
"Aku sudah mengatakan pada orang tuaku bahwa kamu sedang hamil. Bahkan tadi di depan wanita cacat itu, mengatakan bahwa akan menikahimu."
Rayya yang merasa sangat terkejut dengan perkataan sang kekasih, kini seketika bergerak dan ingin memastikan apakah semua yang dikatakan oleh pria itu benar.
"Apa kamu sedang tidak berbohong? Kamu akan menikahiku? Bagaimana dengan wanita itu? Bukankah dia tidak mau bercerai?"
"Aku akan menikahimu secara siri, Sayang karena orang tuaku mengatakan hanya boleh melakukan itu. Kamu bersedia, kan? Tidak masalah menjadi istri siri, kan?"
"Wanita cacat itu tetap akan menjadi istri sahku secara agama dan hukum." Zafer kini masih menatap sosok wanita yang saat ini tengah terdiam, seolah merasa bingung untuk menjawab pertanyaan darinya.
Rayya kali ini sangat bingung karena impiannya selama ini adalah menjadi istri sah dari pria yang dicintai dan wanita cacat itu pergi dari kehidupan mereka.
'Apa yang harus kulakukan? Bukan ini yang kuinginkan dari Zafer, tapi akan lebih menyedihkan jika aku hanya menjadi wanita simpanan. Kenapa aku harus menjadi istri yang disembunyikan? Padahal aku jelas tengah mengandung keturunan dari keluarga Dirgantara.'
Lamunan Rayya seketika buyar seketika begitu mendengar suara bariton dari pria dengan iris mata berkilat yang mengunci tatapan.
"Aku tahu apa yang saat ini kamu pikirkan, Sayang. Namun, tidak ada jalan lain selain ini. Jadi, lebih baik menerimanya dan kita pikirkan cara untuk mengubah kenyataan ini. Aku berpikir jika orang tuaku akan berubah sikap pada wanita cacat itu setelah kamu melahirkan bayi kita."
"Pasti mereka akan menyayangi cucu sendiri dari pada anak wanita itu. Jadi, lebih baik bersabar dan menunggu hasil baik setelah kamu melahirkan. Percayalah, semua akan indah pada waktunya, Sayang." Zafer masih berusaha untuk meyakinkan Rayya agar tidak mempermasalahkan status pernikahan.
Satu-satunya hal yang diinginkan adalah hidup berumah tangga bersama wanita yang dicintai, bukan karena terpaksa. Pilihan jatuh pada Rayya dan berharap akan selamanya bahagia.
Sementara itu, Rayya membenarkan perkataan dari Zafer dan akhirnya memilih menganggukkan kepala. "Baiklah, aku setuju, tapi dengan satu syarat."
Zafer memicingkan mata dan menjauhkan diri dari posisi yang awalnya sangat intim dan kini bisa melihat wajah Rayya dengan sangat jelas karena tidak terlalu dekat seperti tadi.
__ADS_1
"Syarat apa, Sayang? Aku tidak tahu, apakah bisa memenuhinya, tapi katakan saja!"
"Aku akan menunjukkan pada wanita itu dengan posisinya yang hanyalah bagaikan sampah di rumah itu. Jadi, kita harus tinggal bersama. Bukan wanita cacat itu yang akan menjadi nyonya rumah utama, tapi aku." Rayya kini tersenyum smirk karena di otaknya tengah mendapat sebuah ide brilian untuk membuat saingan segera pergi dari rumah.
'Aku akan membuat wanita cacat itu melihat bahwa hanyalah sampah di rumah itu yang harus disingkirkan. Tsamara harus melihat kemesraanku dengan Zafer, agar sadar diri dan pergi sendiri dari rumah,' gumam Rayya yang kini merasa sangat yakin bisa menyingkirkan penghalang dalam waktu singkat.
Sementara itu, Zafer tanpa pikir panjang langsung menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. "Baiklah. Lakukan apapun sesukamu, Sayang karena aku bisa memenuhi syaratmu itu."
Zafer kemudian kembali mendekatkan wajah dan berbisik di dekat daun telinga Rayya. "Kita lanjutkan tadi yang tertunda, bagaimana?"
Saat Rayya berniat untuk membuka mulut, tidak jadi melakukan karena mendengar suara bel berbunyi. "Siapa yang datang?"
"Sepertinya aku harus menundanya karena pasti itu dokter pribadi keluargaku sudah datang." Zafer kini bangkit dari posisi yang awalnya berada di atas tubuh sang kekasih.
Rayya kini hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum bahagia karena melihat pria yang dicintai akan menikahinya untuk bertanggungjawab atas kehamilan. Meskipun hanya secara siri.
Sementara itu, Zafer sudah melangkahkan kaki panjang menuju ke arah pintu utama dan begitu membuka pintu, mengulas senyuman, tapi seketika pudar begitu melihat seseorang yang berdiri di hadapan bukanlah dokter pribadi keluarga.
Zafer saat ini melihat sosok pria paruh baya dengan tubuh tinggi tegap dan rambut memutih tengah berdiri di hadapan dengan tatapan tajam menghunus. Bahkan sampai membuat bulu kuduk meremang dan menelan saliva dengan kasar.
Saat ingin berbicara pun seperti sangat susah karena suara tercekat di tenggorokan ketika tatapan tajam pria yang tak lain adalah ayah dari Rayya mengarah lurus tepat padanya.
Tentu saja ia sudah mengetahui sifat keras dari ayah Rayya karena sang kekasih telah menceritakan banyak hal mengenai pria yang berdiri di hadapan tersebut.
'Astaga! Mimpi apa aku semalam, hingga bisa berhadapan dengan ayah Rayya sekarang. Padahal aku berencana untuk menemui pria garang ini dengan orang tuaku. Apalagi setelah mengetahui sifat pria ini, membuat nyaliku hilang.'
__ADS_1
'Sial! Ayah Rayya pasti akan menghajarku hari ini.' Lamunan Zafer seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari pria yang menatap dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa kau kekasihnya Rayya? Di mana dia sekarang? Apakah dia masih telanjang di dalam kamar?" Melangkah masuk ke dalam apartemen putrinya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Pria yang tak lain bernama Leon Pratama berusia 55 tahun tersebut sengaja datang untuk menemui Rayya karena ingin membicarakan sesuatu hal yang penting. Namun, sama sekali tidak pernah menyangka jika akan bertemu dengan salah satu kekasih putrinya.
Selama ini, Putra sudah sangat hafal dengan kebiasaan putrinya yang suka bergonta ganti pasangan dan berpikir bahwa pria di hadapannya tersebut merupakan kekasih yang entah ke berapa.
Sementara itu, Zafer yang merasa perkataan dari pria paruh baya tersebut tidak difilter sama sekali, merasa bingung untuk menjawab.
'Aku sudah mendengar cerita mengenai pria ini dari Rayya, tapi tidak pernah menyangka ternyata jauh lebih parah dari yang kupikirkan,' gumam Zafer yang kini kembali mendapat pertanyaan dengan nada ketus.
"Apa kau tidak bisa bicara? Tidak mungkin putriku menyukai pria bisu!" Masih berbicara tanpa menatap ke arah pria di belakang, Putra kembali berteriak, "Rayya! Cepat keluar sekarang!"
Tidak ingin calon mertua menganggap bisu padahal bisa berbicara, refleks Zafer berjalan ke depan untuk berhadapan dengan pria paruh baya yang akan dimintai restu untuk menikahi Rayya.
Zafer kini sedikit membungkuk untuk memberi hormat dan kemudian mengulurkan tangan sebagai bentuk memperkenalkan diri. "Ayah, saya Zafer—kekasih Rayya yang akan menjadi suaminya karena berniat untuk menikahi putri Anda."
Cukup lama Zafer tidak mendapatkan sambutan dari uluran tangan yang menggantung di udara. Sebenarnya dari tadi sudah menahan kesabaran atas sikap kasar ayah Rayya.
'Jika pria ini bukan ayah Rayya dan masih muda, pasti aku sudah membuatnya babak belur di bagian wajahnya,' sarkas Zafer yang saat ini masih sabar menunggu mendapatkan balasan dari uluran tangan.
Baru pertama kali mendapatkan hinaan dari seseorang, tentu saja membangkitkan amarah di dalam hati Zafer saat ini. Jika tidak mencintai putri pria itu, sudah langsung pergi dari apartemen dan memutuskan hubungan tanpa memikirkan benih yang ada di dalam rahim Rayya.
To be continued...
__ADS_1