Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Bermain solo


__ADS_3

Tsamara menelan ludah kasar begitu melihat pria yang berdiri menjulang di hadapan tersebut sudah bertelanjang dada setelah melepaskan pelindung tubuh bagian atas.


Tsamara berharap Zafer tidak melanjutkan perbuatan dengan cara menurunkan pelindung bagian bawah. Apalagi saat ini hanya bisa duduk diam tanpa ke mana-mana jika pria yang masih berada di hadapan tersebut melakukan hal yang ditakutkan.


Bahkan ia saat ini bisa melihat dengan jelas cetakan otot perut kencang yang berada tepat di depan mata. Tidak ingin terus menatap tubuh sixpack pria yang berstatus sebagai suami tersebut, Tsamara memilih untuk memalingkan wajah.


Hingga suara bariton dari Zafer seolah menggelitik gendang telinga Tsamara dan membuat sensasi berputar pada perut atas kalimat bernada ejekan yang vulgar.


"Kamu bertanya apa yang kulakukan? Tentu saja aku sedang melepaskan pakaianku. Bukankah tadi aku mengatakan ingin mandi? Kamu bukanlah seorang perawan bodoh yang belum pernah melihat tubuh telanjang seorang pria. Jadi, jangan berlagak malu-malu di depanku!"


Entah mengapa Zafer malah sangat senang bisa berhasil membuat wanita yang masih memalingkan wajah tersebut seperti malu dan enggan menatap. Hingga semakin ingin melihat Tsamara kebingungan.


Zafer kemudian menarik resleting celana dan menurunkan dari kedua kaki yang juga dipenuhi oleh otot kencang. Hingga menyisakan satu pelindung terakhir.


"Kamu selalu mengatakan aku berbuat dosa saat bercinta dengan Raya, bukan? Apakah kamu ingin menjelaskan jika melakukan itu denganmu bukanlah hal dilarang dan sangat dianjurkan? Apakah lebih baik kita bercinta di kamar mandi saja?"


"Bukankah kamu adalah istriku yang sah dan sudah sewajarnya kita bercinta?" Zafer merasa sangat geram sekaligus kesal karena Tsamara dari tadi memalingkan wajah.


Refleks Zafer semakin mendekat dan merangkum kedua pipi putih itu, agar menghadap ke depan. "Apa kamu ingin menghinaku saat tidak ingin melihat suamimu?"


Tsamara yang merasa sangat terkejut atas perbuatan Zafer, sehingga kini mengerjapkan mata begitu saling bertatapan saat berada pada jarak sangat dekat.


Bahkan Tsamara kembali menelan kasar saliva begitu mengetahui apa yang diinginkan oleh pria yang berada di hadapan tersebut.


'Apa yang sebenarnya diinginkan oleh tuan Zafer dariku? Apa ingin mempermainkanku dengan mengatakan bercinta? Apakah suamiku ingin menuntut hak dariku sekarang?' lirih Tsamara yang hanya bisa mengungkapkan keluh kesah di dalam hati.


Tsamara bahkan sekarang tidak tahu harus menanggapi seperti apa perkataan dari pria dengan iris tajam yang masih terus mengunci tatapan. Hingga hanya satu kata yang keluar dari bibir.

__ADS_1


"Maaf."


Zafer yang merasa sangat kesal saat kalimat panjang lebar hanya ditanggapi Tsamara dengan satu kalimat saja, sehingga memilih untuk melepaskan cengkeraman pada kedua sisi wajah wanita itu.


"Kamu memang sangat ahli dalam memancing emosiku! Asal kamu tahu, aku bukanlah pria yang suka memaksa seorang wanita untuk melayaniku. Jadi, tidak perlu berekspresi seperti itu karena itu sangat menghina harga diriku!"


"Aku sangat bosan mendengarmu selalu mengatakan maaf dan maaf!" Kemudian Zafer yang saat ini masih berdiri menjulang di hadapan wanita yang langsung menundukkan kepala, seolah tidak ingin melihat


Kemudian dengan sangat santai melepaskan pelindung terakhir di tubuh. Berharap wanita yang masih menundukkan pandangan tersebut mengangkat wajah, agar melihat senjata kebanggaan yang selama ini membuat para wanita mendesah nikmat.


Seolah ingin Tsamara juga merasakan dan tidak lagi menundukkan kepala saat melihat tubuh yang seksi ketika tidak memakai selembar benang pun di hadapan wanita tersebut.


Sementara itu, Tsamara yang tadi langsung menunduk menatap lantai karena tidak ingin melihat tubuh sixpack yang lebih seperti model pria, bisa melihat jika ada benda terjatuh di bawah kaki kuat dan panjang itu.


Tentu saja mengetahui itu apa dan degup jantung tidak beraturan karena saat ini berada di dalam kamar mandi bersama pria yang tak lain berstatus suami di atas kertas itu tengah telanjang.


'Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pria ini? Kenapa tiba-tiba sikap tuan Zafer berubah seperti seorang pria penggoda? Apa maksud bertelanjang di hadapanku? Jika beberapa hari lalu terlihat sangat santai bertelanjang dada di hadapanku, sekarang jauh lebih parah karena malah tidak memakai apapun.'


Tidak mungkin melakukan itu di hadapan pria yang seolah sangat betah berdiri di hadapannya. Padahal dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.


'Rasanya aku sudah tidak tahan. Tidak mungkin aku kencing tanpa mengangkat pakaian ke atas. Nanti basah dan kotor. Bagaimana aku bisa mengganti pakaian dengan telanjang di depan tuan Zafer?'


Sementara itu, Zafer masih belum berniat beranjak dari posisi karena ingin sekali wanita yang masih menundukkan kepala tersebut mengangkat pandangan. Hingga akhirnya muncul ide di kepala.


"Jika aku memintamu untuk melayani seorang suami, apa kamu mau melakukannya? Bukankah menolak suami itu berdosa? Kamu pasti tahu jika Rayya sedang hamil muda dan aku dilarang sering bercinta karena akan membahayakan janin yang ada dalam kandungannya."


"Jadi, aku sekarang ingin membuang cairan kenikmatan karena akan merasa sangat pusing jika menahan diri."

__ADS_1


Zafer memang membiarkan Tsamara tetap menundukkan wajah, meskipun merasa sangat konyol melihat pemandangan itu. Seolah saat ini sedang berhadapan dengan seorang wanita perawan yang belum pernah bercinta.


"Apakah melihat lantai jauh lebih menarik dari pada tubuhku?" Zafer kali ini ingin mendengar jawaban Tsamara saat ini.


Sosok wanita yang menjadi menantu perempuan idaman oleh orang tua dan selalu mendapatkan sebuah pujian. Jadi, merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan saat membahas mengenai masalah intim antara pasangan suami istri.


'Aku ingin melihat, apakah Tsamara yang selalu menyebut dosa atas perbuatan yang kulakukan dengan Rayya akan menjunjung tinggi nilai-nilai moral? Apakah kamu akan mau melayaniku atau memilih menolak?' gumam Zafer yang akhirnya mendengar suara Tsamara, meskipun masih terus menunduk menatap lantai.


Dengan pertimbangan matang, Tsamara saat ini menjawab sesuai dengan apa yang dirasakan dan berharap pria telanjang di hadapan segera pergi mandi, agar bisa mengeluarkan cairan menumpuk di kantong kemih yang seolah ingin segera terjun keluar.


"Aku memang istrimu dan seharusnya melayani suami yang sedang bergairah. Tentu saja itu merupakan tugas seorang istri dan akan berdosa jika sampai menolak. Namun, seorang istri berhak menolak jika sang suami tidak benar-benar ingin."


"Aku tahu jika Anda hanya ingin membalas dendam padaku, bukan karena benar-benar ingin bercinta. Aku tidak akan pernah menolak suami jika memang ingin melakukan tanpa ada unsur jahat. Jadi, jawabanku adalah tidak takut dosa saat menolak keinginan suami yang hanya ingin membalas dendam."


Seolah ada keberanian yang tiba-tiba muncul dalam diri, kini Tsamara mengangkat pandangan tanpa merasa malu saat melihat tubuh telanjang pria yang masih berdiri di hadapan.


"Dosa dan balas dendam seolah sangat berkaitan dan itu tidak bisa disatukan dengan kewajiban. Istri memang harus melaksanakan sebuah kewajiban pada suami, tapi juga memiliki hak dan semua itu dibutuhkan keseimbangan agar tidak berat sebelah!"


"Aku tahu jika Anda sangat jijik padaku, Tuan Zafer. Jadi, jangan berbohong pada diri sendiri dengan mengatakan ingin aku melayani Anda!"


Puas mengatakan apa yang seolah meledak di dalam hati dan melupakan sikap formal, kini Tsamara merasa lega. Ya, memang benar apa yang tadi diungkapkan oleh sang suami. Bahwa bukan seorang perawan bodoh yang tidak pernah melihat tubuh telanjang pria.


Apalagi ini adalah pernikahan ketiganya dan sudah biasa melihat tubuh telanjang pria. Hingga akhirnya memilih untuk mengangkat kepala dan tentu saja bisa melihat setiap sudut bagian tubuh Zafer, termasuk senjata yang saat ini sama sekali tidak menegang.


Dengan sangat santai ia mengarahkan jari telunjuk pada senjata milik Zafer. "Itu merupakan bukti jika Anda tengah berbohong. Bahwa sebenarnya sama sekali tidak sedang berhasrat saat ini."


"Jika benar bergairah, senjata itu akan menegang karena ingin segera masuk ke dalam belahan kenikmatan, bukan? Jika Anda saja sangat jijik padaku, mana mungkin bisa bergairah?"

__ADS_1


Kemudian Tsamara kini mengibaskan tangan karena sudah benar-benar tidak tahan. "Lebih baik Anda bermain solo saat mandi karena itu jauh lebih baik dari pada membahayakan kandungan Rayya."


To be continued...


__ADS_2