
Saat ini Zafer masih mengarahkan tatapan tajam, sedangkan Tsamara saat ini tengah menahan rasa sakit, tetapi harus berpura-pura kuat di depan pria itu.
"Aku tidak mengatakan apapun pada mama. Kalau tidak percaya, telpon saja. Tolong pergilah dan cepat tidur karena besok kamu akan menikah. Jadi, tidak boleh kurang tidur, agar wajahmu bisa terlihat lebih fresh di hadapan semua orang dan mempelai pengantin."
"Apa kau sedang mengusirku? Ini adalah rumahku dan semua ruangan di kamar ini adalah milikku dan berhak aku datangi sesuka hati. Mau aku tidur atau terjaga sampai pagi, itu bukan urusanmu!" Zafer makin emosi karena melihat sikap tenang Tsamara di saat sedang diminta penjelasan.
Sementara itu, Tsamara saat ini menoleh ke arah Keanu yang sedikit bergerak dan menandakan bahwa tidak nyaman dengan suara dari mereka. "Putraku akan bangun jika kamu berteriak. Apa kamu tidak bisa berbicara pelan?"
Merasa khawatir jika Keanu kembali menangis dan pasti susah untuk ditidurkan lagi. Apalagi saat ini merasakan jika tubuh tidak fit, ingin beristirahat dan berharap besok sembuh saat bangun pagi.
Namun, jika pria yang terlihat selalu marah-marah padanya tersebut membangunkan Keanu dengan suara yang kencang saat murka, pasti akan sibuk untuk mencoba menenangkan Keanu dan tidak bisa beristirahat.
Meskipun ada pelayan yang bisa menjaga, tetapi Tsamara tidak ingin mengganggu waktu istirahat mereka di tengah malam seperti ini.
Apalagi saat pagi sampai malam harus mengerjakan pekerjaan rumah dan memang hanya bisa beristirahat ketika malam hari.
Saat ini Zafer seketika tertawa mendengar larangan Tsamara yang dianggap konyol. "Apa kamu bercanda? Mana ada orang marah dengan cara berbisik-bisik! Dasar bodoh!"
Meskipun saat ini Zafer menurunkan nada suara yang tadinya sangat keras, begitu melihat pergerakan balita di samping Tsamara, tetap saja tidak bisa meredam kekesalan saat ini.
Merasa percuma berbicara dengan orang yang emosi, akhirnya Tsamara memilih menyerah dan membiarkan Zafer berbicara sesuka hati sampai puas.
"Baiklah. Mau kamu menuduh semua hal yang tidak kulakukan, aku akan terima. Apa sekarang kamu puas?"
"Mana mungkin aku puas hanya dengan seperti itu saja."
__ADS_1
"Lalu apa maumu sekarang? Mencekikku lagi sampai mati?" sarkas Tsamara yang kini serasa kepala seperti mau meledak dan beberapa saat kemudian pandangan perlahan kabur dan berkunang-kunang.
Sampai beberapa saat kemudian, pandangan Tsamara perlahan gelap dan sudah kehilangan kesadaran.
Zafer yang dari tadi tidak mengalihkan tatapan dari Tsamara, mengerjap bingung begitu melihat wanita di atas ranjang tersebut tiba-tiba kehilangan kesadaran. "Tsamara? Jangan berpura-pura pingsan hanya karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan dariku!"
Kemudian Zafer kini berjalan mendekat karena sama sekali tidak mendapatkan respon, lalu mengarahkan tangan pada lengan di balik pakaian berwarna gelap itu.
Ya, selama ini selalu melihat jika pakaian Tsamara didominasi oleh warna gelap, seolah sama sekali tidak menyukai warna ceria. Jadi, berpikir jika hidup wanita itu sama persis dengan pilihan warna baju yang selama ini dipakai.
Kini, Zafer masih terus menggerakkan lengan Tsamara beberapa kali. "Tsamara. Apa kau pingsan?"
Refleks menepuk jidat karena pertanyaan yang diajukan sangat bodoh. "Kenapa aku bisa sebodoh ini? Mana ada orang pingsan yang tahu sedang kehilangan kesadaran diri?"
Kini, Tsamara semakin mendekati Tsamara dan membungkuk untuk melihat lebih jelas jika wajah Tsamara pucat dan di bagian dahi ada benjolan.
Beberapa saat Zafer diam dan tidak tahu harus apa. Bahkan mengingat perkataan Rayya untuk membiarkan wanita itu, agar saat mati, bisa tenang menjalin hubungan hanya dengan sang kekasih.
"Lebih baik aku biarkan saja. Lagipula, bukan aku yang menyebabkan wanita ini demam sendiri. Itu adalah kesalahan karena ceroboh dan jatuh dari kursi roda. Ya, lebih baik aku pergi sekarang!"
Merasa apa yang dikatakan oleh Rayya benar, Zafer memilih berbalik badan dan berpikir jika Tsamara nanti akan sadar dari pingsan tanpa pertolongan.
Saat Zafer sudah berada di luar ruangan kamar Tsamara dan hendak membuka kenop pintu ruangan pribadi, tidak jadi melakukan itu karena pikiran mengganggu dan tidak tega.
"Sial! Wanita itu benar-benar sangat menyusahkan!"
__ADS_1
Zafer tidak masuk ke dalam ruangan kamar, tapi memilih untuk pergi ke dapur. Kemudian mengambil baskom dan mengisi dengan air hangat karena mengetahui jika suhu tubuh tinggi lebih baik dikompres bukan menggunakan air dingin.
Hal yang selalu dilakukan sang ibu dulu saat masih kecil masih diingat Zafer sampai sekarang. Kasih sayang wanita yang telah melahirkan itu tidak terhingga. Tentu saja ia sangat menyayangi sang ibu.
Namun, karena ulah sang ayah yang selalu marah padanya, seolah ikut kesal pada wanita yang selalu memanjakan dan tidak pernah menolak keinginan semenjak dulu.
Terbiasa hidup dengan dipenuhi semua keinginan, Zafer berpikir jika memperkenalkan Rayya dulu pada orang tua akan mendapatkan persetujuan juga untuk niat menikahi sang kekasih.
Akan tetapi, semua itu tidak sesuai ekspektasi karena ternyata ditolak oleh sang ayah dan juga ibu dengan alasan tidak menyukai sikap arogan Rayya.
Alasan sepele yang berakhir membuat Zafer suka melawan orang tua dan suka menghabiskan waktu di tempat Rayya dari pada rumah sendiri.
Saat ini terlihat Zafer sudah membawa baskom berisi air hangat dan kain untuk mengompres Tsamara. Begitu masuk ke dalam ruangan kamar, melaksanakan tugas seperti seorang ayah merawat putrinya.
'Anggap saja ini kebaikan pertama dan terakhir karena aku tidak ingin membuat masalah yang membuat Rayya salah paham padaku. Nasib baik tadi ia menonaktifkan ponsel. Jadi, aku tidak khawatir akan menghubungi lagi.'
Zafer tidak berkedip menatap wajah pucat Tsamara dan setelah menaruh kain di dahi wanita dengan mata tertutup itu.
"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kamu dulu adalah seorang wanita liar yang berselingkuh di belakang suamimu. Sangat berbeda dengan penampilan tertutup sekarang. Apa kamu benar-benar sudah berubah menjadi orang baik? Atau hanya sedang berakting?"
Zafer masih tidak berkedip menatap pahatan wajah Tsamara yang saat ini bisa dilihat dengan jelas. Jika biasanya berhadapan dengan wanita itu penuh kebencian, tetapi hari ini tatapan melembut dan seperti ada rasa iba yang mulai tercipta.
Ia tidak tahu kenapa sekarang muncul rasa iba pada wanita dengan kelopak mata tertutup tersebut karena selama ini tidak pernah berinteraksi sedekat ini dengan Tsamara. Berbeda dengan hari ini, tidak bisa menutup mata untuk tidak menolong.
Refleks tangan Zafer terangkat dan bergerak untuk menyentuh wajah wanita dengan mata tertutup itu.
__ADS_1
To be continued...