Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Rencana Rayya


__ADS_3

Zafer merasa sangat aneh dengan ekspresi dari wajah pria yang berdiri di hadapannya. Seperti tidak tahu apapun tentangnya. Padahal sudah jelas jika pria bernama Rey Bagaskara tersebut sudah mengikuti Keanu.


Pastinya mengetahui di mana dan bagaimana status dari Keanu yang saat ini sudah memiliki ayah baru karena sang ibu telah menikah lagi. Meskipun hanya sebuah pernikahan palsu, tetapi tetap saja semu


semua orang berpikir bahwa mereka adalah pasangan suami istri.


Namun, mendapatkan pertanyaan yang seolah menganggap tidak pernah mengetahui dirinya, Zafer masih tidak membuka suara karena ingin lebih dalam mengorek informasi dari pria itu.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku tidak pernah menyangka jika kau adalah seorang pria yang munafik karena tidak mau mengakui apa yang ada di otakmu. Kau pasti sedang berencana jahat. Namun, berakting menjadi seorang pria yang baik."


"Bahkan kau membeli buah. Aku sangat yakin jika kau mengetahui bahwa saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Dasar munafik!" Zafer tidak ini terpancing emosi dan membuat babak belur pria di hadapan tersebut karena sangat muak.


Memilih untuk menyelidiki sendiri demi mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan oleh mantan suami Tsamara tersebut yang bersikap seolah tidak tahu apapun.


'Detektif, aku harus menghubungi pria itu. Siapa tahu ada informasi yang belum disampaikan ketika kuperintahkan untuk mengawasi Tsamara saat berada di tempat catering.'


Bersilat lidah adalah cara orang-orang munafik menutupi hal yang sebenarnya terjadi dan Zafer bukanlah anak kecil yang bisa ditipu semudah itu. Mungkin, bisa dibilang bahwa mereka sama-sama munafik karena sering melakukan itu.


Jadi, ketika melihat wajah yang seperti sangat meyakinkan ketika berakting, ia bisa menilai jika mantan suami Tsamara tengah menipu dengan cara bersikap seperti pria yang tidak tahu apapun.


Merasa akan ada konspirasi besar yang terjadi, Zafer berniat untuk memberitahu sang ayah mengenai hal ini. Berharap jika orang tuanya menambah keamanan demi menjaga Tsamara dan juga Keanu.


Saat Zafer hendak membuka pintu, merasakan ada tangan yang menepuk pundak.

__ADS_1


"Tunggu!" Rey berlari kecil untuk mengejar karena ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Bukankah Anda harus menyelesaikan apa yang kau katakan, Tuan!"


Refleks Zafer mengembuskan napas kasar dan mengempaskan tangan yang berada di pundak. "Jangan bersikap sok baik padaku seolah-olah kita saling mengenal. Aku buru-buru!"


Tanpa berniat untuk menanggapi Rey, kini Zafer langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan menuju ke arah salah satu tempat yang menyediakan berbagai macam jenis ponsel keluaran terbaru.


Zafer memang mengulur waktu ke rumah sakit karena ingin membeli ponsel yang akan digunakan menghubungi detektif. Berpikir jika tidak mungkin meminjam ponsel orang tuanya karena hanya akan ditanya macam-macam.


Jadi, lebih memilih untuk mempunyai ponsel sendiri dan bebas melakukan apapun. Meski tidak sepenuhnya setelah melihat sikap Rayya yang berlebihan. Apalagi mengenai masalah Tsamara masuk rumah sakit, tetapi tidak memberitahu meskipun mengetahui.


Setelah setengah jam berlalu, Zafer kini menjatuhkan pilihan pada ponsel keluaran terbaru dengan harga cukup fantastis. Bahkan dengan segala fitur canggihnya.


Begitu sudah bisa digunakan, ia pun menghubungi detektif dah langsung bertanya macam-macam mengenai Tsamara. Apakah ada seorang pria yang mencurigakan dan dipastikan jika itu adalah Rey Bagaskara.


Namun, seolah semua persepsi dan tebakannya salah karena sang detektif mengatakan bahwa tidak ada satupun hal yang mencurigakan ketika mengawasi sang istri.


"Apakah kau yakin bahwa informasimu ini benar? Bahwa tidak ada yang mengikuti ataupun menguntit istriku?"


"Sangat yakin karena melihat sendiri bahwa wanita itu seharian hanya di dalam rumah karena mengawasi para pekerja yang sibuk menyiapkan pesanan. Belum lagi, mengurus sang anak yang masih kecil. Jadi, itulah hari-hari yang dilalui nyonya Tsamara selama menjadi istri Anda," jawab sama detektif dari seberang telpon.


Zafer saat ini terdiam dan sibuk mengamati lalu lalang kendaraan di sekitar. "Baiklah. Kau selidiki hal lain yang bisa dijadikan informasi. Aku akan menambahkan satu tugas untukmu. Cari informasi mengenai Rey Bagaskara. Aku Ingin secepatnya mendapatkan kabar baik."


"Siap, Tuan."

__ADS_1


Tanpa menjawab lagi, Zafer sudah mematikan sambungan telepon dan menaruh konser yang baru saja dibeli tersebut ke atas dashboard mobil.


Kemudian kembali melajukan kendaraan menuju ke rumah sakit. Namun, baru beberapa menit melaju, suara dering telepon mengalihkan perhatian dan memeriksa Siapa yang menghubungi.


Seketika wajah masam saat ini terlihat sangat jelas begitu mengetahui bahwa yang menghubungi adalah Rayya.


Tidak ingin menjawab telpon dari wanita yang hanya menunjukkan sikap berlebihan ketika cemburu tersebut. Namun, tidak ingin dituduh yang macam-macam karena hanya ingin melihat keadaan wanita yang telah ditabraknya tersebut.


"Sepertinya Rayya setiap menit mengecek nomorku, apakah aktif atau tidak. Mungkin pesan aku sangat luar biasa, sehingga membuatnya jadi pencemburu seperti ini."


Akhirnya ia saat ini menjawab panggilan. yang baru saja diterima. "Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Jadi, kau tidak perlu berpikir macam-macam karena saat ini ada orang tuaku."


"Baiklah. Padahal aku tidak ingin mengatakan atau membahas tentang wanita itu karena hanya ingin fokus mengurusmu dan anak-anak kita yang akan hadir di dunia ini." Rayya tersenyum simpul dari seberang telpon karena berpikir bahwa apa yang terjadi adalah salahnya.


Jika tidak marah dan merasa cemburu semalam pada Zafer, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Jadi, ingin menjadi seorang istri yang baik. Berharap jika sang suami tidak merasa bosan atau marah dan berakhir kesal.


"Aku hanya ingin memastikan jika ada yang tidak kuketahui, jangan buat aku berpikir lebih keras."


Saat Zafer merasa sangat bingung dengan kalimat ambigu dari Rayya, memilih untuk mengiyakan. Meskipun sebenarnya tidak tahu harus berkomentar apa.


"Baiklah. Aku akan segera pulang nanti setelah melihat keadaan dari wanita itu. Istirahat dan sejenak lupakanlah tentang kepenatan hidup. Kini, kamu sudah menjadi istriku. Jadi, jangan selalu mencurigaiku."


"Maaf. Sekarang aku sadar jika selama ini sangat berlebihan. Itu tidak akan pernah terjadi lagi." Rayya berakting dengan sangat baik karena tidak ingin jika sang suami memilih untuk melampiaskan amarah dengan cara dekat dengan Tsamara.

__ADS_1


'Aku tidak akan pernah membiarkan wanita cacat itu merebutmu dariku. Jadi, aku harus selalu membuat suamiku merasa nyaman dan tidak risi. Jika sampai terjadi hal yang buruk, maka akan kehilangan Zafer nanti. Itu tidak boleh terjadi,' gumam Rayya yang saat ini tengah berpikir lebih baik dan tidak mengandalkan emosi.


To be continued...


__ADS_2