Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tidak boleh gegabah


__ADS_3

Suara tawa Zafer pecah seketika begitu mengetahui kenyataan sebenarnya jika ternyata Tsamara berbohong padanya.


'Sialan! Jadi, Tsamara sengaja berbohong padaku hanya karena tidak ingin aku menuntut hak padanya? Wah ... baru kali ini aku ditolak oleh seorang wanita yang bahkan berstatus istri sendiri.'


'Biasanya para wanita sangat memujaku, tapi kali ini Tsamara benar-benar menghinaku karena berbohong. Baiklah, akan kuikuti permainanmu dengan berpura-pura bodoh. Hingga aku akan membalasmu dengan caraku,' gumam Zafer yang saat ini berencana untuk membalas dendam secara licin tanpa kecurigaan.


Hingga mendengar suara dari sang ibu dan membuatnya menoleh ke arah belakang.


"Sepertinya Mama tahu alasan berbohong padamu dan kamu pun juga sepertinya sudah mengetahuinya," ucap Erina saat ini ingin menghentikan sikap putranya yang terlihat mengenaskan karena tiba-tiba saja berhenti tertawa dan terdiam selama beberapa menit ketika memunggunginya.


Sementara itu, Zafer saat ini hanya mengangguk perlahan dan berakting seolah sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.


"Iya, Ma. Aku tahu alasan Tsamara berbohong padaku dengan cara menakut-nakuti tertular virus penyakit. Bahkan tadi aku khawatir jika tertular karena beberapa kali berinteraksi. Ternyata semua hanya akal-akalan darinya agar aku tidak menjadi suami seutuhnya."


"Kalau begitu, sepertinya aku harus menuruti apa yang diinginkan menantu kesayangan Mama, bukan?" Zafer saat ini seolah menyindir sang ibu yang dianggap telah salah menilai Tsamara yang ternyata berbohong demi keinginan pribadi.


Saat Erina sama sekali tidak merasa tersinggung, karena yang dipikirkan saat ini adalah Tsamara sedang butuh waktu untuk menata hati ketika banyak masalah yang menimpa.


Namun, tidak ingin membahas dengan putranya karena hal itu hanya akan menambah rasa pusing Zafer yang telah lelah seharian bekerja hingga lembur hari ini.


"Ejek saja Mama sesuka hati. Mengenai Tsamara, lebih baik turuti saja apa yang menjadi harapannya karena kasihan saat ini kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan apapun. Jika kamu mau menganggap Mama pilih kasih, anggap saja begitu."


Kemudian bangkit dari sofa karena mengetahui bahwa hari semakin larut dan waktu istirahat berkurang karena setiap detik berganti menit dan jam.

__ADS_1


"Beristirahatlah dan berpura-pura tidak tahu mengenai istrimu. Sekarang beristirahatlah karena besok harus bekerja lagi." Menepuk pundak putranya sebelum keluar dan menyunggingkan senyuman. "Terima kasih karena telah memeluk Mama tadi."


Tanpa menunggu jawaban dari putranya yang membalas senyuman, ia sudah melangkahkan kaki telanjang menuju ke arah pintu keluar dan menutup dengan pelan.


Di sisi lain, Zafer yang merasa bahwa kebohongan Tsamara benar-benar menghina harga dirinya sebagai seorang pria dengan paras tampan dan juga tubuh ideal.


Apalagi Tsamara hanyalah merupakan seorang wanita cacat yang bahkan tidak pantas bersanding dengannya, tetapi dengan berani menolak secara halus melalui kebohongan.


"Tsamara, ternyata kamu bisa berbuat nekat seperti ini demi menghindariku malam ini yang berniat untuk bercinta denganmu. Sepertinya aku harus merubah kenyataan bahwa kamu tidak menginginkanku menjadi tergila-gila padaku."


Zafer saat ini masih memutar otak untuk mencari ide di kepala demi bisa menaklukkan seorang Tsamara agar memujanya seperti para wanita lain.


Namun, belum menemukan ide untuk bisa melakukan itu karena saat ini hanya memijat pelipis. "Kepalaku rasanya sangat berat dan juga mata terasa pedas. Lebih baik aku mengistirahatkan tubuh dan otakku agar besok bangun pagi bisa lebih fresh."


Saat Zafer merasa sangat lelah dan beberapa saat kemudian terlelap dalam alam bawah, sangat berbeda dengan yang saat ini dirasakan oleh para istri di lantai atas.


Beberapa saat lalu, Rayya yang terpaksa menuruti perintah dari ibu mertua agar membiarkan sang suami tenang tidur di kamar tamu, masih tidak bisa menghilangkan rasa penasaran dengan apa yang terjadi antara Tsamara dan suaminya tersebut.


Karena kebetulan ibu mertua sedang berbicara dengan Zafer untuk mencari tahu, Rayya yang menaiki anak tangga, tidak menuju ke kamar sendiri.


"Aku harus bertanya secara langsung pada Tsamara mengenai apa yang terjadi. Sepertinya wanita sialan itu setiap hari selalu saja membuat masalah, membuat hubunganku dengan suami berantakan. Dasar wanita ular!"


Rayya berjalan menuju ke ruangan kamar Tsamara dengan mengumpat dan tanpa mengetuk pintu, langsung masuk ke dalam. Bahkan langsung menutup pintu karena tidak ingin ada yang melihat jika sedang berada di kamar wanita yang sangat ingin disingkirkan dan akan menginterogasi.

__ADS_1


Saat Tsamara baru saja memejamkan mata, sangat terkejut dengan pintu yang terbuka tiba-tiba dan berpikir jika itu adalah Zafer kembali. Namun, begitu melihat yang datang adalah Rayya, merasa lega.


"Ada apa lagi? Apakah kamu ingin menyalahkanku karena suamimu tidak mau tidur di kamar? Ataukah kamu ingin memastikan apakah tidur di sini?"


Dengan wajah masam, Rayya merasa tertampar atas pertanyaan yang baru saja didengar. "Aku tidak ingin bertele-tele. Jadi, cepat katakan padaku mengenai apa yang kamu katakan pada Zafer? Hingga memilih tidur di kamar tamu."


Tidak mungkin mengatakan rahasia yang selama ini tidak diketahui oleh orang selain keluarga, Tsamara sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan Rayya mengenai penyakit yang pernah diderita.


"Itu adalah masalah pribadi dan aku tidak bisa mengatakan padamu. Jika kamu ingin tahu, tanya saja pada suami mengenai alasan apa yang menyebabkan suamimu memilih untuk tidur di lantai dasar. Aku sangat pusing hari ini dan ingin beristirahat, jadi pergilah dari sini."


Tsamara bahkan sudah memejamkan mata karena tidak ingin Rayy, mencerca dengan banyak pertanyaan lagi. Apalagi saat ini kepala terasa berat dengan mata berair karena sangat mengantuk.


Itu karena tadi minum obat dengan efek samping mengantuk, sehingga tidak kuat untuk membuka mata terlalu lama. Bahkan ia dari tadi sudah berkali-kali menguap, tetapi gagal untuk beristirahat karena kedatangan tamu tak diundang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kamar tanpa mengetuk pintu.


"Dasar wanita cacat menyebalkan!" Rayya yang saat ini mengumpat, sebenarnya ingin sekali menarik rambut di balik penutup kepala wanita itu.


Namun, sebisa mungkin menahan diri karena tidak ingin menambah rasa kesal Zafer dan mengakibatkan renggangnya hubungan mereka.


'Sabar, Rayya. Kamu tidak boleh gegabah dengan terbakar emosi hanya karena wanita tidak berguna ini,' gumam Rayya yang berbalik badan dan segera meninggalkan ruangan kamar yang membuatnya makin bertambah emosi karena tidak mendapatkan jawaban.


Rayya yang berjalan menuju kamar sambil mengedarkan pandangan untuk mencari tanda-tanda bahwa mertua sudah keluar atau belum.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2