan dalam galeri ponselnya.


Dulu ia mencari foto pria itu dari media sosial. Berpikir jika sewaktu-waktu akan menggunakannya dan seperti hari ini akan mengakhiri nyawa pria itu.


"Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan jika Zafer sudah lenyap dari dunia ini." Raymond berbicara dengan suara mengintimidasi dan mencoba untuk menormalkan deru napas memburu yang menandakan bahwa saat ini dikuasai oleh Raymond.


Bahkan sudah berkali-kali mengembuskan napas untuk menormalkan emosi yang menguasai diri. Kemudian bangkit berdiri dari kursi dan memilih untuk mencari Rayya karena ingin menemani wanita itu belanja.


"Aku tidak tega melihat Rayya belanja sendiri," ucap Raymond yang saat ini mengedarkan pandangan ketika mencari wanita yang sedang dikuasai oleh amarah karena memikirkan suami yang telah berselingkuh dengan wanita lain.


Hingga semua outlet fashion dimasuki olehnya dan berharap bisa menemukan Rayya, tetapi selama beberapa menit mencari, tapi tidak menemukan wanita itu di manapun.


Merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Rayya, ia berniat untuk mencari dengan bantuan pihak informasi di dalam Mall tersebut.


Namun, ketika hendak menuju ke arah ruang informasi agar mengumumkan bahwa ia kehilangan seorang istri yang tengah hamil, mengurutkan kening ketika melihat kerumunan orang-orang yang tak jauh dari tempat berdiri saat ini.


Entah mengapa merasa ingin tahu apa yang terjadi, segera memeriksa dan seketika membulatkan mata begitu melihat sosok wanita yang dari tadi dicari tengah tergolek tidak berdaya dan kehilangan kesadaran diri di atas lantai.


Hingga orang yang mengelilingi dan tidak tahu harus melakukan apa. Hanya ada beberapa wanita yang berusaha untuk menyadarkan dengan cara memberikan minyak angin pada bagian hidung Rayya.


"Nona, sadarlah!" seru seorang wanita paruh baya yang pertama kali melihat pingsan pengunjung ketika tengah berjalan.

__ADS_1


Refleks Raymond saat ini berteriak dan menghambur ke arah wanita yang tergolong pingsan di lantai Mall.


"Rayya!"


Suara Raymond membuat semua orang yang tadinya fokus ke arah wanita yang pingsan tersebut, seketika beralih pada pria yang menghambur dan sudah berjongkok.


"Apa yang terjadi denganmu?" Raymond saat ini berusaha untuk menepuk pipi putih merah dan berharap wanita itu sadar dari pingsan, tapi apa yang dilakukan tidak membuat Rayya membuka mata.


Hingga mendengar suara dari wanita paruh baya yang bertanya dan juga mendapatkan tatapan pertanyaan dari orang-orang yang mengerubungi.


"Apa Anda mengenal wanita ini, Tuan?" tanya wanita paruh baya yang saat ini masih memegang botol kecil berisi minyak angin yang digunakan untuk menyadarkan dari pingsan.


Rayya yang tadinya fokus menunduk menatap ke arah Rayya, seketika menganggukkan kepala dan menjawab, "Tentu saja karena ia adalah istriku dan saat ini sedang mengandung."


"Tadi istriku marah dan pergi ketika aku masih makan. Dari tadi aku mencarinya dan tidak pernah menyangka jika ternyata malah berakhir pingsan di sini. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit karena tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan istriku.


Hanya kebohongan itu yang terpikirkan oleh Raymond saat ini karena jika tidak berkata bahwa merupakan suami, khawatir tidak akan dipercayai oleh orang-orang ketika ingin membawa Rayya pergi dari Mall.


Mungkin malah akan dianggap sebagai seorang pria jahat yang memanfaatkan wanita tidak sadarkan diri. Menganggap bahwa saat ini adalah kesempatan untuk membawa pergi Rayya, merasa lega begitu mendengar jawaban dari semua orang yang ada di sana.


Semua orang seketika mengerti dengan kondisi dari wanita yang bisa tersebut karena saat ini tengah hamil.


Beberapa orang memilih pergi dan sebagian yang lain membantu.


"Kalau begitu, segera bawa ke rumah sakit.


"Mungkin pertengkaran kalian membuat istri terlalu memikirkannya hingga pingsan."


"Jaga istri baik-baik dan jangan marah pada wanita hamil."


Beberapa perkataan dari orang-orang yang masih melihatnya mengangkat tubuh Rayya, ditanggapi dengan tersenyum oleh Raymond.

__ADS_1


"Terima kasih pada saran dan nasihat dari kalian. Aku akan menjaga istriku dengan baik mulai hari ini."


To be continued...


__ADS_2