
"Sabar, Sayang. Semua sudah terjadi dan kita tidak bisa lari dari takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan," ucap Rayya saat merasa bahwa sikap Zafer seperti seorang pria yang lemah karena menangis.
Padahal mengetahui bahwa hubungan di antara ayah dan anak tidak baik dan sering berdebat dan bertengkar. Awalnya berpikir jika Zafer tidak akan bersikap seperti itu, tapi begitu melihat jika sang suami sangat terpukul, kini hanya berusaha untuk menjadi istri yang baik dengan cara menghibur.
Meskipun mengetahui itu tidak akan bisa membuat Zafer tenang, tetapi paling tidak sudah menjadi seorang istri yang baik dengan cara menghibur.
Sementara itu, Zafer masih terus bersedih dan hancur perasaan karena saat ini berpikir jika yang terjadi bagaikan mimpi buruk dan berharap akan segera terbangun dari alam bawah sadar.
Zafer berharap orang tuanya baik-baik saja dan bisa diselamatkan meskipun jika dipikirkan secara logika, sangat susah karena kemungkinan itu kecil. Apalagi mengetahui jika yang menabrak mobil orang tuanya adalah sebuah truk besar yang pastinya akan menghancurkan kendaraan yang jauh lebih kecil.
Hingga suara dari Tsamara yang masih sesenggukan, tertangkap indra pendengaran Zafer dan sama sekali tidak membuatnya membuka mulut.
"Tuan Zafer, lebih baik berdoa untuk keselamatan papa dan mama karena saat ini hanya itu yang dibutuhkan. Semoga ada keajaiban untuk orang tua kita dan mereka selamat dari kecelakaan." Tsamara yang masih terus menangis karena benar-benar bersedih begitu mengetahui apa yang terjadi pada mertua di hari ulang tahun pernikahan.
Bahkan hari ini seperti mengalami Dejavu karena dulu orang tuanya meninggal dalam kecelakaan juga di hari kelulusannya saat masih SMA.
'Padahal aku tadi baru memberikan tasbih untuk mereka, tapi kenapa malah berakhir seperti ini,' gumam Tsamara yang seketika mengingat jika tadi ibu mertua mengatakan bahwa jika bertemu dengan orang tuanya di surga, akan mengirimkan salam dan menjaga dari atas sana.
Tsamara yang mengingat perkataan dari ibu mertua saat di restoran tadi, seketika menangis tersedu-sedu dan membuat putranya juga melakukan hal sama.
Tsamara yang merasa sangat bersedih dan hancur saat memikirkan hal itu, masih terus menangis sambil memeluk putranya untuk mencari sebuah kekuatan agar tidak down.
Karena berharap jauh lebih kuat dari Zafer karena harus memberikan semangat pada suaminya yang saat ini benar-benar bersedih.
__ADS_1
'Mama, kenapa tadi mengatakan hal itu padaku? Apakah karena sudah mendapatkan firasat jika kalian akan bertemu dengan orang tuaku di surga?'
Saat Tsamara baru saja meluapkan perasaan di dalam hati, semakin bertambah hancur ketika mendapatkan tatapan tajam dari Zafer yang tiba-tiba berbicara sangat kasar dan seperti sebuah tombak tajam tempat menusuk jantungnya.
"Aku sangat yakin jika kecelakaan orang tuaku terjadi karena kamu tadi memberikan tasbih itu. Jika mereka tidak membawa barang laknat itu, aku yakin orang tuaku masih baik-baik saja sampai sekarang."
Zafer yang tadi mendapatkan penghiburan dari Tsamara, seketika mengingat tentang perkataan sang ibu mengenai orang tua Tsamara dan juga tasbih yang menjadi hadiah.
Refleks menggerakkan tubuhnya agar bisa menatap ke arah Tsamara yang duduk di kursi belakang sambil memeluk anak laki-laki tersebut.
Zafer meledakkan amarah karena berpikir jika semenjak wanita itu masuk dalam keluarganya, terus saja mendapatkan sebuah kemalangan.
Dimulai dari kecelakaan yang melibatkan wanita itu dan sekarang orang tuanya harus berakhir ditabrak oleh sebuah kendaraan besar.
Zafer saat ini masih mengarahkan tatapan tajam pada Tsamara, sedangkan wanita yang ditatap hanya diam saja dan tidak melanjutkan tangisan seperti beberapa saat lalu.
Apalagi saat ini Zafer tidak bisa berpikir jernih karena butuh seseorang untuk disalahkan demi melampiaskan perasaan hancur yang dirasakan.
Ia merasa sangat yakin jika tasbih pemberian dari Tsamara yang menjadi penyebab kemalangan terjadi. Karena semua yang dikatakan oleh banyak orang sangat tidak dipercayai ketika sudah memiliki alat untuk berdoa, tetapi di saat bersamaan langsung kehilangan nyawa.
Padahal tadi mendengar bahwa Tsamara mengatakan jika orang tuanya bisa menggunakan tasbih itu untuk berdoa, tapi nyatanya malah kemalangan yang terjadi saat ini.
Zafer sama sekali tidak memperdulikan bagaimana perasaan wanita dengan wajah sembab tersebut. Ia tetap merasa yakin jika tidak ada tasbih pemberian Tsamara, pasti orang tuanya masih selamat.
__ADS_1
"Bukankah aku tadi sudah mengatakan tidak perlu mengambil hadiahmu itu? Seharusnya kau melarang orang tuaku agar tidak menyuruh sopir mengambil dan membawa ke Villa. Selama puluhan tahun mereka berangkat ke Villa di hari ulang tahun pernikahan, tapi selalu baik-baik saja dan kembali dengan keadaan yang sama."
"Namun, hari ini semua berubah buruk begitu mendapatkan barang konyol darimu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu pada orang tuaku!" Zafer yang masih merasa sangat marah pada Tsanawiyah, kini berbalik badan dan kembali menatap ke arah depan.
Terdengar deru napas memburu saat dikuasai oleh amarah dan saat ini merasa sangat yakin bahwa penyebab kemalangan orang tuanya adalah karena membawa tasbih yang merupakan hadiah dari Tsamara.
'Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai terjadi hal buruk pada orang tuaku. Kau adalah wanita pembawa sial yang seharusnya langsung kusingkirkan. Aku akan membuangmu ke jalan jika orang tuaku tidak selamat,' sarkas Zafer di dalam hati dan saat ini masih merasa sangat terpukul dengan kenyataan yang terjadi.
Sementara itu, Tsamara semakin merasa terluka dan hancur begitu mendapatkan tuduhan sangat jahat dari Zafer. Namun, ia sama sekali tidak membantah ataupun berkomentar karena mengetahui jika pria yang duduk di depan tersebut sedang dikuasai oleh amarah dan tidak perlu dilawan dengan hal yang sama.
Tsamara berusaha untuk bersabar dengan menerima tuduhan buruk apapun padanya, sehingga hanya bisa berurai air mata sambil membekap mulut agar tidak menimbulkan suara berisik ketika ia menangis.
Sementara itu, Zafer saat ini tidak berniat untuk menatap Tsamara lagi karena hanya mengingatkan pada kecelakaan orang tuanya.
Sementara situasi berbeda dirasakan oleh Rayya saat ini yang ingin bersorak kegirangan dengan kenyataan yang baru saja dilihat. 'Akhirnya Zafer membenci Tsamara dan aku bisa memanfaatkan ini untuk segera mengusir dari rumah.'
'Setelah itu, akan menyingkirkan dari muka bumi menyusul mertua tersayang. Apalagi ia adalah menantu kesayangan dan pastinya mereka akan senang jika disusul. Sementara anak kecil itu tidak mungkin kusingkirkan karena aku tidak sejahat itu.'
Rayya saat ini berpikir ingin memanfaatkan anak laki-laki itu dengan cara menyiksa mental agar perlahan mengalami gangguan jiwa karena tertekan.
'Sepertinya itu adalah sebuah cara terbaik untuk membalas dendam pada Tsamara karena berani berurusan denganku. Keanu sepertinya sangat pantas untuk dijadikan mainan ketika anak-anakku lahir ke dunia. Rasanya seperti sangat menyenangkan,' gumam Rayya yang saat ini sudah mengemudikan mobil untuk berbelok ke area rumah sakit.
To be continued...
__ADS_1