
"Maksudku ibarat kata, Ma Bukan aku berpikir adalah seorang anak kecil. Astaga! Sepertinya Mama terlalu sibuk dengan menantu ini, sehingga kasih sayang pada anak sendiri berkurang." Zafer beralih menatap ke arah sosok wanita yang masih betah dengan mulut terkunci rapat.
"Hei, kau wanita. Jangan mencoba untuk merebut orang tuaku dengan cara sakit seperti ini. Cepat sembuh dan jangan menyusahkan banyak orang. Kemarin aku, sekarang pelayan dan orang tuaku. Sepertinya, sekarang hobimu adalah sakit, agar bisa diperhatikan oleh orang lain."
Sudah terbiasa dengan kalimat pedas yang diucapkan oleh pria itu, Tsamara sama sekali tidak merasa tersinggung ataupun marah. Apalagi saat ini tengah berpikir mengenai mantan suami yang mulai hadir kembali dalam kehidupannya yang sudah sangat tenang.
Sampai lamunannya seketika musnah begitu mendengar suara bariton dari mertua yang mengungkit masalah semalam.
"Tsamara!" Adam Dirgantara mendadak memiliki sebuah ide di kepala dan langsung memanggil menantu yang sangat disayangi tersebut.
"Iya, Pa." Tsamara merasa ada yang ingin disampaikan oleh pria paruh baya tersebut, jadi langsung beralih menatap ke arah mertua setelah tadi melihat Zafer mengejek.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Adam memasukkan tangan pada saku celana dan mengeluarkan benda pipih tersebut.
Erina yang mengerti apa yang akan dilakukan oleh sang suami, kini hanya tersenyum. Bahkan sudah membayangkan seperti apa wajah Zafer dan Tsamara begitu melihat video yang semalam dikirimkan oleh dokter keluarga.
'Suamiku memang sangat pintar dalam menguraikan suasana yang diliputi oleh ketegangan ketika Zafer membuat masalah. Kira-kira, seperti apa ekspresi mereka setelah melihat video itu? Aku benar-benar merasa sangat penasaran,' gumam Erina yang saat ini memilih untuk dia mengamati apa yang dilakukan oleh sang suami.
Sementara itu, Zafer masih berdiri di dekat sang ibu dan menebak-nebak apa yang sedang ditunjukkan oleh ayahnya pada Tsamara.
'Memangnya apa yang saat ini dilihat oleh wanita itu? Aku jadi penasaran. Kenapa papa tidak menunjukkan padaku terlebih dahulu?' Zafer masih mengamati ekspresi wajah wanita yang terbaring lemah di atas ranjang perawatan tersebut.
'Kenapa wajah Tsamara tiba-tiba berubah pucat seperti itu? Apa yang dilihat dari ponsel papa?'
__ADS_1
Rasa penasaran yang mengusik saat ini, seolah menjadi sebuah hal yang menyiksa diri dan ingin sekali segera mendekati pria paruh baya yang merupakan ayahnya tersebut, agar menunjukkan apa yang saat ini tengah dilihat oleh Tsamara sampai berubah pucat seperti itu.
Tsamara beberapa kali mengerjapkan mata begitu melihat video yang seolah membuatnya merasa sangat malu pada mertua. Bahkan beberapa saat kemudian wajahnya berubah pucat karena tidak ingin memandang pria yang berdiri menjulang di hadapan tersebut.
Merasa sangat terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat saat ini. 'Jadi, semalaman tuan Zafer tidur dengan memelukku seperti itu tanpa aku mengetahuinya karena demam tinggi?'
'Apa yang sebenarnya dilakukan oleh tuan Zafer? Kenapa memelukku seperti itu? Aku pikir hanya pagi tadi saja karena tuan Zafer sedang tidak sadar saat mengantuk. Ternyata hal itu terjadi dari semalam dan aku sama sekali tidak menyadari. Dasar bodoh! Aku seperti bermimpi tengah dipeluk erat oleh ayahku.'
'Ternyata tuan Zafer yang semalaman memeluk erat. Jadi, benar apa yang dikatakan tadi pagi, bahwa aku menggigil kedinginan dan akhirnya membuat pria ini berinisiatif untuk memelukku agar lebih hangat.'
'Bahkan itu terjadi saat malam sebelum mereka menikah. Bukankah ini sangat konyol?' gumam Tsamara yang tidak bisa berkomentar apapun ketika ditanya oleh mertua.
"Apa pendapatmu setelah melihat ini?" Adam kemudian berniat untuk memasukkan ponsel ke dalam saku celananya kembali.
"Berikan padaku, Pa!" Zafer yang merasa penasaran dari tadi, langsung berjalan mendekati sang ayah.
Zafer merebut ponsel yang hampir saja masuk ke dalam saku celana dan bersemayam di sana. Kemudian mencari sesuatu yang dicurigai di dalam ponsel tersebut.
"Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini." Zafer masih tidak menyerah untuk mencari sesuatu yang tadi ditunjukkan oleh sang ayah pada Tsamara.
Sementara itu, Adam Dirgantara saat ini beralih menatap ke arah sang istri yang sedang menahan diri untuk tidak tertawa. Seolah tatapan mereka mengartikan ingin sekali menggoda Zafer dan juga Tsamara.
Namun, tidak mungkin melakukan itu karena mengetahui bahwa sang menantu adalah seorang wanita yang pendiam dan pastinya akan merasa sangat malu jika digoda.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Zafer yang baru saja menekan tombol play pada video paling baru di ponsel sang ayah, seketika mengerjapkan mata melihat apa yang dilakukan semalam ketika ingin menenangkan Tsamara yang menggigil kedinginan.
"Wah! Siapa yang mengambil video ini tanpa sepengetahuanku?" Zafer berbicara sambil terbahak dan beralih menatap ke arah pelayan wanita yang berada di sofa tengah memangku Keanu.
"Pasti wanita itu! Berani-beraninya!" sarkas Zafer yang merasa seperti tidak mempunyai muka di depan sang ayah karena perbuatan dari pelayan yang ingin sekali diomeli.
"Dasar bodoh! Mana mungkin Sumi berani melakukannya." Erina kini menyahut karena dari tadi sudah menahan diri untuk tidak berkomentar.
Zafer menyipitkan mata dan menatap ke arah sang ibu, lalu bergantian pada pria paruh baya yang memiliki video tersebut. "Jika bukan, lalu siapa? Di rumah hanya ada mereka dan tidak mungkin Tsamara yang melakukan itu."
Adam Dirgantara kini menepuk bahu kokoh nan lebar putranya. "Kamu bahkan tidak tahu saat ada orang yang masuk ke dalam kamar kalian."
Tsamara dan Zafer seolah sama-sama berpikir mengenai siapa yang mengambil video kebersamaan di tempat tidur. Tidak Mungkin orang biasa seperti pelayan yang berani melakukan itu. Hal itulah yang saat ini sama-sama mereka pikirkan.
Saat sama sekali tidak menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, keduanya seketika saling bersikap begitu sang ayah mengungkapkan kebenaran.
"Dasar bodoh! Tentu saja yang berani melakukan hal ini hanyalah dokter yang kemarin memeriksa Tsamara. Bahkan jika dokter itu bukan sahabat baikku, mana mungkin berani melakukan hal itu."
Sementara itu, Sumi yang dari tadi hanya diam mengamati dan mendengarkan interaksi tersebut, sempat merasa ketakutan karena mendapat tatapan penuh kemurkaan dari sang majikan.
Namun, begitu mengetahui bahwa ketakutannya tidak beralasan karena langsung tertolong dengan penjelasan sang tuan besar, Sumi akhirnya bisa bernapas lega.
'Akhirnya aku dan suami tidak dipecat oleh tuan Zafer,' gumam Sumi yang saat ini bisa bernapas lega karena tidak jadi kehilangan pekerjaan.
__ADS_1
To be continued...