
Tsamara yang masih terdiam dengan bersandar di punggung ranjang, kini seperti sedang melihat siaran langsung dari perdebatan antara pasangan suami istri yang merebut benar dan tidak ingin mengakui kesalahan.
'Apa mereka akan terus seperti itu sepanjang perjalanan membina rumah tangga? Sama-sama seperti anak anak kecil yang tidak mau mengalah,' gumam Tsamara yang saat ini merasa sangat lapar dan ingin sekali cepat menikmati sop buntut yang tadi diantarkan oleh ibu mertua dengan masih mengumpulkan asap.
Namun, sekarang berpikir bahwa sup buntut tersebut mungkin sudah dingin dan pastinya tidak akan senikmat ketika masih panas. 'Aku ingin segera menikmatinya, tetapi tidak bisa mengambil sendiri karena tanganku saat ini tidak sampai.'
Tsamara beberapa saat yang lalu mencoba untuk mengulurkan tangan mengambil nampan berisi makanan untuknya, tetapi seolah ibu mertua sengaja menjauhkan agar tidak bisa diambil.
'Mama pasti berpikir bahwa aku akan mengambil dan makan sendiri. Jadi menyuruh tuan Zafer untuk mematuhi perintah papa.'
Saat masih sibuk berputar sendiri dengan pikiran, Tsamara menatap heran pada Rayya yang tiba-tiba pergi keluar dari ruangan tanpa mengucapkan apapun. 'Sepertinya Rayya sangat hobi merajuk.'
Zafer yang ingin mengatakan sesuatu pada Rayya mengenai jawaban wanita itu, merasa kesal saat ditinggal pergi.
"Rayya, tunggu!"Zafer bahkan berteriak untuk menghentikan langkah kaki Rayya saat ini. Namun, meskipun berteriak, tidak membuat wanita itu berhenti.
Zafer sama sekali tidak mengejar karena juga memikirkan perintah dari sang ayah untuk menyuapi Tsamara yang memang sedang sakit dan belum makan dari tadi.
Saat berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang yang mewakili rasa kesal saat ini, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan kamar dan tanpa berbicara apa-apa pada Tsamara, mengambil nampan berisi makanan.
Tidak membuang waktu, Zafer sudah mengambil sendok dan setelah mengisi dengan nasi dan sup, mengarahkan ke mulut wanita yang dari tadi sama sekali tidak membuka mulut untuk berbicara.
Namun, begitu mengarahkan satu sendok makanan, Tsamara langsung membuka mulut dan menikmati makanan dengan mengunyah perlahan. Seolah ingin merasakan sensasi kelezatan dari makanan berkuah tersebut yang sudah hangat.
Jika biasanya pasangan suami istri terlihat sangat romantis jika menyuapi, tetapi hal yang terjadi di antara mereka berdua sangatlah berbeda dan seperti tidak nyaman satu sama lain.
__ADS_1
Entah apa yang dipikirkan oleh keduanya ketika berinteraksi secara dekat seperti itu. Zafer sengaja tidak mengeluarkan suara karena sedang fokus menyuapi, agar wanita itu menghabiskan makanan dan minum obat.
Berharap besok pagi segera sembuh dan tidak sakit lagi.
Sementara Tsamara dari tadi tidak berani membuka mulut untuk berkomentar mengenai rumah tangga Zafer. Khawatir hanya akan menambah masalah dan tidak ingin menambah beban pikiran yang sudah cukup berat.
'Biarkan mereka menyelesaikan seperti apapun, aku tidak berhak ikut campur,' gumam Tsamara yang masih mengunyah makanan dan seketika tersedak begitu mendengar perkataan Zafer saat baru saja membuka suara.
"Apakah kamu merasa lega saat aku tidak bisa tidur di sini karena Rayya? Jadi, tidak bisa menunjukkan kekuatanku di atas ranjang." Zafer sangat tidak suka dengan keheningan di antara mereka.
Jadi, memilih untuk berbicara vulgar agar Tsamara bersuara, sehingga tidak ada aura ketegangan yang melanda di ruangan kamar.
Begitu melihat Tsamara tersedak, buru-buru Zafer langsung mengambil air minum dan memberikan pada Tsamara. "Kenapa? Apa kamu sekarang gugup hanya dengan perkataanku? Tingkahmu seperti seorang perawan yang belum pernah bercinta saja."
Hingga bisa melihat jelas setiap pahatan dari wajah pria yang dianggap tak lebih dari pria plin-plan yang lemah karena tidak mempunyai pendirian dan berpikir bisa mendapatkan apapun yang diinginkan.
"Aku bukan gugup karena kamu mengatakan itu. Hanya saja, merasa terkejut dengan perubahanmu begitu Rayya tidak ada. Padahal aku akan sangat salut padamu jika berbicara seperti itu di depan Rayya."
"Bahkan mungkin akan dengan senang hati melayanimu karena sangat bangga ketika melihat seorang suami yang sama sekali tidak takut pada istri."
Tsamara saat ini merasa puas karena berhasil menampar secara tidak langsung pria dengan wajah berubah pucat tersebut dan menjelaskan apa yang dikatakan benar.
Bahwa Zafer hanya berani berlagak di depannya saat tidak ada Rayya 'Sebutan apa lagi yang cocok kalau bukan pengecut,' gumam Tsamara yang saat ini masih terlihat sangat santai ketika Zafer tidak langsung menjawab dan membuktikan hanyalah seorang pria lemah.
Zafer sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan ejekan dari Tsamara dan juga membahas mengenai kalimat terakhir dan seolah membuat emosi memuncak.
__ADS_1
"Jadi, kamu ingin mengatakan bahwa aku hanyalah seorang suami takut istri? Sepertinya aku harus meluruskan tuduhanmu yang tidak benar itu. Kamu akan menyesal pernah mengatakan itu padaku!"
"Seharusnya kamu tahu bahwa aku sama sekali tidak takut pada seorang istri." Zafer sangat percaya diri ketika membantah Tsamara.
"Karena sejatinya, istrilah yang harus takut pada suami. Ada begitu banyak hal yang perlu kupertimbangkan dan hanya papa yang membuatku merasa takut, bukan Rayya." Zafer mengakhiri bantahan dengan mengarahkan tatapan tajam.
"Cepat habiskan makanannya! Aku sudah sangat bosan melihatmu." Zafer masih terus menyuapi Tsamara dan sejujurnya merasa sangat kesal atas ejekan dari Tsamara, tetapi karena wanita itu sedang sakit, jadi hanya membalas seadanya.
Tsamara saat ini ingin sekali menyadarkan pria itu dengan sebutan bodoh karena sebenarnya seorang pria sejati adalah suami yang sangat mencintai istri dan tidak ingin menyakiti hati wanita yang akan menjadi ibu dari keturunannya.
'Kenapa ada pria sebodoh ini yang sama sekali tidak mengerti arti cinta sebenarnya. Jika benar mencintai Rayya, tidak akan pernah menyakiti hati seorang wanita dan selalu setia. Namun, yang terjadi malah sengaja ingin mencari kesempatan dariku.'
Tsamara yang awalnya menikmati makanan, seketika musnah selera makanku karena Zafer yang memulai obrolan tidak penting dan menyebalkan.
"Aku sudah kenyang." Tsamara kemudian berniat untuk mengambil obat.
Refleks Zafer langsung membantu mengambilkan. "Apa kamu tidak bisa punya mulut untuk meminta tolong? Bahkan ini masih banyak? Kenapa tidak dihabiskan?"
"Bukankah aku sudah bilang kenyang? Seperti inilah orang sakit, selalu tidak nafsu makan karena tenggorokan terasa pahit. Aku masih bisa mengambil obatnya. Karena itulah tidak meminta bantuan." Tsamara kini menerima obat dan meminumnya.
Namun, kembali tersedak saat lagi-lagi Zafer berbicara hal yang sangat mengejutkan.
"Aku jadi ingat saat meminumkan obat dari bibirku ke bibirmu ketika kamu pingsan." Saat melihat obat Tsamara, langsung mengingat saat merawat dulu dan berbicara dengan tersenyum smirk.
To be continued...
__ADS_1