
Bahkan Zafer saat ini menatap ke arah wanita yang duduk di kursi. "Kamu juga pulanglah bersama Rayya dan menyambut kedatangan orang-orang yang mengucapkan belasungkawa di rumah."
"Harus ada tuan rumah yang menyambut kedatangan orang-orang yang mengucapkan belasungkawa. Jika kita semua berada di sini, tidak akan ada yang bisa bertemu dengan sanak saudara ataupun orang-orang yang datang."
Tsamara saat ini membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Zafer dan akhirnya menyetujui perintah pria itu. "Baiklah. Aku akan pulang bersama Rayya."
Ia tidak ingin mengganggu saat Zafer ingin berada dalam keheningan ketika mendoakan orang tua di pemakaman, sehingga saat ini menoleh ke arah Rayya yang masih pada posisi sama dari tadi.
"Apa kamu kuat berjalan menuju ke arah mobil?" tanya Tsamara yang masih mencoba untuk membuka pembicaraan meskipun Rayya tidak mau menanggapi.
Sementara itu, Rayya saat ini langsung bangkit berdiri dan menepuk pundak pria yang masih berada di sebelah pusara orang tua tanpa memperdulikan Tsamara yang berkali-kali bertanya dan tidak dijawab olehnya.
"Baiklah, aku akan membiarkanmu di sini sampai perasaanmu jauh lebih baik. Pulanglah setelah selesai berdoa untuk papa dan mama. Aku akan menyambut orang-orang yang datang ke rumah sebagai istri dan calon ibu dari anakmu."
Kemudian Rayya berjalan menuju ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari pemakaman mertua tanpa memperdulikan wanita yang sangat ingin disingkirkan.
Sementara itu, Tsamara menurunkan Keanu agar berjalan karena tidak mungkin tetap memangku putranya ketika mengarahkan kursi roda untuk meninggalkan pemakaman menuju ke arah mobil.
"Keanu jalan di sebelah mama, ya!" Tsamara tersenyum simpul begitu melihat putranya menganggukkan kepala dengan patuh.
Kemudian ia sudah mengarahkan kursi roda untuk menyusuri area pemakaman menuju ke mobil.
Sementara itu, Zafer yang melirik sekilas ke arah sosok wanita di kursi roda tersebut, langsung meraih ponsel miliknya dan menghubungi sopir agar membantu Tsamara.
Kemudian kembali menatap ke arah utara orang tuanya. "Apa kalian bisa melihat dua menantu yang berbeda itu?"
"Sepertinya kalian sengaja ingin menunjukkan padaku mengenai bagaimana watak dari dua wanita yang sangat berbeda itu."
"Meski sekarang aku sudah mengerti alasan kalian sangat menyayangi Tsamara dibandingkan dengan Rayya, tapi tidak bisa memungkiri bahwa salah satu dari mereka mengandung keturunanku."
__ADS_1
"Anak-anak yang akan dilahirkan oleh Rayya akan menjadi penerus selanjutnya di keluarga Dirgantara. Jadi, mana mungkin aku bisa meninggalkannya dan istriku."
Selama proses pemakaman tadi, Zafer bisa melihat jika Tsamara sibuk dengan pekerjaan untuk mengatur semuanya dan benar-benar menjadi seorang nyonya utama yang bertanggung jawab.
Karena para pelayan tidak mungkin bisa melakukan pekerjaan tanpa arahan dari majikan. Bahkan meskipun kondisi yang cacat dan hanya bisa di kursi roda, tidak menjadikan alasan wanita itu untuk tidak melakukan apapun.
Sementara Rayya yang dari tadi hanya duduk di sofa karena mengatakan tidak enak badan karena efek kehamilan, sehingga membuatnya seperti merasa ragu jika wanita itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
Sempat terlintas di pikiran Zafer bahwa Rayya hanya sedang berpura-pura dengan mencari alasan agar tidak mendapatkan pikiran buruk dari orang-orang.
Namun, beberapa saat kemudian mencoba untuk mengerti karena memang tidak mudah bagi seorang wanita ketika hamil muda. Jadi, ingin berpikir positif dan tidak mencurigai Rayya.
Bahkan sang istri yang sangat dicintai dan dipuja itu terlihat sama sekali tidak menangis mulai dari awal hingga akhir. Zafer berpikir bahwa Rayya memakai kacamata hitam karena tidak ingin mata dilihat oleh semua orang.
Bahwa bola mata wanita itu bening berkilat dan sama sekali tidak mengeluarkan air mata, jadi ingin menyembunyikan dari pandangan orang-orang yang mungkin akan berpikir negatif dengan cara memakai kacamata hitam.
Seolah bisa melihat bahwa antara Tsamara dan Rayya bagaikan bumi dan langit dan tidak pernah bisa bersatu. Bahkan Zafer saat ini tidak tahu apa yang harus dilakukan pada dua istri yang pastinya akan sering bersitegang setelah orang tuanya meninggal.
Sebenarnya mulai sekarang sudah memikirkan akan kemungkinan-kemungkinan buruk setelah orang tuanya tidak ada di dunia, tapi otaknya seolah tidak bisa untuk diajak berpikir keras karena mendadak tumpul setelah merasa hancur hari ini.
Apalagi hari ini adalah titik terendah dalam hidup Zafer karena pertama kali merasakan kehilangan orang orang yang sangat berarti.
"Aku sangat takut tidak bisa menjadi putra kebanggaan kalian. Apa yang harus kulakukan tanpa kalian? Apalagi setelah hari ini, mungkin dua istriku akan sering bertengkar."
"Khususnya Rayya yang pasti akan berpikir lebih berkuasa karena tengah mengandung putraku." Zafer saat ini mengembuskan napas panjang ketika membayangkan jika Rayya mengusir Tsamara dari rumah.
Apalagi selama ini ia selalu mengatakan tidak mencintai Tsamara dan ingin wanita itu segera pergi dari rumah. Jadi, Zafer merasa bingung untuk menjawab jika heran menurunnya untuk mengusir Tsamara dan menceraikan.
"Bahkan sekarang aku baru menyadari bahwa selama ini selalu menggunakan nama papa untuk menolak keinginan Rayya yang ingin menyingkirkan Tsamara dari rumah.
__ADS_1
"Sekarang, apa yang harus kukatakan pada Rayya jika sampai membuat masalah di rumah? Khususnya saat mengincar Tsamara agar segera pergi dan juga menceraikan wanita itu."
Zafer ingin sekali bersikap tegas dan keras pada Rayya, tetapi tidak mungkin melakukan itu pada seorang wanita yang tengah hamil dua anaknya, sehingga saat ini mencoba menenangkan pikiran sambil berdoa untuk orang tuanya.
Sementara itu di dalam mobil yang melaju meninggalkan area pemakaman, terlihat Rayy, duduk bersebelahan dengan Tsamara yang memangku putranya.
Raut yang dari tadi menahan diri untuk tidak berteriak pada wanita itu, kini mengungkapkan apa yang ada di kepala.
"Mulai sekarang, kau harus sadar akan posisimu. Seharusnya segera pergi dari rumah karena tidak ada lagi yang bisa membelamu."
"Jika dulu orang tua Zafer selalu saja membelamu dan menjadikan menantu kesayangan, sekarang kau akan tersisihkan karena tidak ada yang menginginkan."
"Bukankah seharusnya kau sadar diri untuk segera keluar dari rumah keluarga Dirgantara? Apalagi Zafer tidak pernah mencintaimu dan terpaksa menikah karena paksaan papa. Aku sangat yakin jika suamiku akan segera menendangmu dari rumah dan juga menceraikan untuk membebaskanmu berbuat sesuka hati."
Rayya bahkan sudah tidak sabar melihat Tsamara segera keluar dari rumah. Apalagi sekarang berpikir ingin menjadi satu-satunya nyonya rumah di keluarga Dirgantara, sehingga para pelayan hanya akan patuh padanya, bukan sosok wanita cacat di sebelahnya tersebut.
Tsamara yang sebenarnya sudah menduga akan mendengar hal ini dari Rayya, hanya membiarkan wanita itu berbicara apapun dan tidak akan diperdulikan.
Bahkan meskipun Zafer yang mengatakan itu padanya, tetap akan bertahan di rumah keluarga Dirgantara demi memenuhi pesan terakhir dari mertua yang menyerahkan dan mempercayakan putra mereka kepadanya.
Namun, Tsamara tidak ingin memancing amarah wanita yang tengah hamil tersebut, sehingga hanya diam tanpa membuka suara.
Tentu saja ia merasa sangat kesal karena tidak mendapatkan tanggapan apapun dari wanita di sebelahnya tersebut yang sangat ingin disingkirkan dari rumah keluarga Dirgantara.
"Apa kau bisu dan tuli? Atau urat malumu sudah putus karena masih bertahan ketika mertua sudah tidak ada di dunia ini?"
"Kau benar-benar tidak tahu diri karena masih bertahan dan mengganggu kehidupan rumah tanggaku," sarkas Rayya yang kini mengangkat tangan untuk menampar Tsamara demi meluapkan amarah.
To be continued...
__ADS_1