
Tsamara benar-benar sangat marah melihat sikap tidak bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh seorang istri ketika sang suami yang merupakan ayah dari janin yang dikandung malah melarikan diri karena ingin bertemu dengan selingkuhannya.
Bahkan beberapa kali ia mengembuskan napas kasar ketika mengingat semua perbuatan pria yang sudah menghilang dibalik koridor rumah sakit.
Tsamara merasa sangat iba pada nasib Zafer dan juga nama baik keluarga Dirgantara jika sampai media mencium perselingkuhan istri kedua dari sang suami yang merupakan pemimpin perusahaan besar di kota.
'Ya Allah, kenapa semua jadi berantakan seperti ini semenjak papa dan mama meninggal? Mungkin jika aku tidak masuk dalam keluarga ini, seperti yang dikatakan oleh tuan Zafer, bahwa aku adalah seorang wanita pembawa sial.'
Saat sibuk menyalahkan diri sendiri meski hanya di dalam hati, Tsamara saat ini mendengar suara dari kepala pelayan yang sudah bekerja semenjak mertuanya baru menikah.
Ia menatap ke arah wanita paruh baya tersebut yang seolah sangat berharap padanya dan membuatnya sangat bersalah dan menyadari tidak akan pernah bisa meninggalkan pria yang berstatus sebagai suaminya.
"Sepertinya nyonya Rayya ingin menemui pria yang berselingkuh dengannya. Jadi, tanpa merasa malu, langsung pergi dan tidak menanggapi apa yang kita katakan."
"Malang sekali nasib tuan Zafer karena memilih seorang istri yang salah." Menatap ke arah majikan wanita yang menjadi harapan satu-satunya.
"Nyonya Tsamara, saya harap Anda tetap bersama tuan Zafer meski apapun yang terjadi. Nasib keluarga Dirgantara akan benar-benar hancur jika tidak ada Anda." Mengarahkan tatapan penuh permohonan pada sosok wanita yang hanya diam saja dari tadi.
"Jangan tinggalkan tuan dan tetaplah bertahan menjadi nyonya rumah di keluarga Dirgantara, agar tuan Adam dan nyonya Erina tidak menangis dari atas sana."
Tsamara yang awalnya menatap kepergian Rayya, kini beralih menatap pelayan yang seperti tengah menggantungkan hidup seorang Zafer padanya.
"Sekarang ini, aku hanya ingin fokus pada kesembuhan suamiku dulu. Mengenai yang lain, kita pikirkan nanti." Ia kemudian mengarahkan kursi roda ke dalam ruangan ICU dan ingin menunggu Zafer hingga melalui masa kritis.
__ADS_1
Sementara itu, para perawat yang baru saja selesai memasang berbagai macam alat pada pasien, kini berpamitan pada dua wanita yang baru saja masuk setelah menjelaskan mengenai perihal informasi yang berhubungan dengan pasien.
Tsamara yang sudah mengerti semuanya, kini menyuruh kepala pelayan mengajak putranya makan di kantin karena ingin menunggu sang suami yang terlihat tidak berdaya di atas ranjang perawatan dengan beragam alat penunjang kehidupan dan suara dari alat-alat itu benar-benar membuatnya dipenuhi oleh kekhawatiran.
Setelah hanya berada berdua dengan pria yang dianggap bernasib malang itu, Tsamara saat ini sudah bersimbah air mata. Bahkan berkali-kali mengusap air mata yang menganak sungai di wajah.
"Tuan Zafer, Anda harus melewati masa kritis ini dan segera sembuh untuk meneruskan perjuangan tuan Adam. Anda tidak boleh menyerah begitu saja dengan menyusul orang tua. Keluarga Dirgantara membutuhkan Anda."
Tsamara bahkan berbicara dengan suara serak dan berkali-kali menekan dada karena merasa sangat sesak seperti kesusahan bernapas.
"Aku tadi sudah memarahi istrimu agar sadar dari kesalahan. Meskipun ia tidak menanggapi, semoga segera menyadari bahwa perbuatan yang dilakukan telah membuat Anda menjadi korban."
Ruangan ICU yang dipenuhi oleh keheningan itu kini dihiasi oleh suara serak menyayat hati dari Tsamara. Bahkan saat ini Tsamara sudah menggenggam erat telapak tangan pria itu.
Tsamara saat ini sudah tidak kuasa menahan rasa sesak di dada dan kini menangis tersedu-sedu dengan menunduk dan menyembunyikan wajah di atas tangan dengan buku-buku kuat pria yang masih betah memejamkan mata tersebut.
Berharap pria yang saat ini tengah berada dalam masa kritis itu segera terbangun dan selamat dari maut.
Selama belum melewati masa kritis, Tsamara tidak akan bisa bernapas lega. Bahkan bulir air mata Tsamara sudah menghiasi ranjang karena berubah basah akibat bulir kesedihan yang tidak bisa ditahan.
Ia benar-benar tidak tega melihat wajah pucat sang suami dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuh. Bahkan kepala yang diperban sangat tebal itu membuatnya sangat iba pada pria yang dulu tidak pernah mencintainya.
Tsamara tidak berhenti berdoa untuk kesembuhan sang suami dengan tasbih di tangan yang selalu mengingatkannya akan kesalahan karena memberikan pada mertuanya di hari ulang tahun dan berakhir meninggal.
__ADS_1
Sementara itu di parkiran, Rayya yang kini sudah masuk ke dalam mobil, menanyakan tentang hal yang tadi dijelaskan oleh pelayan dan secara tidak langsung mempermalukannya.
"Sebenarnya apa maksudmu melakukan semua ini, Raymond? Apa kamu ingin menghancurkanku?" Rayya benar-benar merasa sangat kesal karena perbuatan ceroboh dari pria yang berada di balik kemudi tersebut bisa saja membuatnya tertangkap jika sampai polisi menyelidikinya.
Sementara itu, Raymond yang dari tadi masih menunggu di parkiran dengan sabar, masih bersikap tenang ketika mendapatkan kemurkaan Rayya. Hingga mengungkapkan apa yang dipikirkan agar wanita itu tidak lagi kembali murka padanya.
"Aku tadi marah pada pria itu setelah mengetahui bahwa bajingan itu menyakitimu. Aku hanya ingin menegaskan bahwa kamu tidak akan pernah menangisi pria itu karena perselingkuhan yang dilakukan."
"Jadi, ingin ia sadar bahwa kamu adalah wanita yang bisa mendapatkan kebahagiaan bersama pria lain dan akan lebih mencintaimu."
Rayya yang tadinya marah atas perbuatan Raymond, seketika terdiam dengan jawaban pria yang selalu saja membuatnya merasa terharu dan menjadi wanita yang kembali dipuja-puja.
Akhirnya ia menghambur memeluk Raymond dan mencari sebuah ketenangan dari pria yang dianggap bisa membahagiakannya.
"Raymond, terima kasih karena mencintaiku sebesar itu. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika kamu tidak ada. Aku akan selalu bersamamu. Apalagi saat ini Zafer kritis dan mungkin sebentar lagi akan menyusul orang tuanya."
Kemudian ia menjelaskan mengenai pemikiran jika itu terjadi, akan menguasai seluruh harta keluarga Dirgantara.
Sementara itu, berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Raymond karena tadi sudah memberikan minuman untuk menyingkirkan janin dalam rahim Rayya.
'Itu tidak akan terjadi karena kamu tidak akan bisa melahirkan keturunan Zafer ke dunia. Karena aku tidak sudi menerima mereka,' gumam Raymond yang tadi menyuruh orang untuk mengirimkan obat menggugurkan kandungan dan langsung memberikannya pada layar ketika berada di dalam hotel.
Ia memang sangat mencintaimu wanita yang merupakan sahabat kecilnya tersebut, tapi tidak ingin ada keturunan pria yang sangat dibenci, sehingga memilih untuk menyingkirkannya sebelum dilahirkan.
__ADS_1
To be continued...