
Zafer yang dari tadi beristirahat di ruangan pribadi karena merasa kepala sangat pusing ketika memikirkan berbagai macam hal mengenai pria yang merupakan mantan suami dari Tsamara.
Apalagi ditambah dengan kejadian hari ini saat merasa murka ketika mendapatkan pukulan dari pria paruh baya yang sangat ingin dihancurkan.
Dengan menatap pantulan wajah di cermin, ia bahkan terlihat meringis menahan rasa nyeri pada bagian sekitar bibir dan pipi yang sudah membiru.
"Jika aku tidak memikirkan perasaan mama dan Rayya, tadi sudah menghajar habis-habisan pria tua bangka itu. Aku benar-benar sangat muak melihat wajah ayah Rayya. Semoga ini menjadi hari pertama dan terakhir karena aku tidak ingin bertemu pria itu lagi."
Beberapa saat lalu, Zafer mendaratkan tubuh di atas ranjang dan membandingkan diri perlahan. Kini, sudah tentang dengan tangan yang menopang kepala sambil menatap ke arah langit-langit kamar.
Bahkan sudah satu jam pada posisi seperti itu sambil berbicara sendiri seperti orang gila di dalam kamar. Merasa ruangan pribadi yang merupakan paling favorit tersebut seolah bisa menenangkan hati Zafer yang saat ini diliputi oleh berbagai macam pikiran buruk.
"Rey Bagaskara, sebenarnya apa tujuan hadir kembali dalam kehidupan Tsamara? Sial! Tanpa memegang ponsel, aku tidak bisa berbuat apapun saat ini."
Kemudian Zafer melirik ke arah telpon rumah dan kembali merasa frustasi. "Ada telpon, tapi bagaimana aku bisa menghubungi detektif jika tidak tahu nomor pria itu?"
Zafer saat ini mengambil kartu kecil di dalam kantong jas yang dikenakan. Tadi sebelum berangkat, sudah mengambil SIM card yang menyimpan banyak nomor dari para klien dan juga yang lain.
"Aku beli ponsel sekarang saja!" Zafer turun dari ranjang dan berjalan ke arah ruang ganti. "Tidak mungkin aku keluar dengan pakaian serapi ini."
Kemudian mengambil pakaian ganti dari tumpukan rapi di lemari kaca berukuran raksasa tersebut. Setelah mengganti pakaian, ia keluar dari walk in closet dan mengambil kunci mobil di atas laci.
Namun, saat belum sempat membuka pintu, tetapi sudah terbuka dan terlihat sosok wanita yang sudah sah menjadi istri dengan mengenakan kebaya pengantin berwarna putih tersebut menanggapi masih di dalam kamar dengan mengulas minuman.
"Suamiku." Rayya yang tersenyum pada pria yang sudah menjadi suami sah tersebut, kini mengerutkan kening begitu melihat penampilan santai dan terlihat seperti hendak keluar rumah.
"Mau ke mana? Apa kamu mau pergi? Aku bahkan baru masuk ke ruangan ini, tapi kamu akan pergi meninggalkanku?" Rayya bahkan sudah bergelayut manja pada lengan kekar pria yang ingin sekali dikunci di dalam kamar, agar tidak bertemu dengan istri pertama yang diketahui telah berada di rumah sakit.
Zafer saat ini masih bersikap sangat datar karena belum sepenuhnya memaafkan apa yang dilakukan oleh Rayya dan juga sang ayah sebelum menikah tadi.
Masih merasa dongkol dan tidak bisa begitu saja melupakan kejadian yang membuat harga diri seolah diinjak-injak oleh mertua sendiri. Bahkan harus membiarkan beberapa orang yang menghadiri acara pernikahan melihat.
Namun, berusaha untuk tetap bersikap baik pada wanita yang saat ini mengandung tersebut. Apalagi tidak ingin terjadi pertengkaran dan perdebatan lagi di antara mereka.
"Aku hanya keluar sebentar untuk membeli ponsel. Setelah kemarin kamu marah-marah dan menuduh hal yang sama sekali tidak pernah kulakukan, aku membanting ponsel dan seketika hancur."
"Sekarang aku tidak memiliki ponsel lagi. Jadi, ingin membeli yang baru. Sebaiknya kamu membersihkan diri dan mengganti pakaian karena aku tahu pasti sangat risi mengenakan itu."
Zafer kini melepaskan tangan Rayya yang seolah sedang ingin menahan kepergian. "Aku pergi dulu."
__ADS_1
Rayya saat ini merasa khawatir jika Zafer akan dihubungi oleh orang tua yang mengabarkan mengenai wanita cacat itu sedang dirawat di rumah sakit.
'Jika sampai suamiku pergi ke rumah sakit, pasti akan merasa iba pada wanita cacat itu. Kemudian dirayu, agar merawat di rumah sakit. Bagaimana jika itu berhasil dan suamiku tidak pulang ke rumah karena asyik menemani wanita itu?'
Rayya yang merasa sangat khawatir jika apa yang baru saja digumamkan itu terjadi, refleks berjalan cepat untuk mengejar pria yang baru saja membuka pintu.
Bahkan sudah menahan pergelangan tangan pria yang melangkah keluar tersebut.
"Suamiku, tunggu!"
Zafer tidak jadi melangkah menuju ke arah anak tangga dan ingin mendengar apalagi yang diungkapkan oleh Rayya.
"Apa lagi?" tanya Zafer yang saat ini tengah menoleh ke arah sang istri.
"Aku bosan di rumah dan ingin ikut bersamamu. Boleh, kan?" Rayya saat ini menampilkan wajah paling manis, agar pria yang sangat dikhawatirkan menemui istri pertama itu tidak kabur dari perhatian.
Jadi, harus memutar otak untuk bisa selalu berada di samping sang suami. "Aku akan mengganti pakaian dengan buru-buru, agar kamu tidak terlalu lama menunggu."
Zafer yang masih diam saja karena merasa bahwa perbuatan dari wanita cantik tersebut sudah berlebihan. Ingin sekali mengungkapkan amarah karena merasa seperti dikekang melakukan apapun.
Jika dulu, Zafer sangat senang jika pergi dengan wanita itu. Namun, entah mengapa sekarang semuanya terasa berbeda dan malah merasa senang pergi sendiri.
Rayya menunggu jawaban dari pria dengan bibir terkatup rapat tersebut. Bahkan perasaan saat ini diliputi oleh kecemasan ketika Zafer tidak langsung mengiyakan dan dikhawatirkan menolak.
'Kenapa Zafer hanya diam saja dari tadi? Apa susahnya untuk bilang iya padaku? Ataukah memang sedang merencanakan sesuatu hal di belakangku?' gumam Rayya yang masih dengan sabar menunggu jawaban dari Zafer.
Sampai pada jawaban yang membuat raut wajah seketika berubah redup.
"Aku hanya pergi sebentar saja dan tidak akan lama. Kamu saat ini sedang mengandung dan diharuskan untuk banyak beristirahat. Bukankah itu yang dikatakan oleh dokter?Jadi, jangan mengambil resiko karena aku tidak ingin terjadi sesuatu hal pada anak-anakku."
Zafer akhirnya menahan diri sekuat tenaga dan berbicara dengan sangat manis untuk menolak keinginan Rayya. Kemudian mengakhiri dengan cara mendekatkan wajah untuk mencium kening wanita yang hanya diam membisu tersebut.
"Aku pergi."
Tanpa menunggu jawaban dari Rayya karena memang ingin segera pergi, Zafer melangkahkan kaki panjang menuju ke arah anak tangga. Dalam hati, berharap bahwa wanita itu tidak kembali memanggil dan menghentikan.
'Aku dari dulu sangat tidak suka dikekang. Bahkan sebelum menjalin hubungan dengan Rayya, sudah mengatakan hal ini. Apakah sekarang melupakan hal itu? Aku selama ini menanamkan kepercayaan dan tidak pernah merasa curiga pada Rayya. Berharap mendapatkan timbal balik atas hubungan ini.'
'Jika terus-terusan dicurigai, yang ada malah membuatku semakin sesak napas dan ilfil. Seharusnya Rayya bisa seperti Tsamara yang sama sekali tidak pernah menghentikan apapun yang kulakukan. Jadi, aku merasa nyaman ketika ingin melakukan sesuatu.'
__ADS_1
Zafer yang sudah menapakkan kaki di anak tangga terakhir dan melihat beberapa pelayan yang sedang sibuk membersihkan ruang yang tadi digunakan untuk acara pernikahan.
Saat tidak melihat orang tua di sana dan juga di halaman rumah, menyipitkan mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Begitu melihat ada salah satu pelayan yang membawa beberapa piring kotor, langsung menghentikan.
"Apa orang tuaku berada di dalam kamar?"
Pelayan yang menahan beban berat dari tumpukan piring tersebut langsung mengungkapkan hal yang tidak diketahui oleh majikan.
"Tuan dan nyonya sudah berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan nyonya Tsamara yang pingsan di kamar mandi."
"Apa?" Wajah Zafer seketika membulat dengan mata terbelalak karena sangat terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan oleh pelayan.
"Pingsan? Kenapa aku sama sekali tidak tahu? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Zafer menatap tajam ke arah pelayan tersebut dan juga yang lain saat melintas dan menghentikan perbuatan masing-masing.
Hingga suara dari kepala pelayan yang mewakili semua, ini mengungkapkan apa yang terjadi. "Maafkan kami, Tuan Zafer. Tadi tuan dan nyonya yang mendapatkan telpon dari pelayan."
"Saat itu, Anda sedang beristirahat di dalam kamar karena pusing. Jadi, saya tidak ingin mengganggu dan memang akan mengatakan setelah Anda bangun."
Merasa sangat kesal dan marah, Zafer mengingat jika baru saja bertemu dengan Rayya. "Apa istriku tahu tentang hal ini tadi?"
Kepala pelayan saat ini mencerna perkataan dari sang majikan karena bingung dengan kalimat mengenai wanita yang mana, tetapi bisa mengerti setelah menyadari kebodohan karena istri pertama dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Iya, Tuan. Saat nyonya menerima telpon dan sangat terkejut tadi, istri Anda juga berada di sana. Bahkan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi," jawab wanita paruh baya tersebut yang saat ini tengah menatap pada ekspresi majikan seperti sedang menahan kemurkaan.
Apalagi terlihat sangat jelas ketika rahang tegas tengah menghentakkan gigi tersebut telah dihiasi dengan warna memerah.
Tidak ingin meluapkan amarah dengan membanting semua barang-barang yang dilihat, Zafer memilih untuk segera beranjak pergi dari sana.
Jika tetap segera di sana, akan menemui Rayya dan meredakan amarah karena tidak mengatakan apapun ketika bertemu tadi.
"Baiklah, aku mengerti!" Zafer pun meninggalkan ruang yang menjadi saksi ketika menikahi Rayya.
Begitu tiba di dekat mobil, langsung masuk ke dalam dan mengemudikan kendaraan mewah tersebut menuju ke rumah sakit dan melupakan ingin membeli ponsel.
Bahkan selama dalam perjalanan, tidak berhenti mengumpat dan mengempaskan tangan pada kemudi.
"Pantas saja sikap Rayya hari ini sangat aneh saat aku ingin keluar membeli ponsel. Pasti tadi ingin ikut karena khawatir jika aku pergi untuk menemui Tsamara. Padahal hanya ingin melihat keadaan seorang wanita yang pingsan saja. Apakah hal itu membuatnya berpikir aku akan berselingkuh?"
"Konyol sekali! Justru aku yang dulu berselingkuh dengan Rayya di belakang Tsamara. Itu karena Tsamara merupakan istri sah. Sekarang Rayya malah berpikir yang berlebihan seperti ini dan membuatku sangat muak!" sarkas Zafer dengan wajah memerah penuh kilatan amarah.
__ADS_1
To be continued...