Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Menyerahkan keputusan pada Tsamara


__ADS_3

"Ingat, perkataan adalah doa. Jadi, lebih baik berbicara yang baik dan membuang hal buruk. Sementara yang sudah terjadi, tidak bisa diperbaiki. Sepertinya kita harus menyelesaikan masalah ini dengan bijak."


Adam Dirgantara saat ini sibuk mengusap punggung sang istri karena ingin menenangkan perasaan wanita yang sudah lebih dari 30 tahun menemaninya.


"Aku sebenarnya sangat berharap jika Zafer menikah dengan seorang wanita yang baik dan bisa membimbingnya keluar dari lembah kemaksiatan penuh dosa. Hanya Tsamara yang bisa melakukannya, tetapi sepertinya tidak semudah membalikkan telapak tangan." Erina berbicara dengan suara serak dan bergetar karena efek menangis.


Adam kini hanya mengangguk lemah karena selama ini selalu menyetujui apapun yang dipikirkan oleh sang istri. "Sepertinya kita serahkan keputusan pada Tsamara."


"Apakah ia mau bertahan di rumah ini saat Zafer menikahi wanita yang telah hamil itu. Meskipun aku tahu bahwa di dunia ini tidak ada wanita yang bisa ikhlas melihat suami poligami." Adam Dirgantara kali ini memilih pasrah karena sudah tidak berhak untuk menahan kepergian menantunya.


Tentu saja Erina sependapat dengan kalimat terakhir dari pria yang memeluknya karena jika ia menjadi Tsamara, pasti memilih untuk pergi dan tidak akan pernah memperlihatkan diri.


"Aku sangat menyukai Tsamara karena merupakan wanita santun, baik hati, pekerja keras dan juga menutup aurat. Meskipun di masa lalu pernah melakukan dosa besar, tetapi sudah lama bertobat dan memilih untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta."


Saat orang tuanya masih saja membela Tsamara kala Zafer sibuk mencari simpati dengan menceritakan perihal sang kekasih, tapi tidak mendapatkan sambutan, sehingga kini merasa kesal.


Hanya saja, Zafer memilih untuk tidak berteriak ataupun mengamuk pada orang tuanya. Ia berpikir, diamnya mereka sudah jelas membuktikan mengizinkan untuk bertanggung jawab dengan menikahi Rayya.


Namun, tetap saja ia ingin membahas mengenai sang kekasih yang akan dinikahi karena ini berhubungan dengan harta warisan yang harusnya jatuh ke tangannya, bukan Tsamara.


"Rayya hanya ingin aku menikahinya dengan melamar terlebih dahulu pada sang ayah. Jadi, aku harap Papa dan Mama bersedia untuk melamar kekasihku untuk dinikahi secara siri. Akan lebih baik jika wanita cacat itu pergi dari rumah ini."

__ADS_1


"Atau masih tidak mau pergi dari rumah saat mengetahui aku akan menikahi wanita yang sedang mengandung calon keturunanku. Itu namanya adalah orang tidak tahu diri. Jika bukan harta yang diincar dari keluargaku, lalu apa lagi?"


Zafer yang baru selesai berbicara karena ingin mengatakan bahwa Tsamara tidak mempunyai malu, tetapi mendengar suara bariton dari sang ayah yang penuh kemurkaan.


"Lebih baik kau diam, atau Papa akan merobek mulutmu!" Adam sebenarnya merasa sangat malu menghadapi menantunya, hingga semua penghinaan dari Zafer pada Tsamara seolah membuatnya tidak mempunyai muka lagi di hadapan wanita malang itu.


"Jika kau mengatakan bahwa Papa memihak Tsamara dan kejam padamu, itu karena tidak ingin nasibmu sama seperti wanita malang itu yang berakhir di kursi roda. Bukankah kau selalu mengatakan jika Tsamara mendapatkan balasan dari perbuatan di masa lalu?"


Adam Dirgantara terakhir kali berusaha untuk mengingatkan putranya tentang hal yang bisa saja terjadi suatu saat nanti. Saat ia melihat Zafer hanya diam saja, akhirnya kembali berbicara.


"Hal yang sama juga bisa saja terjadi padamu, Zafer. Karma dan hukum alam selalu terjadi karena semua manusia akan menuai apa yang ditanam. Jika apa yang dialami oleh Tsamara saat ini adalah balasan dari perselingkuhan di masa lalu, kau pun juga akan mendapatkan balasan di masa depan."


"Saat itu terjadi, aku sangat yakin jika wanita yang kau banggakan itu akan pergi darimu. Rayya namanya, kan? Ia tidak akan pernah mencintaimu jika kau bukan terlahir dari keluarga Dirgantara. Jika ingin membuktikan apa yang Papa katakan, pergilah dari rumah ini tanpa sepeser pun harta."


Erina saat ini membenarkan perkataan sang suami karena diam-diam menyelidiki seperti apa watak dari wanita yang dicintai putranya. Mengetahui bahwa Rayya adalah seorang wanita yang sangat kasar dan tidak bisa bersikap sopan pada orang tua, akhirnya tidak memberikan restu.


Padahal ia berpikir jika putranya tidak akan menghamili Rayya karena hanya bersenang-senang tanpa memikirkan pernikahan. Erina berharap jika putranya akan sadar dan akhirnya mencintai Tsamara—wanita yang akan berbakti menjadi seorang istri yang baik.


Namun, seketika impiannya musnah dalam sekejap begitu kabar kehamilan Rayya dikatakan oleh putranya.


"Mama adalah seorang wanita dan tidak ingin menyakiti seorang ibu yang hamil calon cucuku. Jadi, memang tidak ada pilihan lain selain menikahkan kalian secara siri. Mengenai Tsamara, sepertinya kami memilih menyerah dan membiarkannya mengambil keputusan terbaik."

__ADS_1


Erina menolehkan kepala ke arah pintu untuk mencari sosok menantu yang dari tadi belum juga kembali. "Kenapa Tsamara belum juga kembali?"


"Mungkin masih menenangkan cucu kita." Adam mengikuti arah pandang sang istri dan belum melihat sang menantu yang dari tadi ditunggu.


Hingga suara dari Zafer menghiasi ruangan tersebut. "Aku akan memberikan cucu asli pada kalian. Jadi, jangan menyebut anak dari orang lain sebagai cucu."


Adam Dirgantara dan sang istri kali ini tidak bisa berkomentar apapun saat berpikir telah gagal untuk menyadarkan putra mereka yang telah menjadi penyebab kemalangan ibu dan anak yang harus hidup menderita.


"Harus dengan cara apa aku menyadarkan kepalamu yang dipenuhi dengan kotoran?" umpat Adam saat merasa marah karena sang istri menahan lengannya yang hendak memukul kepala Zafer.


"Sabar, Sayang. Sepertinya hanya Tuhan yang bisa memberikan hidayah pada putra kita." Erina tidak berhenti mengusap lengan kekar suami untuk menularkan aura positif, agar tidak dikuasai oleh angkara murka.


Suasana memanas di ruang makan tersebut, sangat berbeda di luar karena semenjak beberapa menit lalu, Tsamara terdiam di sebelah kiri pintu dan bisa mendengarkan semua yang dikatakan oleh Zafer.


Bahkan berkali-kali meremas kedua sisi pakaian yang membalut tubuhnya karena juga mendengar yang disampaikan oleh mertua. Bahwa mereka memilih untuk menyerahkan keputusan padanya.


'Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus pergi dari sini karena mertuaku sudah tidak lagi memaksaku untuk tinggal di sini.'


Tsamara menghembuskan napas perlahan dan akhirnya memilih untuk mengarahkan kursi roda masuk ke dalam ruangan.


"Akhirnya kamu datang juga, Sayang." Erina berjalan mendekati Tsamara dan mendorong kursi roda untuk semakin mendekati dua pria berbeda usia tersebut.

__ADS_1


"Iya, Ma. Maaf karena tadi diam di depan pintu dan mendengar semua yang kalian bicarakan. Jadi, aku memutuskan untuk ...."


To be continued...


__ADS_2