
Suara Zafer yang membelah keheningan di dalam ruangan kamar tersebut dan memekakkan telinga bagi Tsamara, tetapi tetap masih memejamkan mata.
'Kenapa tidak keluar saja? Berteriak seperti tinggal di hutan saja. Seolah pelayan tidak punya telinga, hingga berisik seperti itu,' keluh Tsamara yang hanya bisa mengungkapkan semuanya di dalam hati.
Namun, sama sekali tidak pernah menyangka jika apa yang dikatakan oleh Zafer membuat Tsamara merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menyeruak.
"Iya, Tuan. Maaf, karena istri saya sedang mengajak tuan Keanu jalan-jalan ke taman sambil menyuapi. Apa ada yang Anda butuhkan, Tuan?" Paijo tadi yang baru selesai mencuci mobil, langsung berlari untuk menemui majikan yang berteriak seperti murka.
"Apa semalam dokter tidak datang untuk memeriksa istriku?" Zafer menatap pelayan dengan tatapan mengintimidasi dan menunggu hingga mendapatkan jawaban.
Mengerti dengan apa yang dipikirkan sang majikan, pria paruh baya itu pun mulai menceritakan tentang hal yang terjadi semalam. Namun, tidak mengatakan jika sang istri yang meminta dokter.
Sementara itu, Tsamara kini meremas pakaian di bawah selimut karena merasa terharu atas perbuatan Zafer yang baik padanya.
Bahkan ternyata tidak seburuk yang dipikirkan. 'Aku semalam menggigil saat demam tinggi dan tuan Zafer memanggil dokter untuk memeriksaku.'
Kini, semua pertanyaannya terjawab sudah dan merasa sangat terharu karena masih diperlakukan seperti manusia normal. Bukan manusia hina yang berlumur dosa.
'Aku akan membuat mereka hidup bahagia dan tidak menjadi penghalang. Seperti yang kukatakan, setelah bisa berjalan, akan pergi dari kehidupan mereka. Semoga aku bisa segera berjalan lagi dan pergi dari sini.'
Puas beragumen sendiri di dalam hati dan puas karena sudah mengetahui jawaban atas semua pertanyaan, akhirnya memilih untuk berakting menggerakkan tubuh dan merasa seperti terganggu dengan suara Zafer yang berbicara dengan sangat keras.
Begitu mengerjapkan kedua mata dan melihat ada dua pria berbeda usia di kamar, kini berpura-pura terkejut. "Kenapa kalian ada di sini? Kenapa kepalaku sangat pusing?"
__ADS_1
Tsamara kini sudah memijat pelipis karena memang merasakan pusing dari tadi.
Zafer hanya diam saja karena merasa bingung harus mengatakan apa pada wanita yang sama sekali tidak tahu apapun. 'Apa wanita ini tidak mengingat apapun? Apa aku harus mengatakan kebohongan?'
"Selamat pagi, Nyonya. Anda semalam pingsan dan sudah diperiksa oleh dokter. Saya sudah langsung menebus obat. Sebentar, saya ambilkan." Paijo hanya menyapa dan menjelaskan tentang perihal keadaan majikan wanita tersebut tanpa mengatakan jika ada yang merawat.
Tsamara yang kini masih mencoba untuk menahan rasa pusing di kepala. Setelah Zafer bersikap baik, memutuskan untuk tidak akan memperlihatkan wajah di acara pernikahan karena berpikir akan merusak mood Rayya.
"Sepertinya aku tidak bisa datang ke rumah karena kepalaku sangat pusing. Aku tidak ingin pingsan dan mengacaukan acara pernikahanmu. Bukankah kau harus bersiap? Tolong katakan pada mama dan papa bahwa aku masih tidak enak badan."
Tsamara kini merasa seperti ada sesuatu yang aneh dalam diri ketika melihat Zafer terdiam seperti orang kebingungan. 'Kenapa tuan Zafer sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun? Apa marah karena aku tidak datang ke acara pernikahannya?'
Zafer yang tadi sama sekali tidak berkomentar apapun ketika pelayan pria menjelaskan pada Tsamara dan tidak menyebutkan jika semalam tidur di ranjang yang sama dengan Tsamara.
Saat Paijo telah pergi untuk mengambil obat, Zafer merasa kecewa karena wanita yang masih bersembunyi di balik selimut itu tidak jadi datang. Entah hal apa yang membuat kecewa, Zafer sendiri pun tidak tahu.
'Apa yang terjadi padaku sebenarnya? Bukankah ini lebih baik karena ia tidak melihat saat aku memeluk semalaman karena tidak tega ketika tengah menggigil kedinginan?'
Seketika Zafer menoleh ketika mendapatkan pertanyaan dari Tsamara.
"Tuan Zafer? Apa yang Anda pikirkan? Apakah Anda gugup karena akan menikahi wanita yang dicintai? Tenang saja, aku tidak akan membuat acara pernikahan kacau. Semuanya akan berjalan lancar dan hidup Anda akan dipenuhi kebahagiaan," ucap Tsamara yang kini merasa bersalah karena membuat pria yang masih berdiri menjulang tersebut kurang tidur karena harus merawat semalam.
Tadi ia melirik ke arah nakas dan melihat baskom yang sudah bisa dipastikan jika itu adalah tempat untuk air yang digunakan mengompres semalam.
__ADS_1
Siapa lagi yang melakukan itu jika bukan Zafer karena pria itulah yang terakhir kali melihat saat kehilangan kesadaran. Sebenarnya ingin sekali mengucapkan terima kasih seandainya pria itu mengatakan hal itu, tetapi tidak mungkin melakukan jika semua orang tengah berakting.
Hanya ingin mengikuti permainan sosok pria dengan badan tinggi tegap tersebut, ia masih menunggu apa yang akan dikatakan, tetapi semua tidak seperti yang dipikirkan.
Semua perkiraan meleset begitu pria itu membuka mulut dan Tsamara sudah terbiasa dengan sikap Zafer.
"Sayang sekali! Padahal aku ingin kamu melihat jika di mataku, hanyalah debu tak terlihat. Seharusnya kamu datang agar menyadari posisimu. Tentu saja aku akan hidup berbahagia karena kami saling mencintai. Bukan seperti pernikahan palsu beberapa saat lalu."
Zafer merasa kesal atas ucapan Tsamara yang seperti tidak merasakan apapun atas pernikahan yang akan digelar.
Jadi, seperti biasa, memilih untuk berjalan keluar dari ruangan kamar dan berniat untuk mendinginkan otak yang serasa terbakar.
Sementara Tsamara hanya mengamati siluet belakang bahu lebar pria yang beberapa saat kemudian menghilang di balik pintu. Embusan napas berat dan suara tercekat di tenggorokan ketika tadi ingin sekali membantah perkataan Zafer.
Namun, tidak ingin dicap seperti menggurui hidup orang lain, sedangkan diri sendiri tidak benar dan hidup berantakan sampai sekarang.
"Seandainya semua berjalan seperti itu, tuan Zafer, pasti tidak akan ada air mata yang menghiasi dunia ini. Dulu aku terlalu naif saat remaja karena berpikir akan hidup bahagia selamanya bersama dengan suami pertamaku. Namun, ternyata aku salah karena godaan syetan menjeratku sampai berbuat hina dan berakhir menderita ketika memilih percaya pada Rey."
Bulir bening air mata kini lolos tanpa seizinnya karena mengingat dua pria yang sangat bertolak belakang dan menjadi masa lalu.
"Tidak seharusnya aku menyebut nama pria itu. Aku memang bodoh karena menolak fakta jika Rey bukanlah pria yang baik. Seharusnya aku tahu saat pertama bertemu dengan mertua yang langsung mengusir dari rumah."
"Bahkan saat itu Rey hampir berniat kabur dan tidak ingin hidup bersamaku tanpa kemewahan. Jika aku tidak mengancam akan bunuh diri dan meninggalkan surat di kantor polisi jika penyebab melakukan itu adalah Rey."
__ADS_1
To be continued...