Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Dikuasai Angkara Murka


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Zafer terlihat berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kamar setelah mendapatkan kabar dari pelayan jika sebentar lagi Tsamara akan pulang dan tinggal di sana.


Bahkan beberapa saat lalu mengamati ruangan pribadi yang menjadi tempat paling favoritnya. Nuansa laki-laki maskulin mendominasi ruangan itu dan berpikir apakah Tsamara akan merasa nyaman tinggal di sana atau tidak.


Bahkan hari ini melihat sprai yang menghiasi ranjang bernuansa gelap. "Apa aku menyuruh pelayan untuk mengganti dengan warna cerah?"


Namun, ia kemudian terbahak seraya berkacak pinggang karena merasa sangat konyol. "Sepertinya aku sudah gila! Jika aku melakukan itu, Tsamara akan berpikir aku repot-repot menyiapkan semua hal untuk menyambut kedatangan di rumah ini."


Akhirnya Zafer memilih untuk tidak melakukan apapun, meskipun sebenarnya ingin merubah segala sesuatu bernuansa gelap dalam ruangan itu, agar Tsamara bisa lebih baik.


Namun, tidak jadi melakukan hal itu karena merasa khawatir jika Tsamara akan mengejek dan tidak peka dengan niat baik saat tadi merasa iba melihat wanita itu seperti sangat tertekan begitu bertemu dengan mantan suami.


Saat melihat ekspresi Tsamara ketika bertemu dengan Rey yang merupakan mantan suami, ia diam-diam merasa iba. Hingga memiliki rasa ingin melindungi wanita itu yang terlihat sangat ketakutan kehilangan Keanu.


"Sebenarnya aku sangat tidak tega melihat Tsamara tadi yang ketakutan. Ini adalah sebuah bentuk perikemanusiaan sebagai sesama manusia, bukan apapun," ujar Zafer yang kini memilih untuk mendaratkan tubuh di atas ranjang.


"Apa Tsamara mau tidur di ranjang ini? Lalu nanti aku tidur di mana? Apakah tidur di sofa? Ataukah kami tidur di satu ranjang saja? Karena tidak mungkin orang tuaku mengizinkan aku tidur di kamar Rayya karena pasti diperintahkan untuk menjaga Tsamara yang masih sakit."


Saat ia baru menutup mulut, mendengar samar-samar suara dari luar dan semakin jelas. Tentu saja mengetahui siapa dan Zafer tidak tahu harus berbuat apa, jadi memilih untuk bangkit berdiri dari posisi dan berpura-pura berada di dalam kamar mandi.


Entah mengapa hari ini bisa bersikap seperti orang bodoh dan merasa sangat berlebihan sekaligus konyol, tapi tetap saja Zafer merasa sangat bingung akan apa yang harus dilakukan hari ini.


Akhirnya memilih untuk bersembunyi sejenak di dalam kamar mandi dan mendengar pembicaraan orang tua dan Tsamara.


Setelah mengunci pintu kamar mandi, ia yang masih berada di balik pintu, mendekatkan daun telinga, agar bisa mendengar suara dari luar.

__ADS_1


Sementara itu, Adam Dirgantara, sang istri dan Tsamara yang beberapa saat lalu tiba di rumah, langsung menuju ke ruangan kamar Zafer.


Pasangan suami istri paruh baya tersebut sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang tadi dikatakan oleh Tsamara mengenai niat menantu untuk berpisah setelah bisa berjalan.


Mengatakan jika sampai kapan pun akan tetap menganggap menantu perempuan itu seperti putri kandung, meskipun sudah tidak berstatus sebagai istri Zafer suatu saat nanti.


Adam Dirgantara bahkan tidak mengatakan pada Tsamara bahwa akan tinggal di kamar Zafer karena berpikir akan menolak. Demi kebaikan menantu perempuan itu, berpikir jika Zafer bisa menjaga jika mereka berada dalam satu kamar.


Berpikir itu adalah sebuah cara untuk mendekatkan mereka dan rumah tangga mengalami perkembangan. Adam yang saat ini mengendong Keanu, kini membuka pintu dan melihat sang istri sudah mendorong kursi roda Tsamara masuk ke dalam kamar.


"Ini adalah kamarmu, Sayang," ucap Erina yang sudah menunjukkan ruangan pribadi putranya pada Tsamara. "Bagaimana menurutmu?"


Tsamara yang saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling area ruangan bernuansa gelap tersebut, merasa ada sesuatu yang janggal.


'Tidak mungkin ini adalah ruangan tuan Zafer,' gumam Tsamara di dalam hati dan kini memilih untuk bertanya pada mertuanya.


"Ini bukan kamar tuan Zafer, kan?" Tsamara masih menunggu jawaban dari mertua, tetapi seketika menolehkan kepala saat mendengar suara bariton dari pria yang tadi disebutkan.


"Ini memang kamarku. Memangnya kenapa? Apa kamu keberatan tinggal di kamar ini?"


Zafer yang dari tadi berada di dalam kamar mandi untuk mendengar pembicaraan dari orang tuanya dan Tsamara, merasa ingin menjawab pertanyaan wanita yang berada di atas kursi roda karena seperti tidak suka tinggal di dalam ruangan yang selama ini menjadi tempat paling favorit.


Seolah harga diri sebagai seorang pria yang terlihat sempurna secara fisik, serasa terhina jika sampai Tsamara menolak tinggal di dalam kamar bersamanya. Padahal itu semua juga merupakan keinginan dari orang tua.


Bukan keinginan sendiri dan merasa kesal jika sampai mendengar alasan macam-macam dari Tsamara yang tadi sempat membuat Zafer merasa iba ketika berada di rumah sakit.

__ADS_1


Tsamara yang sama sekali tidak pernah menyangka jika Zafer ternyata berada di dalam kamar mandi dan mendengar pertanyaan yang tidak sengaja ditanyakan kepada mertuanya.


Tidak ingin ada kesalahpahaman yang membuat ricuh, refleks Tsamara memilih untuk menggelengkan kepala karena tidak seperti yang dikatakan oleh pria dengan tatapan tajam tersebut.


"Tidak, Tuan Zafer. Anda salah paham karena saya tidak bermaksud seperti itu. Status saya hanyalah istri di atas kertas, jadi merasa tidak pantas jika tinggal di ruangan kamar Anda. Karena yang sepatutnya berada di sini adalah Rayya."


"Karena merupakan istri yang Anda cintai dan sekarang telah hamil." Tsamara kemudian menatap ke arah pasangan suami istri paruh baya di sebelah kanan. "Lebih baik aku dan Keanu tinggal di kamar tamu saja, Pa, Ma."


Adam Dirgantara dan Erina sama-sama menggelengkan kepala karena sama sekali tidak menyetujui apa yang ingin diminta oleh Tsamara.


"Tidak! Kamu saat ini sedang sakit dan membutuhkan seseorang yang bisa menjagamu saat malam hari karena tadi dokter mengatakan mungkin akan kembali demam saat malam hari, jadi hanya Zafer yang berada di sampingmu dan bisa langsung memberikan pertolongan pertama jika itu terjadi."


Bahkan Adam berbicara tanpa menatap ke arah Zafer untuk melihat ekspresi wajah pria itu


Kemudian Erina yang saat ini sangat setuju dengan keputusan sang suami, kini menepuk lembut pundak Tsamara. "Mengenai Rayya, aku akan menemani tidur di kamar jika sampai membutuhkan bantuan. Sementara kamu membutuhkan Zafer karena tidak bisa berjalan."


Zafer yang masih merasa kesal karena penolakan Tsamara, berjalan mendekati sang ayah dan meluapkan amarah. "Jika wanita ini tidak mau berada di kamar ini, lebih baik biarkan saja berbuat sesuka hati. Bukankah ia adalah menantu kesayangan dan bisa melakukan apapun di rumah ini?"


Tanpa menunggu respon dari wanita yang membuatnya kesal, memilih untuk berjalan menuju ke arah pintu keluar. Meninggalkan orang tuanya dan Tsamara.


Bahkan sampai membanting pintu tanpa memperdulikan jika semua orang yang ada di dalam ruangan kamar akan berjenggit kaget.


"Sial! Wanita itu selalu saja membuatku marah!" sarkas Zafer yang saat ini memilih untuk berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke ruangan gym pribadi.


"Sepertinya aku harus membuang racun-racun yang ada di dalam tubuhku dengan berolahraga, agar keringat bisa keluar dan membuat amarahku tidak lagi meledak, seolah ingin menghancurkan semua yang ada di hadapanku!" umpat Zafer yang saat ini masih memerah wajah karena dikuasai angkara murka.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2