
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mobil yang dikemudikan oleh Zafer telah tiba di rumah mewah keluarga Dirgantara.
Kemudian Zafer membukakan pintu dan melihat Rayya mengulurkan kedua tangan karena mengetahui apa yang diinginkan oleh sang istri.
"Dasar manja," ucap Zafer yang saat ini langsung menggendong tubuh Rayya dengan sangat hati-hati dan menutup mobil dengan kaki.
Sementara itu, Rayya hanya tertawa kecil menanggapi sikap Zafer ketika mengejek. Sengaja ia tidak ingin berjalan karena ingin bermanja dengan sang suami.
Apalagi ingin membina hubungan baik dengan Zafer, agar tidak hambar karena masalah Tsamara.
Ia saat ini memilih untuk melingkarkan tangan pada leher belakang Zafer. "Aku masih pusing, Sayang. Daripada nanti pingsan saat berjalan, lebih baik kamu menggendongku, kan?"
Zafer yang saat ini sudah berjalan memasuki lift darurat karena tidak mau terlalu lelah ketika menaiki anak tangga sambil menggendong Rayya, hanya tersenyum simpul.
"Baiklah, aku mengerti dan memahami bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja karena efek hamil."
Rayya kini langsung mendekatkan wajah untuk mencium sejenak bibir tebal Zafer dan berbisik di dekat daun telinga pria yang terkejut karena perbuatan barusan.
"Aku ingin melakukan itu, Sayang. Anak-anak ingin dijenguk oleh papanya." Kemudian mengedipkan mata untuk semakin menggoda sang suami agar tertarik pada tawaran.
Sementara itu, saat ini Zafer yang sebenarnya sedang tidak mood untuk bercinta karena pikiran dipenuhi oleh masalah mengenai Tsamara yang bertemu dengan mantan suami dan jelas-jelas ingin mengibarkan bendera perang dengan keluarganya.
Namun, karena tidak ingin mengecewakan wanita yang terlihat sangat bergairah tersebut, akhirnya mengulas senyuman dan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Kali ini mau berapa ronde?" ucap Zafer yang saat ini berpikir bahwa rasa stress yang dirasakan mungkin akan hilang begitu menyalurkan hasrat pada Rayya.
Sementara itu, Rayya saat ini hanya tertawa begitu mendapat pertanyaan bernada vulgar tersebut. "Jika aku tidak hamil, mungkin akan meminta lima ronde, tetapi kali ini tidak mungkin karena khawatir jika terjadi sesuatu pada anak kita."
"Jadi, dua ronde saja sepertinya sudah cukup membuatku lelah." Rayya masih tersenyum simpul ketika menjawab pertanyaan dari sang suami yang terlihat sudah tidak sabar ingin menyalurkan gairah karena berjalan sambil menelusuri leher dengan bibir.
Zafer yang memulai pemanasan terlebih dahulu sambil berjalan menggendong Rayya, kini memasuki ruangan kamar. "Buka pintunya karena aku tidak bisa melakukan saat tanganku sibuk menggendongmu."
Rayya yang saat ini menyipitkan mata karena merasa heran pada pria yang memilih untuk masuk ke dalam ruangan kamar yang semalam menjadi tempat tidur. "Kenapa masuk ke sini?"
"Bukankah kamarmu ada di sebelah kanan?" tanya Rayya yang saat ini merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh Zafer.
Tentu saja tadi ia berpikir bahwa akan menghabiskan waktu dengan penuh gairah di ruangan pribadi pria dengan paras rupawan tersebut, tapi merasa heran ketika sang suami mengajak masuk ke ruangan kamar lain yang tidak disukai.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres dan karena ingin segera mendengarkan penjelasan dari pria yang menggendong tersebut, Rayya memilih untuk membuka pintu, meskipun perasaan sangat dongkol. Apalagi saat ini tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Zafer mengajakku ke ruangan ini?' gumam Rayya yang saat ini merasa sangat kesal karena Zafer tidak mengajak ke ruangan pribadi.
Bahkan saat ini pikiran tengah mengacu pada sosok wanita yang ada di rumah sakit dan seketika amarah meluap memenuhi urat syaraf saat ini.
Hingga suara bariton dari pria yang baru saja menurunkan tubuh di atas ranjang, semakin membuat Rayya kesal.
"Bukankah tadi kamu mengetahui bahwa pria bernama Rey tersebut mengincar Keanu?" tanya Zafer yang memulai pembicaraan untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang terlihat sudah duduk di atas ranjang.
__ADS_1
"Aku tahu, lalu apa hubungannya dengan ini semua?" Rayya masih mencoba untuk meneliti arti dari pertanyaan Zafer, sampai mengerti maksud dari pria tersebut yang kembali menjelaskan semua.
Zafer memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya dan tidak ingin bertele-tele. Berharap Rayya mau mengerti dan tidak akan marah atas keputusan yang baru saja diambil.
"Papa dan mama memutuskan untuk membawa Tsamara dan Keanu ke rumah ini karena ingin waspada pada pria itu yang bisa saja menculik atau berbuat jahat dengan menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisi. Jadi, aku tidak ingin membuat papa marah karena pasti menyuruh Tsamara untuk tinggal di kamarku."
"Jadi, untuk sementara, kamu tinggal di kamar ini. Lagipula mau berada di ruangan manapun, itu sama saja. Apalagi saat bercinta hanya dibutuhkan ranjang ini. Apa kamu bisa mengerti apa yang kukatakan?"
Zafer saat ini masih menatap intens wajah Rayya yang sudah berubah memerah karena dikuasai oleh amarah. Bahkan tatapan tajam kini terlihat sangat jelas dan hanya ditanggapi dengan wajah datar karena tidak tahu harus berekspresi bagaimana.
"Kamu tidak ingin aku kehilangan semua harta keluargaku, bukan? Jadi, kamu harus mengalah untuk sementara waktu. Bukankah keinginanmu sudah terwujud untuk menjadi istriku dan tinggal di rumah utama? Kamu tidak perlu berpikir yang macam-macam lagi. Jalani saja semua seperti air yang mengalir dan setelah wanita itu pergi, kamu akan menjadi nyonya rumah di sini."
Sengaja Zafer mengatakan hal itu karena ingin menghibur Rayya agar tidak kembali marah. Berharap dengan membawa sang ayah pada masalah ini, sang istri tidak akan lagi mempermasalahkan hal yang dianggap sepele mengenai ruangan yang akan menjadi tempat tinggal.
Namun, itu semua tidak berlaku bagi Rayya karena merasa sangat marah karena laki-laki harus mengalah pada wanita cacat yang bahkan tidak pantas untuk menjadi saingan.
Bahkan gairah yang tadi menguasai diri seketika musnah begitu saja ketika mendengar penjelasan dari sang suami. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan amarah yang menyeruak memenuhi diri.
Namun, harus berakting bersikap biasa dan menerima dengan lapang dada atas perintah dari suami yang saat ini masih berdiri menjulang di hadapan.
'Sialan! Aku sama sekali tidak pernah menduga akan hal ini. Jadi, ruangan kamar Zafer akan menjadi milik wanita cacat itu dan aku hanya tinggal di kamar tamu. Padahal saat ini aku sedang mengandung benih dari Zafer. Situasi konyol macam apa ini?' gumam Rayya yang saat ini merasa bahwa takdir selalu berpihak pada wanita cacat yang ingin sekali segera disingkirkan dari dunia ini.
To be continued...
__ADS_1