Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Memilih mengalah


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Adam Dirgantara baru saja masuk ke dalam ruangan yang akan dijadikan tempat pernikahan. Pemandangan pertama yang dilihat adalah seorang ayah marah-marah pada sang putri yang mengenakan gaun pengantin.


Seolah sedang memarahi anak kecil karena memaksa untuk mengajak pulang dan membuatnya geleng-geleng kepala.


"Ayo, kita pulang sekarang, Rayya! Kamu tidak pantas dipermalukan seperti ini. Masih banyak pria lain di dunia ini yang jauh lebih baik." Leon Pratama dari tadi meluapkan amarah karena merasa sangat marah melihat putri semata wayang mendapatkan kata-kata kasar dari pria yang dari pertama kali melihat tidak disukai.


Sementara Rayya yang kini bersimbah air mata dan duduk di kursi, makin frustasi ketika melihat sosok pria yang saat ini ada di hadapan seperti mematahkan hati setelah membuat masalah. Rayya mendongak, menatap sang ayah dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku mencintai Zafer, Ayah. Kenapa Ayah memukul pria yang bahkan akan menjadi menantu? Ayah selalu bersikap sok pahlawan dan menghancurkan hidupku. Bahkan hal seperti ini bukanlah yang pertama kali. Apa Ayah tidak bisa membiarkanku hidup bahagia dengan menonton saja tanpa membuat masalah?"


Rayya sangat takut jika Zafer benar-benar membatalkan pernikahan dan hidup bahagia bersama dengan wanita cacat itu di saat ada dua janin di rahim. Selain menanggung beban berat yang akan dipikul saat hamil anak pria lain, ia tidak terima jika dikalahkan oleh seorang wanita yang bahkan tidak bisa berjalan.


Sementara itu, Leon makin kesal mendengar jawaban dari putrinya dan ketika berbalik badan karena ingin meluapkan emosi dengan merokok di depan, tidak jadi melakukan itu karena melihat Adam Dirgantara baru saja masuk ke dalam rumah.


Tanpa bertanya apapun karena sudah sangat malas, melihat Rayya buru-buru bangkit dari posisi dan seperti sedang mengemis pada mertua. Hal itu dirasa membuatnya terhina harga diri.


"Bagaimana, Pa? Apa Zafer mau mematuhi perintah?" tanya Rayya yang tadi memilih untuk menunggu calon mertua menyelesaikan permasalahan karena mengetahui jika Zafer tidak bisa membantah jika pria di hadapan tersebut marah.


Apalagi jika mengancam akan mengusir tanpa sepeser pun harta yang boleh dibawa. Meskipun di dalam hati kecil khawatir jika mertuanya justru merasa senang atas kejadian ini karena memang bukanlah menantu idaman untuk mereka.


Namun, Rayya mencoba untuk memenuhi pikiran positif, agar tidak semakin down. Bahwa keluarga Dirgantara adalah orang baik yang tidak akan bertanggungjawab setelah melakukan kesalahan.


Seperti yang dilakukan oleh Zafer saat terpaksa menuruti perintah dari orang tua untuk menikahi Tsamara karena menabrak wanita itu.

__ADS_1


Berharap mendapatkan kebaikan yang sama, bahwa pria itu juga melakukan segala cara agar Zafer tetap bertanggungjawab setelah menghamili. Apalagi saat ini ada anak kembar di rahim dan menjadi cucu pertama yang akan menjadi pewaris utama.


Adam Dirgantara tadi sekilas melihat ke arah Leon dan beralih pada wanita yang saat ini dengan wajah sembab itu. "Zafer mematuhi sang ibu dan akan tetap menikahimu. Aku memberikan waktu sepuluh menit agar menenangkan diri."


Rayya yang tadi diliputi kecemasan, seketika merasa lega dan segala kekhawatiran seolah musnah begitu mendengar kabar baik dari pria paruh baya itu.


Tidak ingin terjadi kegagalan atau kekacauan dari orang tuanya, Rayya kini berbalik badan menatap ke arah sang ayah. "Aku mohon jangan kacaukan pernikahanku dengan kembali memukul Zafer, Ayah."


"Biarkan putrimu bahagia dengan pria pilihan sendiri yang dicintai. Aku harap Ayah mengerti." Rayya kini bisa melihat raut wajah pria paruh baya itu masih dipenuhi amarah.


Namun, tidak memperdulikan hal itu karena berpikir jika nanti akan menghentikan sang ayah jika sampai melakukan kesalahan lagi.


Kemudian melihat calon mertua sedang berbicara dengan orang yang akan menikahkan sambil meminta maaf atas kekacauan yang terjadi di keluarga Dirgantara.


Meskipun sangat memalukan dan merendahkan nama baik keluarga Dirgantara, tetapi hal yang dianggap terpenting dari semua ini adalah tetap dilangsungkan pernikahan.


"Sudah selesai, Nona Rayya."


Rayya mengamati wajah yang tadi berantakan karena make up, kini telah kembali seperti semula dan kecantikan terpancar saat ini.


"Terima kasih."


"Iya, Nona." Salah satu make up artist tersebut menjawab mewakili rekan yang sibuk memasukkan kembali peralatan.

__ADS_1


"Duduklah di sini, Rayya! Aku akan memanggil Zafer agar segera masuk." Kemudian Adam Dirgantara beralih menatap ke arah Leon Bagaskara. "Sebaiknya Anda juga duduk di sebelah Rayya. Tolong untuk menjaga emosi di hari yang sangat penting ini!"


Leon Pratama yang merasa sudah menahan dari tadi amarah yang membuncah di dalam hati, merasa kesal karena harus mengalah saat berpikir apa yang dilakukan benar.


'Jika aku tidak menahan diri, sudah kuhancurkan semua furniture di ruangan ini tadi. Memangnya aku akan membuat masalah jika bajingan itu diam? Bukankah tadi Zafer yang mengacaukan acara karena tidak kunjung datang juga?' sarkas Leon di dalam hati dan berpikir jika saat ini yang terjadi adalah ingin sekali mengatakan bahwa apa yang dilakukan benar.


Namun, saat merasakan ada tangan yang bergelayut di lengan dan disadari adalah putrinya mengajak duduk, akhirnya memilih diam dan menuruti permohonan putri semata wayang tersebut.


Sementara itu, Adam Dirgantara yang tadi tidak menunggu jawaban dari pria itu, beralih keluar untuk memanggil Zafer.


Beberapa saat kemudian menghampiri Zafer dan berbicara sangat lirih di dekat telinga. "Kendalikan emosimu. Jika sampai membuat ulah lagi dan membuat mamamu sedih sampai melakukan ancaman, tidak akan ada yang tersisa lagi dari keluarga ini."


"Ingat itu, Zafer!" Nada suara penuh penekanan diungkapkan Adam agar putra yang ingin dirubah menjadi pria baik dan bertanggungjawab tersebut tidak kembali membuat masalah.


Sementara Zafer yang saat ini tengah menatap sekilas Rayya dan beralih pada pria yang akan menjadi mertua, hanya diam dan tidak menanggapi ancaman sang ayah.


Saat ini, tengah memikirkan bagaimana cara menahan emosi ketika ayah Rayya kembali membuat ulah karena tidak ingin sang ibu benar-benar melaksanakan ancaman.


'Tahan emosi, Zafer. Meskipun aku tahu jika saat melihat pria sialan itu, ingin sekali meninju wajahnya,' gumam Zafer yang kini mendaratkan tubuh di kursi yang berada tepat sebelah kanan Rayya.


Meskipun belum sepenuhnya memaafkan Rayya yang bersikap kekanak-kanakan dan sangat berlebihan, tetapi Zafer berpikir ingin segera mengakhiri acara ini dan beristirahat.


Otak dan tenaga seolah diforsir dan membuat Zafer ingin segera merebahkan tubuh di ranjang ruangan pribadi. Di saat bersamaan, mendengar suara lirih dari Rayya.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Rayya yang saat ini memilih untuk mengalah karena berpikir itu semua demi pernikahan.


To be continued...


__ADS_2