
Setelah berhasil memuaskan hasrat pada Tsamara di dalam bathtub, Zafer benar-benar melaksanakan apa yang tadi dikatakan bahwa ini memandikan wanita yang sudah dihajar habis-habisan tersebut selama setengah jam.
Bahkan seolah Zafer ingin membuat Tsamara merasa puas karena tadi mengatakan sudah enam tahun tidak bercinta dengan seorang pria setelah bercerai dengan Rey.
Jadi, menganggap Tsamara seperti seorang wanita yang kehausan **** dan berharap dengan perbuatannya akan membuat wanita itu kembali merasakan surga dunia.
Setengah jam kemudian, sudah kembali menggendong sang istri pertama itu keluar dari kamar mandi dan menurunkan di atas sofa untuk melanjutkan apa yang tadi tertunda.
Tsamara merasa tubuhnya remuk redam akibat perbuatan pria yang dari tadi tidak berhenti tersenyum menyeringai. Pria itu dari tadi sama sekali tidak mengeluh dan hanya mengunci rapat bibir karena tidak ingin berkomentar apapun.
Itu semua karena sedang menghemat tenaga yang sudah diforsir habis-habisan oleh pria itu.
Meskipun tidak berbuat apa-apa saat Zafer menyalurkan gairah, tetap saja merasakan tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaga, sehingga memilih untuk diam. Namun, tidak seperti yang diharapkan karena pria yang berdiri menjulang di hadapannya tersebut kembali memberikan perintah.
"Bukankah tadi kamu belum jadi mencoba beberapa pakaian yang kusingkirkan ini?" Zafer mengarahkan tatapan mata pada beberapa paper bag di dekat sofa.
"Aku benar-benar sangat lelah. Apakah kamu masih ingin memberikan aku pekerjaan berat untuk mencoba beberapa pakaian ini?" Tsamara bahkan sangat malas untuk mengenakan gaun dengan mayoritas warna mencolok tersebut.
Warna yang sudah bertahun-tahun menjadi favoritnya adalah hitam dan Tsamara berniat untuk mengambil pakaian yang ada di atas lantai karena berpikir bahwa itu masih bersih dan bisa dikenakan kembali pada tubuhnya.
Namun, saat menunduk dan belum berhasil meraih gaun miliknya, sudah diambil oleh Zafer, sehingga Tsamara kembali mengangkat pandangan setelah menegakkan tubuh saat duduk di sofa.
"Kembalikan pakaianku!"
"Aku sangat bosan melihat ini." Kemudian Zafer berjalan ke arah tong sampah untuk membuang gaun Tsamara yang berwarna hitam tersebut.
Saat berbalik badan dan kembali mendekati Tsamara, melihat ekspresi wajah masam wanita di atas sofa tersebut dan sama sekali tidak diperdulikan. "Aku sudah membelikan banyak pakaian, jadi hargai usaha suamimu!"
Saat Tsamara merasa kesal karena gaun miliknya telah dibuang padahal masih layak pakai, seketika tertampar dengan kalimat terakhir pria yang mengarahkan tatapan tajam tersebut.
Tsamara dari tadi menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai panggilan dari Zafer, tapi karena saat ini merasa geram dan juga risi, sehingga mengungkapkan apa yang dipikirkan saat ini.
"Kamu dari tadi selalu memanggilku istri dan Aku memanggilmu suami. Padahal rasanya itu terdengar sangat menggelikan. Apa kamu sama sekali tidak merasa seperti itu? Apalagi jika sampai didengar Rayya, pasti akan mendapatkan omelan."
__ADS_1
Tidak ingin membahas mengenai hal yang lain, Zafer membungkuk untuk mengangkat lima paper bag berisi gaun tersebut dan meletakkan ke atas sofa.
"Coba saja semua pakaian ini. Bukankah kamu ingin segera menemui Keanu? Jadi, semakin cepat mencoba semua pakaian ini, akan segera bertemu putra kesayanganmu itu, bukan?" Zafer yang masih berdiri di hadapan Tsamara karena sangat tertarik dan penasaran melihat wanita itu memakai gaun berwarna cerah.
'Aku yakin jika istriku akan terlihat sangat cantik saat memakai gaun berwarna cerah. Apalagi warna merah itu, pasti akan semakin menambah pesonanya,' gumam Zafer yang saat ini tersenyum simpul begitu melihat pergerakan wanita dengan mulai membuka kimono handuk yang melindungi tubuh.
Seperti yang sudah terjadi, Tsamara hari ini sama sekali tidak bisa menolak apapun yang diperintahkan oleh Zafer. Apalagi begitu mengingat sudah cukup lama tidak bertemu putranya, sehingga ingin segera mengakhiri kegiatan panas dan liar hari ini bersama Zafer.
Jadi, sekarang sudah melepaskan kimono handuk yang melindungi tubuhnya, sehingga saat ini terlihat tanpa mengenakan apapun dan mencoba untuk memakai gaun pemberian pria itu.
Kini, Tsamara sudah memakai gaun merah panjang dengan hiasan pita di bagian depan yang dianggap sangat kekanakan, tetapi tetap dipakai. "Apakah ini pantas untukku?"
Zafer masih terdiam karena sibuk memanjakan mata melihat penampilan baru Tsamara yang dianggap sangat menarik dan jauh lebih cantik.
Bahkan terlihat semakin menambah pesona kecantikan wanita itu ketika menggunakan pakaian berwarna cerah. "Sudah tidak bisa diragukan bahwa kamu terlihat cantik."
"Jadi, apakah aku pakai yang ini saja?" tanya Tsamara yang sangat berharap Zafer langsung menganggukkan kepala tanda setuju dan tidak menyuruhnya memakai gaun yang lain.
Zafer refleks menggelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju ketika berpikir Tsamara ingin melarikan diri dari perintah. "Coba semuanya karena aku ingin membandingkan mana yang paling cocok untukmu."
Pemandangan yang sangat menyilaukan mata Zafer ketika kulit putih wanita berstatus sebagai istrinya tersebut terpampang nyata di hadapan, membuatnya tidak ingin cepat-cepat mengakhiri momen tersebut.
Bahkan ia berpikir bahwa Tsamara terlihat sangat seksi tanpa pakaian. Namun, semakin bersemangat melihat Tsamara beberapa kali melepaskan dan memakai gaun mulai dari warna merah, biru, kuning, orange.
Memang sengaja menyuruh manajer hotel memesan pakaian berwarna-warni yang cerah dan mengecualikan warna hitam karena Tsamara sudah memiliki.
Saat semakin bertambah lelah atas perintah Zafer, Tsamara sedikit merasa lega saat kami yang terakhir dari paper bag sudah melekat di tubuhnya. Jujur saja saat ini sama sekali tidak berniat untuk memakai gaun berwarna-warni yang dibelikan oleh Kenzo.
Jadi, berniat untuk hanya menyimpan di lemari dan akan mengatakan pada Zafer bahwa hanya akan memakai gaun tersebut ketika berada di hadapan pria itu.
'Aku akan beralasan bahwa hanya ingin menunjukkan padanya saja. Apalagi tadi berbicara konyol mengenai hal yang notabene adalah sebuah rayuan semata saat mengatakan tidak ingin ada pria lain yang melihatku,' gumam Tsamara yang masih mengamati ekspresi wajah Zafer ketika tengah menilainya.
"Jadi, warna apa yang cocok untukku?" Tsamara dengan sabar menunggu keputusan pria yang masih berdiri tepat di hadapan sambil bersedekap dada.
__ADS_1
Bahkan ia saat ini bergerak mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja. 'Tidak terasa aku sudah tiga jam tidak bersama putraku. Rasanya aku sangat merindukannya,' gumam Tsamara yang saat ini merasa tidak sabar menunggu jawaban Zafer.
Hingga kembali harus memperbesar rasa sabar saat mendengar jawaban santai dari pria yang tersenyum menyeringai itu.
"Pakai yang merah saja!" Kemudian Zafer meraih pakaian miliknya yang berserakan di lantai. "Sepertinya warna mencolok sangat cocok untuk kulitmu yang putih."
Saat Zafer mengancingkan satu persatu kemeja, kini terkekeh geli mendengar nada protes wanita yang terlihat seperti terpaksa melepaskan gaun berwarna orange yang melekat di tubuh.
"Harusnya tadi tidak perlu menyuruhku mencoba semua jika ternyata pilihanmu adalah gaun pertama." Tsamara berpakaian sambil mengeluh dan saat mengikat rambut panjang yang masih basah, mengerutkan kening karena tidak melihat penutup kepala berwarna senada.
"Ini gaun tidak ada hijabnya?" tanya Tsamara yang beralih melihat Zafer sudah rapi berpakaian lengkap.
Memang para laki-laki lebih cepat bersiap daripada wanita, sehingga berpikir jika ia tidak akan berdandan karena hanya akan membuang waktu.
Sementara Zafer tadi benar-benar lupa saat menyuruh membeli pakaian. "Kenapa tadi tidak berpikir untuk membeli gaun yang sudah lengkap dengan hijab?"
"Serius aku lupa. Lebih baik pakai punyamu yang tadi saja. Tidak masalah karena hanya akan ada di dalam mobil." Zafer meraih kembali pakaian yang tadi dibuang di tong sampah, tepatnya mengambil hijab saja untuk dikenakan sang istri.
Berpikir bahwa tempat sampah itu masih bersih karena memang belum ada apapun di sana, sehingga membuatnya berpikir tidak masalah Tsamara memakai kembali.
"Sekalian gaunnya karena itu adalah favoritku." Sengaja Tsamara mengeraskan nada suaranya dan berharap Zafer mau menuruti keinginannya.
Namun, untuk kesekian kali merasa kecewa karena pria itu kembali tanpa mengambil gaun dan menyerahkan hijab padanya.
"Sudah kubilang aku bosan melihatmu berpakaian gelap. Hidupmu kini sudah berwarna karena telah kuhiasi, jadi pakai semua gaun yang tadi kubelikan. Untuk hijab akan menyusul nanti."
Zafer merapikan penampilan dan hari ini seperti merasa sangat lega serta senang setelah berhasil beberapa kali menyalurkan gairah pada wanita cantik yang sudah kembali seperti semula.
"Sudah siap menjemput Keanu?"
Tsamara tidak menjawab karena masih merasa kesal, sehingga hanya menganggukkan kepala. Hingga kembali merasakan kekuatan pria dengan tubuh kekar itu saat mengangkat tubuhnya dengan menggendong ala bridal style keluar dari ruangan kamar hotel.
To be continued...
__ADS_1