Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tidak bersalah


__ADS_3

Raymond yang saat ini sudah menggendong Rayya, melihat semua orang tersenyum dan menganggukkan kepala. Kemudian langsung berjalan menuju ke arah lantai dasar Mall dan berusaha untuk kuat menggendong Rayya sampai ke parkiran.


Tadi meminta security untuk mengambil kunci mobil dalam saku celana dan membukakan pintu. Setelah membaringkan Rayya di kursi belakang, ia langsung mengemudikan mobil menuju ke apartemen setelah memberikan uang pada security yang membantu.


Selama fokus mengemudi, sesekali ia melihat spion untuk memastikan bahwa Rayya masih belum sadar.


"Kamu berlagak kuat di depanku, tapi langsung pingsan di hadapan banyak orang. Dasar wanita bodoh! Apakah kamu saat ini merasa malu di hadapanku, sehingga memilih untuk menolak tawaranku?"


"Jika kamu selamanya tetap bertahan untuk pria yang bahkan sudah menyakitimu, hanya akan menderita dan mungkin berkali-kali pingsan seperti hari ini."


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Raymond tiba di apartemen setelah menempuh perjalanan selama setengah jam.


Sengaja membiarkan mobil milik Rayya tetap terparkir rapi di depan Mall karena tidak mungkin menyuruh orang yang tidak dipercayai untuk membawa.


Berniat untuk menyuruh orang kepercayaan mengambil jika nanti Rayya sudah sadar. Dengan banyak mengeluarkan tenaga, ia yang sudah menggendong Rayya, sedikit kesusahan ketika memencet passcode apartemen.


Namun, akhirnya berhasil juga dan langsung masuk ke dalam apartemen, lalu membaringkan tubuh wanita yang masih betah menutup mata tersebut ke atas ranjang di ruang pribadinya.


Bahkan saat ini, ia berusaha untuk meluruskan tangannya karena serasa hampir patah dan juga menormalkan napas memburu, masih berdiri di dekat ranjang dan menatap intens wanita yang tidur di ranjangnya.


"Aku sama sekali tidak pernah menyangka akan membawa seorang wanita bersuami dan tengah hamil ke atas ranjangku."


Ada sebuah kegetiran defensif yang mewakili perasaan Raymond saat ini. Meski dulu memiliki harapan untuk membawa Rayya ke ranjangnya setelah menikah, tapi tidak pernah menyangka jika semua dalam situasi yang sangat pelik.


Ia saat ini merasa haus dan berjalan keluar untuk mengambil air mineral dingin di dalam kulkas. Kemudian berniat untuk menyiapkan bubur dan berharap Rayya mau makan setelah sadar.

__ADS_1


Sengaja tidak membawa ke rumah sakit karena berpikir bahwa apartemen jauh lebih nyaman. Apalagi saat ini menduga jika Rayya hanya sedang kelelahan dan stres, sehingga berakhir pingsan dan pasti sebentar lagi akan sadar.


Raymond kemudian berkutat di dapur untuk memasak bubur. Hingga satu jam kemudian telah selesai dan membawa ke kamar. Mangkuk berisi bubur yang masih mengumpulkan asap tersebut seolah menandakan bahwa masih sangat panas.


Berharap setelah hangat, wanita di atas ranjang tersebut bangun dari pingsan. Ia saat ini menaruh bubur di nakas dan mendaratkan tubuh di tepi ranjang sambil tidak berkedip menatap Rayya dan sesekali mengusap pipi putih itu.


"Kenapa kamu lama sekali pingsannya? Apakah tidak sadarkan diri membuatmu merasa nyaman?" lirih Raymond yang saat ini mendadak mendapatkan sebuah ide di kepala.


Kemudian tersenyum menyeringai dan bangkit berdiri dari ranjang sambil melepaskan satu persatu kancing kemeja dan melepaskan dari tubuhnya.


Kini, ia sudah dalam keadaan setengah telanjang dan membuatnya bergerak untuk melakukan hal sama pada wanita yang masih tidak sadarkan diri tersebut.


Setelah berhasil melepaskan gaun Rayya, ia naik ke atas ranjang dan menutup dengan selimut bagian bawah tubuh mereka.


Kemudian mengambil foto saat berada pada posisi yang sangat intim dengan Rayya.


Setelah dirasa cukup, Raymond kembali turun dan kembali berpakaian. Tak lupa melakukan hal sama pada Rayya.


Karena Rayya masih belum sadarkan diri, ia memilih menunggu dengan berjalan menuju ke arah sofa dan mendaratkan tubuh di sana sambil memeriksa foto-foto yang tadi diambil.


Begitu melihat banyaknya foto-foto penuh keintiman yang sebenarnya hanyalah sebuah kepalsuan tersebut, ia tidak berhenti tersenyum hanya smirk dan berpikir akan mengirimkan pada nomor pria yang sangat dibenci karena telah merebut miliknya.


Karena tidak mempunyai nomor pria itu, Raymond membuka tas milik Rayya yang tadi diletakkan di atas meja dan berharap jika wanita itu tidak mengunci ponsel.


Begitu menemukan ponsel Rayya dan langsung membuka, merasa kecewa karena ternyata dikunci dan tidak bisa membukanya untuk mencari nomor Zafer.

__ADS_1


"Sial! Aku harus menunggu sampai Rayya sadar untuk mendapatkan nomor pria itu." Raymond mengembalikan ponsel Rayya ke dalam tas karena tidak ingin wanita itu curiga jika nanti tersadar dari pingsan.


Raymond memilih menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri melihat bursa saham karena ingin berinvestasi agar uang yang dimiliki bisa menghasilkan berkali-kali lipat.


Hal yang membuat Raymond menjadi pria muda yang sukses adalah bisa mencium aroma uang ketika berinvestasi dengan membeli banyak saham.


Beberapa menit kemudian, melihat pergerakan dari atas ranjang sekaligus mendengar suara Rayya yang lirih dan seketika berjalan mendekati wanita yang sedang membuka mata sambil memegangi kepala.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Rayya."


Rayya yang tadinya perlahan membuka mata, melihat ruangan kamar yang sangat asing dan bingung berada di mana. Saat mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, kini langsung mengetahui di mana saat ini berada.


"Raymond? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku berada di sini? Apakah ini adalah tempat tinggalmu?" Rayya yang saat ini merasakan pusing di kepala, masih tidak berniat untuk beranjak dari ranjang.


Ketika melihat Raymond mendaratkan tubuh di tepi ranjang sebelah kiri, ia merasa sangat aneh karena saat ini bisa berada di dalam sebuah kamar dengan seorang pria.


Hingga mengingat jika Zafer sering berduaan dengan Tsamara di dalam kamar. Berpikir jika selama ini tidak ada yang terjadi antara Zafer dan juga wanita cacat yang sangat dibenci tersebut, tapi setelah melihat sikap suami hari ini, ragu dengan apa yang dipikirkan.


Rayya saat ini merasa yakin bahwa suaminya dan istri pertama tersebut sudah melakukan hubungan suami istri.


Karena itulah Zafer tidak mau melepaskan Tsamara meskipun orang tua sudah tidak ada.


Bahkan meskipun sudah tidak ada yang mengancam, tapi sang suami tidak mau mengusir Tsamara dari rumah dan seolah melupakan rencana awal untuk menyingkirkan wanita itu.


Saat mengingat hal itu, Rayya merasa sangat marah dan merasa bahwa ia saat ini tidak bersalah saat berada di sebuah ruangan dengan seorang pria. Berpikir jika Raymond bukan orang lain, tapi merupakan sahabat kecilnya.

__ADS_1


Jadi, percaya pada pria yang menurutnya telah berubah menjadi seorang pria dewasa dengan paras rupawan.


To be continued...


__ADS_2