
"Kami hanya sedang membicarakan hal yang tidak penting, tuan Zafer. Jadi, tidak perlu dipikirkan." Tsamara tidak ingin masalah ini sampai di telinga pria yang selama ini sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.
Karena lebih sibuk dengan wanita lain yang baru saja dinikahi. Bahkan saat ini merasa jika pria di hadapannya tersebut sangat aneh karena berada di rumah sakit saat berstatus sebagai pengantin baru.
"Kenapa Anda berada di sini? Bukankah baru saja menikah dengan wanita yang sangat dicintai? Aku berharap tidak akan mendapatkan kemurkaan dari istri kedua Anda." Tsamara sengaja mengungkapkan kalimat pedas untuk menyindir pria yang terlihat membawa oleh-oleh di tangan.
Sementara itu, Zafer hanya bisa tersenyum masam begitu mendapatkan ejekan dari Tsamara dan merasa sangat menyesal karena telah berpikir ingin melihat wanita itu.
Tanpa menanggapi kalimat sindiran yang baru saja didengar, Zafer memilih untuk menaruh parcel buah yang tadi dibeli dan merasa kecewa karena ternyata pilihan Tsamara adalah tidak ingin menceritakan perihal pria yang tak lain adalah mantan suami wanita itu.
Jadi, memilih untuk mengungkapkan apa yang barusan terjadi di toko buah. Zafer menatap ke arah sang ayah dan mengungkapkan hal yang ingin dimanfaatkan untuk menampar Tsamara dengan kenyataan pahit.
Ia merasa sangat geram pada sikap dingin Tsamara yang dianggap tidak tahu membalas budi karena semalaman sudah dijaga ketika sedang demam tinggi.
"Pa, aku tadi bertemu seseorang ketika membeli buah ini."
Adam Dirgantara yang menatap sinis Zafer karena masih merasa kesal atas sikap putranya yang mempermalukan di depan banyak orang sebelum akad nikah beberapa saat lalu.
Tanpa berniat untuk membuka suara karena ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh putranya tersebut, Adam seolah masih betah dengan kebungkaman saat ini.
Melihat sama sekali tidak ada tanggapan dari sang ayah, Zafer merasa sangat kesal karena sikapnya tidak seperti ketika bersama dengan Tsamara.
'Sial! Papa bahkan cuek padaku dan lebih sayang pada wanita ini. Sebenarnya siapa di sini yang merupakan anak kandungnya? Akulah orangnya, tapi kenapa orang tuaku malah menganggap Tsamara seperti anak kandung sendiri dan tiba-tiba aku menjadi anak tiri,' lirihnya yang saat ini memilih untuk menoleh ke arah sang ibu.
"Mama pasti sangat terkejut mendengar hal ini." Sengaja Zafer mengulur waktu karena memang ingin membuat tiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut penasaran.
Sampai sudut bibirnya melengkung ke atas karena berhasil membuat sang ibu bertanya.
__ADS_1
"Cepat katakan padaku mengenai apa yang ingin kamu sampaikan, Zafer. Jangan membuat orang tua merasa penasaran seperti ini. Memangnya tadi bertemu dengan siapa di toko buah?" Erina sebenarnya merasa sangat senang melihat putranya datang menjenguk Tsamara dan membawa oleh-oleh.
Namun, saat selalu melihat sikap arogan dari putranya, berhasil membuat rasa kesal dan ingin sekali menjawab daun telinga putranya tersebut. Akan tetapi, rasa penasaran yang mengusik karena perkataan dari Zafer, seolah membuat Erina tidak melancarkan hukuman.
Ada sesuatu hal yang saat ini dipikirkan dan ingin memastikan apakah apa yang disampaikan oleh putranya sesuai dengan tebakan.
Zafer yang baru saja terkekeh geli melihat sikap sang ibu yang selalu menanggapi apapun dengan tidak sabar dan kesal, kini memilih untuk mengungkapkan apa yang tadi ditemui.
"Saat tadi berada di toko buah, mendengar pegawai menyebut nama seseorang yang tidak asing. Awalnya, aku ingin kembali ke mobil, tapi begitu mengingat bahwa nama itu pernah kudengar, akhirnya memilih untuk bertanya sendiri."
"Siapa namanya?" Kini giliran Adam Dirgantara yang diliputi rasa ingin tahu dengan apa yang baru saja diceritakan oleh putranya.
Sebagai seorang ayah, Adam sangat tahu seperti apa putranya yang tidak akan pernah menceritakan hal tidak penting. Jadi, berpikir bahwa ada sesuatu yang mencurigakan dan sangat ingin segera diketahui.
Zafer yang melirik sekilas ke arah Tsamara, kini beralih menatap pada sang ayah. "Ternyata Papa pun merasa penasaran rupanya. Baiklah, aku akan menceritakan apa yang terjadi sebelum datang ke sini."
"Aku mendengar nama tidak asli disebutkan oleh pegawai toko buah. Nama itu adalah Rey Bagaskara!" Zafer saat ini memilih untuk melihat ekspresi wajah tiga orang yang sama-sama terkejut dan hanya ditanggapi dengan tersenyum smirk.
"Jadi, aku tidak jadi masuk ke dalam mobil karena mengingat-ingat nama itu. Begitu mengetahui siapa pria itu, langsung bertanya. Apakah dia sengaja mengikutiku sampai ke toko buah? Namun, ternyata sangat pandai berakting karena tidak mengaku dan bersikap seperti orang bodoh."
Kemudian Zafer saat ini menoleh ke arah wanita yang berada di samping kiri tersebut. "Apakah pria yang merupakan mantan suamimu itu adalah orang yang playing victim?"
"Kamu dulu pernah bersama dan pasti mengetahui seperti apa pria itu, bukan? Apakah mantan suamimu itu sangat pandai berakting?"
Zafer saat ini merasa sangat puas karena berhasil membalas kalimat sindiran dari Tsamara dengan tamparan yang cukup kuat.
Masih menunggu jawaban dari wanita yang seperti berubah menjadi bisu karena tidak kunjung membuka suara. "Aku susah payah mengingat dan menemukan fakta baru."
__ADS_1
"Jadi, sepertinya kamu harus menjelaskan Seperti apa pria itu." Kemudian beralih menatap ke arah sang ayah. "Menurut Papa, kira-kira pria itu mengikutiku atau kebetulan bertemu di toko buah?"
Setelah mengetahui bahwa Keanu dibelikan banyak makanan oleh Rey, kejadian kedua semakin mencurigakan dan Zafer ingin mengetahui seperti apa tanggapan dari sang ayah.
Adam dan Erina seketika bersitatap karena memikirkan sesuatu yang sama. Kemudian beralih ingin mengetahui pendapat dari Tsamara saat ini.
"Kalau menurutmu bagaimana, Sayang?" Erina memilih untuk mengurai suasana penuh ketegangan yang terjadi di ruangan terbaik tersebut.
Sementara itu, Tsamara yang dari tadi tengah memikirkan apa yang baru saja disampaikan oleh Zafer mengenai pria yang dulu merupakan suami, bisa menebak dengan pasti tanpa berpikir panjang.
"Dia sangat pandai berakting dan menurutku melebihi artis terkenal karena sangat pandai mengalihkan perasaan seseorang akan mau mempercayai semua yang dikatakan."
"Aku sangat yakin bahwa pria itu memang mencari informasi dari keluarga Dirgantara karena berhubungan denganku. Mulai dari Keanu dan sekarang tuan Zafer, tidak mungkin hanyalah sebuah kebutuhan semata karena terjadi dalam waktu yang sama."
Adam memang sependapat dengan apa yang dipikirkan oleh Tsamara saat ini. Jadi, memilih untuk segera melaksanakan rencana yang telah disusun.
"Baiklah. Sekarang aku tahu yang harus dilakukan pada pria itu agar tidak mengganggu ketenangan keluarga kita."
"Memangnya apa yang dilakukan oleh pria itu pada keluarga kita, Pa?" Zafer berpura-pura tidak mengetahui apapun, tetapi mendapatkan kalimat sini dari sang ibu.
"Apakah kamu pun sedang berusaha menjadi seperti pria itu yang pandai playing victim? Jangan suka mengejek atau membenci orang lain karena yang terjadi adalah bisa terperosok ke dalam labirin yang kamu ciptakan sendiri! Apakah kamu ingin Mama menjewermu lagi seperti tadi?"
Erina yang merasa geram melihat sikap putranya karena berakting menjadi pria bodoh, segera mengangkat tangan untuk memberikan pelajaran, tetapi seketika langsung ditahan oleh putranya tersebut.
"Astaga! Hentikan, Ma! Aku bukan anak kecil lagi yang selalu dijewer ketika melakukan sesuatu yang dianggap tidak benar oleh para orang tua."
"Padahal kebanyakan anak kecil itu sedang mengeksplor diri dengan cara melakukan apapun yang diinginkan, tapi orang tua memilih untuk tidak ingin melihat hal yang dianggap tidak sesuai dengan pikiran."
__ADS_1
"Apakah kamu sedang menggurui kami? Bahkan kamu bukan anak kecil lagi karena sebentar lagi akan memiliki dua anak. Perkataanmu benar-benar sangat konyol sekali." Erina masih belum bisa melepaskan kuasa dari sang anak yang menahan tangan saat ini.
To be continued...