Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kecelakaan


__ADS_3

Dua minggu sudah Rayya berada di rumah sakit dan hanya ada pelayan yang menemaninya. Sementara sang ayah hanya kadang-kadang datang sebentar dan membuatnya merasa semakin membenci pria yang dianggap tidak pernah menyayanginya sebagai seorang anak.


Ia yang masih berusaha untuk menghubungi Raymond, tapi tetap tidak bisa dan membuatnya sadar bahwa pria yang telah berjanji untuk menikahinya itu berubah setelah mengetahui ia tidak bisa memberikan keturunan.


Rayya bahkan menyuruh sang ayah untuk mencari keberadaan dari Raymond. Namun, tetap tidak bisa mendapatkan kontak pria yang telah menghilang bagaikan ditelan bumi itu.


Hingga Rayya mendengar kabar bahwa pria itu telah kembali ke luar negeri dan meninggalkan Indonesia tanpa berpamitan padanya.


Rayya kini membaca pesan dari salah satu detektif yang dibayarnya. Bahwa setelah beberapa hari ia dioperasi, Raymond kembali ke negaranya.


Kini, Rayya mengepalkan tangannya dan tengah menahan amarah begitu mengetahui kabar buruk tersebut dan semakin membuatnya bertambah murka. Ia benar-benar tidak terima pada semua yang terjadi padanya.


'Tidak! Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku, Raymond. Di mana cintamu yang selalu kamu banggakan itu?'


'Aku yakin jika kamu masih mencintaiku dan tidak akan pernah meninggalkanku setelah melihatku. Aku akan melakukan apapun demi bisa menikah denganmu. Aku telah menyerahkan semuanya padamu. Kau pun harus melakukan hal yang sama.'


Rayya kini langsung memesan tiket pesawat untuk menyusul Raymond dan berencana untuk merayu pria itu lagi. Lusa, ia sudah diperbolehkan pulang dan memang akan berangkat pada hari itu juga.


Tanpa memperdulikan keadaannya yang baru pulih setelah melakukan operasi. Ia ingin mengatakan pada Raymond agar bertanggungjawab karena telah membuatnya keguguran dengan hanya menikahinya.


'Aku tidak mungkin mengalami keguguran jika kau tidak menggauliku hingga berkali-kali karena kata dokter aku kelelahan karena tenaga terlalu diforsir.'


'Jika kau ingin punya keturunan, aku akan menyewa perempuan untuk dititipkan benih Raymond. Masalah selesai dan kami tetap bisa hidup bersama dengan saling mencintai dan membesarkan anak yang dilahirkan wanita itu.'


Rayya sudah merancang semuanya agar bisa hidup bahagia dengan Raymond di luar negeri seperti rencana awal pria itu. Setelah memesan tiket pesawat, Rayya kini menaruh ponsel miliknya dan memejamkan kedua mata.


Tiba-tiba ia mengingat telah kehilangan kedua janin yang merupakan benih dari pria yang dulu sangat dicintainya. 'Apa aku perlu memberitahu Zafer mengenai dua anaknya yang dimakamkan di pemakaman keluargaku?'


Rayya perlahan menggelengkan kepala karena ia takut jika Zafer malah akan datang padanya dan mencekik lehernya karena menjadi penyebab kematian dua bayinya.


'Tidak! Aku takut jika Zafer mencekik leherku hingga kehabisan napas! Apalagi ia sudah tahu tentang perselingkuhanku dengan Raymond. Hingga berakhir kecelakaan. Pasti ia sangat membenciku semenjak saat itu.'


Rayya saat ini berpikir bahwa Zafer tidak akan pernah memaafkannya setelah berselingkuh. Meskipun ia kini ingin tahu apakah Zafer sudah keluar dari rumah sakit atau belum.


'Apa Zafer sudah keluar dari rumah sakit? Aku sama sekali tidak mendengar kabar apapun dari Zafer. Ia pun sama sekali tidak menghubungiku. Aku yakin jika ia sangat marah dan tidak ingin melihatku setelah mengetahui aku berselingkuh dengan Raymond.'


Rayya sengaja tidak mencari tahu karena merasa bahwa itu tidaklah penting baginya. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan hanyalah bertemu dengan Raymond dan menuntut sahabat kecilnya itu untuk memenuhi janji menikahinya.

__ADS_1


'Semoga Raymond mau menerimaku kembali dan menyetujui ideku untuk menitipkan benih di rahim wanita lain demi bisa mendapatkan keturunan,' gumam Rayya yang saat ini mencoba untuk berpikir positif bahwa pria yang dulu sangat mencintainya tidak akan keberatan.


***


Beberapa hari kemudian, Rayya sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Setelah tiba di rumah, ia langsung berkemas. Bahkan hari ini sang ayah juga sibuk dan tidak ada di rumah karena yang menjemput tadi adalah supir.


"Papa benar-benar sangat keterlaluan! Apa ia sama sekali tidak pernah mengkhawatirkan keadaanku? Apa di kepalanya hanya ada uang dan uang?" Rayya langsung membanting lampu tidur untuk melampiaskan amarahnya.


Bahkan ia tadi pulang dari rumah sakit hanya ditemani oleh pelayan dan supir membuatnya tidak lagi perduli lagi pada pria yang berstatus sebagai ayahnya tersebut.


"Persetan dengan papa! Aku tidak akan pernah perduli lagi!" sarkas Rayya yang kini mulai membuka koper dan memasukkan beberapa pakaian serta barang-barang yang dibutuhkan.


Setelah selesai mempersiapkan semuanya, kini Rayya menarik koper keluar dari kamar.


Namun, saat berada di dekat anak tangga, ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan saat mengambil dari dalam tas, melihat kontak salah satu mantan kekasihnya.


"Harry? Tumben." Langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telpon yang terdengar sangat panik.


"Halo."


"Rayya, ada di mana kau sekarang?" tanya Harry dengan suara yang dipenuhi oleh kegugupan saat mengemudikan mobilnya membelah kemacetan kota Jakarta.


Hingga ia seketika membulatkan mata dan langsung bergerak cepat menuruni anak tangga karena dipenuhi oleh ketakutan.


"Cepat pergi dan kabur dari rumah karena sepertinya polisi telah mencium bahwa kamulah dalang dibalik kecelakaan yang merenggut nyawa mertuamu. Aku saat ini dalam perjalanan menuju ke bandara karena tidak ingin membusuk di penjara."


Tanpa menanggapi, seketika Rayya berjalan cepat menuju ke arah mobilnya di garasi. Tanpa memperdulikan pelayan yang berteriak memanggilnya.


"Nona Rayya, Anda mau ke mana membawa koper?" tanya sang pelayan yang tadinya akan membawakan makanan serta minuman ke kamar majikan.


Namun, merasa sangat terkejut melihat majikan yang baru pulang dari rumah sakit itu sudah menarik koper. Ia takut akan mendapatkan kemurkaan dari majikan utama dan langsung bertanya pada sang nona muda itu.


"Bilang pada papa kalau aku ke puncak untuk liburan bersama teman." Rayya tidak mengatakan hal yang sebenarnya karena memang tidak ingin sampai ketahuan oleh polisi jika sampai datang ke rumah.


'Sial! Kenapa para polisi bisa tahu jika aku yang tengah merencanakan semua kecelakaan itu? Nasib baik saya sudah membeli tiket dan akan ke luar negeri sekarang.'


Rayya kini sudah menginjak pedal gas dan mengemudikan kendaraan menuju pintu gerbang utama. Bahkan saat ini degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal saat dipenuhi oleh ketakutan jika sampai gagal dari polisi.

__ADS_1


"Jika Zafer tahu akulah yang merencanakan kecelakaan orang tuanya, pasti akan langsung membunuhku karena saat itu mengatakan bahwa nyawa dibayar nyawa ketika berada di rumah sakit."


Bulu kuduk Rayya meremang seketika saat membayangkan jika Zafer datang dan membawa pisau untuk menusuk perutnya. "Tidak! Aku akan aman dan tidak akan pernah bertemu dengan Zafer atau membusuk di penjara seperti supir itu."


Rayya benar-benar sangat frustasi saat ini ketika ia memikirkan semua perbuatannya untuk menyingkirkan mertuanya diketahui oleh para polisi.


"Dasar supir berengsek yang tidak berguna! Pasti ia yang mengungkapkan semuanya pada para polisi. Bahkan aku sudah keluar uang untuk bajingan itu yang diberikan untuk keluarganya, tapi malah tidak tahu diri."


Rayya benar-benar sangat takut ketika membayangkan harus menghabiskan seumur hidup di penjara jika sampai lolos dari kemurkaan Zafer ketika ditangkap polisi, sehingga kini semakin menambah kecepatan laju kendaraan.


"Tidak ada yang tahu aku hari ini ke luar negeri karena sama sekali tidak memberitahu siapapun. Bahkan papa tidak tahu. Aku akan selamat dan para polisi tidak akan bisa menangkapku."


Rayya yang berusaha untuk berpikir positif, tetap tidak bisa menenangkan diri dan membuatnya tidak tenang. Karena ingin segera tiba di bandara, Rayya kembali menginjak pedal gas dan menambah kecepatan.


Kini, mobil yang dikendarainya sudah melaju dengan kencang dan berhasil mendahului beberapa kendaraan yang berada di depannya. Satu-satunya hal yang ingin dilakukan adalah ingin segera meninggalkan negaranya dan menyusul Raymond.


"Raymond, hanya kamu satu-satunya harapanku sekarang. Kau harus menolongku karena aku benar-benar sangat membutuhkanmu. Aku sekarang tidak punya siapa-siapa lagi karena tidak ada lagi yang perduli padaku."


Rayya yang masih fokus mengemudi, kini mendengar suara klakson dari mobil yang sudah ia dahului, tapi sama sekali tidak diperdulikan.


Hingga ia menyadari saat mendahului mobil berwarna hitam, ada kendaraan bermotor yang tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi untuk mendahului kendaraan berat. Refleks ia menginjak rem dan membuatnya terhempas ketika ditabrak dari belakang oleh kendaraan yang membuat mobilnya oleng ke kanan.


Rayya seketika membulatkan mata begitu mobilnya seketika menghantam kendaraan berat panjang dari arah berlawanan.


"Tidaaak!" teriak Rayya yang berusaha untuk menghindar, tapi sudah tidak sempat dan mobil yang dikemudikannya dihantam kendaraan bermuatan berat hingga merasakan tubuhnya seperti terbelah ketika merasakan sakit teramat luar biasa dan membuatnya memejamkan mata.


Hingga kilas balik kehidupannya mulai dari kecil hingga dewasa mulai berputar seperti kaset yang berputar dan merupakan kilas balik hidupnya.


"Mama, papa, aku pergi," lirih Rayya yang kini sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit dari tubuhnya yang kembali serasa dihantam sesuatu bertubi-tubi ketika mobilnya terbalik berkali-kali.


Hingga embusan napas terakhir mewakili akhir dari hidup seorang Rayya Eliza ketika malaikat pencabut nyawa datang mengambil nyawanya.


Sementara itu, suasana lalu lintas yang macet total karena kecelakaan beruntun yang melibatkan kendaraan berat mengangkut muatan serta beberapa kendaraan yang ringsek, tak lain adalah mobil berwarna merah yang sudah terbalik.


Bahkan ada tiga mobil lain yang juga terkena imbas karena menghindar san saking menabrak. Hanya saja hanya bagian depan serta ada di bagian belakang ringsek sedikit.


Beberapa kendaraan yang melintas ada yang turun dan melaporkan kejadian kecelakaan itu pada polisi. Berharap segera dilakukan evakuasi pada korban kecelakaan yang sudah dipastikan tidak selamat dengan body mobil hancur di bagian depan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2