Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Emosi Zafer


__ADS_3

Tsamara bisa melihat tatapan penuh kebencian dari sosok pria yang masih berdiri menjulang di hadapan tersebut. Bahkan menyadari meskipun mencoba untuk membela diri, tetap saja akan mendapatkan kemurkaan sekaligus penghinaan dari Zafer.


Padahal baru beberapa saat yang lalu memutuskan untuk tetap bersama sang suami baru apapun yang terjadi demi memenuhi pesan terakhir dari ibu mertua, tetapi setelah mendapatkan kemurkaan dari Zafer, membuat Tsamara merasa ragu apakah bisa bertahan.


Seharusnya ia bisa langsung pergi dan terbebas karena tidak merasa bersalah pada mertua, tetapi meskipun mereka sudah tidak ada di dunia, kenyataannya masih tetap tidak bisa pergi.


Bahkan ia merasa sangat bingung apa yang harus dilakukan jika Zafer sangat membencinya. Bahkan jauh lebih besar dari pertama kali ia datang ke rumah keluarga Dirgantara.


Seolah ia adalah sampah yang harus disingkirkan dari pandangan mata seorang Zafer Dirgantara, tapi tidak bisa pergi setelah berjanji tadi.


"Maafkan aku jika membuat papa dan mama meninggal." Akhirnya Tsamara memilih untuk menyerah dan tidak lagi berdebat untuk mencari pembenaran diri.


Ia ingin Zafer berubah menjadi seorang pria yang bisa dibanggakan oleh orang tua, tetapi perjuangannya bahkan belum dimulai, sudah mendapatkan penolakan sebesar ini.


Bahkan merasakan nyeri pada bagian wajah saat dilempar tasbih oleh sang suami dengan sangat kuat. Nasib baik tadi ia menyuruh putranya duduk di sebelah Rayya dan memberinya ponsel agar sibuk melihat film kartun.


Sebenarnya tadi ia mengajak masuk putranya ke dalam ruang jenazah, tapi karena tadi bisa melihat kemurkaan pria itu, akhirnya menyuruh putranya keluar.


Mungkin jika putranya melihat kekerasan yang dilakukan oleh Zafer, akan mengalami trauma berkepanjangan.


Apalagi merasakan cekikan di leher saat beberapa detik Zafer melakukannya, tetapi seperti menyadari bahwa itu salah, sehingga langsung melepaskan dan kembali meluapkan amarah.


Zafer masih merasa jantungnya hampir meledak karena dikuasai oleh perasaan membuncah saat dihadapkan pada kenyataan pahit ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.


Ingin sekali meyakinkan pada diri sendiri bahwa itu hanyalah mimpi buruk, tapi tidak bisa memungkiri bahwa semua itu adalah kenyataan yang harus diterima dan memilih melampiaskan pada sosok wanita di hadapan.


Bahkan tidak mau menerima jika semua adalah takdir dari Tuhan, bahwa usia orang tuanya hanya sampai segitu.


Tetap saja tidak mudah baginya untuk membuatnya menerima dengan lapang dada. Zafer benar-benar terpukul dan belum siap harus kehilangan orang tua karena selama ini selalu membereskan masalah yang selalu dibuat olehnya.


Zafer merasa takut tidak bisa hidup sendiri tanpa orang tua. Meski usianya sudah tidak lagi muda, tetap saja masih membutuhkan mereka.

__ADS_1


Meskipun sang ayah sering memarahi dan memukul, tapi diakui Zafer bahwa semua perbuatan itu demi kebaikannya.


Bahkan menyadari bahwa tidak akan lagi bisa merasakan kemarahan sang ibu yang selalu menjewer telinganya. Zafer saat ini sudah duduk di lantai dingin sambil meratapi nasib orang tuanya.


"Kenapa kalian pergi secepat ini? Jika tahu akan mengalami kecelakaan, tidak mungkin mengizinkan pergi ke Villa." Zafer terlihat sangat mengenaskan saat berakhir di lantai dengan menatap secara bergantian pada mayat kedua orang tuanya yang ada di hadapan.


Zafer sebenarnya ingin Tsamara tidak membenarkan tuduhannya dan melawan, sehingga bisa terus berdebat dan berteriak demi meluapkan perasaan yang membuncah.


Namun, melihat wanita di kursi roda tersebut hanya pasrah dan sama sekali tidak membantah, sehingga membuat Zafer sudah tidak kuasa untuk melakukan apapun.


Sementara itu, Tsamara yang beberapa saat lalu merasakan nyeri luar biasa pada leher dan berpikir jika Zafer benar-benar akan mengakhiri nyawanya dengan mencekik, ternyata tidak berlangsung lama dan membuatnya bisa terbebas dari kematian.


Padahal Tsamara awalnya berpikir akan ikut menyusul mertua dan orang tuanya atas perbuatan Zafer, tapi begitu sang suami melepaskan kuasa dan jatuh di lantai seperti kehilangan tenaga, tidak tega.


Tsamara menunggu beberapa saat agar perasaan pria di bawahnya tersebut lebih tenang, baru mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


Tadi Tsamara sudah menghubungi kepala pelayan di rumah keluarga Dirgantara dan mengurus semua yang dibutuhkan untuk acara pemakaman.


Jika mengandalkan Rayya, mungkin akan sesuka hati dan hanya akan dimakamkan tanpa ritual keagamaan. Tsamara ingin memberikan semua yang terbaik untuk mertua agar tenang berada di surga setelah dimakamkan dan didoakan oleh banyak orang.


Sebelum membuka suara, Tsamara menelan saliva dengan kasar dan menenangkan diri. Kemudian mengungkapkan semuanya.


"Tuan Zafer, aku tahu bahwa saat ini pasti sangat terpukul dengan kematian papa dan mama."


"Namun, kita tidak boleh menunda untuk memakamkan mereka. Kasihan papa dan mama jika terlalu lama menunggu. Semua manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah juga."


"Kita pun merasakan hal yang sama dan tinggal menunggu masanya. Seperti pesan dari mama yang selalu diucapkan padaku. Sebelum meninggal, ingin melihat putranya menjadi seorang pria bertanggung jawab dan membanggakan orang tua."


"Jika orang tua sudah meninggal, anak berkewajiban untuk mendoakan agar bahagia di surga." Tsamara tidak ingin panjang lebar berbicara dan dianggap seperti sok memberikan petuah bijak.


Padahal diri sendiri bukanlah seorang wanita yang baik, jadi sadar jika tidak pantas untuk menasihati panjang lebar. Ia hanya berniat untuk menyampaikan pesan dari orang tua Zafer dan berharap pria itu mau berubah.

__ADS_1


Meskipun menyadari bahwa tidaklah mudah untuk merubah seseorang langsung menjadi baik, tetapi ia berjanji tidak akan menyerah dan akan memenuhi keinginan sekaligus pesan terakhir dari mertua.


Zafer yang masih mencoba untuk menenangkan diri, saat ini hanya diam dan tidak menanggapi semua yang dikatakan oleh Tsamara.


Namun, ini adalah pertama kali Tsamara menyampaikan pesan dari sang ibu. Sebenarnya ingin sekali ia bertanya mengenai orang tuanya. Apalagi mengetahui bahwa wanita tersebut memiliki hubungan cukup dekat dengan orang tuanya.


Namun, saat ini seolah lidahnya kelu untuk mengeluarkan suara, sehingga sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk berkomentar.


Meskipun mengetahui bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh Tsamara benar. Orang tuanya harus segera dimakamkan dan tidak boleh terlalu lama dibiarkan.


Zafer saat ini berusaha untuk kuat. Apalagi adalah seorang anak laki-laki pertama. Meskipun berat terasa, kini mencoba untuk bangkit berdiri dari posisinya yang dari tadi terduduk di lantai. Hingga mendengar suara Tsamara.


"Aku sudah mengabarkan pada para pelayan agar memberi tahu pada sanak saudara mengenai kabar duka ini. Semua persiapan untuk pemakaman sudah dilakukan."


"Jadi, kita tinggal mengurus administrasi rumah sakit." Tsamara baru saja selesai menjelaskan, seketika berjenggit kaget begitu mendengar teriakan Zafer.


"Diamlah! Apa kau pikir aku seorang anak kecil bodoh yang tidak tahu apa-apa? Hingga kau menjelaskan semua hal padaku?" Setiap Zafer menatap Tsamara, selalu terpancing emosi dan tidak bisa menahan diri untuk tidak meluapkan kemurkaan.


Sementara itu, Tsamara saat ini hanya diam dan memilih untuk mematuhi apapun perintah Zafer dengan mengarahkan kursi roda ke pintu keluar.


"Baiklah, aku akan menunggu di luar."


Berpikir bahwa jika terus berhadapan dengan pria itu hanya akan membuat Zafer emosi. Saat baru saja menghampiri putranya, melihat perawat datang dan bertanya.


"Siapa yang akan berada di mobil jenazah nanti?" tanya seorang pria dengan badan tinggi tegap.


Tsamara sebenarnya ingin menemani di mobil jenazah, tapi tidak bisa melakukan karena kondisi kaki, sehingga menoleh ke arah Rayya.


Rayya yang mendapatkan tatapan dari Tsamara, seolah mengerti artinya. "Kenapa kau melihatku? Jangan pernah menyuruhku karena aku sedang hamil dan tidak mungkin bisa melakukan itu. Aku akan muntah-muntah nanti."


Di saat bersamaan, mendengar suara bariton dari Zafer. "Saya yang akan ada di mobil jenazah." Menatap sekilas ke arah Rayya yang terlihat seperti sangat jijik jika satu mobil dengan jenazah orang tuanya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2