
Zafer yang saat ini menekan passcode apartemen dari sang kekasih dengan perasaan berkecamuk karena sangat mengkhawatirkan wanita di dalam. Apalagi sejak dari tadi menelpon, tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Begitu pintu terbuka, berjalan cepat untuk masuk menemui sang kekasih. Berharap jika wanita yang sangat dicintai tersebut saat ini sedang beristirahat di dalam kamar.
"Sayang!"
Ruangan kamar yang terbuka langsung dituju oleh Zafer dan mengerutkan kening karena ranjang masih terlihat sangat rapi.
Menunjukkan bahwa tidak ada yang tidur di sana dari tadi. Kemudian beralih menatap kamar mandi yang terbuka dan pikirannya semakin buruk. Tidak membuang waktu, langsung berjalan menuju ke sana.
Begitu melihat pemandangan pertama yang saat ini tampak di hadapan, refleks Zafer membulatkan mata dan berteriak, "Sayang! Apa yang terjadi padamu?"
Tanpa membuang waktu, ia langsung meraup tubuh Rayya dan berjalan keluar dari ruangan kamar mandi. "Firasatku benar. Bahwa terjadi sesuatu yang buruk padamu, Sayang."
Kemudian ia menurunkan tubuh Rayya ke atas ranjang dan langsung menghubungi dokter pribadi keluarga agar segera datang ke apartemen.
Begitu selesai, ia mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sebelah kanan sang kekasih, lalu merapikan rambut yang menutupi wajah itu. Bahkan kini raut kekhawatiran jelas terlihat dari wajah saat ini.
Zafer kini mengusap wajah cantik yang saat ini terlihat pucat. "Sayang, bangunlah. Apa yang terjadi padamu? Apakah kamu tadi terpeleset di kamar mandi?"
Memastikan sesuatu, Zafer kini mengangkat kepala bagian belakang Rayya untuk memastikan tidak ada benjolan di sana atau mungkin darah.
Kemudian bernapas lega karena tidak terjadi apapun pada kepala sang kekasih. Namun, beberapa saat kemudian menatap ke arah perut yang masih datar dan di sana adanya dari keturunannya.
Kini, ia mengusap perut datar Rayya. "Tidak terjadi apapun padamu, kan anakku?" Tidak ingin dipenuhi dengan rasa kekhawatiran, ia memastikan sesuatu dengan cara membuka bagian inti sang kekasih.
Zafer sering melihat film di televisi yang menampilkan seorang wanita jika mengalami sesuatu pada kehamilan, pasti akan mengeluarkan darah pada bagian inti. Jadi, memastikan apakah itu terjadi pada Rayya.
Begitu berhasil melihat sesuatu yang selama ini menjadi puncak kenikmatan untuknya, ia merasa lega karena hal yang membuatnya khawatir tidak terjadi.
__ADS_1
Ia kini bernapas lega dan menunggu kedatangan dokter yang mengatakan sepuluh menit lagi akan tiba setelah baru saja mengirimkan pesan.
"Syukurlah tidak ada darah sedikit pun dari kepala maupun bagian bawah. Sepertinya tadi hanya pingsan saja di kamar mandi tanpa terhempas keras ke lantai." Zafer berbicara sambil meraih telapak tangan wanita yang masih tidak sadarkan diri tersebut dan beberapa kali mengusap.
"Aku berjanji akan selalu menjagamu dan ini tidak akan terjadi lagi." Zafer saat ini merasakan telapak tangan yang digenggamnya bergerak perlahan.
Refleks ia merasa lega begitu beberapa saat kemudian melihat kelopak mata itu terbuka.
"Sayang, kamu sudah sadar? Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku dari tadi menghubungimu dan sangat khawatir ketika kamu tidak menjawab. Jadi, langsung berangkat ke sini dan menemukan di kamar mandi."
Sementara itu, Rayya saat ini masih terdiam karena sedang membiasakan diri untuk membiarkan cahaya mulai masuk ke kornea mata yang baru saja terbuka. Bahkan masih mencoba untuk mengingat apa yang terjadi beberapa saat lalu.
Seketika ingatannya flashback pada kejadian ketika perutnya seperti diaduk dan muntah di kamar mandi, lalu kehilangan kesadaran.
"Kamu di sini karena mengkhawatirkan keadaanku."
"Iya, Sayang. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Apalagi saat ini kamu sedang mengandung keturunanku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan juga calon anakku. Jadi, aku tadi mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan keselamatan."
Tentu saja Rayya saat ini merasa bahagia sekaligus selalu terharu karena pria yang tadi dianggap tidak perduli padanya saat memilih pergi dan lebih mementingkan perintah orang tua, kini berada di hadapannya. Seketika bola mata berkaca-kaca bola.
"Bukankah tadi orang tuamu menyuruh untuk pulang?" Refleks Rayya mengingat tentang hal penting yang ingin diketahui dan langsung menanyakan pada sang kekasih.
"Bagaimana? Apakah wanita itu sudah pergi dari rumah dan mengatakan pada orang tuamu untuk bercerai?"
Rayya sangat berharap jika sang kekasih langsung menganggukkan kepala, tanda bahwa semua itu benar. Namun, untuk kesekian kali, merasa sangat kecewa karena yang terjadi adalah Zafer menggeleng perlahan.
Seketika harapannya hancur sudah dan langsung mengempaskan tangan yang digenggam oleh sang kekasih. "Pergilah dari sini karena aku tidak ingin melihatmu!"
"Ayahku pasti akan membunuhku begitu mengetahui aku hamil dan kau tidak bisa menikahiku." Suara dengan nada kegetiran defensif saat ini terdengar memenuhi ruangan kamar dengan ukuran luas dan berbagai macam furniture mewah menghiasi.
__ADS_1
Seolah membuktikan bahwa Rayya merasa hancur berkeping-keping karena tidak mempunyai harapan untuk menikah dengan pria yang telah menghamilinya. Akhirnya, keputusan sudah bulat untuk memilih mengakhiri nyawa yang berkembang di dalam rahimnya.
"Lebih baik aku menggugurkan kandungan ini. Dari pada harus menanggung malu dan juga mendapat kemurkaan dari ayahku. Apalagi kamu tidak bercerai dengan wanita cacat itu." Rayya merasa marah sekaligus terluka, tapi tidak bisa melakukan apa-apa selain menyingkirkan nyawa yang akan semakin berkembang di perutnya.
Refleks Zafer langsung memeluk erat tubuh wanita yang terlihat sangat lemah itu. "Tidak! Jangan bertindak bodoh dengan menggugurkan keturunanku. Aku akan bertanggung jawab padamu, Sayang."
Rayya yang masih merasa murka dan memilih untuk melepaskan pelukan itu dengan cara mendorong dada bidang Zafer. "Jangan selalu memberikan harapan palsu padaku, Zafer! Kau selalu berjanji dan tidak pernah bisa menepatinya."
"Aku sangat lelah menjalani hubungan yang tidak ada kepastian ini." Masih berbicara dengan bulir air mata yang menganak sungai di pipi.
Sementara itu, Zafer sama sekali tidak memperdulikan penolakan Rayya karena saat ini malah tertawa.
Melihat Zafer seseperti tidak mengerti perasaan yang terluka dan dipenuhi kekhawatiran, Rayya memukul punggung lebar pria yang berada di atas tubuhnya.
"Kau memang berengsek. Aku sangat bersedih dan terluka, tapi malah tertawa seperti ini. Aku sangat membencimu!" teriak Rayya yang masih tidak berhenti mengarahkan pukulan untuk melampiaskan amarah yang membuncah di dalam hati karena melihat tanggapan dari pria yang dicintai malah seperti bercanda.
Zafer yang dari tadi memang menggoda Rayya, langsung mengatakan yang sebenarnya. Berpikir jika wanita itu akan jauh lebih tenang setelah melampiaskan amarah.
"Kamu bisa melakukan apapun pada tubuhku karena ini hanya milikmu."
"Berengsek!" sarkas Rayya yang masih diliputi oleh amarah. Bahkan wajahnya semakin memerah karena bertambah kesal atas jawaban dari Zafer yang masih tidak bisa menanggapi dengan serius.
Beberapa saat kemudian, Rayya yang merasa kelelahan untuk memberikan pelajaran pada Zafer yang hanya diam saja menerima, kini terdiam dan memalingkan wajah karena tidak ingin melihat pria itu.
"Pergilah! Aku ingin beristirahat."
"Aku sudah memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu, Sayang. Apa kamu sudah lelah memberiku hukuman? Sekarang, diam dan dengarkan ini!" Zafer kini mendekatkan wajah untuk berbicara di dekat daun telinga sang kekasih yang masih diam saja, seolah menurut pada perintah.
To be continued...
__ADS_1