
“Dari mana kamu mendapatkan semua informasi ini?” tanya Adam tenang, berusaha untuk tidak meledak lebih dahulu karena ia tahu mereka harus bicara baik-baik.
Zafer berdecak, merasa sedikit kesal karena kedua orang tuanya bahkan belum membaca semuanya secara tuntas, tetapi malah meletakkan bukti itu ke atas meja.
Apakah mereka berdua sedang berpikir bahwa Zafer berbohong saat ini dan menganggapnya sengaja memalsukan barang bukti untuk menjelek-jelekkan Tsamara di depan mereka berdua?
Zafer sendiri sebenarnya tidak tahu tentang apa yang kedua orang tuanya pikirkan saat ini. Hanya saja, ia merasa bahwa baik ayah ataupun ibunya saat ini tengah memandangnya dengan pikiran aneh, seolah-olah apa yang tengah Zafer lakukan saat ini bukanlah sesuatu hal baik yang harus dilakukan.
Namun, karena rasa kesalnya sudah naik sampai ke ujung kepala karena tidak mendapatkan respon yang bagus dari kedua orang tuanya, akhirnya Zafer mengatakan semua hal yang rasanya perlu ia katakan.
“Sejak awal ketika Papa memintaku untuk menikahinya, sebenarnya aku sudah curiga dengan wanita itu. Aku sudah berpikir bahwa dia mungkin saja menjebak kita semua untuk bisa menikah denganku."
"Salahnya, yang menyeberang jalan tidak melihat ke kanan dan ke kiri. Salahnya juga yang sembarangan, sehingga aku tidak sengaja menabraknya yang pada saat itu sedang terburu-buru.
“Seharusnya aku tidak perlu bertanggung jawab untuk hal semacam ini karena merasa bahwa sebenarnya tidak bersalah. Lalu mengapa aku harus menikah dengan wanita cacat sepertinya?"
"Dia bahkan tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menyusahkanku saja di rumah. Aku benci sekali dengannya. Aku tidak suka dia berada di satu rumah yang sama denganku!
“Sebenarnya aku tahu kalau wanita cacat itu memanfaatkan kecelakaan itu sebagai cara untuk bisa menikah dengan pria kaya. Mungkin dia sudah bosan hidup miskin dan ingin membesarkan anaknya dengan kekayaan, sehingga setuju untuk dinikahkan denganku, yang bahkan belum dikenalnya."
"Setelah pernikahan itu, aku bertekad untuk mengungkapkan semua kesalahannya. Aku sengaja menyewa seorang mata-mata untuk membuntutinya dan mengungkapkan semua hal yang telah dia lakukan di masa lalu dan berhasil mengumpulkan semua bukti tersebut."
"Bukti-bukti itu sudah sangat kuat untuk kalian lihat!"
“Aku ingin membuat kalian berdua membuka mata dengan lebar dan sadar jika wanita cacat itu memang seorang gadis yang tidak seperti kalian pikirkan."
"Dia itu bukan orang yang baik, melainkan orang yang hina!"
"Ayu itu dulunya bukan wanita baik-baik seperti yang kalian kira dan tebakanku benar selama ini. Aku yakin bahwa dia memang menginginkan hartaku saja, sehingga mau menikah denganku."
__ADS_1
“Aku ingin bercerai dengannya. Bagaimana bisa Zafer Dirgantara yang merupakan seorang CEO dari perusahaan ternama menikah dengan seorang wanita cacat yang sudah pernah menikah sebelumnya dan kemudian bercerai karena ketahuan selingkuh?"
"Mau ditaruh di mana mukaku ini jika semua orang mengetahui tentang fakta tersebut? Aku harap kalian bisa berpikir dengan sangat rasional dan mengerti tentang kegelisahanku sekarang."
"Aku melakukan ini agar keluarga kita tidak jatuh ke dalam perangkap yang sudah wanita itu siapkan.”
Zafer mengatakan semuanya dengan berapi-api dan penuh dengan emosi. Bahkan ia sangat mengharapkan bahwa kedua orang tuanya mau mengerti sangat ingin berpisah dengan wanita bernama Tsamara tersebut.
Zafer sampai bertekad seperti itu, mengumpulkan semuanya karena ia ingin bercerai dengannya. Ia ingin wanita itu angkat kaki dari rumahnya.
Zafer Dirgantara saat ini masih berdiri tepat di depan meja kerja ayahnya dengan napas yang memburu setelah mengatakan semua kalimat tadi dengan sangat serius.
Ia masih memperhatikan ayahnya yang kini sedang duduk di kursi kerja dan juga ibunya yang berdiri tepat di samping pria paruh baya itu.
Zafer merasa heran mengapa kedua orang tuanya tidak terlihat marah sama sekali. Bahkan setelah Zafer sudah mengungkapkan semua kesalahan Tsamara di masa lalu.
'Apa yang terjadi sebenarnya?
Di tempatnya saat ini, Adam akhirnya menghela napas berat setelah tidak ada yang ia lakukan sedari tadi. Pria paruh baya itu menoleh dan menatap wanita yang berdiri tepat di sampingnya.
“Sayang, kamu keluar saja! Biar aku yang berbicara dengan Zafer,” ujar Adam memberikan perintah.
“Benar, tidak apa-apa berbicara sendiri dengan Zafer?” tanya Erina khawatir selagi menatap Zafer yang justru kebingungan di sana.
“Iya, Aku bisa berbicara sendiri. Jangan khawatir denganku.”
“Berjanjilah untuk tidak terlalu keras dengan Zafer,” pinta Erina serius.
Wanita itu tahu kalau Zafer adalah seorang putra yang lebih sering membangkang dan telah melakukan banyak sekali kesalahan selama ia hidup.
__ADS_1
Bahkan tak jarang putranya itu membuatnya dan juga Adam benar-benar pusing bukan main dengan semua sifatnya yang selalu semaunya.
Putranya itu terlalu sering bergonta-ganti wanita dan melakukan hubungan yang bebas kesana-kemari,
Erina benar-benar tidak habis pikir, mengapa Zafer bisa menjadi dewasa dengan pemikiran dan juga sikap yang begitu buruk.
Akan tetapi, sebagai seorang ibu, tentu saja ia tetap memiliki sisi khawatir karena bagaimana pun juga adalah putra kandungnya.
Seseorang yang telah ia kandung selama sembilan bulan lamanya dan diperjuangkan untuk hadir ke dunia ini.
Jadi, kasih sayang Erina kepadanya tetap saja besar, sekalipun putranya itu telah melakukan banyak kesalahan selama ini.
Oleh karena itu, Erina meminta Adam untuk berhati-hati ketika berbicara dengan Zafer dan memintanya untuk tidak terlalu, karena tahu jika sudah marah, maka Adam tidak akan segan untuk melakukan apapun semaunya.
Erina hanya takut jika Zafer sampai kenapa-kenapa, tapi di sisi lain ia juga percaya secara penuh kepada suaminya.
“Aku tidak akan melakukan sesuatu kepadanya. Aku hanya ingin bicara dan mencoba untuk membuatnya mengerti,” jawab Adam, berusaha menenangkan Erina.
Ia juga memang tidak ingin melakukan sesuatu yang berlebihan.
“Baiklah kalau begitu,” kata Erina sebelum akhirnya wanita itu keluar dari ruangan Adam tanpa mengatakan apapun lagi.
Sedangkan di tempatnya berdiri saat ini, Zafer justru kebingungan ketika melihat ibunya pergi ke luar. Ia benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang telah terjadi saat ini. Apalagi ketika keduanya sedang berbisik dengan begitu pelan tanpa Zafer ketahui apa maksudnya.
“Papa? Apa maksudnya semua ini? Kenapa kalian tidak terkejut dengan informasi yang telah aku sampaikan tadi?” tanya Zafer kebingungan.
“Zafer,” panggil Adam. “Kau harus tahu kalau semua informasi dan bukti yang telah kau berikan tadi, nyatanya tidak berpengaruh apapun terhadapku,” ucap Adam serius, yang langsung membuat putranya membulatkan kedua mata dengan ekspresi terkejut.
Dari kalimat ayahnya tadi, apakah maksudnya semua informasi yang telah Zafer dapatkan ini berarti tidak berguna? Apakah keinginannya untuk berpisah dengan Tsamara menjadi sia-sia?
__ADS_1
To be continued...